| |
C © updated 01062009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
BIODATA
Nama:
Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914
Meninggal:
Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953
Agama:
Islam
Isteri:
Sholichah
Anak:
- Abdurrahman Wahid
- Aisyah Wahid
- Salahuddin Wahid
- Umar Wahid
- Lily Khodijah Wahid
- Muhammad Hasyim Wahid
Ayah:
KH. M. Hasyim Asy’ari
Ibu:
Nyai Nafiqah
Karir:
- Pengurus Nahdlatul Ulama, mulai dari jabatan Sekertaris NU
Ranting Cukir, Ketua Cabang NU Kabupaten Jombang (1938) dan Pengurus
PBNU bagian ma’arif (pendidikan), 1940 dan Ketua Tanfidiyyah PBNU, 1948
- Ketua Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), 1940
- Pengasuh Pesantren Tebuireng (1947 – 1950)
- Pendiri Sekolah Tinggi Islam (UIN) di Jakarta, 1944
- Anggota BPUPKI dan PPKI, 1945
-
- Bersama M. Natsir menjadi pelopor pelaksanaan Kongres Umat Islam
Indonesia yang diselenggarakan di Jogjakarta dan mendirikan Majelis
Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), 1948
- Ketua Umum Partai NU, 1952
|
|
| |
|
|
|
|
| WAHID HASJIM HOME |
|
|
 |
KH Wahid Hasjim (1914-1953)
Menteri Agama Tiga Kabinet
Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim adalah pahlawan
nasional, salah seorang anggota BPUPKI dan perumus Pancasila. Putera KH.
M. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, ini lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni
1914 dan wafat di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada usia 38 tahun.
Ayahanda Abdurrahman Wahid ini menjabat Menteri Agama tiga kabinet (Kabinet Hatta, Kabinet Natsir
dan Kabinet Sukiman).
Mantan Ketua Tanfidiyyah PBNU (1948) dan Pemimpin
dan pengasuh kedua
Pesantren Tebuireng (1947 – 1950) ini, merupakan
reformis dunia pendidikan pesantren dan pendidikan Islam Indonesia. Ia dikenal
juga sebagai pendiri IAIN (sekarang
UIN).
Pada tahun 1939, ia ikut berperan pada saat NU menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia),
sebuah badan federasi partai dan ormas Islam di zaman pendudukan Belanda.
Pada 24 Oktober 1943
ia terpilih menjadi Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)
sebuah organisasi menggantikan MIAI.
Saat pemimpin Masyumi ia merintis pembentukan
Barisan Hizbullah yang aktif membantu perjuangan umat Islam mewujudkan
kemerdekaan. Tahun 1944, ia ikut
mendirikan Sekolah Tinggi Islam (UIN) di Jakarta yang pengasuhannya ditangani
oleh KH. A. Kahar Muzakkir. Tahun 1945 ia pun menjadi
anggota BPUPKI dan PPKI.
Wahid Hasjim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Kota
Cimahi tanggal 19 April 1953.
Menimba Ilmu
Wahid Hasjim lahir dari buah kasih KH. M. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah binti
Kiai Ilyas (Madiun) pada pagi Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni
1914 M. Ayahandanya semula memberinya nama Muhammad Asy’ari, diambil dari nama kakeknya.
Namun, namanya kemudian
diganti menjadi Abdul Wahid, diambil dari nama datuknya. Dia anak kelima
dan anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara.
Masa kecilnya diisi dengan pengasuhan di Madrasah Tebuireng hingga usi 12 tahun.
Sejak kecil sudah hobi membaca dan giat
memelajari ilmu-ilmu kesustraan dan budaya Arab secara outodidak. Dia hafal banyak syair Arab yang kemudian disusun
menjadi sebuah buku.
Pada usia 13 tahun, ia sempat mondok dan belajar di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo,
selama 25 hari, mulai awal Ramadhan hingga tanggal 25 Ramadhan. Kemudian pindah ke Pesantren Lirboyo, Kediri, sebuah pesantren
yang didirikan oleh KH. Abdul Karim, teman dan sekaligus murid ayahnya.
Kemudian, pada usia 15 tahun, ia kembali ke Tebuireng dan baru
mengenal huruf latin. Setelah mengenal huruf latin, semangat belajarnya
semakin bertambah. Ia belajar ilmu bumi, bahasa asing, matematika, dll.
JUga rajin membaca koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia
maupun Arab.
Ia pun mulai belajar Bahasa Arab dan Belanda ketika berlangganan
majalah tiga bahasa, ”Sumber Pengetahuan” Bandung. Setelah itu belajar Bahasa Inggris.
Ketika umurnya baru 18 tahun, pada tahun 1932, Abdul Wahid pergi ke
tanah suci Mekkah bersama sepupunya, Muhammad Ilyas. Mereka berdua, selain menjalankan
ibadah haji, juga memperdalam ilmu pengetahuan seperti
nahwu, shorof, fiqh, tafsir, dan hadis. Ia menetap di tanah
suci selama 2 tahun.
Terobosan Kurikulum Pesantren
Sepulang dari tanah suci, ia membantu ayahnya mengajar di pesantren. Juga
giat
terjun ke tengah-tengah masyarakat. Pada usianya baru menginjak 20-an tahun,
Kiai Wahid sudah membantu ayahnya menyusun kurikulum pesantren, menulis
surat balasan dari para ulama atas nama ayahnya dalam Bahasa Arab,
mewakili sang ayah dalam berbagai pertemuan dengan para tokoh.
Bahkan, seperti ditulis dalam profilnya di situs
web Pesantren Tebuireng -
http://pesantren.tebuireng.net/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=35
-
ketika ayahnya sakit, Abdul Wahid sudah menggantikan membaca kitab Shahih Bukhari,
yakni pengajian tahunan yang diikuti oleh para ulama dari berbagai
penjuru tanah Jawa dan Madura.
Dia pun melakukan terobosan-terobosan
besar di Tebuireng. Dia mengusulkan untuk merubah sistem
klasikal dengan sistem tutorial, serta memasukkan materi pelajaran umum
ke pesantren. Namun, usul ini ditolak oleh ayahnya, karena khawatir akan
menimbulkan masalah antar sesama pimpinan pesantren. Tetapi kemudian pada tahun
1935, usulannya tentang pendirian Madrasah Nidzamiyah, dimana 70 persen kurikulum berisi materi pelajaran umum, diterima oleh sang ayah.
Pada tahun 1936, Kiai Wahid
mendirikan Ikatan Pelajar Islam. Ia juga mendirikan
taman bacaan (Perpustakaan Tebuireng) yang menyediakan lebih dari seribu judul
buku. Perpustakaan ini juga berlangganan majalah seperti Panji
Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar
Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan lain sebagainya. Ini
merupakan terobosan pertama yang dilakukan pesantren
manapun di Indonesia.
Lalu, ia menikah dengan Munawaroh (lebih dikenal dengan nama
Sholichah), putri KH. Bisyri Sansuri (Denanyar Jombang) pada hari Jumat, 10 Syawal 1356 H./1936
M. Pada prosesi pernikahan ini, ia hanya berangkat
seorang diri ke Denanyar dengan hanya memakai baju lengan
pendek dan bersarung. Bukan lantaran tidak ada yang
mau mengantar, akan tetapi ia sendiri yang meninggalkan para
pengiringnya di belakang.
Pernikahan Wahid-Sholichah dikaruniai enam orang
putra-putri, yaitu Abdurrahman, Aisyah, Salahuddin, Umar, Lily Khodijah,
dan Muhammad Hasyim.
Sembilan tahun kemudian, 1947, ayahnya KH. M. Hasyim Asy’ari meningal dunia. Kiai Wahid
pun terpilih
secara aklamasi sebagai pengasuh Tebuireng menggantikan ayahandanya. Pilihan ini berdasarkan
kesepakatan musyawarah keluarga Bani Hasyim dan Ulama NU Kabupaten
Jombang.
Masuk NU dan
Mendirikan Masyumi
Di tengah kesibukannya mengelola Tebuireng, Kiai Wahid aktif
menjadi pengurus NU. Dimulai jadi Sekertaris NU Ranting Cukir, kemudian terpilih
sebagai Ketua Cabang NU Kabupaten Jombang, 1938 dan Pengurus PBNU bagian ma’arif (pendidikan),
1940. Ia giat mengembangkan dan mereorganisasi
madrasah-madrasah NU di seluruh Indonesia. Ia menerbitkan
Majalah Suluh Nahdlatul Ulama dan juga aktif menulis di Suara NU dan
Berita NU.
Kemudian tahun 1946, Kiai Wahid terpilih sebagai Ketua Tanfidiyyah PBNU
menggantikan Kiai Achmad Shiddiq yang meninggal dunia.
Pada bulan November 1947, Wahid Hasyim bersama M. Natsir menjadi pelopor
pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di
Jogjakarta. Dalam kongres itu diputuskan pendirian Majelis Syuro
Muslimin Indonesia (Masyumi), sebagai satu-satunya partai politik Islam
di Indonesia. Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri, Kiai Hasyim Asy’ari.
Namun Kiai Hasyim melimpahkan semua tugasnya kepada Wahid Hasyim.
Dalam Masyumi tergabung tokoh-tokoh Islam nasional, seperti KH.
Wahab Hasbullah, KH. Bagus Hadikusumo, KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi,
KH. Zainul Arifin, Mohammad Roem, dr. Sukiman, H. Agus Salim, Prawoto
Mangkusasmito, Anwar Cokroaminoto, Mohammad Natsir, dan lain-lain.
Sejak awal tahun 1950-an, NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai
sendiri. Kiai Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Partai NU. Keputusan ini
diambil dalam Kongres ke-19 NU di Palembang (26-April-1 Mei 1952).
Secara pribadi, Kiai Wahid tidak setuju NU keluar dari Masyumi. Akan
tetapi karena sudah menjadi keputusan bersama, maka Kiai Wahid
menghormatinya. Hubungan Kiai Wahid dengan tokoh-tokoh Masyumi tetap
terjalin baik.
Pahlawan Nasional
Pada tahun 1939, NU masuk menjadi anggota Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI),
sebuah federasi partai dan ormas Islam di Indonesia. Setelah masuknya NU,
dilakukan reorganisasi dan saat itulah Kiai Wahid terpilih menjadi ketua
MIAI, dalam Kongres tanggal 14-15 September 1940 di Surabaya.
Di bawah kepemimpinan Kiai Wahid, MIAI melakukan tuntutan kepada
pemerintah Kolonial Belanda untuk mencabut status Guru Ordonantie tahun
1925 yang sangat membatasi aktivitas guru-guru agama. Bersama GAPI (Gabungan
Partai Politik Indonesia) dan PVPN (Asosiasi Pegawai Pemerintah), MIAI
juga membentuk Kongres Rakyat Indonesia sebagai komite Nsional yang
menuntut Indonesia berparlemen.
Menjelang pecahnya Perang Dunia ke-II, pemerintah Belanda mewajibkan
donor darah serta berencana membentuk milisi sipil Indonesia sebagai
persiapan menghadapi Perang Dunia. Sebagai ketua MIAI, Wahid Hasyim
menolak keputusan itu.
Ketika pemerintah Jepang membentuk Chuuo Sangi In, semacam DPR ala
Jepang, Kiai Wahid dipercaya menjadi anggotanya bersama tokoh-tokoh
pergerakan nasional lainnya, seperti Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta,
Mr. Sartono, M. Yamin, Ki Hajat Dewantara, Iskandar Dinata, Dr. Soepomo,
dan lain-lain. Melalui jabatan ini, Kiai Wahid berhasil meyakinkan
Jepang untuk membentuk sebuah Badan Jawatan Agama guna menghimpun para
ulama.
Pada tahun 1942, Pemerintah Jepang menangkap Hadratusy Sayeikh Kiai
Hasyim Asy'ari dan menahannya di Surabaya. Wahid Hasyim berupaya
membebaskannya dengan melakukan lobi-lobi politik. Hasilnya, pada bulan
Agustus 1944, Kiai Hasyim Asy'ari dibebaskan. Sebagai kompensasinya,
Pemerintah Jepang menawarinya menjadi ketua Shumubucho, Kepala Jawatan
Agama Pusat. Kiai Hasyim menerima tawaran itu, tetapi karena alasan usia
dan tidak ingin meninggalkan Tebuireng, maka tugasnya dilimpahkan kepada
Kiai Wahid.
Bersama para pemimpin pergerakan nasional (seperti Soekarno dan Hatta),
Wahid Hasyim memanfaatkan jabatannya untuk persiapan kemerdekaan RI. Dia
membentuk Kementerian Agama, lalu membujuk Jepang untuk memberikan
latihan militer khusus kepada para santri, serta mendirikan barisan
pertahanan rakyat secara mandiri. Inilah cikal-bakal terbentuknya laskar
Hizbullah dan Sabilillah yang, bersama PETA, menjadi embrio lahirnya
Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada tanggal 29 April 1945, pemerintah Jepang membentuk Dokuritsu Zyunbi
Tyooisakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI),
dan Wahid Hasyim menjadi salah satu anggotanya. Dia merupakan tokoh
termuda dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Jakarta,
sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara. Dia
berhasil menjembatani perdebatan sengit antara kubu nasionalis yang
menginginkan bentuk Negara Kesatuan, dan kubu Islam yang menginginkan
bentuk negara berdasarkan syariat Islam. Saat itu ia juga menjadi
penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Sukarno (September
1945), Kiai Wahid ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam
Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Wahid Hasyim menjadi
salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota
BPKNIP tahun 1946.
Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam
Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan
Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet,
yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman.
Selama menjabat sebagai Menteri Agama RI, Kiai Wahid mengeluarkan tiga
keputusan yang sangat mepengaruhi sistem pendidikan Indonesia di masa
kini, yaitu :
1. Mengeluarkan Peraturan Pemerintah tertanggal 20 Januari 1950, yang
mewajibkan pendidikan dan pengajaran agama di lingkungan sekolah umum,
baik negeri maupun swasta.
2. Mendirikan Sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang, Banda-Aceh,
Bandung, Bukittinggi, dan Yogyakarta.
3. Mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Tanjungpinang,
Banda-Aceh, Padang, Jakarta, Banjarmasin, Tanjungkarang, Bandung,
Pamekasan, dan Salatiga.
Jasa lainnya ialah pendirian Sekolah Tinggi Islam di Jakarta (tahun
1944), yang pengasuhannya ditangani oleh KH. Kahar Muzakkir. Lalu pada
tahun 1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)
yang kini menjadi IAIN/UIN/STAIN, serta mendirikan wadah Panitia Haji
Indonesia (PHI). Kiai Wahid juga memberikan ide kepada Presiden Soekarno
untuk mendirikan masjid Istiqlal sebagai masjid negara.
Pada tahun 1950, Kiai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dan pindah ke
Jakarta. Keluarga Kiai Wahid tinggal di Jl. Jawa (kini Jl. HOS
Cokroaminoto) No. 112, dan selanjutnya pada tahun 1952 pindah ke Taman
Matraman Barat no. 8, di dekat Masjid Jami’ Matraman.
Musibah di Cimindi
Hari itu, Sabtu 18 April 1953, Kiai Wahid bermaksud pergi ke Sumedang
untuk menghadiri rapat NU. Kiai Wahid ditemani tiga orang, yakni
sopirnya dari harian Pemandangan, rekannya Argo Sutjipto, dan putera
sulungnya Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur). Kiai Wahid duduk di jok
belakang bersama Argo Sutjipto. Daerah di sekitar Cimahi waktu itu
diguyur hujan lebat sehingga jalan menjadi licin. Lalu lintas cukup
ramai.
Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, sebuah daerah antara
Cimahi-Bandung, mobil yang ditumpangi Kiai Wahid selip dan sopirnya
tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakangnya banyak iringan-iringan
mobil. Sedangkan dari arah depan, sebuah truk yang melaju kencang
terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag. Karena mobil
Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan
truk dengan kerasnya. Ketika terjadi benturan, Kiai Wahid dan Argo
Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka
parah. Kiai Wahid terluka bagian kening, mata, pipi, dan bagian lehernya.
Sedangkan sang sopir dan Gus Dur tidak cedera sedikit pun. Mobilnya
hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.
Kiai Hasyim dan Argo Sutjipto kemudian dibawa ke Rumah Sakit Boromeus
Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, keduanya tidak sadarkan diri.
Keesokan harinya, Ahad, 19 April 1953 pukul 10.30, KH. Abdul Wahid
Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt. dalam usia 39 tahun. Beberapa jam
kemudian, tepatnya pukul 18.00 Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang
Khalik. Inna liLlahi wa Inna ilayhi Raji’un.
Jenazah Kiai Wahid kemudian dibawa ke Jakarta, lalu diterbangkan ke
Surabaya, dan selanjutnya dibawa ke Jombang untuk disemayamkan di
pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng. Atas jasa-jasanya beliau juga
dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah. ►crs
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Sumber:
http://pesantren.tebuireng.net/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=35
|
|