| |
C © updated 03072004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/depdiknas |
|
| |
Nama:
Wage Rudolf Supratman
Lahir:
Jatinegara, Jakarta, 9 Maret 1903
Meninggal:
Surabaya, 17 Agustus 1938
Pendidikan:
- Sekolah Dasar di Jakarta
- Normaal School di Ujungpandang
Pekerjaan:
- Guru Sekolah Dasar
- Karyawan perusahaan dagang
- Wartawan
Karya Tulis:
- Buku “Perawan Desa”
Karya Musik:
- Indonesia Raya
|
|
| |
|
|
|
|
Wage Rudolf Supratman (1903–1938)
Penggubah Lagu Indonesia Raya
Tingginya jiwa kebangsaan dari Wage Rudolf Supratman menuntun dirinya
membuahkan karya bernilai tinggi yang di kemudian hari telah menjadi
pembangkit semangat perjuangan pergerakan nasional. Semangat kebangsaan,
rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka dalam jiwanya dituangkan dalam
lagu gubahannya Indonesia Raya. Lagu yang kemudian menjadi lagu
kebangsaan negeri ini.
Penolakan jiwanya terhadap penjajahan, pernah juga dituliskannya dalam
bukunya yang berjudul Perawan Desa. Namun sayang, Pahlawan nasional yang
lahir 9 Maret 1903 ini sudah meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938,
sebelum mendengar lagu gubahannya dikumandangkan pada hari kemerdekaan
negeri yang dicintainya.
Supratman tepatnya lahir di Jatinegara, Jakarta, tanggal 9 Maret 1903.
Menamatkan sekolah dasarnya di Jakarta, kemudian melanjutkan ke Normaal
School Ujungpandang. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia masih tetap
tinggal di Ujungpandang dan sempat bekerja sebagai guru Sekolah Dasar
kemudian ke sebuah perusahaan dagang. Kebolehannya bermain musik biola
serta menggubah lagu diperolehnya dari kakaknya semasa menjalani
pendidikan dan bekerja di Ujungpandang ini. Dari Ujungpandang, ia
kemudian pindah ke Bandung menekuni profesi sebagai seorang wartawan.
Profesi itu terus ditekuninya hingga ia akhirnya mudik ke kota
kelahirannya, Jakarta.
Ia sebenarnya merupakan putra dari seorang Tentara Hindia Belanda (KNIL),
tapi tidak dengan begitu ia menjadi antek Belanda yang tidak mempunyai
jiwa kebangsaan Indonesia. Malah sebaliknya, jiwa kebangsaannya sangat
tinggi. Jiwa kebangsaan itu semakin mengental pada dirinya terutama
setelah banyak bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional sejak ia
menekuni profesi kewartawanan. Rasa tidak senangnya terhadap penjajahan
Belanda pernah dituangkannya dalam bukunya yang berjudul Perawan Desa.
Buku yang mengandung nilai-nilai nasionalitas dan menyinggung
pemerintahan Belanda itu akhirnya oleh pemerintah Belanda, disita dan
dilarang beredar.
Kilas balik dari lahirnya lagu Indonesia Raya sendiri adalah berawal
dari ketika suatu kali terbacanya sebuah karangan dalam Majalah Timbul.
Penulis karangan tersebut menentang ahli-ahli musik Indonesia untuk
menciptakan lagu kebangsaan. Supratman yang sudah semakin kental jiwa
kebangsaannya merasa tertantang. Sejak itu, ia mulai menggubah lagu. Dan
pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya.
Ketika Kongres Pemuda, yakni kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda
dilangsungkan di Jakarta bulan Oktober tahun 1928, secara instrumentalia
Supratman memperdengarkan lagu ciptaannya itu pada malam penutupan acara
tanggal 28 Oktober 1928 tersebut. Disitulah saat pertama lagu tersebut
dikumandangkan di depan umum. Lagu yang sangat menggugah jiwa
patriotisme itupun dengan cepat terkenal di kalangan pergerakan nasional.
Sehingga sejak itu apabila partai-partai politik mengadakan kongres,
lagu Indonesia Raya, lagu yang menjadi semacam perwujudan rasa persatuan
dan kehendak untuk merdeka itu selalu dinyanyikan.
Dan ketika Indonesia sudah memperoleh kemerdekaan, para pejuang-pejuang
kemerdekaan menjadikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan. Dan,
Wage Rudolf Supratman yang meninggal dan dimakamkan di Surabaya tanggal
17 Agustus 1938, dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional atas segala
jasa-jasanya untuk nusa dan bangsa tercinta ini. ► juka-atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|