| |
C © updated 12022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kwi |
|
| |
Nama:
Vincentius Kirdjito
Lahir:
--
Jabatan:
|
|
| |
|
|
|
|
| V KIRDJITO HOME |
|
|
 |
Vincentius Kirdjito
Pengabdian Pastor Desa Vincentius Kirdjito, yang
dipanggil akrab Lik Kir, seorang pastor desa yang mengabdikan diri di
tengah komunitas masyarakat lereng Gunung Merapi. Sehari-hari dia memimpin
Paroki Kecamatan Dukun yang mempunyai umat Katolik di sejumlah desa:
Sumber, Grogol, Tutup Ngisor, Tutup Duwur, Juwono, Bandung, Pathen, dan
lain-lain di sisi barat Gunung Merapi.
Lik Kir secara tetap bermukim di Pastoran Gereja Santa Maria, Dusun
Sumber, dan secara periodik memimpin ibadat di Gereja Gubug Selo Merapi,
Dusun Grogol, Mangunsoko, Kecamatan Dukun, yang baru saja direhabilitasi
menjadi gereja desa dengan bangunan terbuka.
Dilahirkan sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara (lima perempuan,
tiga laki-laki), Lik Kir mengaku benar-benar sebagai anak desa.
Orangtuanya, almarhum Hilarion Kromo Prawiro dan (ibunya) Maria Padinem
adalah petani kecil di Dusun Boro Gunung, Kulon Progo, Daerah Istimewa
(DI) Yogyakarta.
Ia adalah satu-satunya rohaniwan di lingkungan keluarganya. Karena itu,
posisinya sebagai pastor desa di tengah komunitas masyarakat lereng
Gunung Merapi bukanlah sebuah lingkungan yang asing baginya.
Lulus dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Indra di Bandung (Jawa Barat)
tahun 1972, Lik Kir sempat menjadi guru selama tiga tahun di SD Kristus
Rex, Nggedangan, Semarang, Jateng. Dari sana ia memilih meneruskan
pendidikan imamat di Seminari Mertoyudan Magelang dan selanjutnya
menyelesaikan pendidikan tinggi di Seminari Tinggi Santo Paulus,
Kentungan, Yogyakarta, tahun 1984.
"Tugas saya sebagai imam itu kan menumbuhkan inklusivitas, keterbukaan,
dan berjuang dengan semua orang yang berkehendak baik untuk menciptakan
tata masyarakat yang adil dan manusiawi," kata Lik Kir yang beberapa
tahun ikut membina petani organik di Kecamatan Tegalrejo, Magelang. Di
sana ia kemudian akrab dengan Gus Yusuf, pemimpin Pondok Pesantren
Tegalrejo.
Dengan bekal keterampilan pertanian, khususnya pertanian organik dari
Romo G Oetomo dari Ganjuran, Bantul, serta visi dan praksis
bermasyarakat yang mengutamakan pendekatan humanisme yang dipelajarinya
dari guru dan idolanya, budayawan YB Mangunwijaya (almarhum), Lik Kir
mengaku, ia harus belajar dari tahap ke tahap, dari satu situasi ke
situasi lain, yang selalu saja berbeda kondisinya.
Tahun 2002, dalam perayaan misa Natal, umatnya membuat semacam happening
art berupa "pocongan" menjelang misa suci. Ia sempat melonjak kaget,
tapi kemudian bisa menerima ekspresi iman yang unik dan khas orang desa
seperti itu. "Mereka mengatakan, tema Natal ’Kami Menunggu
Kedatangan-MU’, bagi petani sebagai sesuatu yang nyata. Petani menunggu
kesejahteraan itu sampai mau mati, sampai mau jadi pocong (mayat)," kata
Lik Kir.
Di tengah komunitas masyarakat Merapi-terutama karena keberadaan
Komunitas Seni Cipto Budoyo, Dusun Tutup Ngisor pimpinan Sitras Anjilin
dan keluarganya yang begitu melembaga secara turun-temurun di sana- seni
budaya, apa boleh buat, ternyata jumbuh, sinkron, dengan bahasa petani.
"Saya merasakan ’bayang-bayang’ atau ’bayangan’ kita sebagai
masyarakat dari agama ini atau agama itu, sering justru merusak hubungan
antarmanusia untuk bermasyarakat, dan saling belajar dari masyarakat
lain. Terus terang, di sini kabudayan, seni, itu benar-benar hidup dan
menjadi tempat pertemuan semua orang dari berbagai agama. Seni bukan
nomor satu, tapi seni menjadi sarana paguyuban, sarana membina kerukunan
antarwarga," katanya.
Lik Kir, lama-kelamaan kemudian meyakini, penghayatan iman yang paling
bener ialah penghayatan dengan srawung, dengan terlibat pada persoalan
dan dinamika masyarakat luas, dan berusaha menemukan jawaban
bersama-sama. Bukannya menurut sudut pandang kita, atau melulu menurut
sudut pandang keyakinan atau agama kita sendiri. Karena itu, hingga kini
ia sungguh-sungguh nglangut, bertanya- tanya secara mendalam terhadap
salah satu bagian dari doa "Bapa Kami": jadilah kehendak-Mu di atas Bumi
seperti di dalam surga.
"Itu lho, jawaban anak SMP di pinggir kali saat saya ke Belanda itu
sungguh dahsyat. Menurut saya itulah iman yang konkret. Bagaimana agar
agama, juga hukum, benar-benar dimengerti secara konkret esensinya,"
katanya.
Meski sebagian besar masyarakat kini terancam hidupnya, dieksploitasi
dan menderita karena hidup di tengah masyarakat yang rusak karena
korupsi, dan haus kekuasaan, Lik Kir yakin kehadiran Tuhan lewat para
nabi adalah teladan bahwa kehidupan memang bukan hanya bersisi
kegembiraan, tetapi juga penderitaan. Dan masyarakat secara bersama
berusaha memperbaiki tata kehidupan yang tidak manusiawi dan tidak
berkeadilan itu.
*TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|