| |
C © updated 13122005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/korps marinir |
|
| |
Nama:
Kopral Anumerta KKO Harun alias Tohir bin Mandar
Lahir:
Pulau Bawean, 4 April 1943
Wafat:
Singapura, 17 Oktober 1968 (Dihukum gantung)
Penghargaan:
- Bintang Sakti
- Pahlawan Nasional
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03 04
05
06
07
08 == Usman dan Harun
(02)
Masa Kecil Harun alias Tohir
Sekitar 15 kilometer sebelah utara kota Pahlawan, Surabaya, tampaklah
dari kejauhan sebuah pulau kecil yang luasnya kira kira 4 kilometer
persegi. Di pulau ini terdapat tempat yang dianggap keramat, karena di
pulau inilah pernah dimakamkan seorang kyai yang sangat sakti dan
terkenal di masa itu, yaitu Kyai Bawean. Sehingga tempat yang keramat
ini terkenal dengan nama Keramat Bawean.
Pada saat tentara Jepang menginjakkan kakinya di Pulau Bawean tanggal 4
April 1943, lahirlah seorang anak laki-laki yang bernama Tohir bin Said.
Tohir adalah anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani, yang
kemudian terkenal menjadi Pahlawan Nasional dengan nama Harun.
Sejak dibangku Sekolah Dasar ia tertarik dengan kulit-kulit kerang yang
terdampar di pasir-pasir tepian pantai daripada memperhatikan pelajaran
di sekolah, hal ini akibat seringnya Tohir pergi ke pantai laut.
Perahu-perahu yang setiap hari mencari nafkah di tengah-tengah lautan,
merupakan daya tarik tersendiri bagi Tohir. Dengan jalan mencuri-curi ia
sering menyelinap ikut berlayar bersama perahu-perahu nelayan ke tengah
lautan. Bahkan ia sering tidak masuk sekolah ataupun pulang ke rumah,
karena mengikuti perahu-perahu layar mencari ikan di tengah laut
beberapa hari lamanya.
Setelah menamatkan Sekolah Dasar, tanpa sepengetahuan keluarganya, ia
berhasil melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas
di Jakarta sampai mendapatkan ijazah. Sejak ia menginjak bangku Sekolah
Menengah Pertama untuk biaya hidup dan sekolah ia menjadi pelayan kapal
dagang, di samping itu tetap rajin belajar mengikuti pelajaran-pelajaran
di sekolahnya dengan jalan mengutip kawan-kawannya.
Ia telah menjelajahi beberapa Negara, tetapi yang paling dikenal dan
hafal daerahnya adalah daratan Singapura. Kadang kadang ia berhari-hari
lamanya tinggal di Pelabuhan Singapura. Dan sering pula ia ikut kapal
mondar-mandir antara Singapura – Tanjung Pinang.
Seorang pemuda Tohir tidak terlepas dari persoalan dunia percintaan.
Pada masa remaja kira-kira umur 21 tahun ia pernah jatuh cinta dengan
seorang gadis idaman hatinya yang bernama Nurlaila.
Tanpa diketahui oleh Samsuri kakak sulungnya sebagai pengganti ayahnya
yang sudah meninggal, Tohir dan gadis tersebut telah sepakat untuk
kemudian hari membina suatu rumah tangga yang bahagia. Sebagai tanda
janjinya gadis tersebut dilingkarkan cicin emas di jari manisnya.
Setelah mendengar kabar, bahwa gadis idaman yang pernah ditandai cincin
akan melangsungkan perkawinan dengan seorang pemuda pilihan orang tua
sang gadis, Tohir merasa tersinggung. Pada saat di rumah sang gadis
sedang ramai-ramainya tamu dan kedua mempelai sudah hampir dihadapkan
penghulu, tiba-tiba Tohir dan kawan-kawannya datang menghentikan Upacara
perkawinan. Dengan nada marah-marah, ia bersikeras menghendaki agar
Upacara perkawinan itu dibatalkan.
Karma penghulu mendapat ancaman dari Tohir, akhirnya lari ke rumah
kakaknya yang dekat tempat Upacara perkawinan bekas pacar Tohir di Jalan
Jember Lorong 61 Tanjung Priok, minta tolong untuk mencegah tindakan
Tohir. Akhirnya Samsuri terpaksa ikut campur dalam masalah perkawinan
ini. Ternyata setelah diusut, barulah diketahui bahwa gadis tersebut
secara diam-diam dengan Tohir melakukan tunangan.
Sebagai seorang anak yang menghormati orang tua maupun saudaranya yang
lebih tua, akhirnya ia menuruti apa yang dikatakan kakaknya untuk
mengurungkan niatnya, tapi dengan syarat barang-barang perhiasan dan
uang yang sudah diberikan kepada gadis tersebut dikembalikan. Sampai
saat ini gadis tersebut masih hidup rukun dengan suami dan anaknya, di
bilangan Tanjung Priok.
Memasuki Dunia Militer
Dalam Tim Brahma I dibawah Letnan KKO Paulus Subekti Tohir memulai
kariernya sebagai anggota KKO AL. Ia mulai masuk Angkatan Laut bulan
Juni 1964, dan ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. Di
sini ia bertemu dengan Usman alias Janatin bin H. Mohammad ALI dan Gani
bin Aroep. Ketiga pemuda ini bergaul cukup erat, lebih-lebih setelah
mereka sering ditugaskan bersama sama.
Setelah Tohir memasuki Sukarelawan ALRI, yang tergabung dalam Dwikora
dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) dan mendapat gemblengan selama
lima bulan, di daerah Riau daratan, pada tanggal 1 Nopember 1964.
Kemudian pada tanggal 1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral
KKO I (Kopko I).
Selesai mendapatkan gemblengan di Riau daratan sebagai Sukarelawan
Tempur bersama-sama rekan-rekan lainnya, ia dikirim ke Pulau Sambu.
Hingga beberapa lamanya rombongan Tohir dan kawan-kawannya yang
tergabung dalam kesatuan A KOTI Basis X melaksanakan tugas di Pulau
Sambu. Tohir sendiri telah ke Singapura beberapa kali, dan sering
mendarat ke Singapura menyamar sebagai pelayan dapur, ia ke sana
menggunakan kapal dagang yang sering mampir ke Pulau Sambu untuk mengisi
bahan bakar.
Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam
penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan
lancar telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul
di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina. ► e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|