| |
C © updated 13122005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/korps marinir |
|
| |
Nama:
Sersan Anumerta KKO Usman alias Janatin bin Haji Muhammad Ali
Lahir:
Tawangsari, Purbalingga, 18 Maret 1943
Wafat:
Singapura, 17 Oktober 1968 (Dihukum gantung)
Penghargaan:
- Bintang Sakti
- Pahlawan Nasional
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03 04
05
06
07
08 == Usman dan Harun
(01)
Masa Kecil Usman alias Janatin
Pada masa penjajahan Jepang, di desa Tawangsari Kelurahan Jatisaba
Kabupaten Purbalingga, lahirlah seorang bayi bernama Janatin, tepatnya
pada hari Minggu Kliwon tanggal 18 Maret 1943 pukul 10.00 pagi. Janatin
lahir dari keluarga Haji Muhammad Ali dengan Ibu Rukiah yang kemudian
dikenal dengan nama Usman, salah seorang Pahlawan Nasional.
Hari, bulan dan tahun berjalan terus, Janatin terus tumbuh menjadi besar
dan kemudian memasuki lingkungan yang lebih luas sesuai dengan
pertumbuhannya dan ia mulai menunjukkan identitas dirinya sebagai
Janatin. Orangnya pendiam lagi tidak sombong, memang demikian
pembawaannya. Pergaulannya luas, bisa bergaul dengan teman semua lapisan
yang sebaya dengannya. Tidak merasa rendah diri walaupun anak desa, dan
tidak sombong dengan orang yang lebih lemah dari dia, sehingga ia
mempunyai teman banyak.
Sebagai kepala keluarga Haji Muhammad Ali selalu menerangkan agama
sebagai landasan hidup. Demikian pula dalam bidang pendidikan sebagai
dasarnya beliau menekankan pada pendidikan agama. Tujuannya tidak lain
agar kelak putra-putrinya menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan
bangsa serta tahu membalas jasa orang tua. Karena itu tidaklah
mengherankan bila putra-putri Haji Muhammad Ali sedikit banyak
mengetahui soal keagamaan dan semua dapat membaca Al Qur'an dengan baik.
Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Janatin meneruskan ke SMP kota
Purbalingga, yang jaraknya kurang lebih sekitar tiga kilometer dari
tempat tinggalnya. Ia masuk di sekolah swasta SMP Budi Bhakti. Sekolah
ini merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan simpati di kalangan
masyarakat Purbalingga, karena prestasinya sejajar dengan sekolah
negeri.
Walaupun Janatin dari kalangan Islam, namun tidak ada halangan dari
orang tuanya untuk memasuki sekolah tersebut. Karena tujuan masuk
sekolah bukan untuk belajar agama tetapi untuk menuntut ilmu pengetahuan
yang akan dipergunakan sebagai bekal hidup. Sedangkan masalah ilmu agama
sudah diperoleh di rumah yang diajarkan oleh orang tuanya sendiri.
Sebagai anak desa Janatin tidak lupa akan tugas yang diberikan oleh
orang tuanya, yaitu membantu orang tuanya. Ia turut bekerja untuk
meringankan beban orang tua, seperti membersihkan kebun, membantu
bekerja di sawah dalam mengolah sawahnya, kemudian turut membantu
memetik hasil kebun serta memikulnya ke rumah. Setiap hari ia membawa
sabit dan menjunjung keranjang untuk mencari makanan binatang piaraan.
Pekerjaan demikian sudah menjadi kewajiban yang dijalankan setiap hari,
sehingga menjadikan dirinya seorang yang tabah dan ulet.
Di samping itu Janatin ikut juga memperkuat olah raga bulu tangkis di
desanya. Permainan bulu tangkis ini diperoleh dari perkenalan dengan
anak-anak kota. Untuk arena permainan telah dikorbankan sepetak tanah
miliknya yang terletak di dekat rumahnya. Dengan dibukanya lapangan ini
banyak mengundang pemuda-pemuda di desanya, bahkan lebih luas lagi
sampai ke kota.
Memasuki Kehidupan Militer
Dengan dikomandokannya Trikora pada tanggal 19 Desember 1961 di
Yogyakarta oleh Presiden Sukarno, mulailah konfrontasi total terhadap
Belanda. Guna menyelenggarakan operasi-operasi militer untuk merebut
Irian Barat, maka pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden/Pangti
ABRI/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat
mengeluarkan keputusan No. 1 tahun 1962 membentuk Komando Mandala yang
bertanggung jawab atas segala kegiatan Operasi ABRI serta Sukarelawan.
Masalah Trikora berkumandang di seluruh pelosok tanah air, telah
memanggil segenap lapisan masyarakat dan membangkitkan hati semua pemuda
untuk menyumbangkan tenaga dalam pembebasan wilayah yang masih dikuasi
Belanda. Kesempatan inilah membuka pintu bagi Janatin untuk memasuki
dinas militer, seperti pemuda lainnya dari pelosok tanah air. Sehingga
dalam waktu yang singkat berbondong-bondong pemuda Indonesia
mendaftarkan diri untuk menjadi Sukarelawan, dan salah seorang yang
terpanggil adalah Janatin.
Pada saat itu Janatin sudah menduduki SMP kelas tiga ialam kwartal
terakhir. Karena panggilan hatinya yang bergelora ingin menjadi ABRI,
maka setelah menyelesaikan pendidikan, Janatin mendaftarkan menjadi
ABRI. Sebelumnya ia memang nengagumi angkatan Bersenjata. Hal ini
terlihat dari perhatian fanatin kepada kakaknya yang berdinas di
Militer. Bila kakaknya pulang, selalu mendapat perhatian dari Janatin,
baik dari pakaian seragam, sikap, dan geraknya. Begitu pula setiap
melihat anggota ABRI baik tetangga se desa ataupun kenalan selalu
menjadi perhatian baginya. pengaruh inilah yang mengilhami dirinya
sehingga ingin menjadi seorang militer.
Semula maksud Janatin tidak mendapat restu dari bapaknya, orangtuanya
mempunyai pandangan lain, menghendaki agar anaknya melanjutkan sekolah
yang lebih tinggi. Haji Muhammad Ali mengharapkan anaknya tidak memasuki
dinas militer, beliau sudah merasa cukup karena ketiga kakaknya sudah
menjadi ABRI, sedangkan Janatin biarlah mencari pekerjaan yang lain.
Namun karena kemauan keras yang tidak dapat dibendung, ia berusaha
mendapatkan restu dari ibunya. Akhirnya Janatin mendapat restu dari
orangtuanya untuk memasuki dinas militer.
Janatin pada tahun 1962 mulai mengikuti pendidikan militer di Malang
yang dilaksanakan oleh Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan ini
dilaksanakan guna pengisian personil yang dibutuhkan dalam menghadapi
Trikora. Karena itulah Korps Komando Angkatan Laut membuka Sekolah Calon
Tamtama (Secatamko), lamanya pendidikan enam bulan dan Janatin termasuk
siswa angkatan ke – X . Setiap siswa selesai melakukan pendidikan dan
latihan pendidikan amphibi dan perang hutan. Pendidikan ini merupakan
kekhususan bagi setiap anggota Korps Komando Angkatan Laut.
Pendidikan Calon Tamtama dilaksanakan bertingkat. Pendidikan dasar
militer dilakasanakan di Gunung Sahari. Pendidikan Amphibi dilaksanakan
di pusat latihan Pasukan Pendarat di Semampir. Pada akhir seluruh
pendidikan diadakan latihan puncak di daerah Purboyo Malang selatan
dalam bentuk Suroyudo. Di sinilah letaknya pembentukan disiplin yang
kuat, ketangguhan yang luar biasa, keberanian yang pantang menyerah
serta membentuk kemampuan fisik di segala medan dan cuaca, merupakan
Pembentukan Pendidikan Korps Komando Angkatan Laut. Semua pendidikan ini
telah diikuti oleh Janatin sampai selesai, sehingga ia berhak memakai
baret ungu.
Berkat pendidikan dan latihan yang diperoleh selama memasuki militer,
Janatin tubuhnya menjadi tegap, kekar, pikirannya tambah jernih, korek,
yang lebih penting lagi ia terbina dalam disiplin yang tinggi, patuh,
taat dan tunduk kepada perintah atasannya.
Janatin pada bulan April 1964 dengan teman-temannya mengikuti latihan
tambahan khusus di Cisarua Bogor selama satu bulan. Mayor KKO Boedi
Prayitno dan Letnan KKO Harahap masing-masing sebagai Komandan latihan
dan wakilnya. Dalam pendidikan khusus ini dibagi dalam 13 Tim, sedangkan
materi yang diberikan antara lain: Inteljen, kontra inteljen,
sabotase,Demolisi, gerilya, perang hutan dan lain-lain. Dengan bekal
dari latihan di Cisarua ini, diharapkan dapat bergerak di daerah lawan
untuk mengemban tugas nanti.
► e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia |
|