| |
C © updated
20122006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/thc |
|
| |
Nama:
Umar Juoro
Lahir:
Solo, 6 Desember 1959
Agama:
Islam
Istri:
Yuliana
Anak:
- Jose Akbar Juoro
- Juan Ahmar Juoro
Ayah:
Syahir Irfani
Ibu:
Siti Khadijah
Pendidikan:
- Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (S1; 1985)
- University of the Philippiness (MA in Economics; 1987)
- Boston University, AS (MA in Political Economy; 1992)
- Kiel Institute of World Economics (studi lanjutan dalam bidang ekonomi
internasional), Jerman (1993)
Karir:
- Peneliti di LP3ES, Jakarta (1985-1989)
- Peneliti di Institute of Southeast Asian Studies (1992)
- Staf Ahli Komisi V DPR (Fraksi Golkar; 1996-1997)
- Konsultan di Bappenas, PU dan Deperindag, Bank Dunia, ADB, ILO, UNDP
dalam periode (1992-1997)
- Asisten Bidang Ekuin Wakil Presiden/Presiden Habibie (1998-1999)
- Staf Ahli Komisi VIII DPR RI (2002)
- Senior Fellow the Habibie Center (2000–sekarang)
- Ketua Dewan Direktur Center for Information and Development Studies
(2000-sekarang)
- Komisaris BII sejak 7 November, 2002.
Kegiatan Lain:
- Anggota Tim Masyarakat Madani 1999
- Dewan Ekonomi Muhammadiyah (2000-2005)
- Dewan Pakar ICMI (2000-2005)
- Dewan Insinyur Persatuan Insinyur Indonesia (2002-2004)
Publikasi:
- Democratic Development in East and Southeast Asia, Aldershot
(UK): Ashgate, 1998
- Masalah Terdepan dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia (1985)
Alamat Rumah:
Bumi Bintaro Permai HE 25, Jakarta 12320
Alamat Kantor :
- Jalan Aditiawarman 40, Jakarta
- The Habibie Center
Jl. Kemang Selatan No. 98, Jakarta 12560
Telp. (021) 781-7211, Faks. (021) 781-7212
E-mail:
thc@habibiecenter.or.id
|
|
| |
|
|
|
|
| PUBLIKASI |
|
|
 |
Umar Juoro Apa yang Dijanjikan Jauh dari Harapan
Berbicara dalam “Paparan Akhir Tahun Ekonomi Politik CIDES 2006” di
Jakarta, Rabu (20/12) Ketua Dewan Direktur CIDES Umar Juoro mengatakan
Indonesia memasuki tahun 2007 memiliki banyak persoalan serius. Hal itu
terkait dengan masih tingginya angka pengangguran dan tingkat kemiskinan
yang diperkirakan akan menimbulkan permasalahan yang sangat serius
selama tahun 2007.
Padahal, momentum tahun 2007 adalah tahun terakhir bagi Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono untuk memperbaiki keadaan perekonomian, sebab
setelah itu semua akan sibuk dengan agenda politik masing-masing: Apakah
di tahun 2009 masih akan maju bersama Jusuf Kalla, ataukah Kalla akan
maju sendiri dan menjadi presiden kedua dari luar Jawa setelah Habibie.
Umar mengatakan tahun 2007 adalah warming up politik.
Menurut Umar, jalan pintas yang dilakukan pemerintah untuk membantu
masyarakat miskin adalah pola yang semestinya hanya dilakukan pada masa
krisis, bukan oleh pemerintahan yang didukung oleh mayoritas pemilih
yang semestinya menjalankan program-program yang lebih mendasar dan
berkesinambungan dalam mengatasi kemiskinan. Betapapun baiknya pemberian
dana tunai langsung kepada golongan miskin, itu tidak akan memberikan
efek yang lebih luas kepada perekonomian dan pembangunan sosial.
Menurutnya, sejauh ini pemerintah berkeinginan terlalu besar tetapi
dengan kemampuan yang sangat terbatas. Akibatnya apa yang dijanjikan
untuk dapat dilakukan ternyata jauh dari harapan. Dan pada akhirnya,
sebagaimana yang terlihat selama tahun 2006 hanya stabilitas makro yang
dominan dengan kebijaksanaan moneter yang dapat dicapai.
Perhatian besar yang diberikan pada upaya untuk mengatasi hambatan
investasi dan promosi yang aktif ke luar negeri, bahkan dilakukan
sendiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menurut Umar belum
membuahkan hasil yang menggembirakan, sebagaimana terlihat dari
penurunan pertumbuhan investasi.
Umar Juoro memperkirakan memasuki tahun 2007 tingkat konsumsi
masyarakatlah atau sisi permintaan yang akan mendorong partumbuhan
ekonomi lebih tinggi, sekitar 6% sebagai hasil dari stabilitas makro.
Memasuki tahun 2007 Umar menyarankan pemerintah agar sebaiknya lebih
realistis dan fokus saja pada apa yang dapat dilakukan, dengan
kemungkinan keberhasilan yang tinggi, dan meninggalkan skenario besar
yang mudah untuk dikemukakan namun sangat sulit dilaksanakan. Ia memberi
contoh soal pembangunan infrastruktur, mengapa terlalu berambisi untuk
melakukan percepatan pembangunan pembangkit listrik dengan kapsasitas
10.000 MW jika tendernya saja tidak banyak diminati, karena waktu yang
sempit dan kondisi keuangan PLN yang mengkhawatirkan.
Kata Umar, bisa saja pemerintah memberikan garansi yang membuat investor
melihat resiko sebagai sovereigned risk. Namun kalau pemberian garansi
tidak dilakukan dengan baik dan sangat selektif di kemudian hari akan
menimbulkan permasalahan akuntabilitas yang serius, sebagaimana
pengalaman sebelumnya, misalnya pada kasus Karaha Bodas.
Saran Umar kepada dunia usaha, di tahun 2007 terbuka peluang yang cukup
untuk mengembangkan usaha dibandingkan dengan tahun 2006. Menyadari
besarnya dorongan sisi permintaan, dunia usaha paling tidak secara
selektif harus bisa mengimbangi dari sisi penawaran untuk mencegah
perekonomian berputar di siklus yang sama. Tentu saja masih banyak
hambatan pengembangan usaha dan investasi baru yang belum diatasi, namun
terdapat cara untuk mengatasinya sekalipun tidak optimal.
Bagi masyarakat luas Umar menyebut kecenderungan tingginya pengangguran
dan kemiskinan sangat mengkhawatirkan. Demikian pula kecenderungan
ketimpangan sosial yang juga meningkat.
Kelompok masyarakat yang berpendapatan tinggi dan beraset besar,
terutama aset likuid akan meraup manfaat yang besar dari perbaikan
ekonomi di tahun 2007. Namun bagi sebagian besar masyarakat yang
berpendapatan rendah apalagi mereka yang menganggur, sekalipun dengan
inflasi yang lebih rendah, tetap sangat sulit untuk sekedar memenuhi
kebutuhan hidupnya. Jelas untuk mengatasi ini peranan pemerintah
sangatlah penting. Dan tentu saja membaiknya perkembangan dunia usaha
akan membuka peluang kerja yang lebih besar.
Umar Juoro menyimpulkan wajah perekonomian tahun 2006 ditandai dengan
beratnya biaya produksi dan menurunnya daya beli. Dan prospek
perekonomian selama tahun 2007 akan menampilkan wajah pertumbuhan yang
lebih tinggi namun memuncratkan pula permasalahan sosial yang serius.
Berikut paparan akhir tahun ekonomi CIDES 2006 secara lengkap yang
diberi judul panjang:
“Perekonomian 2006 Beratnya Biaya Produksi dan Menurunnya Daya Beli.
Prospek 2007 Pertumbuhan Lebih Tinggi Namun Permasalahan Sosial Serius.”
Oleh: Umar Juoro
(Ketua Dewan Direktur CIDES)
Pendahuluan
Perekonomian 2006 dimulai dengan inflasi dan suku bunga yang tinggi
sebagai konsekuensi dari kenaikan harga BBM pada Oktober 2005. Akibatnya
biaya produksi meningkat dan daya beli masyarakat menurun. Baru memasuki
Triwulan IV/2006 stabilitas ekonomi makro dapat diperbaiki dengan
menurunnya inflasi dan diikuti oleh penurunan suku bunga. Pada akhir
2006, stabilitas ekonomi makro dalam keadaan yang cukup baik, namun
pertumbuhan ekonomi masih pada tingkatan moderat sekitar 5,4%. Tahun
2006 pada umumnya dapat dikatakan masa yang cukup berat bagi dunia usaha
dan masyarakat pada umumnya. Upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim
investasi dan mendorong perekonomian masih jauh dari optimal. Sekalipun
Menko Ekuin menyatakan sebagian besar dari langkah-langkah dalam paket
kebijaksanaan telah dilaksanakan, namun dalam prakteknya tidak begitu
dirasakan oleh pelaku kegiatan ekonomi.
Memasuki tahun 2007 prospek perekonomian tampak lebih baik dengan
pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekitar 6%. Diperkirakan konsumsi
masyarakat akan mengalami peningkatan cukup berarti, namun investasi
masih sulit diharapkan untuk tumbuh tinggi karena pengurangan hambatan
investasi belum berjalan optimal. Dengan pertumbuhan moderat ini maka
permasalahan sosial terutama pengangguran akan tetap tinggi pada
tingkatan sekitar 11%. Tingkat kemiskinan kemungkinan akan menurun
dengan menurunnya inflasi, namun masih akan tetap berada pada tingkatan
sekitar 15% tingkatan yang cukup tinggi bahkan untuk ukuran
pasca-krisis. Pemerintah tampaknya mencari jalan pintas untuk mengatasi
kemiskinan dengan mengembangkan program SLT (Subsidi Langsung Tunai)
sebagai perbaikan dari bantuan langsung tunai. Namun program demikian
bersifat sementara dan tidak mendorong kegiatan produktif. Apa yang
sangat dibutuhkan masyarakat miskin adalah kesempatan kerja yang semakin
langka tersedia.
Makalah ini membahas perkembangan ekonomi pada tahun 2006 secara makro,
baik dari sisi pengeluaran maupun sektoral. Pembahasan diperdalam pada
beberapa kegiatan ekonomi yang menonjol seperti perbankan,
infrastruktur, dan kendaraan bermotor. Selanjutnya dibahas kesulitan
dunia usaha dan rumah tangga dalam menyesuaikan kenaikan biaya dan
menurunnya daya beli masyarakat. Pembahasan juga mencakup meningkatkan
pengangguran dan kemiskinan yang ironis pada masa demokrasi ini.
Pembahasan selanjutnya adalah meneropong prospek perekonomian pada tahun
2007 yang dari sisi pertumbuhan tampaknya akan lebih baik, namun
permasalahan sosial serius terutama karena tingginya angka pengangguran.
Pembahasan juga mencakup perkembangan ekonomi dari sisi pengeluaran dan
sektoral. Pembahasan ditutup dengan langkah-langkah apa yang harus
dilakukan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi, langkah dunia
usaha dalam menyikapi perkembangan ekonomi, dan masyarakat pada umumnya
terutama berkaitan dengan permasalahan tingginya angka pengangguran.
Pertumbuhan Ekonomi 2006 Melambat
Pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I/2006 mengalami perlambatan dengan
pertumbuhan hanya 4,8%. Kenaikan biaya produksi sebagai konsekuensi
kenaikan harga BBM dan menurunnya daya beli masyarakat menekan
perkembangan dunia usaha. Memasuki Triwulan II/06 pertumbuhan membaik
dan pada Triwulan III pertumbuhan dapat mencapai tingkatan moderat
sebesar 5,5% yang terutama didukung oleh peningkatan pengeluaran
pemerintah dan tertolong oleh ekspor dari komoditas seperti batubara,
karet, dan CPO. Sayangnya perhatian besar yang diberikan pada upaya
untuk mengatasi hambatan investasi dan promosi yang aktif ke luar negeri
bahkan oleh presiden sendiri belum membuahkan hasil yang menggembirakan
sebagaimana terlihat dari penurunan pertumbuhan investasi. Pada Triwulan
II dan III 2006 pertumbuhan investasi justru negatif.
Tabel 1.
Pertumbuhan Sisi Pengeluaran 2005 2006 2007
Konsumsi Masyarakat 4,4 3 4,5
Konsumsi Pemerintah 8,1 13,5 14
Investasi 9,9 1,5 3
Ekspor 8,6 12 14
Impor 12,3 8 10
PDB 5,6 5,4 6
Catatan: 2006 dan 2007 adalah perkiraan
Perbaikan dalam pertumbuhan ekonomi di Triwulan III dan diharapkan pada
Triwulan IV sejalan dengan perbaikan ekonomi makro sebagaimana
diperlihatkan oleh penurunan inflasi yang pada bulan November (y-o-y)
hanya sebesar 5,3%. Perkiraan pada akhir tahun 2006 pertumbuhan ekonomi
adalah sekitar 5,4% yang sedikit lebih rendah dari pada pertumbuhan
tahun 2005. Tingkat pertumbuhan ini tidaklah buruk namun jika
dibandingkan dengan negara lain yang sepadan di Asia, terutama Cina,
India dan Vietnam, yang tumbuh di atas 8%, maka Indonesia tertinggal di
belakang.
Secara sektoral pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 masih dicirikan oleh
pertumbuhan sektor telekomunikasi yang tinggi pada tingkatan double
digit.
Perkembangan bisnis telepon nirkabel mendorong pertumbuhan sektor
telekomunikasi yang tinggi. Pertumbuhan sektor konstruksi juga cukup
tinggi terutama berkaitan dengan pembangunan perumahan, perkantoran,
pusat belanja, dan apartemen. Sektor ini sebenarnya dapat tumbuh tinggi
lagi namun dengan suku bunga yang tinggi sampai dengan pertengahan tahun
2006, pembangunan perumahan banyak yang tertunda. Sektor keuangan
sekalipun dengan suku bunga relatif tinggi pada umumnya masih mempunyai
kinerja yang cukup baik dengan priroritas pada kredit konsumsi dan
komersial.
Sektor-sektor yang semestinya tumbuh tinggi seperti manufaktur sangat
terpukul, dan begitu pula sektor perdagangan mengalami pertumbuhan yang
relatif rendah. Memasuki Triwulan III/2006 sektor tersebut mengalami
perbaikan dalam pertumbuhan seiring dengan membaiknya stabilitas makro.
Produksi dan penjualan mobil dan sepeda motor mengalami tekanan berat
sebagai akibat lanjutan dari kenaikan harga BBM. Penurunan penjualan
mobil tahun 2006 diperkirakan mencapai 35% dan penjualan sepeda motor
diperkirakan menurun 20%. Memasuki Triwulan IV/2006 penjualan kendaraan
bermotor mulai meningkat lagi.
Sekalipun ekspor hasil tambang khususnya batubara secara nilai mengalami
peningkatan yang signifikan, namun pertumbuhan sektor pertambangan dan
minyak dan gas relatif rendah. Permasalahannya adalah rendahnya
investasi di sektor ini karena tidak jelasnya peraturan dan tidak ada
insentif. Dapat dikatakan Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang
dengan optimal dari kenaikan harga komoditas.
Tabel 2.
Pertumbuhan Sektoral
2004 2005 2006 2007
Pertanian 4,1 2,5 2 3
Pertambangan -4,6 1,6 1,5 2,5
Manufaktur 6,2 4,6 4,5 5
Listrik, Gas, Air 5,9 6,5 6,2 7
Konstruksi 8,2 7,3 7,5 8,5
Perdagangan 5,8 8,6 7,5 8
Transp. dan Komunikasi 12,7 13 12,5 13
Keuangan 7,7 7,1 7,3 7.5
Jasa 4,9 5,2 5,3 5,5
PDB 5,1 5,6 5,4 6
Catatan: 2006 dan 2007 adalah perkiraan
Paket Kebijakan Kurang Efektif
Sekalipun Menko Ekuin menyatakan bahwa langkah-langkah paket kebijakan
investasi telah dilakukan sebanyak 75%, namun tidak demikian
realitasnya. Mengacu pada pertumbuhan investasi yang negatif menunjukkan
bahwa pelaksanaan kebijaksanaan tersebut adalah ciri umum yaitu hanya
berdasarkan check/list pemerintah sendiri, tanpa memperhatikan apa yang
terjadi sebenarnya di lapangan. Kesenjangan antara kebijaksanaan dengan
apa yang terjadi di lapangan merupakan permasalahan serius.
Justru langkah-langkah terpenting dari paket kebijaksanaan investasi
seperti Revisi UU Perpajakan, RUU Investasi, dan Revisi UU
Ketenagakerjaan sampai sekarang belum diselesaikan. Revisi UU Perpajakan
mengalami kemunduran lebih karena permasalahan politis. Harapannya Maret
2007 akan selesai, namun itupun belum tentu bergantung pada dinamika
politik terutama di dua partai besar Golkar dan PDI-P. Sedangkan revisi
UU Ketenagakerjaan kemungkinan besar tidak akan terjadi. Gagasan untuk
mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang mensubsitusi kompensasi
pemberhentian pekerja dengan asuransi Jamsostek tidak jelas
perkembangannya. RUU Investasi miskin substansi, praktis hanya kesamaan
antara PMA dan PMDN, serta status BKPM yang menjadi subtansi dari RUU
ini. Karena itu DPR RI berupaya untuk memperluas substansi RUU ini yang
berarti terjadi penundaan lagi. Sekalipun pengesyahan UU Investasi ini
tidak begitu dianggap penting oleh pelaku usaha, namun keterlambatan
dalam pengesahan menunjukkan sulitnya membuat atau mengubah peraturan
apalagi membuatnya menjadi efektif.
Upaya untuk menarik investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga tidak
optimal pelaksanaannya. Batam yang dijadikan tempat uji contoh
pelaksanaannya tidak sebaik yang diharapkan. Sekalipun telah dibentuk
one stop services, praktis hanya perijinan investasi yang mengalami
perbaikan berarti, prosedur lainnya masih seperti biasa. Usulan Menteri
Keuangan untuk memasukkan fasilitas kepabeanan dan perpajakan ke dalam
revisi UU Kepabeanan dan Perpajakan tampaknya juga tidak berjalan dengan
baik. UU Kepabeanan telah disyahkan DPR tanpa memasukkan secara
eksplisit insentif khusus bagi KEK. Usulan untuk memasukkan fasilitas
pajak pada revisi UU Perpajakan sangat bergantung pada dinamika politik
di DPR.
Menko Ekuin juga menyatakan bahwa 54% langkah-langkah dalam Paket
Kebijaksanaan Infrastruktur telah dilaksanakan, dan tingkatan ini oleh
Menko sendiri masih dipandang jauh dari optimal. Sejauh ini baru
beberapa proyek infrastruktur yang telah ditenderkan dan ditentukan
pemenangnya yaitu dua pembangkit tenaga listrik yang dimenangkan
konsorsium investor dari Cina. Proyek lainnya masih harus ditender ulang
karena minimnya peserta tender. Pemerintah menjanjikan untuk memberikan
garansi dalam perpecapatan pembangunan pembangkit listrik dengan
kapasitas sebesar 10.000 MW. Namun mekanismenya belum begitu jelas
kecuali bahwa garansi ini merupakan kontigensi terhadap APBN. Di
belakang hari jika garansi ini diberikan tanpa kriteria yang jelas dapat
menimbulkan permasalahan akuntabilitas.
Proyek jalan tol yang ditenderkan tahun lalu pada umumnya belum mulai
berjalan. Pemerintah juga menyediakan dana untuk pembebasan tanah yang
merupakan dana bergulir sebesar Rp 600 miliar. Namun dalam
pelaksanaannya masalah pembebasan tanah masih merupakan permasalahan
yang sangat sulit untuk diatasi.
Permasalahan Pengangguran dan Kemiskinan Serius
Dengan pertumbuhan ekonomi yang moderat dan kecenderungan dari dunia
usaha untuk tidak memperkerjakan pekerja dalam jumlah besar karena
proses pemberhentian pekerja sangat mahal jika keadaan ekonomi melemah
menyebabkan permasalahan pengangguran semakin kronis. Presiden
belakangan ini menyatakan bahwa angka penganguran menurun sebesar 1 juta
dengan penciptaan kesempatan kerja baru. Angka pengangguran pun
berbeda-beda bergantung sumbernya, namun pada umumnya adalah pada
kisaran 10,8% sampai dengan 11% dari tenaga kerja yang masuk kategori
sebagai pengangguran terbuka. Bahkan mereka yang lulus perguruan tinggi
semakin sulit mendapatkan pekerjaan karena tidak banyak terjadi ekspansi
kegiatan usaha. Dalam keadan seperti ini maka masalah pengangguran akan
terus membayangi perkembangan ekonomi ke depan.
Upaya pemerintah untuk mengatasi pengangguran dengan mendorong program
di tingkat daerah tidak berjalan dengan baik karena rendahnya
realisasinya anggaran terutama untuk kategori belanja modal yang
berpotensi untuk menggerakkan perekonomian daerah dan menciptakan
kesempatan kerja. Pemerintah daerah cenderung menempatkan dananya pada
SBI yang menambah beban BI. Kehawatiran terhadap audit dan gerakan
anti-korupsi membuat pejabat pemerintah enggan mempergunakan dana
pembangunan tersebut ditambah lagi dengan kapasitas yang masih rendah.
Di tingkat nasional realisasi penggunaan anggaran juga masih relatif
rendah. Dalam APBN 2006 sampai dengan bulan Nopember realisasi belanja
modal baru mencapai sekitar 56%. Realisasi belanja barang baru mencapai
sekitar 59% dalam waktu yang sama. Peemerintah menyatakan akan terjadi
percepatan pencairan anggaran di sisa tahun, namun tampaknya tidak akan
meningkat jauh lebih tinggi lagi.
Dengan tingginya inflasi pada sampai dengan pertengahan tahun 2006
menyebabkan tingkat kemiskinan meningkat lagi menjadi 17,7%. Bank Dunia
menyatakan bahwa tingkat kemiskinan ini terjadi karena kenaikan harga
beras dan pemerintah tidak cepat untuk melakukan impor beras. Pandangan
seperti ini tentu saja menyederhanakan permasalahan kemiskinan dari
pandangan makro saja. Pengalaman menunjukkan bahwa pendekatan penurunan
inflasi terutama dengan mengimpor beras memang dengan cepat akan
menurunkan angka kemiskinan, namun tidak memecahkan permasalahan dalam
jangka waktu yang lebih panjang, karena permasalahan dasarnya adalah
kelangkaan kesempatan kerja bagi golongan miskin.
Pemerintah berupaya mengambil jalan pintas dalam upaya mengatasi
kemiskinan ini dengan menyalurkan Bantuan Tunai Langsung (BTL) yang
kemudian diperbaiki dengan Subsidi Tunai Langsung (STL) dengan
mempersyaratkan penggunaan dana yang telah ditentukan. Bantuan tunai inj
kemungkinan dapat mencapai kelompok sasaran secara langsung tanpa
melalui proses birokrasi yang panjang, namun tidak menciptakan efek
ganda yang lebih besar karena tetap saja masyarakat miskin minim akses
terhadap pekerjaan. Selain itu juga tidak terjadi perbaikan yang berarti
dalam cara birokrasi di pusat dan daerah bekerja dalam meningkatkan
pelayanan publik.
Kebijaksanaan Moneter Lebih Dominan
Sepanjang tahun 2006 tampak sekali bahwa kebijaksanaan moneter lebih
dominan ketimbang kebijaksanaan fiskal. Upaya untuk mengendalikan
inflasi yang diikuti oleh penurunan suku bunga merupakan domain dari
kebijaksanaan moneter yang berada di bawah BI. Kebijaksanaan moneter ini
yang mengembalikan stabilitas ekonomi makro yang kemudian mendorong
kegiatan ekonomi yang terbatas pada kegiatan konsumsi dan sektor-sektor
tertentu terutama yang sensitif terhadap penurunan suku bunga.
Kebijaksanaan moneter ini yang meningkatkan minat investor portofolio
yang pada umumnya berjangka pendek untuk masuk ke Indonesia membeli
saham di pasar modal dan obligasi terutama yang dikeluarkan pemerintah.
Namun kebijaksanaan moneter tidak dapat mendorong peningkatan investasi
langsung baik dalam bentuk PMA maupun PMDN.
Perbankan sebagai sumber utama PMDN tidak begitu berminat membiayai
kegiatan investasi karena resiko yang tinggi dan kesempatan yang tidak
cukup banyak. Penurunan suku bunga akan mendorong pertumbuhan kredit
konsumsi dan komersial dalam bentuk modal kerja, namun tidak begitu
besar dalam kredit investasi. Sedangkan PMA masih mengalami hambatan
besar dalam permasalahan klasik yang terus menerus kita bahas namun
minim dalam upaya langsung untuk mengatasinya, seperti kepastian hukum,
ketenagakerjaan, dan yang menyangkut pemerintahan daerah. Persaingan
dengan Cina, India, dan Vietnam juga semakin berat untuk menarik PMA.
Kebijaksanaan fiskal tampaknya terjebak pada pemanfaatan anggaran dan
revisi UU yang ternyata tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh
pemerintah. Pencairan anggaran terutama dalam kategori belanja modal
masih rendah, sehingga upaya untuk menstimulasi perekonomian menjadi
sangat terbatas. Sedangkan pemberian insentif antara melalui revisi UU
Perpajakan masuk ke dalam putaran dinamika politik yang bahkan
dibandingkan pemerintahan sebelumnya, pemerintahan ini kurang dapat
bekerjasama dengan baik dengan DPR terutama dalam menghasilkan UU yang
dapat mendorong kegiatan perekonomian.
Pemerintah juga terjebak pada skenario besar sebagaimana terlihat dari
berbagai paket kebijaksanaan yang pada akhirnya melihat keberhasilannya
hanya melalui check/list daftar langkah-langkah yang telah dilakukan dan
menafikan substansi perbaikan sebenarnya di lapangan. Ambisi untuk
membangun infrastruktur, termasuk percepatan pembangunan pembangkit
listrik juga lebih besar keinginannya daripada kemampuan dalam
menyelesaikan permasalahan adminsitratif dan teknis. Dalam situasi di
mana kekuasaan pemerintah pusat tidak lagi begitu besar dalam melakukan
pembangunan dan audit serta gerakan anti korupsi demikian marak, maka
yang terjadi adalah keterlambatan atau penundaan dalam realisasi proyek
pembangunan.
Jalan pintas untuk membantu masyarakat miskin adalah pola yang
semestinya hanya dilakukan pada masa krisis bukan oleh pemerintahan yang
didukung oleh mayoritas pemilih yang semestinya menjalankan
program-program yang lebih mendasar dan berkesinambungan dalam mengatasi
kemiskinan. Betapapun baiknya pemberian dana tunai langsung kepada
golongan miskin tidak akan memberikan efek yang lebih luas kepada
perekonomian dan pembangunan sosial.
Prospek 2007 Pertumbuhan Lebih Tinggi
Memasuki tahun 2007 prospek perekonomian lebih baik dengan pertumbuhan
yang dapat mencapai sekitar 6%. Namun pertumbuhan yang lebih tinggi akan
banyak bergantung pada pertumbuhan konsumsi masyarakat yang meningkat
karena meningkatnya daya beli seiring dengan menurunnya inflasi,
meningkatnya upah, dan menurunnya suku bunga dimana bank memfasilitasi
pertumbuhan konsumsi. Pertumbuhan ekspor masih cukup baik terutama untuk
komoditas tertentu karena harganya masih tinggi dan produk manufaktur
tertentu yang memanfaatkan kehendak importir untuk tidak terlalu
tergantung pada Cina.
Investasi diperkirakan masih sulit untuk berkembang secara optimal
karena hambatan-hambatan masih belum dapat diatasi secara meyakinkan.
Demikian pula berbagai revisi UU maupun perbaikan peraturan sekalipun
dari pandangan pemerintah dipandang telah dilaksanakan atau sekedar
menyalahkan institusi lain, namun tidak memperbaiki realisasi investasi
secara berarti. Karena itu kita masih akan melihat pertumbuhan investasi
yang relatif rendah pada tahun 2007.
Secara sektoral, sektor telekomunikasi masih dapat tumbuh double
digit karena peningkatan pelanggan telepon nirkabel masih dapat
dilakukan sekalipun persaingan di antara operator semakin keras. Sektor
konstruksi dengan turunnya suku bunga akan tumbuh lebih tinggi dengan
dimulainya kembali pembangunan perumahan yang sempat tertunda karena
tingginya suku bunga pada waktu sebelumnya. Dimulainya pembangunan
infrastruktur, sekalipun secara selektif, juga meningkatkan partumbuhan
sektor konstruksi. Sektor perdagangan juga akan tumbuh relatif tinggi
dengan meningkatnya daya beli masyarakat dan aliran kredit perbankan.
Tentu saja sektor keuangan, khususnya perbankan, akan mengalami
perkembangan yang jauh lebih baik daripada di tahun 2006 dengan
pertumbuhan kredit yang relatif tinggi terutama untuk konsumsi dan
komersial.
Pendekatan Permintaan Dominan
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 akan banyak dipengaruhi oleh sisi
permintaan (demand) karena meningkatnya daya beli masyarakat secara
relatif ketimbang dari sisi pasokan (supply). Pendekatan dari sisi
permintaan ini beresiko untuk memberikan tekanan inflasi lagi yang jika
ini terjadi harus ditanggapi oleh BI dengan mengerem penurunan suku
bunga atau bahkan meningkatkannya. Tekanan inflasi ini dapat dikurangi
jika perkembangan ekonomi juga didukung dari sisi pasokan dengan
peningkatan produksi dan investasi. Namun kembali hal ini sangat
bergantung pada sejauh mana hambatan-hambatan dapat diatasi.
Permasalahan Pengangguran dan Kemiskinan Masih Serius
Sekalipun pertumbuhan pada tahun 2007 kemungkinan lebih baik, namun
permasalahan pengangguran dan kemiskinan masih tetap serius. Dengan
pertumbuhan moderat dan keengganan dunia usaha untuk memperkerjakan
tenaga kerja baru maka tingkat pengangguran masih tinggi di sekitar
angka 11%. Tampaknya pemerintah tidak akan berbuat banyak memperbaiki
peraturan ketenagakerjaan sebagaimana yang diharapkan oleh investor
karena resiko politik yang tinggi.
Dengan menurunnya inflasi, kemungkinan tingkat kemiskinan akan menurun
namun masih akan berada pada tingkatan 15% yang dengan ukuran pasca
krisis masih cukup tinggi. Namun jika kecenderungan inflasi meningkat
lagi maka tingkat kemiskinan akan meningkat lagi, dan subsidi tunai
langsung tidak begitu efektif untuk mengatasi kemiskinan.
Perlunya Kebijakan yang Realistis
Sejauh ini pemerintah berkeinginan terlalu besar dengan kemampuan yang
sangat terbatas. Akibatnya apa yang dijanjikan untuk dapat dilakukan
ternyata jauh dari harapan. Pada akhirnya sebagaimana yang kita lihat
dalam tahun 2006, hanya stabilitas makro yang dominan dengan
kebijaksanaan moneter yang dapat dicapai. Memasuki tahun 2007 kembali
konsumsi masyarakat atau sisi permintaan yang akan mendorong partumbuhan
yang lebih tinggi sebagai hasil dari stabilitas makro. Namun
perkembangan ini tidaklah berkesinambungan karena kemungkinan ancaman
inflasi akan mengedepankan lagi jika perkembangan perekonomian terlalu
bergantung pada dorongan sisi permintaan tanpa dukungan yang memadai
dari sisi penawarannya.
Sebaiknya kebijaksanaan pemerintah lebih realistis dan fokus pada apa
yang dapat dilakukan dengan dengan kemungkinan keberhasilan yang tinggi
dan meninggalkan skenario besar yang mudah untuk dikemukakan namun
sangat sulit dilaksanakan. Termasuk juga dalam pembangunan infrastruktur
, mengapa terlalu berambisi untuk melakukan percepatan pembangunan
pembangkit listrik dengan kapsasitas 10.000 MW jika tendernya saja tidak
banyak diminati karena waktu yang sempit dan kondisi keuangan PLN yang
mengkhawatirkan. Bisa saja pemerintah memberikan garansi yang membuat
investor melihat resiko sebagai sovereigned risk. Namun kalau pemberian
garansi ini tidak dilakukan dengan baik dan sangat selektif di kemudian
hari akan menimbulkan permasalahan akuntabilitas yang serius,
sebagaimana pengalaman sebelumnya.
Pemerintah juga semestinya lebih realitis dalam mengikuti proses politik
terutama dalam kebijakan dan pengesahan UU yang membutuhkan dukungan
DPR. Pemerintah dan DPR harus berupaya membangun dinamika politik yang
produktif tidak hanya didominasi oleh kepentingan yang sempit saja.
Begitu pula bagi pemerintah daerah, fokus perhatian adalah pada apa yang
dapat dilakukan dengan baik dan benar pada masa dimana audit dan gerakan
anti-korupsi demikian marak. Perbaikan kapasitas di pemerintah daerah
juga harus dilakukan. Pemerintah daerah, sebagaimana juga pemerintah
pusat, jangan terus menerus menggunakan alibi audit dan gerakan
anti-korupsi sebagai kambing hitam dari tidak opitimalnya program dan
proyek pembangunan.
Bagi dunia usaha peluang untuk mengembangkan usaha cukup terbuka pada
tahun 2007 ini dibandingkan dengan tahun 2006 yang segera berakhir.
Menyadari besarnya dorongan sisi permintaan, maka dunia usaha paling
tidak secara selektif harus mengimbanginya dari sisi penawaran untuk
mencegah perekonomian berputar di siklus yang sama. Tentu saja masih
banyak hambatan pengembangan usaha dan investasi baru yang belum
diatasi, namun terdapat cara untuk mengatasinya sekalipun tidak optimal.
Akses dana pada perbankan sebenarnya terbuka lebar bahkan untuk kegiatan
investasi. Namun bagi perusahaan di sektor riil kinerja keuangan mereka
menjadi faktor penting dalam mengakses sumber dana di perbankan. Untuk
itu jangan begitu saja menghendaki aliran kredit dari perbankan tanpa
terlebih dahulu memperbaiki kinerja keuangan perusahaan bersangkutan.
Bagi masyarakat luas kecenderungan tingginya pengangguran dan kemiskinan
memang sangat mengkhawatirkan. Apalagi kecenderungan ketimpangan sosial
juga meningkat. Bagi masyarakat yang berpendapatan tinggi dan beraset
besar, terutama aset likuid, akan meraup manfaat yang besar dari
perbaikan ekonomi di tahun 2007 ini. Namun bagi sebagian besar
masyarakat yang berpendapatan rendah apalagi mereka yang menganggur,
sekalipun dengan inflasi yang lebih rendah, tetap sangat sulit untuk
sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Jelas untuk mengatasi ini peranan
pemerintah sangatlah penting. Dan tentu saja membaiknya perkembangan
dunia usaha akan membuka peluang kerja yang lebih besar. ► ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|