|
C © updated
27072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
|
► e-ti/jil |
|
| |
Nama:
Ulil Abshar Abdhalla
Lahir:
Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967
Jabatan:
- Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)
- Direktur Freedom Institute, Jakarta.
Ayah:
Abdullah Rifa'i
Mertua:
KH Mustofa Bisri
Pendidikan:
- Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah
- Pondok Pesantren Mansajul 'Ulum, Cebolek, Kajen, Pati
- Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang
- Sarjana dari Fakultas Syari'ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan
Arab) Jakarta
- Semapt kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta
Karir:
- Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Maya
Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta
- Staf di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jakarta
- Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
- Penasehat Ahli Harian Duta Masyarakat
- Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)
- Direktur Freedom Institute, Jakarta.
Penghargaan:
Alamat:
Sumber:
Jaringan Islam Liberal -
Islamlib.com
|
|
| |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
|
|
|
|
| ULIL ABSHAR HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI
Ulil Abshar Abdhalla Koordinator Jaringan Islam Liberal Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)
dan Direktur Freedom Institute, Jakarta, ini lahir di Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967.
Dia
berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama. Ayahnya Abdullah Rifa'i dari
pesantren Mansajul Ulum, Pati, sedang mertuanya, KH Mustofa Bisri,
pengasuh pesantren Raudlatut Talibin, Rembang.
Pendidikan menengahnya diselesaikan di Madrasah Mathali'ul Falah,
Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (Rois Am PBNU
1999-2004 dan 2004-2009). Pria bernama lengkap Ulil Abshar Abdhall ini
pernah nyantri di Pesantren Mansajul 'Ulum,
Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.
Gelar sarjananya diraih dari Fakultas Syari'ah LIPIA (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta. Semapt pula mengenyam pendidikan di
Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Dia pun mengetuai Lakpesdam (Lembaga
Kajian dan Pengembangan Sumber Maya Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta.
Juga menjadi staf di Institut Studi Arus Informasi (ISAI),
Jakarta, serta Direktur Program Indonesian Conference on Religion and
Peace (ICRP). Ia juga tercatat sebagai Penasehat Ahli Harian Duta
Masyarakat.
Sebagai pendiri dan kordinator Jaringan Islam Liberal yang
yang sering menyuarakan liberalisasi tafsir Islam, Ulil menuai banyak simpati sekaligus kritik. Atas
kiprahnya dalam mengusung gagasan pemikiran Islam liberal itu, Ulil disebut
sebagai pewaris pembaharu pemikiran Islam melebihi Nurcholish
Madjid.
Dalam situs resmi JIL dijelaskan, apa itu Islam liberal?
Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan
landasan:
a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.
Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas
teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus
bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara
terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri,
sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal
percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi
muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).
b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.
Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan
Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur'an dan Sunnah Nabi, bukan
menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks.
Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran
yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang
secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.
c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.
Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam
penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah
penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks
tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan
salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan,
dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang
penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.
d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.
Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum
minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur
sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang
minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini
dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras,
jender, budaya, politik, dan ekonomi.
e. Meyakini kebebasan beragama.
Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah
hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak
membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau
kepercayaan.
f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan
politik.
Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus
dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam
Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan
politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama
adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi
agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan
publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus
diselenggarakan melalui proses konsensus.
Mengapa disebut Islam Liberal?
Nama "Islam liberal" menggambarkan prinsip-prinsip yang kami anut, yaitu
Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur
sosial-politik yang menindas. "Liberal" di sini bermakna dua: kebebasan
dan pembebasan. Kami percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat,
sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai
dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir, dan dengan
demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu "liberal". Untuk
mewujudkan Islam Liberal, kami membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL).
Mengapa Jaringan Islam Liberal?
Tujuan utama kami adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal
seluas-luasnya kepada masyarakat. Untuk itu kami memilih bentuk jaringan,
bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik. JIL adalah wadah
yang longgar untuk siapapun yang memiliki aspirasi dan kepedulian
terhadap gagasan Islam Liberal.
Apa misi JIL?
Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan
prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya kepada seluas
mungkin khalayak.
Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari tekanan
konservatisme. Kami yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan
pemikiran dan gerakan Islam yang sehat.
Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil
dan manusiawi.
Kegiatan Pokok
Di samping itu, dipublikasikan juga beberapa kegiatan pokok Jaringan Islam Liberal yang sudah dilakukan,
di antaranya:
Sindikasi Penulis Islam Liberal. Maksudnya adalah mengumpulkan tulisan
sejumlah penulis yang selama ini dikenal (atau belum dikenal) oleh
publik luas sebagai pembela pluralisme dan inklusivisme. Sindikasi ini
akan menyediakan bahan-bahan tulisan, wawancara dan artikel yang baik
untuk koran-koran di daerah yang biasanya mengalami kesulitan untuk
mendapatkan penulis yang baik. Dengan adanya “otonomi daerah”, maka
peran media lokal makin penting, dan suara-suara keagamaan yang toleran
juga penting untuk disebarkan melalui media daerah ini. Setiap minggu,
akan disediakan artikel dan wawancara untuk koran-koran daerah.
Talk-show di Kantor Berita Radio 68H. Talk-show ini akan mengundang
sejumlah tokoh yang selama ini dikenal sebagai “pendekar pluralisme dan
inklusivisme” untuk berbicara tentang berbagai isu sosial-keagamaan di
Tanah Air. Acara ini akan diselenggarakan setiap minggu, dan disiarkan
melaui jaringan Radio namlapanha di 40 Radio, antara lain; Radio
namlapanha Jakarta, Radio Smart (Menado), Radio DMS (Maluku), Radio
Unisi (Yogyakarta), Radio PTPN (Solo), Radio Mara (Bandung), Radio Prima
FM (Aceh).
Penerbitan Buku. JIL berupaya menghadirkan buku-buku yang bertemakan
pluralisme dan inklusivisme agama, baik berupa terjemahan, kumpulan
tulisan, maupun penerbitan ulang buku-buku lama yang masih relevan
dengan tema-tema tersebut. Saat ini JIL sudah menerbitkan buku kumpulan
artikel, wawancara, dan diskusi yang diselenggarakan oleh JIL, berjudul
Wajah Liberal Islam di Indonesia.
Penerbitan Buku Saku. Untuk kebutuhan pembaca umum, JIL menerbitkan Buku
saku setebal 50-100 halaman dengan bahasa renyah dan mudah dicerna. Buku
Saku ini akan mengulas dan menanggapi sejumlah isu yang menajdi bahan
perdebatan dalam masyarakat. Tentu, tanggapan ini dari perspektif Islam
Liberal. Tema-tema itu antara lain: jihad, penerapan syari’at Islam,
jilbab, penerapan ajaran “memerintahkan yang baik, dan mencegah yang
jahat” (amr ma’ruf, nahy munkar), dll.
Website Islamlib.com. Program ini berawal dari dibukanya milis Islam
Liberal (islamliberal@yahoogroups.com) yang mendapat respon positif. Ada
usulan dari beberapa anggota untuk meluaskan milis ini ke dalam bentuk
website yang bisa diakses oleh semua kalangan. Sementara milis akan
tetap dipertahankan untuk kalangan terbatas saja. Semua produk JIL (sindikasi
media, talk show radio, dll.) akan dimuat dalam website ini. Web ini
juga akan memuat setiap perkembangan berita, artikel, atau apapun yang
berkaitan dengan misi JIL.
Iklan Layanan Masyarakat. Untuk menyebarkan visi Islam Liberal, JIL
memproduksi sejumlah Iklan Layanan Masyarakat (Public Service
Advertisement) dengan tema-tema seputar pluralisme, penghargaan atas
perbedaan, dan dan pencegahan konflik sosial. Salah satu iklan yang
sudah diproduksi adalah iklan berjudul "Islam Warna-Warni".
Diskusi Keislaman. Melalui kerjasama dengan pihak luar (universitas, LSM,
kelompok mahasiswa, pesantren, dan pihak-pihak lain), JIL
menyelenggarakan sejumlah diskusi dan seminar mengenai tema-tema
keislaman dan keagamaan secara umum. Termasuk dalam kegiatan ini adalah
diskusi keliling yang diadakan melalui kerjasama dengan
kelompok-kelompok mahasiswa di sejumlah universitas, seperti Universitas
Indonesia Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Institut Pertanian
Bogor, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dll. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
|
|