|
C © updated
27072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
|
► e-ti/jil |
|
| |
Nama:
Ulil Abshar Abdhalla
Lahir:
Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967
Jabatan:
- Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)
- Direktur Freedom Institute, Jakarta.
Ayah:
Abdullah Rifa'i
Mertua:
KH Mustofa Bisri
Pendidikan:
- Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah
- Pondok Pesantren Mansajul 'Ulum, Cebolek, Kajen, Pati
- Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang
- Sarjana dari Fakultas Syari'ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan
Arab) Jakarta
- Semapt kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta
Karir:
- Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Maya
Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta
- Staf di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jakarta
- Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
- Penasehat Ahli Harian Duta Masyarakat
- Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)
- Direktur Freedom Institute, Jakarta.
Penghargaan:
Alamat:
Sumber:
Jaringan Islam Liberal -
Islamlib.com
|
|
| |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
|
|
|
|
| BERITA - OPINI |
|
|
 |
Ulil Abshar Abdhalla Menjadi Muslim Liberal Bedah
Buku 16/12/2005:“Ulil dalam hal ini bertindak seperti Ibnu Rusyd yang
membela habis-habisan kemerdekaan berpikir dalam Islam,” tulis Gus Dur
dalam makalahnya. Akibatnya pun dapat terduga; keduanya harus menanggung
takfîr (dituduh kafir) oleh mereka yang berpikiran sempit dan takut akan
perubahan.
Selasa (29/11/2005) lalu, Jaringan Islam Liberal (JIL), Freedom
Institute, Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Universitas
Paramadina, dan Penerbit Nalar, bekerjasama menyelenggarakan bedah buku
terbaru mantan koordinator JIL, Ulil Abshar-Abdalla, Menjadi Muslim
Liberal. KH Abdurrahman Wahid, Dr. Jalaluddin Rakhmat, Dr. Yudi Latif,
dan Maria Ulfah Anshor, dihadirkan untuk membedah gagasan-gagasan Ulil
yang tertuang dalam buku itu. Bedah buku itu seakan-akan menjadi
”pengadilan” in absentia atas diri Ulil yang kini sedang melanjutkan
studi di Universitas Boston, Amerika Serikat.
Diskusi di auditorium utama Universitas Paramadina itu dibuka setelah
sambutan ala kadar dari Hamid Basyaib, Koordinatot JIL, menggantikan
posisi Ulil. Sambil menunggu kedatangan Gus Dur alias KH Abdurrahman
Wahid, pembicaraan dimulai oleh Jalaluddin Rakhmat alias Kang Jalal.
“Biasanya orang yang dibesarkan dalam pendidikan Barat justru tampil
menjadi Islami. Sebaliknya, orang yang dibesarkan di jalur pendidikan
Islam, justru tampil menjadi pemikir Islam yang moderat. Di sinilah saya
ingin meletakkan Ulil Abshar-Abdalla,” ucap Kang Jalal membuka
pembicaraan.
“Ulil, sebagaimana kita tahu, besar dari keluarga pesantren tradisional
yang ketat dalam menerapkan agama. Tetapi di tengah kesibukannya
mempelajari teks-teks klasik agama, secara diam-diam ia dikejutkan oleh
pemikiran liberal keagamaan yang berkembang di Barat,” papar Kang Jalal.
Menurutnya, gagasan inilah yang konon menjadi titik tolak munculnya
gerakan pencerahan di Barat. Liberalisme keagamaan, lanjut Kang Jalal,
diawali oleh liberalisme politik. Ide ini telah menginspirasi munculnya
pemisahan wilayah privat dari kehidupan publik.
Kang Jalal menjelaskan, gagasan liberalisme yang memengaruhi paham
keagamaan, sebetulnya telah memunculkan pemikiran-pemikiran agama yang
tidak ortodoks. Inilah menurutnya kunci untuk memahami pemikiran Ulil.
“Hanya dengan memahami akar-akar liberalisme yang sebenarnya, kita akan
bisa memahami keseluruhan pemikiran Ulil,” papar Kang Jalal.
Menurutnya, Ulil telah mengusung pemikiran Islam dengan wajah baru.
“Karena Ulil bukan saja menguasai perangkat-perangkat ilmu pengetahuan
modern dari Barat, tapi juga menguasai literatur klasik Islam yang tidak
dikuasai intelektual semacam Mas Yudi Latif,” seloroh Kang Jalal pada
pembicara lain, Yudi Latif. Seloroh itu disambut tawa lepas peserta.
Mantan presiden RI dan tokoh NU yang menjadi keynote speaker saat itu,
Gus Dur, tampil setelah Kang Jalal. Gus Dur yang telah banyak memberi
inspirasi bagi pemikiran Ulil, menyampaikan wejangan khasnya, diselingi
guyonan dan tutur cerita. Gus Dur juga menulis komentar yang cukup
panjang tentang sepak terjang pemikiran Ulil dalam makalah berjudul
“Ulil Dengan Liberalismenya”.
“Saya simpati pada liberalisme Ulil, tapi juga kritis,” papar Gus Dur.
Gus Dur mengaku kalau dia sebenarnya juga sudah sejak lama berpandangan
liberal. “Bedanya, saya tidak menyebut diri saya liberal, dan Ulil
berani untuk menyebut seperti itu,” ucap mantan ketua PBNU itu. Sambil
menganalisis, Gus Dur menjelaskan bahwa pemakaian label Islam liberal
itulah yang membuat Ulil ditolak di mana-mana, terutama di kalangan NU
sendiri.
Gus Dur menampik anggapan NU anti-perubahan. “Di NU, sebenarnya kita
bisa melakukan perubahan apapun, asalkan jangan menggunakan nama,” jelas
Gus Dur penuh siasat. Ia pun lalu bercerita ihwal beberapa kyai NU yang
telah melakukan pembaruan pemikiran di lingkungan NU sendiri, seperti KH.
Wahid Hasyim (ayah Gus Dur), KH. Mahfudz Shidiq, dan ia sendiri. Gus Dur
bercerita bahwa mereka-mereka itu memang tak serta-merta menyebut diri
mereka sebagai pembaharu, apalagi liberal. Namun, dengan siasat itu,
pembaruan tetap berlangsung di NU seraya mengurangi penolakan.
Selain mengeritik, Gus Dur juga mengapresiasi pemikiran-pemikiran Ulil.
Menurutnya, pemikiran dan liberalisme Ulil, tak ada yang perlu
dikhawatirkan. Gus Dur hanya melihat Ulil risau dengan hilangnya iklim
kebebasan berpikir di dunia Islam, dan ia mengkiaskan pengalaman Ulil
dengan apa yang dialami Ibnu Rusyd. “Ulil dalam hal ini bertindak
seperti Ibnu Rusyd yang membela habis-habisan kemerdekaan berpikir dalam
Islam,” tulis Gus Dur dalam makalahnya. Akibatnya pun dapat terduga;
keduanya harus menanggung takfîr (dituduh kafir) oleh mereka yang
berpikiran sempit dan takut akan perubahan.
Kiai nyentrik yang kaya humor itu juga menjelaskan bahwa dalam sejarah
Islam, jurang antara pengikut paham sumber-sumber tertulis keilmuan
Islam seperti Alqur’an dan hadis, ahlun naql, dan penganut paham
perlunya memberi porsi lebih besar pada potensi akal, ahlul `aql (kaum
rasionalis), memang sangat lebar. Karena itu, perdebatan antara kedua
kutub itu adalah hal yang biasa, selagi masih dibingkai dalam semangat
ilmiah.
Hal senada juga diungkapkan Maria Ulfah Anshor dari Fatayat NU. Menurut
pembela hak-hak perempuan ini, Ulil adalah sosok pemuda yang sangat
progresif dalam berpikir. Selama ini, Ulil banyak dicerca dan dimaki,
bahkan dituduh telah merusak akidah Islam. Padahal, Ulil sebenarnya
hanya sedang melakukan pembacaan-ulang atas teks-teks klasik Islam
sebagaimana para ulama lain.
“Bedanya, para ulama umumnya mengikuti apa adanya (teks) ketika membaca
teks-teks klasik, sementara Mas Ulil berusaha mengkritisi dan
memilah-milah,” jelasnya. Karena itu, Ulfah menilai bahwa gerakan Ulil
masih positif, karena justru ingin menjembatani jarak antara teks yang
statis dengan kenyataan hidup.
Sementara itu, Yudi Latif, sebagai pembicara terakhir, mencoba melakukan
analisis sosiologis atas proses pembentukan pemikiran Ulil. Menurutnya,
perkembangan pemikiran Ulil juga diwarnai oleh komunitas epistemik di
mana dia bergaul. “Kalau Ulil tidak di Utan Kayu dan tidak sempat
bergaul dengan orang-orang seperti Goenawan Mohamad, mungkin ia tidak
akan seperti itu,” jelas Yudi. Bagi Yudi, corak komunitas epistemik yang
digauli akan cukup menentukan corak pemikiran seseorang.
Yang cukup menarik dari pemandangan diskusi di atas adalah kegundahan
Kang Jalal atas dampak-dampak lanjutan dari pemikiran Ulil. Bila Gus Dur
dan Ulfah tampak tak terlalu risau dengan sepak terjang Ulil, Kang Jalal
justru sebaliknya. Pakar komunikasi asal Bandung itu merasa khawatir
kalau-kalau gagasan libealisme Ulil akan kebablasan. Namun sayangnya, ia
tidak menjelaskan batasan yang jelas bilamana suatu pemikiran itu dapat
dianggap kebablasan dan tidak kebablasan.
Namun demikian, Kang Jalal masih merasa perlu menempatkan diri sebagai
mitra dialog yang kritis. Kalau pemikiran Ulil dan kawan-kawannya dia
anggap kebablasan, “…saya akan membendungnya dengan kekuatan logika,
bukan logika kekuatan,” tandas Kang Jalal retoris. Namun dalam
paparannya, Kang Jalal juga menyingkap letak kerisauannya. Pemikiran
Ulil dia rasa akan mengancam posisi agama dan terutama agamawan.
“Karena, agama direduksi terus menerus dari perannya,” ungkapnya penuh
khawatir. Sambil bercanda, ia juga mempertanyakan di mana letak dan
peran agamawan seperti dirinya, kelak.
Namun kekhawatiran Kang Jalal dijawab enteng oleh Gus Dur. Menurut Gus
Dur, Kang Jalal terlalu berlebihan dalam menilai Ulil. Gus Dur
mengingatkan letak persamaan umum antara dirinya, Ulil, dan juga Kang
Jalal yang sering disebut sebagai intelektual muslim Indonesia. “Ulil
sebenarnya hanya meperjuangkan kebebasan, sama dengan saya dan Kang
Jalal,” kata Gus Dur mengingatkan. Gus Dur juga menyebut apa-apa yang
dilakukan oleh Ulil belumlah selesai. “Ia kan masih muda. Jadi nggak
usah terlalu diributkan. Pusing amat!” tandas Gus Dur pada Kang Jalal. (Oleh
Umdah El-Baroroh)
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=943
►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
|
|