| |
C © updated 27042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ms |
|
| |
Nama:
Tumpal Harianja
Lahir:
Pahae Jae-Sarulla, Tapanuli Utara, 2 April 1955
Agama:
Islam
Istri:
Berlian Siregar (Agustus 1955)
Ayah:
Purba Harianja
Ibu:
Boru Pakpahan (alm)
Anak:
- Kedarton
- Marlyn
- Lady Diana
- Anugerah
Saudara:
- Clara (PR)
- Idris Harianja (TB Zico, Senen)
- Heldert Harianja ( Milu Agency, Kebayoran)
- Hardina (PR)
- Junus Harianja (David Agency, Senen)
- Berliana (PR)
- Joni Harianja
Pendidikan:
- SD di Pahae
- SMP di Pahae
- STM Perkapalan di Tanjung Priuk, Jakarta
Pengalaman Pekerjaan:
- Agen Media Cetak
- Pemimpin Majalah Kasus-Kasus dan Majalah Fenomena
Alamat:
Pusat Perdagangan Majalah dan Tabloid
Stasiun KA Senen, Jakarta
Telp: (021) 9119176 |
|
| |
|
|
|
|
| HARIANJA HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI
Tumpal Harianja
Raja Agen Majalah Ibukota
Tiga puluh tahun bergelut di bisnis media cetak menjadikan Tumpal
Harianja pemimpin Kedarton Agency memiliki kemampuan menganalisa pasar
media cetak yang sangat jitu. Dia dikenal sebagai seorang agen yang
tidak banyak neko-neko, terpercaya dan senang memberi saran pada
penerbit khususnya yang berhubungan dengan pasar. Penerbit yang sudah
membuktikan kebenaran sarannya tidak lagi hanya memandangnya sebagai
agen tapi juga sebagai Konsultan Media.
Kini dia telah banyak melahirkan agen-agen dan sub agen baru yang
tersebar hampir di separuh ibukota. Berbagai penghargaan sebagai agen
terbaik serta hadiah dan bonus diberikan penerbit atas segala
prestasinya.
Pengalaman selama berkecimpung dalam bisnis ini telah membuatnya sangat
jeli dan paham akan permintaan pasar. Dengan modal itu, dia sering
memberikan saran kepada penerbit tentang topik apa yang sebaiknya
diangkat bahkan apa atau siapa yang ditampilkan di cover. Begitu juga
bagi penerbit baru yang meminta saran dan pendapatnya, akan diberikan
dengan senang hati terutama mengenai problem yang dialami penerbit baru
pada umumnya.
Semakin menarik bila mengetahui darimana dan sudah sejauhmana pria asal
Pahae, Tapanuli Utara ini menggeluti bidang ini. Dalam wawancara dengan
Tokoh Indonesia pada tanggal 7 September 2004 di salah satu kantornya di
Stasiun KA Senen, dia mengatakan bahwa awal berjualan koran dilakoninya
tidak lebih dari sebagaimana tukang koran perempatan jalan pada umumnya.
Itu dimulai ketika masih Sekolah Tinggi Menengah Perkapalan, Tanjung
Priok. Ketika itu dia berjualan koran di Lapangan Banteng pada pagi hari
kemudian sekolah pada siang harinya.
Pekerjaan ini terus dilakoninya hingga selepas dari STM. Saat itu dia
memilih meneruskan berjualan koran ketimbang melamar menjadi pelaut
karena mengetahui adanya peristiwa terbakarnya kapal Pertamina ketika
itu.
Pada masa-masa itulah dia mulai dipercaya oleh penerbit untuk menjual
media mereka dengan sistem titip. Majalah Info Bank merupakan media
pertama yang mempercainya ketika itu. Kerjasamanya dengan majalah yang
mempunyai oplah lumayan bagus karena banyak kerjasama atau hubungannya
dengan bank ini sampai sekarang masih berlanjut. Kini dia merupakan
salah satu agen tertua majalah tersebut.
Tidak begitu lama setelah tamat STM, dia kemudian pulang kampung untuk
menikah. Dia yang ketika itu masih berusia 20 tahun terkesan buru-buru
menikah. Hal itu memang disengaja agar ada yang menjaga kesehatannya
yang ketika itu sudah mulai bandel terbawa kehidupan pasaran. Ketika
pulang kampung ini untuk sementara dia memberhentikan usahanya karena
ketika itu memang dia masih belum agen resmi, masih bebas untuk tidak
menerima barang dari penerbit.
Dari kampung, dia membopong Berlian Siregar, istrinya tercinta ke
Jakarta untuk seterusnya melanjutkan bisnis jual koran. Semangat yang
tadinya mulai jenuh kini kembali timbul lagi dengan dukungan sang istri.
Maka usaha yang tadinya biasa-biasa saja sekarang langsung dibuatnya
menjadi agen resmi dengan nama Harianja Agency sesuai dengan marganya.
Waktu itu dia masih tinggal di Tanjung Priok tapi lokasi agennya di
Lapangan Banteng, karena itu dia dan istri harus pulang balik tiap hari.
Nama Harianja Agency ini di kemudian hari telah menyebar dari Lapangan
Banteng kemudian ke Senen, Kebayoran dan sekarang ke Cawang yang tetap
membawa nama Harianja.
Namun begitu anaknya lahir pada tahun 1977, nama agencynya pun diganti
dari Harianja Agency menjadi Kedarton Agency sesuai dengan nama anaknya,
Kedarton. Kemudian agen ini semakin besar walaupun menurut Harianja
semuanya hanya bermodal kepercayaan saja serta dukungan para karyawan
yang semuanya masih saudara, seperti adik-adik dan lainnya.
Melihat keagenan sekarang ini, Kedarton Agency termasuk agen yang sudah
tua di Ibukota ini. Walaupun memang telah banyak agen sebelumnya namun
pada umumnya agen itu telah mati akibat tidak adanya regenerasi
pengelolanya. Sementara keagenan yang mempunyai generasi itu memang
sampai sekarang masih jalan seperti Agen Haji Sarka di Harmoni merupakan
agen yang umurnya di atas umur Kedarton Agency.
Di antara sekian banyak agen besar di Ibukota ini, nama Timbul Harianja
sebagai pemilik Kedarton Agency cukup menonjol dikenal orang khususnya
para penerbit. Hal ini terjadi karena dia memang sering diundang oleh
penerbit. Kadang-kadang jika seseorang mau membuat media, sering mereka
datang dulu ke tempatnya untuk menanyakan sesuatu.
Kemudian dia pun memberikan saran-sarannya yang di kemudian hari memang
banyak terbukti. Dari situlah maka penerbit itu kemudian lebih banyak
mengenalnya karena kemampuannya memberi saran-saran masa depan media
tersebut. “Umpamanya, banyak juga orang itu punya duit sekian, bayangan
dia dikira seperti biro jasa langsung ada keuntungan, tau-tau membuat
media itu kadang-kadang satu sampai tiga tahun baru kelihatan
keuntungannya,” katanya mencontohkan salah satu saran yang diberikannya.
Begitu banyak kesan dan kisah menarik yang dialaminya sejak menekuni
jualan koran tahun 1974 lampau atau sejak menekuni keagenan di tahun
1977 yang lalu. Namun dengan serius dia mengatakan kalau kesan yang
paling menarik menurutnya adalah jika oplahnya tinggi. “Suatu kekuatan
bagi diri saya misalnya kalau media yang saya ageni itu terjual,
perasaan saya puas, itu saja,” katanya.
Di samping itu memang ada banyak hal menarik untuk dikenang dari usaha
keagenan ini seperti hubungan baik dengan penerbit. Kedarton
Agencynya memang selalu menjaga kepercayaan dari mitranya, dalam hal
ini penerbit. Dia selalu berusaha berlaku adil untuk semua penerbit dan
selalu berusaha untuk transparan.
“Jadi keagenan saya ini keterbukaan semua, saya nggak nutup-nutupin.
Jadi keagenan saya ini selalu terbuka biarpun pada pihak penerbit,
pembukuan saya begini, keuangan saya begini, anak buah saya begini dan
lain-lainnya. Jadi tenggang rasa dari pihak-pihak penerbit di antaranya
Femina Group itu selalu berusaha agar jalinan saya dengan mereka itu
langgeng.
Walaupun dia bukan semacam agen tunggal di Femina Group sebab di Femina
itu memang tidak ada istilah agen tunggal, namun dia merasakan bahwa
Femina Group memperlakukannya berbeda dibanding penerbit lain, hal mana
mungkin diberlakukan Femina juga kepada agennya yang lain.
Di Femina Group, agen lain juga ada. Hanya saja agen baru yang tidak
bisa. Selagi sanggup yang lama ngapain membuat beban sama mereka serta
bagaimana agar agen yang sudah lama terbina, supaya sama-sama maju,
begitulah pemikiran Femina Group tersebut. Memang dengan memberikan
kepada agen baru lagi berarti penerbit itu juga telah mengurangi
pendapatan agennya.
Mengenai kerjasama dengan pihak penerbit, Harianja mengakui hanya karena
kepercayaan saja. Memang kepercayaan itu pun menurutnya ada sistemnya
juga seperti pembayarannya bagaimana, apa sistem dua-satu atau
tiga-satu, artinya media di drop dua edisi, barulah ditagih satu atau
drop tiga edisi, baru ditagih satu.
Jika agen dikelompokkan dari segi cara kerjanya, agen itu terbagi dua
yakni agen pasar yang berjualan bebas dan agen pelanggan yang khusus
mengisi pelanggan. Namun agen pelanggan tersebut ada juga yang sekaligus
menjadi agen pasar dan sebaliknya agen pasar pun bisa sekaligus menjadi
agen pelanggan. Seperti Kedarton Agency misalnya mempunyai pelanggan
yang pelayanannya sudah diserahkan kepada sub-sub agennya.
Pelanggan semuanya diserahkannya kepada sub agen supaya mereka juga
maju. Sehingga dipastikannya, bahwa di bisnisnya itu tidak ada istilah
monopoli.
Sekian lama dia membuka keagenan ini, ada masa surut ada juga masa
pasang, namun yang dia anggap jaman emas peragenan ini adalah
tahun-tahun sebelum krisis atau tahun 1996 ke bawah. Selama ini pula
sudah ratusan merk majalah dan tabloid yang dia tangani, apalagi sejak
masa reformasi ini sudah akrab dijumpai kalau tumbuh sepuluh majalah
atau tabloid akan ada lima yang mati.
Tapi begitu menjamurnya penerbitan berbanding terbalik dengan oplahnya
atau penjualannya yang malah menurun. Ini mungkin disebabkan faktor daya
beli masyarakat yang rendah. Jadi yang bertahan sampai sekarang
menurutnya hanyalah seratusan lebih.
Walau begitu anjlok penjualan media cetak belakangan ini namun media
yang baru masih juga bermunculan. Tapi selaku orang yang sudah begitu
lama berusaha di bisnis ini, dia tidak mau milih-milih. “Bagaimanalah
antara teman ‘kan? Jadi misalnya si A membuat satu tabloid, dia datang
ke tempat saya, harus bantu Harianja katanya, kita berusaha juga bantu
sebab kalau kita tidak bantu nanti kita dibilang sombong. Cuma kita
kasih tahu pada yang membuat media ini bahwa yang menilai nanti adalah
pasar, jangan sampai saya disalahkan, saya bilang begitu saja,” katanya.
Kalau para agen koran memiliki perkumpulan yang dikenal dengan Kelompok
Sembilan, para agen yang hanya menangani majalah dan tabloid seperti
Harianja ini belum mempunyai perkumpulan semacam itu. Mengenai kerjasama
ini dia akui bahwa memang itulah yang kurang. Menurutnya, kalau
kerjasama agen tersebut ada, mungkin kejadian menurunnya oplah penjualan
yang hampir membuat mati banyak agen ini tidak akan terjadi.
Dalam penurunan oplah ini, banyak agen yang tidak sanggup menghadapi
karena jika dulu misalnya oplah agen itu seribu tapi sekarang jadi lima
ratus, akhirnya sudah kewalahan bayar yang seribu. Jadi menurutnya kalau
agen itu kompak, dia merasa diskon dari penerbit itu bisa diperbesar
sehingga nanti ada sisanya. Sebab kalau sekarang ini, agen seperti dia
itu katanya hanya ambil 1%, jadi ke bawahnya yakni sub agen itu yang
lebih banyak, apalagi pengecer itu bisa sampai mendapat 25%.
Walau ternyata kerjasama yang lebih riel di antara mereka itu tidak ada
sama sekali, namun persahabatan di antara mereka terutama yang saling
berdekatan kelihatan sangat mesra. Sering terjadi saling pinjam majalah
misalnya.
Mengenai kekompakan agen tersebut, Harianja mengatakan bahwa hal itu
terjadi karena mereka sudah merasa seperasaan. Jadi mengenai pinjam
meminjam itu sudah hal lumrah dan sudah kebiasaan di antara mereka.
Demikian juga antara agen dan sub agen sering juga terjadi barter. Jadi
kalau agen A umpamanya mengageni beberapa produk, sub agennya juga bisa
mengageni sesuatu produk lain yang tidak ada di agen besarnya, jadi di
antara agen besar dan sub agen bisa saling barter.
Sedangkan penerbit sendiri tidak ada larangan dan hambatan untuk
mengangkat agennya, mereka bisa mengangkat agennya siapa dan di mana
saja sekalipun agen tersebut bersaudara dan saling berdekatan letaknya.
Tapi penerbit itu biasanya jeli melihat siapa menjadi agennya sebab di
antara agen itu ada juga yang tidak mempunyai pasar alias hanya menjual
saja dan hanya menunggu. Lain halnya dengan Kedarton Agency sendiri,
boleh dikatakan bahwa Jakarta ini sebenarnya sudah dipagar semua,
artinya sub agen maupun pengecernya sudah hampir ada di seluruh sudut
kota Jakarta.
Mengenai sub agen Kedarton Agency, sebelum ditempatkan, mereka lebih
dulu dididik dan diarahkan oleh Harianja. Begitu ada lokasi yang tepat,
mereka pun ditempatkan di sana. Jadi yang mencari dan membayar sewa
tempat tersebut adalah Harianja sendiri namun walaupun begitu dia tidak
menempatkan sub agen ini sebagai pekerja yang menerima gaji atau pun
membuat sistem kerjasama bagi hasil.
Sub agen-sub agen ini murni bekerja untuk mereka sendiri dengan hasil
yang dinikmatinya seratus persen. Hanya, sub-sub agen ini diwajibkan
mengambil barang dari Kedarton Agency kecuali barangnya tidak ada.
Dengan cara demikian pula maka kalau barang masih ada di Kedarton Agency
mereka pun tidak bakal mau mengambil dari orang lain.
Di samping itu, inisiatif pendirian satu sub agen semuanya berawal dari
inisiatif dan pertimbangan dari Harianja sendiri. Jadi tidak harus atas
permintaan calon sub agen tersebut. Harianja menyediakan lokasi dan
menyediakan barang tanpa uang muka. Dari sini dia hanya ambil persen
saja sebagaimana dari orang lain juga. Dari situ sudah kelihatan bahwa
dia memang jelas tidak mau memonopoli dengan sistem gaji atau sistem
bagi hasil.
Bahkan tempat itu sendiri tidak diganti, mereka bisa pergunakan
sepanjang masih berjualan majalah dan tabloid di situ. Dan yang lebih
menyenangkan lagi buat sub agen ini adalah satu mobil boksnya ia berikan
untuk mereka supaya cepat ambil barang. Ini semua dia lakukan hanyalah
ingin berbuat yang terbaik pada mantan anak buahnya, mengingat bahwa
selama beberapa tahun menjadi anak buahnya, dia merasa bahwa gaji yang
dia berikan kepada mereka itu tidaklah seberapa..
Dengan perlakuan demikian, kini sub agennya sudah begitu banyak tersebar
di sudut-sudut kota Jakarta dan sampai sekarang masih lancar-lancar
saja. Strategi pemasaran ini terbutkti talah menjadi kekuatan dari
Kedarton Agency ini. Melihat semua tindakan dari Harianja ini tidak
salah kalau banyak yang mengakui bila berhubungan dengan pimpinan
Kedarton Agency ini tidak ada yang tidak bisa diselesaikan secara
kekeluargaan dengan cara yang terbaik.
Sementara mengingat begitu dekatnya hubungan kerja antara sirkulai dari
pihak penerbit dengan pihak agen, juga telah secara tidak langsung
menumbuhkan akrabnya hubungan kekeluargaan di antara mereka. Maka dua
tahun belakangan ini dia pun mulai membentuk sebuah paguyuban yang
disebutnya dengan PSDR. Hal ini dimaksudkannya agar sirkulasi dan agen
itu janganlah hanya berhubungan soal tagihan dan retur.
Dengan paguyuban ini dia mengharapkan agar di luar tugas seorang
sirkulasi terjalin lagi hubungan yang bisa bermanfaat sewaktu-waktu
seandainya tidak bekerja lagi di perusahaannya. Umpamanya kalau seorang
sirkulasi suatu penerbit yang karena sesuatu tidak bekerja lagi di
perusahaannya akan tetap masuk hitungan keluarga PSDR. Jadi umpamanya
begitu si sirkulasi itu keluar dari pekerjaannya jangan sampai ada
masalah. Paguyuban harus ikut mencari jalan keluar masalahnya, misalnya
mencari dimana kira-kira penerbit yang membutuhkan sirkulasi.
Di samping itu, sebenarnya dia juga bermaksud membuat suatu perkumpulan
berbentuk koperasi. Bila nanti ada dana akan dibuat warung-warung
seperti warung sembako misalnya, dengan tujuan agar siapa yang sudah
tidak bekerja lagi di sirkulasi akan dikasih warung tersebut untuk
dijaga. Dia juga merasa bahwa pihak penerbit pun tidak akan keberatan
kalau misalnya kebutuhan-kebutuhan penerbit itu seperti gula, beras,
kopi disuplai dari koperasi karena anak buah mereka juga ikut di sana.
PSDR ini dia bentuk di luar nama perusahaan. Jadi kalau sirkulasi suatu
penerbit mau ikut, penerbitnya sendiri tidak ikut dibawa-bawa tapi hanya
pribadi yang bersangkutan. Walaupun sepanjang ini belum semua sirkulasi
penerbit itu ikut serta, tapi kemajuannya sudah terasa.
Dari pihak agen yang berperan dalam paguyuban ini bukanlah hanya
Kedarton sendiri. Kini sudah delapan agen yang ikut serta dan yang lain
tidaklah bersikap menolak. Mereka masih bersikap menunggu melihat apa
yang terbaik dan cepat atau lambat mereka juga akan ikut. Pihak penerbit
juga mendukung sekali dengan paguyuban ini terbukti bahwa mereka sudah
pernah ikut membantu paguyuban dengan memberikan barang-barang untuk
door prize dan lainnya dalam suatu pertemuan yang dilakukan paguyuban.
Mengenai keanggotaan paguyuban ini tidak dibatasi antara agen dan
sirkulasi saja tapi karyawan peragenan juga diperkenankan. “Siapa yang
mau. Jadi banyak juga yang mendukung, seperti karyawan kita juga
mendukung,” kata Harianja.
Untuk seorang anggota sampai sekarang ini masih berlaku peraturan pada
awal pembentukannya yaitu iuran Rp.100.000 sebulan. Iuran ini
diperuntukkan untuk konsumsi Rp.25.000, arisan Rp.25.000, tabungan
Rp.25.000, dan Rp.25.000 lagi untuk biaya tidak terduga seperti jika
sewaktu-waktu ada yang sakit, kemalangan dan sebagainya.
Ditanya mengenai manfaat tabungan yang Rp.25.000, apakah berarti anggota
bisa meminjam, Harianja mengatakan, bahwa paguyuban ini dibentuk adalah
untuk anggota, tapi karena belum semuanya tertata rapi maka hal itu akan
dipikirkan lebih lanjut. Dan mengenai arisan juga, diakuinya bahwa hal
tersebut baru dua kali diadakan. Menurutnya, membuat satu paguyuban itu
harus sabar dulu.
Paguyuban yang sudah beranggotakan sekitar 78 orang ini diakui Harianja
memang masih belum sempurna. Untuk menyempurnakannya, dia berencana
dalam waktu dekat akan mengumpulkan anggota untuk memperbaharui segala
sesuatu kekurangan dari paguyuban, seperti melengkapi AD dan ART-nya.
Memang untuk mengumpulkan anggota itu sendiri pun diakuinya selalu
mengalami kendala karena sulitnya menentukan hari pertemuan. Setiap
merencanakan satu pertemuan, belum bisa ditetapkan satu hari dalam satu
minggu sebab kadang satu penerbitan ada terbitannya atau agen sendiri
yang sedang repot.
Walaupun paguyuban yang hingga kini masih kebanyakan beranggotakan
sirkulasi penerbit ini sudah dua tahun didirikan, namun perkembangannya
memang tidak begitu pesat. Hal ini bisa dimaklumi melihat masih belum
lepasnya perekonomian bangsa ini dari pengaruh krisis.
Namun manfaatnya telah dirasakan oleh masing-masing anggota dimana
semakin terjalinnya perasaan persaudaraan dan kekeluargaan di antara
mereka. Hubungan mereka tidak lagi hanya terfokus pada urusan tagihan
dan retur. “Di luar ini kita itu harus keluarga. Karena kita lihat
krisis-krisis sekarang ini, kalau tidak didampingi secara kekeluargaan
bisa tegang bahkan putus kita semua,” kata Harianja lebih tegas.
Mengenai persoalan paling memberatkan yang sering dihadapi pihak agen
selama ini, menurut Harianja adalah sistem, dimana banyak penerbit yang
tidak percaya bahwa apa yang mereka buat itu akan terjual, sehingga
mereka melakukan sistem retur yang dibatas. Artinya, yang bisa kembali
itu terbatas hanya sekian persen dan di luar itu resiko agen. Karena
sistem ini, sekarang ini banyak agen yang terlibat utang.
Walaupun persoalan di atas sebenarnya bisa disiasati dengan membatasi
atau mengurangi penerimaan tapi karena feeling agen yang kadang tidak
selalu benar, hal itu tetap beresiko tinggi. Jadi walaupun menurut
feeling agen, sesuatu media itu bagus atau edisi itu bagus tapi jika
keadaan pada saat media itu keluar tidak mendukung seperti turunnya
hujan, maka resiko harus ditanggung agen sendiri. Atau seperti
pertengahan tahun 2004 ini dimana mulai dari kampanye, terus masuk
sekolah, semuanya sering membuat hal yang di luar dugaan. Maka anjuran
Harianja, penerbit itu sebenarnya harus melihat bagaimana pasar itu,
bisa nggak diterima masyarakat produk mereka pada edisi-edisi tertentu.
Sementara menanggapi toleransi retur yang diberikan oleh pihak penerbit
jika kelalaian itu justru dari pihak penerbit sendiri seperti
keterlambatan dan lain-lainnya, Harianja menanggapinya merupakan hal
yang wajar apalagi media sekarang ini mempunyai banyak saingan dari
media yang sama jenis atau segmennya. Rata-rata lima media cetak yang
sejenis atau satu segmen menurutnya mengharuskan penerbit itu
pintar-pintar bikin isi medianya yang diterima oleh masyarakat. Sebab
menurutnya, sekarang ini masyarakat kita itu sudah jenuh karena tidak
ada yang tuntas. Menyelesaikan sesuatu itu terlalu lamban.
Memperhatikan begitu strategisnya posisi para agen ini bagi suatu media
cetak, dimana boleh dikatakan merupakan tulang punggung dari penerbitan
itu sendiri sudah seharusnya perasaan para agen ini menjadi perhatian
bagi para penerbit, sebab jika satu penerbit tidak berkenan di hati
mereka, boleh jadi sebenarnya para agen ini tidak mendukung penerbitan
tersebut yang lambat laun akan mematikan media tersebut.
Walaupun mengakui hal itu bisa, tapi menurut Harianja, tidak pernah
terlintas untuk mematikan produk seseorang itu dalam pemikiran mereka.
Malah dalam pikirannya, kalau seseorang itu mempunyai produk berupa
sebuah majalah atau tabloid berarti karyawannya sudah ada sekian banyak,
jadi ikut mengembangkan usaha itu di samping dia sendiri dapat untung,
dia juga merasa telah membantu sekian banyak orang itu dari ancaman
pengangguran.
“... karena kita berpikir kalau ada produk dia itu berarti karyawannya
ada sekian banyak, apalagi saat krisis sekarang ini kita itu tidak ada
istilah cari gara-gara, nggak ada itu yang penting aman-aman saja. Semua
seharusnya sama merasakan, si penerbit itu juga merasakan bagaimana
agennya ini, si agen juga melihat bagaimana pengecer, itu saja,” katanya
lebih lanjut.
Memang walaupun oplah penjualan itu disebut-sebutnya menurun, tapi di
lain pihak dia juga mengakui adanya perubahan positif dibanding dulu.
“Sebenarnya perubahan itu sekarang ini sudah banyak. Dulu pedagang koran
itu hina, tahun 95 ke bawahlah.
Kalau umpamanya si A disebut tukang koran kedengaran saja sudah hina.
Tapi begitu krisis terjadi dimana banyak PHK di sektor lain, tukang
koran justru bangkit sebab lebih gampang untuk mencari kerja. Jadi kalau
dulu, kehitung ini semua tukang koran, agen. Sekarang sudah kayak
jamur,” ujarnya ingin memaknai krisis itu sendiri.
Ditanya mengenai kerjasama Kedarton Agency dengan David Agency pimpinan
adik kandungnya sendiri yang bertetangga dekat dengannya di Stasiun KA
Senen, dia mengatakan tidak ada sama sekali. Bahkan kesepakatan seperti
agar satu orang saja yang menangani satu media tertentu, itu pun tidak
mereka lakukan karena menurutnya jika media itu dibeda-bedakan tidak
enak nantinya.
Diakuinya, bahwa sebenarnya dia kadang tidak mau lagi menerima, tapi
dirinya jadi serba salah sebab nanti bisa dibilang sombong. Karena itu
pulalah banyak penerbit itu melihat Harianja merupakan orang yang tidak
banyak neko-neko, di samping merupakan orang yang dibutuhkan
saran-sarannya yang sangat berharga.
Melihat kemampuan Harianja menganalisa pasar sebenarnya dia sudah bisa
membuat konsultan media. Dengan demikian, dia mendapat upah jasa
konsultan. Tapi menurutnya hal itu enggan dia lakukan. “… bagaimanalah
orang ini teman semua.
Terkadang sakit hati juga melihat seorang penerbit. Kenapa saya sakit
hati, karena mereka itu sewa konsultan. Kami sudah konsultasi dengan
konsultan ini katanya, entah dibayar berapa, tau-tau pemasukan-pemasukan
yang dikasih konsultan mereka itu tidak sejalan dengan yang di lapangan
atau pasar. Jadi ide-ide mereka itu tidak tahu entah ide apa, karena
mereka itu tidak punya pengalaman,” katanya menyesalkan.
“Kalau seseorang mau bikin majalah, itu kita pertanyakan. Pertanyaannya
sama investor, berapa duit? Sanggup nggak Bapak? Kasihan Bapak nanti
habis duit, tapi kalau Bapak sudah sanggup, sudah rela, oke. Begini,
begini, begini, gitu. Makanya media itu selalu bertolak belakang antara
manajemen dengan sirkulasi,” lanjutnya.
Walupun dia selalu berusaha memperlakukan sama semua media, namun ada
satu penerbitan besar yang tidak ditanganinya. Tapi sub-sub agennya
dibiarkannya bebas mengambil dari penerbitan tersebut. Menurutnya, ada
kelemahan dari penerbitan tersebut yang tidak disukainya dimana
penerbitan itu tidak membina agennya.
Dicontohkannya, jika ada umpamanya masalah di agennya, penerbitan ini
tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Mereka langsung mengangkat agen
lain. Jadi penerbitan ini tidak berusaha mencari jalan yang terbaik,
mencari solusi yang baik agar agen yang pertama bisa hidup. Tindakan ini
menurutnya akhirnya menimbulkan persaingan kurang sehat di lapangan.
Kemudian mereka juga membuat retur yang ketat. Menurutnya, adanya
pembatasan ini merupakan kesalahan penerbit itu. Karena tidak percaya
diri bahwa produknya akan terjual di pasar, mereka membuat suatu ancaman
kepada agen padahal tindakan itu akan mencelakai produk mereka sendiri.
Dijelaskannya, karena penerbit membuat ancaman pada agen, maka agen pun
membuat ancaman pada pengecer. Sebagai contoh dengan retur 20%.
Anak-anak ini bawa 20 eksemplar misalnya tapi sisa lima. Dengan syarat
return 20% tadi, pengecer ini sudah rugi. Kemudian edisi berikutnya
dikurangi lima tetapi tokh juga ada sisa dari 20%.
Dengan demikian lama-lama pengecer itu akan membawa semakin sedikit
sehingga bisa jadi 10 kemudian 5 dan seterusnya. Karena pengecer itu
ingin mencari yang bisa menguntungkan, mereka akan mengambil media lain
yang syaratnya lebih ringan atau kalau boleh media yang bebas retur.
Menurut Harianja, hal ini kadang tidak disadari oleh sebagian penerbit.
Ini pulalah yang disebutnya bertolak belakangnya antara manajemen dengan
sirkulasi. Yang kalau tidak seiring sejalan, menurutnya penerbitan itu
akan mati. Dikatakannya, penerbit seperti itu selalu menghitung kerugian
tidak menghitung pendapatan. Padahal seharusnya keluar dulu, baru
dihitung berapa yang dapat dan berapa yang sisa. Begitulah menurutnya
kalau bisnis.
Mencoba membandingkannya dengan penerbitan-penerbitan Jawa Timur,
Harianja memuji kelihaian penerbit daerah itu dengan sistem yang mereka
lakukan. Diambilnya sebuah sample seperti tabloid ‘Nyata’ terbitan TOP
Group. Walaupun penerbit ini tetap membatasi retur 20% tapi mereka bisa
menerima sampai beberapa edisi yang lewat, jadi sistemnya kumulatif.
Dengan demikian menurutnya, oplah mereka yang sampai ke Jakarta sendiri
sudah banyak. “Jadi itulah bisnis, bagaimana mensiasati peraturan produk
lain,” katanya menjelaskan.
Kembali pada salah satu penerbitan Jakarta tadi, dia mengatakan bahwa
mereka itu tidak menyadari telah diserang produk lain dengan berbagai
cara. Itu disebabkan oleh peraturan mereka yang malah menyerang agennya
sendiri.
“Jadi agen itu jangan ditekan terus. Si agen ‘kan tidak mau di
tekan-tekan, selalu mengutamakan yang lebih longgar, mereka tidak mau
mengambil resiko yang terlampau besar. Jadi sebenarnya penerbit itu
memberi bebas tapi tetap diberi ukuran sesuai dengan kemampuan, sehingga
anak-anak leluasa membawanya,” katanya memberi saran. “Jadi yang terjadi
ini, belum apa-apa sudah ada ancaman, sehingga jadi beban,” katanya agak
mengeluh.
===
Dia sosok penjual koran tanpa modal yang kini menjadi pemimpin Kedarton
Agency yang merajai peragenan majalah di ibukota. Kedisiplinannya dalam
menepati janji dan waktu, sabar, jujur dan menjaga kepercayaan selama
kurang lebih 30 tahun telah berhasil melahirkan agency-agency muda yang
belakangan bahkan lebih besar darinya. Pria berkacamata ini juga dikenal
sangat jeli menganalisa pasar. Kejelian itu membuatnya sering diminta
saran oleh penerbit, hingga menganggapnya sebagai ‘Konsultan Media’.
Menelusuri kehidupan laki-laki yang memulai langkahnya di Ibukota dengan
hanya bermodalkan keuletan ini sungguh perlu disimak. Walaupun dia
dilahirkan dari keluarga yang cukup terpandang di desanya, namun
berjualan koran dilakukannya tanpa rasa malu dan rendah diri.
Walaupun segala kehinaan melekat pada predikat tukang koran, pekerjaan
itu tetap ditekuninya hingga memiliki sebuah agen majalah terbesar di
negara ini. Kini hampir separuh dari agen besar, agen menengah, dan
pengecer yang ada di Jabotabek merupakan hasil bimbingan dan mantan
karyawannya. Dia kini menjadi salah satu raja agency di negeri ini.
Pria kelahiran Pahae Jae-Sarulla, Tapanuli Utara, 2 April 1955, ini
mulai mengenal bisnis media cetak sejak ikut menjajakan koran di
Lapangan Banten. Setelah menamatkan SMP-nya di Pahae, desa kelahirannya,
dia pun hijrah ke Jakarta untuk sekolah di STM Perkapalan Tanjung Priuk.
Sebelum masuk sekolah siang, ia menyempatkan diri untuk menjual koran.
Demikianlah kesehariannya dilalui dengan kerja keras namun tetap senang
hati dan ceria. “Kalau jualan koran dulu beda dengan sekarang. Kalau
dulu kita harus teriak, harus ada nyanyian ‘Merdeka’, ‘Pos’ setiap saat.
Kalau sekarang tanpa dinyanyikan pun sudah tau orang, sudah bisa dijual.
Dulu enaknya di Lapangan Banteng itu saya rasa untuk sesuap nasi tidak
sampai satu jam mencari,” katanya mengenang.
Setamat dari STM, seyogyanya dia melamar ke perusahaan pelayaran sesuai
dengan ijazah yang diterimanya. Namun kejadian kebakaran kapal Pertamina
tahun itu membuat dirinya takut untuk berlayar. Dia pun kemudian
memutuskan untuk makin serius menekuni jualan koran dan majalah tadi.
Sesudah beberapa lama, penerbit majalah Info Bank pun mulai
mempercayainya dengan menitipkan medianya. Itulah media pertama sekali
yang mempercayainya menjadi agen yang diikuti kemudian oleh berbagai
penerbit lain. Mereka mempercayainya walau hanya dengan modal alamat
jelas, ketepatan janji, serta kejujuran.
Putra kedua dari delapan bersaudara dari ayah bernama Purba Harianja dan
ibu Boru Pakpahan (alm), ini memang sedikit banyak mempunyai bekal bakat
berdagang dari ayahnya yang memang seorang toke - pengusaha kemenyan.
Kemenyan yang banyak digunakan untuk bahan kosmetik maupun untuk dupa
dan merupakan hasil perkebunan ciri khas Tapanuli Utara tersebut dibeli
dari para petani selanjutnya dijual kepada toke yang lebih besar,
begitulah pekerjaan ayahnya ketika Harianja masih kecil. Usaha sang ayah
tersebut termasuk cukup besar untuk ukuran masa itu dimana telah
memiliki dua mobil untuk operasional usahanya.
Kehidupan keluarga Harianja yang bergelombang juga berperan dalam
pembentukan pribadinya menjadi seorang pekerja yang ulet. Disebutkan
bergelombang karena ketika dia menginjak pendidikan SMP, usaha ayahnya
pun bangkrut yang membuat keluarganya kemudian menjalani kehidupan
sebagai petani dengan berkebun, kebun yang hingga kini masih tetap
dipelihara dengan tanaman kayu jati.
Setelah beberapa lama menjalani kehidupan sebagai penjual koran dengan
segala keluh kesahnya, dia pun memutuskan untuk pulang kampung untuk
melepas rindu. Dengan pertimbangan agar ada seseorang yang benar-benar
memperhatikan dan merawat dirinya, dia pun memutuskan untuk menikah.
Maka ketika usianya menginjak 20 tahun itu, tepatnya pada tahun 1975
bulan Agustus, dia pun resmi memulai kehidupan yang baru dengan keluarga
baru. Berlian Siregar gadis sekampungnya yang telah dicintainya begitu
lama itu akhirnya menjadi tambatan hatinya. “Tidak berapa lama sesudah
selesai STM, saya pulang kampung. Istilahnya pulang kampung itu karena
saya itu sudah merasa bandel di Jakarta, takut sesuatu. Pulang kampung
sebenarnya karena kita itu buru-buru punya istri untuk menjaga kesehatan
kita,” katanya mengisahkan.
Begitu selesai melangsungkan acara pernikahan, keluarga baru ini pun
berangkat lagi ke Jakarta untuk seterusnya melanjutkan usaha jual koran.
Dengan modal alamat jelas, kepercayaan dan kejujuran di samping memang
adanya kemudahan dari pihak penerbit dimana bayarannya bisa belakangan
maka dia pun mulai membuka keagenan dengan nama Harianja Agency.
Dua tahun setelah perkawinannya, keluarga baru ini pun dikaruniai
seorang anak laki-laki yang diberi nama Kedarton. ‘Kedar’ merupakan nama
pemberian nenek si bayi, kemudian ditambahkan sang ayah dengan nama
‘Ton’ di belakangnya. Nama Ton diambilnya dari nama Ken Norton, petinju
kelas berat yang sedang bertanding dengan Muhammad Ali ketika itu. Nama
anak pertama inilah yang mengilhami penggantian nama agencynya dari
Harianja Agency menjadi Kedarton Agency.
Dalam sejarah perjalanan agencynya, dia tercatat telah banyak melahirkan
agency baru yang dikelola mantan karyawannya yang notabene juga masih
keluarganya. Dia memang seorang pengusaha yang selalu memikirkan
karyawan. Apabila ada lokasi berjualan majalah dan tabloid yang bagus,
dia akan mengambilnya dan menempatkan salah satu pekerjanya untuk
mengelola sub agen baru di situ.
Segala jenis media yang ada padanya diberikan juga pada sub agen
dimaksud sedangkan dia sendiri hanya mengambil persen saja. “Saya tidak
mau memonopoli dengan sistem gaji atau sistem bagi hasil misalnya.
Tempat itu sendiri tidak diganti ke saya, mereka bisa pakai sepanjang
masih berjualan di situ. Bahkan saya berikan mobil boks satu. Soalnya
saya merasakan, bahwa selama menjadi anak buah saya lima tahun, gaji
mereka itu tidak seberapa saya kasih. Jadi mobil-mobil kita yang sudah
agak lama diberikan sama dia itu supaya cepat dia ambil barang,” katanya
mengenai hal tersebut.
Dari keluarga kandungnya sendiri terhitung sudah lima orang yang
benar-benar terjun menekuni media cetak ini menjadi agency baru yang
benar-benar terpisah darinya bahkan ada yang menjadi penerbit. Dan
mantan anak buahnya yang sudah lama bekerja untuknya, pada umumnya dia
angkat jadi sub agen.
Tingginya sifat kekeluargaan dalam diri Harianja juga telah menjadi
salah satu faktor pendukung keberhasilan usahanya. Mantan karyawannya
yang menjadi sub-sub agen tersebut diperlakukannya sebagai keluarga dan
memang sudah dianggapnya keluarga. Tidak hanya mereka itu, bahkan
sub-sub agen yang lain yang cuma tetangga pun, tidak diperlakukannnya
sebagai teman bisnis saja tapi hubungan keluarga dulu baru bisnis.
Dengan demikian, hampir tidak ada karyawan dan anak buahnya yang mencoba
merongrong usahanya, sebaliknya semuanya saling mendukung.
Di antara mereka delapan bersaudara, empat di antaranya terjun di bidang
media cetak. Di samping dia sendiri, adiknya yang nomor tiga, Idris
Harianja juga bergerak dalam jual buku cetakan sebagai pemilik T.B. Zico
di Senen. Kemudian adiknya nomor empat, Heldert Harianja membuka agency
di Kebayoran dengan nama Milu Agency. Dan adiknya nomor enam, Junus
Harianja juga membuka David Agency yang bertempat persis di sampingnya
di Stasiun Senen.
Sementara keponakannya, anak dari kakaknya yang bernama Rudi Manalu juga
menggeluti bidang media cetak ini dengan menjadi seorang penerbit.
Bahkan sebagian di antaranya menurutnya malah sudah lebih besar dari
agencynya. “Sekarang anak buah saya, seperti adik saya yang di
Kebayoranlah sudah lebih maju dari saya, cuma mereka selalu hormat,”
katanya.
Mengenai masa depan anak-anaknya, ayah dari Kedarton, Marlyn, Lady
Diana, dan Anugerah, ini mengatakan bahwa sejak awal ia sudah
mengarahkan dan menerjunkan anak-anaknya ke bidang bisnis keagenan. Ini
dia lakukan dengan maksud agar bisa melanjutkan bisnisnya dengan lebih
baik lagi.
Dan kini anak pertama dan keduanya yakni Kedarton dan Marlyn telah
terjun ke dunia pemasaran media cetak. Kedarton mengelola agen di
Terminal Senen sedangkan Marlyn mengelola salah satu agen di Stasiun KA
Senen.
Berbicara mengenai bisnis pemasaran media cetak ini, dia mengingatkan
bahwa mencoba terjun ke bisnis ini haruslah memilih atau memiliki istri
yang sabar mengingat waktu dan perhatian suami yang terkuras habis pada
pekerjaannya. “Kalau jadi istri agen itu harus jadi orang sabar karena
suami itu sepertinya mengutamakan keagenan. Waktu suami itu kebanyakan
mengurus media daripada melihat istrinya di rumah,” katanya.
Memperhatikan sisi kehidupan keagenan selama ini boleh disimpulkan bahwa
bidang ini merupakan bidang yang paling sosial. Disebutkan demikian,
memperhatikan kejadian yang sering terjadi selama ini dimana banyak
orang datang dari kampung telah tertolong bahkan bisa berhasil di
ibukota ini. Susahnya cari pekerjaan dan keengganan berlama-lama di
rumah keluarga kadang memaksa mereka berjualan koran dulu dengan modal
kepercayaan dari agen atau sub agen. Dari sana mereka bisa mencari
pekerjaan lain atau menggeluti berjualan koran lebih serius lagi hingga
banyak yang berhasil.
Karenanya, Harianja mengakui bahwa penerbitan-penerbitan yang telah
memberikan sistem pembayaran di belakang selama ini sangat baik dan
banyak membantu. Dan diakuinya juga bahwa kadang malah justru si agenlah
yang salah karena sudah dikasih kepercayaan tapi masih bikin ulah yang
sebenarnya malah merugikan diri si agen itu sendiri. Mengenai hal itu
dia menduga bahwa mungkin si agen itu memang tidak bisa mengelola duit.
Duit yang dilihat banyak itu mungkin dianggap duit sendiri sehingga
akhirnya pengelolaannya jadi salah.
Lain dengan Kedarton Agency, dengan pengelolaan yang baik kini agen ini
telah memiliki anak buah tidak kurang dari 14 orang yang sebagian adalah
keluarga. Ini belum termasuk bila sub-sub agen tadi dihitung menjadi
anak buahnya. Di Jakarta ini mungkin sudah hampir 60% agen dan sub agen
termasuk dalam jaringannya. Keberhasilan ini diperolehnya karena selalu
menanamkan prinsip yang terbaik bagi mitra dan anak buahnya.
Pada semua anak buahnya dia selalu menganjurkan agar kalau bisa jangan
hanya pengecer tapi harus bisa jadi sub agen. Dan apabila anak buahnya
sudah jadi sub agen dia juga menyerahkan pada mereka untuk mengisi
pelanggan. Hal ini semua dia lakukan tidaklah hanya karena bisnis atau
mengharapkan imbalan namun yang utama adalah menolong. “Tapi mereka itu
tidak ada ikatan apa-apa sama saya, mereka bebas. Hanya supaya mereka
itu maju, begitu,” katanya mempertegas.
Pengusaha yang total dan fokus di bisnis di media cetak ini, sepanjang
pengalamannya juga telah banyak mengalami berbagai gelombang sejak
memulai usaha keagenan ini. Tahun 1996 ke bawah merupakan tahun-tahun
keemasan bisnisnya, namun jaman itu kemudian dihancurkan krisis di tahun
1997. Sejak itu bisnisnya telah megalami penurunan sama seperti yang
dialami oleh hampir semua pengusaha di bidang yang sama.
Namun walaupun begitu dia masih merasa optimis bahwa pada saat yang akan
datang, akan ada lagi saat yang lebih bagus. “…saya yakin pada saat yang
akan datang akan ada lagi saat yang lebih bagus. Misalnya kalau
kepemimpinan negara kita ini sudah ada yang tetap, ekonomi kita akan
bangkit lagi,” ucapnya optimis.
Pada tahun keemasan media cetak tersebut, dia juga pernah memperluas
jaringan bisnisnya pada bidang penerbitan. Namun setelah krisis moneter
dia meninggalkan penerbitan bahkan hampir membuatnya meninggalkan bisnis agency dan beralih ke
usaha lain. Hanya dorongan dari para penerbit sajalah yang membuatnya
kembali bersemangat menekuninya. "Ada faktor kejenuhan. Perasaan saya
itu jenuh pada masa krisis tahun kedua, kira-kira tahun 1998. Tapi pihak
penerbit, terutama Femina Group, melarang saya menyerah,” katanya
mengenang.
“Pikiran saya pulang kampung, membuka kebun. Kalau di media ini waktu
dan otak yang dimakan, jadi bukan tenaga. Kalau umpamanya di kampung,
tenaga masih bisa sedangkan otak tidak begitu kerja keras,” lanjutnya
mengenang rencananya ketika hendak meninggalkan bisnis agency.
Karenanya, sekedar menjelaskan tentang permasalahan yang sering
dihadapinya sekaligus menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman
antara agen dan sirkulasi, dengan terus terang dituturkannya tentang
kelemahan dari pihak penerbit menghadapi para agen sesuai dengan
pengalamannya selama ini.
Agen di Jakarta yang pada umumnya tidak punya tempat yang bagus, bahkan
semuanya di kaki lima, tidak ada AC dan lainnya sehingga sangat
memprihatinkan, namun menurutnya terkadang tanpa melihat waktu masih
dikunjungi sirkulasi pihak penerbit. Situasi yang gerah dan pikiran yang
penat kadang membuat agen kesal dan tanpa disadari sirkulasipun
terkadang ikut mendapat caci maki.
Ditambahkannya, kalau sirkulasi itu sudah punya banyak pengalaman,
biasanya melihat dulu dari jauh, jika agennya tidak kusut dan sudah
senyum, baru dia dekati. Jadi menurutnya, begitulah sebaiknya para
sirkulasi tersebut sebab yang dihadapi agen itu bukan hanya satu dua.
Siapkan Generasi Kedua
Apa yang diutarakan Harianja ini pada umumnya dibenarkan juga oleh
Kedarton, anak tertuanya yang diwawancarai Tokoh Indonesia pada waktu
dan tempat yang sama. Kedarton lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan Studi
Pembangunan Universitas Trisakti dua tahun lalu ini mengatakan dengan
sengaja memilih Fakultas Ekonomi karena sejak kecil sudah memiliki bakat
berjualan. Jadi menurutnya bakat jualan itu akan lebih klop jika dia
teruskan ke fakultas ekonomi.
Sejak kecil Kedarton memang sudah kelihatan berminat pada bidang
pemasaran atau berjualan. Pada bulan puasa ketika masih Sekolah
Pendidikan Menengah, Kedarton sudah sewa-menyewakan komik dan jual TTS
di depan rumahnya. Lama-kelaman dia pun menyadari bahwa jiwanya memang
jiwa pedagang, sedangkan kerja di kantor dia tidak punya minat sama
sekali walaupun pakai dasi dan jas dia akui pengen juga sekali-sekali.
“Jadi saya merasa bahwa jiwa saya memang jiwa pedagang dan kerja di
kantor tidak ada minat sama sekali. Pakai jas dan pakai dasi memang
pengen juga, tapi kalau melihat tempat saya ini tidak pantas banget,
terlampau mencolok,” kata Kedarton.
Kedarton ini memang seorang yang berbakat dan ulet. Dua tahun terlibat
langsung dalam bisnis ini telah membuatnya mengetahui hampir semua seluk
beluk bisnis media ini, mencakup teknis-teknis dasarnya seperti menerima
barang, retur, peredarannya dan lainnya. Walaupun begitu dengan merendah
dia mengakui bahwa masih banyak ilmu-ilmu pola pikir cara menanggulangi
sesuatu itu yang masih belum dia kuasai.
Ketika ditanya pemikiran baru apa yang bisa dikembangkan dalam
menjalankan bisnis ini ke masa depan, dia malah mengatakan bahwa
sebenarnya ilmu yang diperolehnya di perkuliahan itu tidak bisa serta
merta dipraktekkannya dalam usaha ini tapi hanya dasar-dasarnya saja.
Namun walaupun begitu Kedarton mengakui telah mulai melakukan
pengembangan bisnis dengan menelusuri pemasaran ke mall-mall. ►ti/atur- marjuka situmorang
► TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|