ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
  C © updated 24042004  
   
  ► e-ti/dok kel  
  Nama:
Try Sutrisno .
Lahir:
Surabaya, 15 November 1935
Agama:
Islam
Golongan darah:
AB
Menikah:
Bandung, 5 Februari 1961
Isteri:
Tuti Sutiawati (lahir, 3-4-1940)
Anak:
1. Nora Tristiyana: 5-4-1962
2. Taufik Dwi Cahyono: 9-8-1964
3. Firman Santya Budi: 17-11-1965
4. Nori Chandrawati: 31-3-1967
5. Isfan Fajar Satrio: 7-2-1970
6. Kunto AriefWibowo: 15-3-1971
7. Natalia Indrasari: 30-12-1974

Pengalaman Pendidikan
Pendidikan Umum:
- Sekolah Dasar: 1942 -1950
- SMP:1950-1953
- SMA/B:1953-1956

Pendidikan Militer:
- Atekad: 1956- 1959
- Susjurpazikon/MOS: 1962
- Latsar Para: 1964
- Kupaltu: 1965
- MOS Amfibi: 1967
- Suslapa Zeni: 1968
- Seskoad: 1972
- Seskogab: 1977

Riwayat Jabatan dan Kepangkatan:
- Dilantik menjadi Letda CZI NRP. 18436: 1-10-1959
- Danton Zipur di Palembang: 1959-1962
- Danton Zikon di Kendari: 1962-1963
- Naik Pangkat menjadi Lettu: 1-1-1963
- Dankima Yonzikon-2 di Palembang: 1964
- Dankizi I/DTR di Jakarta: 1965-1867
- Kupaltu: 1965
- Naik Pangkat menjad i Kapten: 1-1-1966
- Wadan Denma Ditziad di Jakarta: 1967-1968
- Wadanyon Zipur 9/Para di Bandung: 1968-1970
- Naik Pangkat menjadi Mayor: 1-1-1970
- Danyon Zipur 10/FIB di Pasuruan: 1970-1971
- Naik Pangkat menjadi Letkol: 1-1-1972
- Karo Suad-2 di Jakarta: 1972-1974
- ADC Presiden di Jakarta: 1974-1978
- Naik Pangkat menjadi Kolonel: 1-4-1976
- Kasdam XVI/Udy di Denpasar: 1978-1979
- Naik Pangkat menjadi Brigadir Jenderal: 1-5-1979
- Pangdam IV/Swj di Palembang: 1979-1982
- Naik Pangkat menjadi Mayor Jenderal: 1-12-1982
- Pangdam V/Jaya di Jakarta: 1982-1985
- Naik Pangkat menjadi Letnen Jenderal: 20-8-1985
- WakasaddiJakarta: 1985-1986
- KasaddiJakarta: 1986-1988
- Naik Pangkat menjadi Jenderal: 20-4-1987
- Pangab: 1988-1993
- Anggota MPR RI di Jakarta: 1983-1993
- Ketua Umum PBSI: 1985-1993
- Wakil Presiden RI: 1993-1998
- Ketua Umum DPP Pepabri: 1998-2002
- Ketua Umum Prima (Persahabatan RI-Malaysia): 2002-sekarang

Bintang-bintang/Tanda-tanda Jasa:
Dalam Negeri:
- Bintang Republik Indonesia Adipradana.
- Bintang Mahaputra Adipurna
- Bintang Mahaputra Adipradana
- Bintang Yudha Dharma Utama
- Bintang Dharma
- Bintang Kartika Eka Paksi Utama
- Bintang Jalasena Utama
- Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama
- Bintang Bhayangkara Utama
- Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
- Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
- Satya Lancana GOM VII
- Satya Lancana Sapta Marga (PRRI Sumbar)
- Satya Lancana Sapta Marga (PRRI Sumsel)
- Satya Lancana Satya Dharma
- Satya Lancana Wira Dharma
- Satya Lancana Penegak
- Satya Lancana Seroja
- Satya Lancana Kesetiaan VIII
- Satya Lancana Kesetiaan XVI
- Satya Lancana Kesetiaan XXIV
- Satya Lancana Wira Karya.

Dari Luar Negeri:
- Bt. Order of The Yugoslav Flag With Golden Star (Yugoslavia)
- Bt. Order for The Military Merits With Golden Stafr(Yugoslavia)
- Bt. Das Grosse Verdienstkreuz Mit Stern (Jerman)
- Bt. The Most Noble Order of The Crown of Thailand (Thailand)
- Bt. Commandeur de La Legion D'Honneur (Prancis)
- Bt. Darjah Paduka Mahkota (Johor)
- Bt. Ereteken Voor Verdienste (Belanda)
- Bt. Legion of Merit (USA)
- Bt. Nishan-I-Imtiaz (Pakistan)
- Bt. Kepahlawanan Panglima Gagah Angkatan Tentera (Malaysia)
- Bt. Darjah Yang Mulia Pangkuan Negara (Malaysia)
- Bt. Tong II (Republik Korea)
- Bt. Kehormatan Darjah Utama Bakti Chemerlang (Singapura).
- Bt. The Most Exalted Order of The White Elephant (Thailand)
- Bt. Kebesaran Negara (Brunei Darussalam)
- Bt. Philippine Legion of Honor (Philipina).
 
 
     

==     3   4   5   6   7   ==

Try Sutrisno

Pejuang Sepanjang Hayat


Tidak aktif secara langsung dalam mengelola negara sejak berakhirnya masa jabatannya sebagai wapres, tidak otomatis membuat dirinya langsung memilih diam menikmati pensiun, tidak mau berbuat apa lagi. Melainkan jiwanya masih terus terpanggil untuk berbuat sesuatu, mengbdi sepanjang hayat, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan masyarakat dan negaranya.

 

Tahun 1998, dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP Pepabri periode 1998-2003. Tantangan berat yang dihadipnya kala itu adalah karena berkembangnya aspirasi dari kalangan warga Purnawirawan sendiri, yang membuat organisasi Pepabri itu tidak sesolid pada masa-masa sebelumnya. Ini merupakan dampak dari euphoria demokrasi dan kebebasan yang berhembus demikian kencangnya di masa itu. Bahkan ada kecenderungan dari masing-masing Angkatan membuat organisasi Purnawirawan sendiri.

Tetapi Try dengan tegar terus berjalan menunaikan misinya, sebagai amanah yang harus dia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Gaya kepemimpinannya yang khas, tenang, ramah, santun, rendah hati, mengayomi, mempersatukan dan menghargai orang lain, membuat Pepabri bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan, serta bagi bangsa dan negara. Fokus program Pepabri waktu itu adalah meningkatkan kesejahteraan warga Purnawirawan, serta sumbangan pemikirannya kepada permasalahan bangsa dan negara secara nasional. Ia mengakhiri masa bhaktinya pada tahun 2003 dan digantikan oleh Mayjen Polisi (Purn) Drs. Putra Astaman.

Setelah pensiun, ia tidak langsung berhenti dari segala kegiatan. Semangat juang prajurit yang ada dalam jiwanya tak pernah mengenal kata berhenti. ‘Sebaik-baik manusia adalah yang oleh Allah diberikan umur panjang dan bermanfaat bagi orang banyak’, demikian nampaknya motto yang selalu dipegang oleh Try Sutrisno.

Ia mengisi masa pensiunnya tidak dengan ongkang-ongkang kaki sambil minum kopi dan momong cucu. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial, aktivitas kegamaan, dan karya-karya kemasyarakatan. Seusai memimpin Pepabri, ia masih dipercaya untuk memimpin sebuah Lembaga Persahabatan Indonesia-Malaysia (PRIMA). Iapun bersama Kyai Haji Ali Ya'fi aktif menjadi pembina perkumpulan keagamaan “Spiritual Journeyff”. Dalam menuangkan sumbangan pemikiran dan aspirasinya bagi bangsa dan negara, ia pun aktif pula dalam "Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya”.

Di bidang politik, ia diminta menjadi Penasehat dan Sesepuh PKPI pimpinan Edi Sudradjat. Ia pun masih berstatus sebagai Penasehat Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman, yang bergerak di bidang pendidikan, yang membawahi UPN. Veteran dan SMU Taruna Nusantara. Dan yang amat mengagumkan, iapun masih tetap aktif secara teratur melakukan olahraga, sehingga walaupun sudah pensiun dan dalam usianya yang sudah tergolong lansia, tubuhnya masih tampak kekar dan gagah.
 

Visi dan Misi
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, ia menganut filsafat hidup "Becik ketitik, ala ketara". Setiap perbuatan baik sekecil apa pun, suatu saat pasti akan kelihatan dan mendapatkan balasannya. Sebaliknya setiap perbuatan buruk sekecil apa pun, suatu saat pasti akan kelihatan pula, dan mendapatkan balasannya. Oleh karena itu, jadilah manusia yang selalu berusaha untuk berbuat baik, serta senantiasa berkarya positif, yang bermanfaat bagi orang banyak dan bagi lingkungannya, khususnya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan agama.

Sedangkan visinya, adalah menjadi manusia yang berbahagia dan mendapatkan husnul khaatimah (akhir yang baik), dalam kehidupan di dunia (bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara), maupun di akhirat kelak, dalam naungan rahmat dan ridha Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

Ada tiga misi utama yang diemban dalam hidupnya, yakni: Pertama, selalu berusaha untuk berbuat yang terbaik bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama; Kedua, selalu berusaha menjalin silaturrahim yang seluas-luasnya secara ikhlas dan tulus, dengan berbagai kalangan; Ketiga, selalu berusaha agar sikap dan perilakunya senantiasa mengindahkan serta menjunjung tinggi norma hukum, norma budaya, dan norma agama.

Perhatian dan hari-harinya tidak hanya dicurahkannya dalam kariernya di militer maupun memimpin negara, tapi berbagai kegiatan organisasi maupun sosial juga pernah dipimpinnya. Kegiatan organisasi diantaranya, Ketua Umum PB. PBSI (2 periode) tahun 1985- 1993, Ketua Umum Pepabri (1 periode) tahun 1998- 2002, Dewan Pembina Pusat Pepabri tahun 2003- sekarang (2004), Pendukung Nasional PKPI tahun 1999- sekarang (2004), Dewan Penasehat Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman dari tahun 1993 -sekarang (2004), Ketua Lembaga Persahabatan Indonesia-Malaysia (PRIMA) tahun 2003 - sekarang (2004), Penasehat Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya tahun 2003 - sekarang (2004)

Sedangkan kegiatan soial diantaranya, Pembina Paguyuban Keagamaan "Spiritual Journey", Dewan Pendiri Masjid AI Akbar Surabaya, Penasehat Pengurus Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Pembina Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta, Penasehat Pesantren (Pendidikan Terpadu) “AI-Fajar”, Pembina Paguyuban Alumni Atekad 1959, Penasehat Yayasan Pendidikan Terpadu “Krida Nusantara", Penasehat Perguruan Tinggi Al Ajar, Dewan Penyantum Institut Ilmu AI Qur'an Jakarta (IIQ Jakarta).

Masa Depan Bangsa

Try yang diminta pendapatnya tentang masa depan bangsa dan negara ini mengatakan, mengingat negara dalam kondisi krisis berkepanjangan yang sudah amat menyeluruh dan bersifat multi dimensi, maka diperlukan upaya reformasi, reposisi, dan reaktualisasi dengan tetap menjadikan Pancasila sebagai acuan utamanya, serta ditunjang oleh adanya prasyarat dasar yaitu berupa komitmen nasional menegakkan persatuan dan kesatuan nasional.

Ia menjelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beruntung karena oleh Allah dikaruniai tanah air yang indah, dengan potensi kekayaan alam yang melimpah, iklim dan cuaca yang menunjang aktivitas, posisi geografis yang menempati posisi silang, serta kekayaan budaya dan adat-istiadat masyarakatnya yang beranekaragam. Semua itu merupakan amanah yang wajib dikelola, dipelihara, dikembangkan, didayagunakan, serta dilestarikan secara bertanggung jawab oleh segenap bangsa Indonesia. Apalagi kita semua mengakui, bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia dan berdirinya Republik ini adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, serta didorong oleh keinginan luhur seluruh rakyat Indonesia.

Menurutnya, seluruh rakyat Indonesia dengan dipandu oleh para pemimpinnya harus memiliki kesefahaman yang sama tentang cita-cita yang hendak dicapai oleh bangsa ini, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur secara fisik-materiel maupun mental-spiritual, dalam wadah NKRI yakni Indonesia Raya yang jaya sejahtera. Cita-cita nasional itu bisa diraih apabila Tujuan Nasional yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945 bisa diwujudkan. Yaitu meliputi pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, kedua, memajukan kesejahteraan umum, ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa, keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Selain itu, Try berpendapat, mengingat negara dalam kondisi krisis berkepanjangan yang sudah amat menyeluruh dan bersifat multi dimensi, maka diperlukan upaya reformasi, reposisi, dan reaktualisasi dengan tetap menjadikan Pancasila sebagai acuan utamanya, serta ditunjang oleh adanya prasyarat dasar yaitu berupa komitmen nasional menegakkan persatuan dan kesatuan nasional.

Selain acuan utama dan prasyarat dasar tersebut di atas, juga masih diperlukan lagi adanya tiga prasyarat utama, yakni pertama, adanya Kepemimpinan Nasional yang berakhlaq, berwibawa, berkemampuan, tegas, bijaksana, dan adil, kedua, adanya komitmen nasional tentang penegakan hukum secara tegas dan adil, ketiga, adanya komitmen nasional tentang pemberantasan secara tegas dan tuntas terhadap praktik KKN, pungli, manipulasi, dan semacamnya yang telah membudaya, serta terhadap kriminalitas yang sudah amat parah, dan terhadap peredaran dan pemakaian narkoba yang sudah amat meluas.

Ia menambahkan, dengan mengacu pada Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional, serta dengan memperhitungkan hakikat ancaman maupun peluang dari dalam maupun dari luar, maka dengan tekad yang teguh dan niat yang suci, bangsa Indonesia harus bersatu padu membangun sistem kehidupan nasional yang damai dan sejahtera berdasarkan Pancasila, yang menjunjung tinggi norma hukum, norma budaya, dan norma agama, meliputi aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, Hankam, Iptek, hukum, agama, pendidikan, dan lingkungan hidup, secara terencana, terarah, terawasi, dan terkendali, serta dilaksanakan secara bertahap, berlanjut, berkesinambungan, dan terpertanggungjawabkan, guna mewujudkan Tujuan Nasional, dalam rangka menuju tercapainya Cita-cita Nasional.

“Insya' Allah apabila semua hal tersebut bisa kita laksanakan, maka Indonesia akan bangkit kembali menjadi bangsa yang besar dan disegani dalam percaturan dunia, menjadi bangsa yang mampu mengelola negara secara amanah dan bertanggungjawab, dalam kondisi yang adil makmur dan aman sentosa, materiel maupun spiritual, serta terbebas dari jeratan hutang dan tekanan dari negara-negara maju yang berkepanjangan. Sebagai bangsa yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, kita harus mau berusaha sambil berdoa dan bertawakkal kepada-Nya, di atas kebersihan hati dan kejernihan fikiran, serta kesucian jiwa,” katanya optimis.  ►tsl


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)