| |
C © updated 12032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/pantau |
|
| |
Nama:
S.K. Trimurti
Lahir:
Tahun 1912
Suami:
Sayuti Melik, tokoh terkenal pengetik naskah otentik Proklamasi
Kemerdekaan RI 17 gustus 1945
Menikah:
Tahun 1938
Bercerai:
Tahun 1969
Profesi Awal:
Sebagai guru di Sekolah Dasar Khusus Putri, di Surakarta dan
Banyumas, serta di Perguruan Rakyat, Bandung.
Nama Media Bekerja:
Pesat, Bedug, dan Genderang
Hobbi:
Sebagai penikmat yoga semenjak usia muda
Penghargaan:
Bintang Mahaputra Tingkat V yang disematkan langsung oleh Presiden
Soekarno
Alamat Rumah:
Jalan Kramat Lontar H-7, Kramat, Senen, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
S.K. Trimurti
Wartawan Tiga Zaman
Nama S.K. Trimurti begitu melegenda dalam dunia jurnalisme Indonesia. Dia
adalah wartawan senior yang hidup tiga zaman. Pada zaman penjajahan
Belanda sudah menjalani hidup di bui (1936-1943) karena idealisme dan
karya jurnalistiknya. Bahkan, dia harus melahirkan anak keduanya di lorong
penjara ketika itu. Di usia tua, hidupnya tetap penuh semangat, penuh
canda dan tampak semakin enteng saja menjalani hidup.
Pesat, Bedug, dan Genderang yang sudah tidak lagi terbit adalah contoh
nama-nama media majalah tempat dia pernah berlabuh menuangkan kemampuan
intelektual jurnalistik untuk membangun bangsa.
Perempuan bertubuh mungil kelahiran tahun 1912 ini adalah istri Sayuti
Melik tokoh terkenal pengetik naskah otentik Proklamasi Kemerdekaan RI 17
Agustus 1945. Mereka menikah tahun 1938 namun 31 tahun kemudian tepatnya
pada tahun 1969 Sayuti Melik setelah menikah lagi harus menjadi mantan
suami yang tetap dia hormati.
Wartawan tiga jaman itu tetap rajin latihan yoga sehingga dia dengan mudah
dapat mencium lutut. Di usia tua perawakan tubuhnya tetap mungil, sikapnya
tetap ramah, hidupnya tetap penuh semangat, rasa humornya masih tetap
menampilkan canda dan kelihatannya dia semakin enteng saja menjalani hidup.
Karena orang terbiasa mengenalnya dengan nama S.K. Trimurti atau Soerastri
Karma Trimurti membuat nama yang sudah masuk dalam catatan sejarah
Indonesia modern tersebut terlupakan sebagai nama yang tak lebih dan tak
kurang hanyalah samaran belaka.
Karma dan Trimurti adalah nama samaran yang dia pakai secara bergantian
untuk menghindari delik pers pemerintahan kolonial Belanda dahulu. Bukti
bahwa dia berjuang melepaskan diri dari siasat kekangan delik pers Belanda
adalah bahwa anak keduanya terlahir di lorong penjara saat harus menjalani
hidup di bui antara tahun 1939-1943.
Sebagai penikmat yoga semenjak usia muda yang pada Mei 2000 lalu lututnya
pernah terluka gara-gara terjatuh ketika hendak duduk bahkan membuatnya
sempat harus dirawat di rumah sakit, Trimurti bisa dengan cepat memulihkan
lukanya. Dengan yoga dia kembali dapat dengan mudah memamerkan begitu
mudahnya dia mencium lutut. "Saya berlatih yoga sejak muda," jelas anggota
Petisi 50 ini.
Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan di lingkungan Jawa dia
menentukan sikap untuk tetap sangat tegas terhadap perihal hak-hak
perempuan yang dibingkai dengan sopan santun kejawen. Ketegasan itu bukan
hanya telah dia contohkan dengan kerelaan melahirkan seorang anak di
sebuah lorong penjara, melainkan, terhadap seorang suami Sayuti Melik pun
yang karena menikah lagi keduanya harus bercerai dia tetap menaruh rasa
hormat sebagai mantan suami.
Kendati sudah berusia uzur Trimurti masih sempat wira-wiri ikut rapat
Petisi 50 setiap hari Selasa bahkan terkadang hadir sebagai pembicara di
seminar-seminar bertaraf nasional. Beruntunglah terhadap pejuang pers
kemerdekaan ini masih Tuhan anugerahkan sebuah kehidupan yang berlimpah
sehat walafiat di sebuah rumah sederhana miliknya di Jalan Kramat Lontar
H-7 di daerah Kramat, Jakarta.
Di depan rumahnya itu bajaj bebas berseliweran yang suara gaduhnya
sesewaktu dapat bercampur dengan suara orang-orang lewat atau anak-anak
kecil yang menangis termasuk teriakan ibu-ibu yang memanggil tukang siomai
dan bakso, misalnya.
Di rumahnya yang sebagian kamarnya dia sewakan sebagai tempat indekos bagi
para karyawati terdapat sebuah ruang tamu tempat menggantung lukisan Semar,
tokoh pewayangan setengah dewa setengah manusia dan separuh laki-laki dan
separuh perempuan yang dikeramatkan oleh sebagian orang Jawa.
Nah, baru di ruang tengah rumahnya terdapat sebuah gambar ukuran 100x60
centimeter yang melukiskan seorang Presiden Soekarno yang sedang
menyematkan Bintang Mahaputra Tingkat V ke dada Trimurti. Dia tercengang
mengenang sebentar, "Saya sedang dijothak (didiamkan) Bung Karno waktu itu
karena memprotes poligami!" tutur Trimurti yang akhirnya bisa tersenyum
menerawang mengingat-ingat kembali tipe Bung Karno seorang lelaki yang
karismatik tapi beristri banyak.
Dia mengatakan sesungguhnya sangat loyal terhadap Bung Karno sang guru
politik sekaligus orang yang memaksanya untuk pertama kali menulis di
majalah Pikiran Rakyat. Proklamator Kemerdekaan dan Presiden R.I. pertama
itulah yang telah membuat dia kecemplung ke dunia jurnalisme sebab
sebelumnya Trimurti sudah menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar
khusus putri di Surakarta dan Banyumas, serta di perguruan rakyat di
Bandung.
Satu-satunya persoalan fisik dia yang serius adalah keterbatasan
penglihatan mata sebelah kanannya yang merosot karena termakan usia,
selebihnya tak ada masalah fisik lain pada perempuan tua namun masih sehat
walafiat ini. Bukan peristiwa aneh jika ketika dia sedang berjalan-jalan
di sekitar rumah lalu tetangganya melontarkan senyum namun tak sekali pun
pernah berbalas.
Persoalannya Trimurti tidak bisa melihat dengan sempurna bukan karena
wartawan senior ini sombong. "Wong saya baca saja pake kaca pembesar!"
ujarnya penuh rasa humor. ►ht, dari Pantau dan berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
====
Pejuang
Dunia Sunyi SK Trimurti
Tubuhnya terkulai di tempat tidur. Selang makan dipasang di lubang
hidung. Matanya hampir selalu terpejam. Sesekali suara napasnya
meningkahi sunyi ruang VIP Anggrek di RS PGI Cikini, Jakarta, tempat
Soerastri Karma Trimurti (95) dirawat tiga pekan terakhir ini.
Ketika Sainah (46) memberi tahu ada yang berkunjung, Bu Tri, begitu ia
disapa, mengeluarkan suara yang jelas, dalam bahasa Jawa, "Kowe sapa
Ndhuk?" (Kalian siapa, Nak?)
Jawabannya tidak terlalu berarti karena tampaknya ia kembali tenggelam
di dalam dunianya yang sunyi, entah di mana. Kadang, seperti diceritakan
Sainah, yang mendampinginya 25 tahun terakhir, Bu Tri melantunkan
tembang Sigra Milir, lagu Jawa yang syairnya berisi cerita tentang
legenda Joko Tingkir.
Kali lain ia menyanyikan lagu-lagu dolanan bocah di Jawa, seperti
Ilir-ilir, atau seperti ditirukan Sainah, "Saya lupa judulnya, itu lho...
Aduh Yu Truno.. kathokku copot, enggal benekna." (Aduh Yu Truno,
celanaku lepas, tolong dibetulkan).
Sesekali Bu Tri membuka matanya, tetapi lalu memejam lagi. Jari-jari
tangannya masih bisa menggenggam tangan orang yang menyentuhnya.
Kata Sainah, Bu Tri suka berontak, dengan menggaruk-garuk tubuhnya, dan
menarik selang makan. Mungkin karena itu kedua tangannya diikat longgar
dengan kain. Posisi tidurnya telentang dengan dua tangan melencang.
Pejuang
Sudah dua tahun terakhir ini perempuan yang pernah menjadi Menteri
Perburuhan pada Kabinet Amir Syarifuddin I dan Kabinet Amir Syarifuddin
II itu berada dalam kondisi seperti itu, setelah berkali-kali terjatuh.
Kata putra bungsunya, Heru Baskoro (65), tahun 2000, Bu Tri jatuh
sehingga harus dicangkok besi tulang pinggulnya.
Kerapuhan tubuh ibu dua anak, nenek dua cucu, dan buyut dari satu cicit
ini, selain faktor usia, tampaknya juga dipengaruhi peristiwa tabrakan
hebat pada tahun 1994. Menurut Heru, mobil sampai harus digergaji untuk
mengeluarkan tubuh Bu Tri.
"Orang menyangka Ibu meninggal saat itu," kenang Heru. Bu Tri dirawat
berbulan-bulan di rumah sakit, tetapi ia bertahan. Hanya, setelah itu,
ia harus memakai tongkat kalau berjalan.
"Sebelum itu, Ibu masih pergi ke mana-mana. Pada usia 82 tahun Ibu masih
naik bus," lanjut Heru. "Pekerjaan di rumah juga dilakukan sendiri, cuci
piring, cuci baju," ujar Sainah.
Hidupnya sederhana. Sebagai mantan menteri, Bu Tri sebenarnya berhak
atas rumah di kawasan Menteng, tetapi ia memilih Jalan Kramat Lontar. "Dekat
kampung. Ibu lebih suka tinggal dekat rakyat, dan ia inginnya jadi
rakyat biasa. Itu sebabnya, Ibu menolak ketika ditawari menjadi Menteri
Sosial," tutur Heru.
Sejak dirawat di rumah sakit tahun 2005 selama setahun, Bu Tri harus
dibantu semuanya. "Ibu mau makan?" Sainah menawari, "Aku durung luwe (Aku
belum lapar)," jawab Bu Tri. "Kalau makan pakai selang cukup banyak.
Kalau langsung, hanya sedikit sekali," lanjut Sainah.
Kata Heru, mengutip diagnosis dokter, di perut ibunya ada semacam
varises. "Jantungnya bagus, paru-paru bagus. Ibu sakit tua," katanya.
Ingatan Bu Tri timbul tenggelam. Ia ingat anaknya, tetapi tak ingat
cucunya, apalagi cicitnya. "Dia masih ingat Bung Karno dan Ali Sadikin,"
sambung Heru.
Nama SK Trimurti tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa dan punya
tempat khusus dalam sejarah pergerakan perempuan. Putri pasangan R
Ngabehi Salim Banjaransari dan RA Saparinten binti Mangunbisomo yang
dilahirkan di Boyolali, Jawa Tengah, tanggal 11 Mei 1912 itu tertarik
masuk ke dunia pergerakan setelah mendengarkan pidato-pidato Bung Karno.
Ia mengikuti kursus kader yang diadakan Soekarno dan Partindo (Partai
Indonesia) tahun 1933 setelah lulus dari Tweede Indlandche School atau
Sekolah Ongko Loro dan sempat mengajar. Bu Tri menjadi pejuang militan,
sampai dipenjarakan Belanda di Semarang tahun 1936 karena menyebarkan
pamflet antipenjajah.
Ia kembali masuk penjara tahun 1939 karena tulisantulisannya di media
massa dianggap membahayakan pemerintah kolonial. Saat itu ia baru
setahun menikah dengan Sayuti Melik, tokoh pemuda yang ikut andil dalam
persiapan proklamasi, dan mengetik naskah proklamasi.
Anak pertamanya, Moesafir Karma Boediman (meninggal tahun 2005), lahir
dalam penjara. Bu Tri baru keluar dari penjara pada tahun 1943.
Dialah perempuan berkebaya yang membelakangi kamera di sebelah kanan
Fatmawati Soekarno dalam foto pengibaran Sang Merah Putih seusai
pembacaan naskah proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.
Hubungan Bu Tri dengan Bung Karno terganggu ketika Bung Karno menikahi
Hartini. Bu Tri dikenal antipoligami. Namun, sikap itu tak menghalangi
Soekarno memberikan Bintang Mahaputra Tingkat V kepadanya.
Tahun 1956 ia memimpin Gerakan Wanita Sedar (Gerwis), cikal bakal
Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Ia pernah diutus Dewan Perancang
Nasional (sekarang Bappenas) ke Yugoslavia untuk mempelajari manajemen
pekerja. Kegiatannya hingga usianya mendekati 80 tahun masih penuh. Ia
ikut menandatangani Petisi 50 tahun 1980.
Tidur tenang
Sebelum dirawat di RS Cikini, Bu Tri dirawat di RS MMC dan di RS Mitra
Keluarga. "Waktu di Mitra Keluarga itu dibantu seluruhnya oleh Pak Fauzi
Bowo," ujar Heru.
Biaya rumah sakit pada tahun 2005, menurut Heru, banyak dibantu oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Sekretariat Negara, selain
bantuan Departemen Sosial. Ketika di RS MMC, keluarga mendapatkan
bantuan dari Departemen Sosial sebesar Rp 10 juta.
"Biaya yang sekarang masih belum tahu," ujar Heru. Acara Peluncuran Buku
95 Tahun Perjuangan SK Trimurti yang dihadiri antara lain oleh Guruh
Soekarnoputra dan Herawati Diah di Jakarta, beberapa waktu lalu, juga
digunakan untuk mengumpulkan dana, dengan menjual edisi hard cover-nya
seharga Rp 1 juta per buku.
Sayuti Melik berpulang tahun 1989. "Mungkin Ibu menangis di kamar,
tetapi saya tak pernah melihat Ibu menangis di depan umum," ujar Heru.
Sekarang pun, Bu Tri terlihat tidur tenang, seperti tenggelam dalam
dunianya sendiri. Hanya sesekali ia kembali dan menggumamkan tembang,
lir ilir lir ilir... (Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana P,
Kompas, Senin, 10 September 2007)
|
|