| |
C © updated 23062007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/Disctarra.Com |
|
| |
Nama:
Toto Asmuni
Lahir:
Diwek, Jombang, Jawa Timur, 17 Juni 1932
Meninggal:
Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, 21 Juli 2007
Isteri:
Wirantinah
Anak:
- Asminar Wahid
- Isnin Ashari
- Nining Astria
Cucu:
Sembilan orang
Karir:
- Pelawak Senior Srimulat
Usaha:
- Warung Rujak Cingur Asmuni di Jl. Anggrek Cendrawasih, Slipi, Jakarta
- Warung Rujak Cingur Asmuni di Jl. Jati Pasar Trowulan, Mojokerto
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Toto Asmuni (1931-2007)
Orang Kaya Kok Salah, Ha-ha-ha-ha-ha
FRANS SARTONO, Kompas 22/7/2007: Seniman Asmuni meninggal dunia dalam
usia 75 tahun, Sabtu (21/7) pukul 13.30 di Kampung Jatipasar, Trowulan,
Mojokerto, Jawa Timur. Panggung komedi kehilangan seniman lawak yang
tumbuh dari panggung komedi kehidupan rakyat—bukan pelawak dadakan yang
terasing dari kehidupan.
Jenazah seniman kelahiran Surabaya, 17 Juni 1932, itu rencananya akan
dimakamkan Minggu (22/7) pukul 09.00 di Desa Diwek, Kecamatan Diwek,
Jombang, Jawa Timur. Asmuni meninggalkan seorang istri, Wirantinah (67);
tiga anak, Asminar Wahid, Isnin Ashari, dan Nining Astria; serta
sembilan cucu.
Nama Diwek pernah diangkat Asmuni dalam sebuah lawakannya di televisi.
Saat itu ia memerankan tokoh ayah, wong ndeso, dari Diwek yang datang ke
Jakarta untuk menengok anaknya. Akan tetapi, ia tidak diakui oleh
anaknya yang telah kaya raya.
Asmuni memang menyerap realitas kehidupan rakyat dan membawanya ke
pentas. Dalam kondisi hidup yang payah pun Asmuni masih mampu "mengomedikan"
diri sendiri.
"Waktu sakit, Bapak malah bercanda terus," kenang Nining Astria (28),
putri bungsu Asmuni.
"Aku celukno suster sing ayu-ayu ya (Panggilkan suster yang
cantik-cantik ya)," tutur Nining menirukan seloroh Asmuni saat dirawat.
Asmuni dalam beberapa tahun terakhir mengalami gangguan kesehatan,
termasuk mengidap batu ginjal dan asam urat. Selama beberapa waktu ia
menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Rekso Waluyo, Mojokerto.
"Suster yang merawat malah di-godain. Suster-suster juga senang menggoda
Bapak. Waktu Bapak enggak doyan makan, suster mencandai, ’Ya sudah,
Bapak mau makan apa saja boleh?’ Bapak minta capjae," tutur Nining.
Capjae atau capcai adalah makanan yang termasuk dalam vocabulary
panggung Srimulat. Capjae di jagat Srimulat menjadi semacam simbol kelas
mewah. Dalam konteks lawak, capcai tidak layak dikonsumsi oleh
orang-orang yang bukan dari kelas majikan. Pembantu di jagat lawak tidak
layak makan capcai dan tidak boleh duduk di kursi tamu karena gajinya
seumur hidup tak bisa untuk membeli kursi itu. Jika tak ada orang,
pembantu duduk seenaknya di kursi.
Mungkin baik untuk diingat, Srimulat sering menggunakan adegan pembuka
berupa monolog seorang pembantu rumah tangga. Ia melakukan semacam
perlawanan diam-diam kepada majikan dengan cara ngrasani — membicarakan
tabiat majikan. Perlawanan itu menjadi komedik—tidak sangar—dalam gaya
Asmuni.
Ingat Asmuni sebagai pembantu dengan belangkon dan kumis ala Hitler. Ia
cukup menyentuhkan lap ke meja dan menganggap seluruh meja sudah bersih.
Lawakan model ini tidak akan lahir dari kultur yang tak mengenal hidup
susah. Setidaknya dari pelawak yang tak bisa berempati pada kehidupan
kaum susah.
Ketika memerankan tokoh orang kaya, Asmuni menggunakan simbol-simbol
materi. Ia mengenakan dua arloji tangan di tangan kanan dan kirinya,
tetapi mati semua. Dalam kapasitas sebagai tokoh kaya itu, ia pernah
berucap, "Orang kaya kok salah ha-ha-ha-ha-ha...!"
Jumlah ha yang lima kali diucapkan runut itu khas milik Asmuni. Banyolan
Asmuni era 1980-an itu merupakan kritik telak pada arogansi kekuasaan.
Ucapan itu mewakili keresahan rakyat yang tak berkutik melawan arogansi
tersebut. Ia tidak menuding langsung atau dengan ungkapan verbal, tetapi
membahasakan sindiran dengan banyolan.
"Cingur-e" Asmuni
Dalam pentas kehidupan, Asmuni menata hidupnya secara tertib. Menurut
pelawak Tarzan, yang mengenal dekat Asmuni sejak di Srimulat Surabaya,
Asmuni telah jauh hari memikirkan kesejahteraan keluarga jika kelak ia
tak bisa naik pentas lagi.
"Dulu sebelum kami mengenal bank, kalau dapat duit, Asmuni membeli
kalung dan gelang (emas). Saya sama Mas Asmuni gede-gedean kalung. Jadi,
kami mejeng sambil nabung," kenang Tarzan.
Ketika Asmuni memamerkan kalung emasnya, kata Tarzan, itu bukan dalam
rangka sombong. Akan tetapi, diam-diam Asmuni mengajak rekan-rekan
pelawak untuk menabung, tidak foya-foya. Itu cara Asmuni "mendidik"
yuniornya.
"Dia itu berwibawa dan bertanggung jawab. Pernah ada pelawak yang mabok
waktu mau main, Asmuni tegas melarang, ’Kowe gak usah main’," kenang
Tarzan.
Istri Asmuni, Wirantinah, menurut Tarzan, pandai mengelola penghasilan,
misalnya dengan membuka warung makan di Slipi, Jakarta, dan di Mojokerto.
Sampai akhir hayat keluarga Asmuni menjadikan warung sebagai tumpuan
penghasilan keluarga.
"Tabungan Bapak itu ya cuma warung. Ini dibuka sejak saya masih taman
kanak-kanak. Kata Bapak, warung itu untuk masa depan," tutur Nining.
Warung itu diberi nama Warung Rujak Cingure Asmuni. Nama itu berbau
banyolan. Cingur dalam makanan khas Jawa Timur adalah hidung sapi.
Cingur-e Asmuni bisa diartikan hidungnya Asmuni. Menu makanan pun dibuat
gaya banyolan, misalnya Sop Buntute Asmuni—sop buntutnya Asmuni.
"Sehari-hari bapak nungguin warung sambil glundang-glundung (tiduran)
sama cucu. Dia ikut ngobrol sama tamu. Gus Dur dulu pernah mampir ke
sini," kenang Nining.
Ha-ha-ha-ha-ha!
Seniman bernama lengkap Toto Asmuni ini mengenal panggung dari ayahnya,
Asfandi, seniman sandiwara keliling seangkatan Tan Tjeng Bok. Asmuni
menapak panggung tahun 1947. Semula ia menjadi penyanyi dari kelompok
sandiwara Bintang Timoer.
Ia pernah bergabung dengan badan kesenian yang dikelola militer. Ilmu
komedi diserap Asmuni saat bergabung dalam kelompok sandiwara Lokaria
pimpinan Amang Rahman di Malang sampai tahun 1974. Tahun 1975, Asmuni
masuk Srimulat.
Dari panggung ke panggung, dari kehidupan ke kehidupan, Asmuni berolah
komedi dan menyodorkannya ke khalayak. Orang terpingkal menertawakan
diri sendiri yang sebenarnya disindir Asmuni. "Orang kaya kok salah,
ha-ha-ha-ha-ha!"
Kini, kita hanya bisa mengenangnya di tengah kehidupan yang kian pahit.
ASMUNI ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|