A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Seniman
 ► Maestro
 ► Wartawan
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 23062007  
   
  ► e-ti/Disctarra.Com  
  Nama:
Toto Asmuni
Lahir:
Diwek, Jombang, Jawa Timur, 17 Juni 1932
Meninggal:
Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, 21 Juli 2007

Isteri:
Wirantinah
Anak:
- Asminar Wahid
- Isnin Ashari
- Nining Astria
Cucu:
Sembilan orang

Karir:
- Pelawak Senior Srimulat

Usaha:
- Warung Rujak Cingur Asmuni di Jl. Anggrek Cendrawasih, Slipi, Jakarta
- Warung Rujak Cingur Asmuni di Jl. Jati Pasar Trowulan, Mojokerto

 
 
 
 
 
 
BERITA

 

Toto Asmuni (1931-2007)

Restoran Demi Masa Depan


Jakarta, Disctarra.Com: "MASA depan pelawak itu suram. Sama seperti wartawan, tidak mendapat pensiun," kalimat itu dipaparkan oleh Toto Asmuni atau biasa dipanggil Asmuni saja, pelawak senior Srimulat.


Ironisnya, kendati menyadari gelapnya masa depan, banyak pelawak - atau seniman pada umumnya - tidak pernah kapok untuk menjalani profesinya.


Saat ini Asmuni bergabung dengan Srimulat Jakarta. Aktivitasnya yang paling rutin, selain memperkuat panggung Srimulat (Indosiar), pelawak yang memiliki "aksesoris" kumis secuil mirip Charlie Chaplin ini juga membintangi paket Ludruk Glamor (SCTV). Selebihnya diisi dengan job-job manggung, main sinetron atau kadang membintangi iklan.


Bapak tiga anak yang telah memiliki beberapa cucu ini tetap setia dengan profesi sebagai pelawak. Tapi untuk masa depan, Asmuni juga punya kiat untuk mempersiapkan diri. Saat ini ia membuka rumah makan dan penginapan. Rumah makannya diberi nama Warung Rujak Cingur Asmuni, terdapat di kawasan Slipi, Jakarta dan di Trowulan, Mojokerto (Konon Trowulan adalah ibukota Majapahit, dan sekarang menjadi kawasan wisata yang terdapat situs peninggalan Kerajaan Majapahit).


"Itu adalah cara saya untuk mempersiapkan hari tua. Nanti kalau sudah tua, tidak bisa manggung lagi, siapa yang akan kasih makan?" ujarnya tentang usaha yang dijalaninya itu.
Asmuni yang ditemui tengah mengikuti syuting Ludruk Glamor di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa waktu lalu menegaskan, pelawak atau seniman harus memiliki kesadaran sejak awal untuk menyiapkan diri bagi masa depannya.


Dikatakannya, menjadi seniman memang enak kalau sedang naik daun. Panggilan manggung datang bertubi-tubi. Kadang diajak main film atau sinetron, juga membintangi iklan yang dampaknya sangat besar bagi pemasukan. Tapi bila nama sudah dilupakan masyarakat, untuk makan pun sulit.
"Nah saya sudah mengingatkan yang muda-muda soal itu. Tapi banyak yang tidak percaya. Ya terserah, yang penting sudah tak ingatkan," katanya.


Usaha warung makan Asmuni pertamakali dirintis di kawasan Slipi, Jakarta, pada tahun 1982. Di kawasan itu awalnya merupakan basecamp kelompok lawak Srimulat pimpinan Teguh. Tetapi setelah Teguh meninggal, dan banyak pelawak telah berhasil, masing-masing telah memiliki rumah sendiri di berbagai tempat terpisah di Jakarta dan sekitarnya. Namun Asmuni tetap tinggal di Slipi, tepatnya di Jl. Anggrek Cendrawasih.


Melihat usaha warung makan yang dikelola isterinya, Wirantina (60 tahun), cukup maju, Asmuni lalu mengembangkan usaha dengan mendirikan warung makan yang diberi nama sama di Trowulan. Asmuni juga melihat ada peluang bisnis lain di tempat wisata tersebut. Ia lalu membuka penginapan.
"Tapi yang rampung baru dua kamar. Namanya penginapan kecil-kecilan, bukan hotel," merendah Asmuni.


Sebagai pelawak, boleh dibilang Asmuni adalah salah satu "maskot" Srimulat. Mungkin banyak yang percaya jika sebelumnya Asmuni bukan seorang pelawak, melainkan berprofesi penyanyi. Setelah pengakuan kedaulatan, sejak 1950 ia sering menyanyi di lasykar Angkatan Darat. Ia juga pernah diminta membina kesenian di Dinas Angkatan Laut, Surabaya. Disanalah ia bertemu dengan pelawak legendaris Indonesia, Bing Slamet. Keduanya semat akrab, meskipun kemudian Bing kembali ke Jakarta dan Asmuni tetap di Jakarta.


Sebagai penyanyi, lelaki kelahiran Jombang, 31 Juni 1931 ini sempat membuat sebuah piringan hitam dengan lagu berjudul Sungai Barito. Keterlibatannya di lawak dimulai sejak bergabung dengan Lokaria pimpinan Amang Rahman. "Ternyata banyak yang melihat saya cukup lucu di panggung," kenang Asmuni yang bergabung di Srimulat sejak tahun 1976 sampai sekarang telah 25 tahun masih tetap setia.  ►e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)