| |
C © updated 26072008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sk |
|
| |
Nama:
Tjipta Lesmana
Lahir:
8
Karir:
- Pengajar
Universitas Pelita Harapan
- Pengarang Buku Komunikasi Politik 6 Presiden RI
|
|
| |
|
|
|
|
| TJIPTA LESMANA HOME |
|
|
 |
Tjipta Lesmana
Kenegarawanan Pemimpin Kita
Kompas,
Sabtu, 26 Juli 2008:
Menarik, menyimak ungkapan Wapres Jusuf Kalla, 15 Juli 2008. Dikatakan,
ada enam pemimpin kita tidak saling bicara satu sama lain.
Rupanya, bagi Indonesia, gambaran keakraban presiden dengan para mantan
presiden seperti di AS masih mimpi.
”Presiden Soekarno tidak bisa berbicara dengan Soeharto pada saat akhir
pemerintahannya. Pak Harto tidak mau berbicara dengan presiden
selanjutnya, BJ Habibie. Presiden Habibie tidak berbicara dengan KH
Abdurrahman Wahid saat turun. Presiden Gus Dur tidak mau berbicara
dengan Megawati Soekarnoputri. Megawati tidak saling omong dengan
Presiden Yudhoyono setelah pemilu.”
Jusuf Kalla mengangkat isu politik sensitif tetapi krusial dalam konteks
demokrasi. Seolah ia ingin mengingatkan, sikap ke-enam pemimpin yang
saling berdiam diri itu tidak baik dan tidak mendidik dari segi
demokrasi. Mengapa mereka tidak saling berbicara? Sebelum menjawab,
pernyataan JK perlu dikoreksi.
”Penyakit” curiga
Kasus ”saling tidak mau berbicara” di antara ke-enam presiden tidaklah
sama. Siapa yang tidak mau berbicara: apakah presiden yang digantikan (sebagai
komunikator) atau presiden yang menggantikannya (komunikan)?
Dari enam presiden, hanya satu—Soeharto—yang tak mau berbicara saat
dalam posisi sebagai komunikator. Sejak meninggalkan Istana, 21 Mei
1998, sampai meninggal, Soeharto tak mau menerima, apalagi bertemu
Habibie. Lainnya, yang ngambek, adalah komunikan, presiden yang
digantikan. Maka, benar kata JK, saat Habibie digantikan Gus Dur, ia
emoh menyapa Gus Dur. Namun, dalam kasus Gus Dur-Megawati, keduanya tak
mau saling sapa. Saat SBY menggantikan Megawati, 20 Oktober 2004,
Megawati tak mau berkomunikasi dengan mantan menterinya itu meski SBY
dengan berbagai cara berupaya menemui Megawati.
Jika ditanya, ”Apa sebab?” Jawabannya karena sebagian besar pemimpin
kita bukan negarawan ”kelas tinggi”. Sifat dendam bertengger kuat dalam
nurani. Kekurangan kenegarawanan juga tecermin dari susahnya pemimpin
menerima kekalahan dalam pesta demokrasi. Faktor ketiga: ”penyakit”
curiga yang tidak kunjung sembuh.
Dari lima kali transisi kekuasaan yang pernah kita alami, alih kekuasaan
dari Soekarno ke Soeharto paling ”bermasalah”. Sejumlah ahli sejarah
bahkan menuding Soeharto melakukan kup melalui Surat Perintah 11 Maret
(1966). Hingga hari ini, tudingan itu tetap kontroversial. Soeharto
tidak pernah mau menemui pendahulunya karena sadar transisi kekuasaan
itu ”bermasalah”. Anehnya, Soeharto tidak pernah eksplisit menuduh
Soekarno bersalah dalam tragedi G30S.
Mengapa Soeharto tidak mau menerima kedatangan ”anak emasnya”, Habibie,
setelah lengser 21 Mei 1998? Bukankah ia sendiri yang memilih Habibie
sebagai Wakil Presiden pada Sidang Umum MPR Maret 1998? Dikabarkan,
Cendana mencurigai Habibie berkonspirasi dengan pihak tertentu untuk
menjatuhkan Soeharto, terutama pengunduran diri 14 menteri saat Soeharto
sedang memeras otak membentuk ”Kabinet Reformasi”. Habibie menolak
tudingan ini. Itu sebabnya Habibie mengaku batinnya menangis sebab
hingga saat terakhir tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan apa
sebenarnya yang terjadi antara keberangkatan Pak Harto ke Kairo hingga
pengunduran Soeharto.
Dalam kampanye Pemilu 1999, Gus Dur dan kubunya banyak mengkritik
kebijakan Presiden Habibie. Sebetulnya, Amien Rais dan Megawati berbuat
sama, terkait lepasnya Timor Timur dan skandal Bank Bali. Namun, karena
Gus Dur yang terpilih sebagai Presiden, wajar jika Habibie tidak senang
dan tidak mau menyapanya.
Saling curiga
Saling curiga rupanya sifat pemimpin kita. Gus Dur percaya Megawati ada
di balik proses impeachment dirinya pada medio 2001. Namun, Megawati
juga punya alasan kuat untuk tidak senang kepada Gus Dur. Keduanya
membisu setelah Gus Dur digantikan Megawati. Dibutuhkan dua tahun lebih
hanya untuk berjabat tangan, belum sampai tahap bercakap-cakap. Itu pun
diramaikan isu suap yang dilemparkan Gus Dur. Namun, saat keduanya
menghadapi ”musuh bersama” SBY, permusuhan itu mencair.
Ihwal relasi Megawati-SBY? Banyak pihak percaya dendam Mega kepada SBY
lebih kuat daripada dendam Soeharto kepada Habibie. Di mata Mega, SBY
tak lebih ”Brutus”. ”Kita harus rebut kursi presiden itu pada 2009!”
teriak Mega di depan kader PDI-P beberapa jam setelah SBY diambil
sumpahnya oleh MPR, 20 Oktober 2004.
Dendam, curiga, dan tak bisa menerima kekalahan, itulah tiga ”keburukan”
pemimpin kita disusul tidak bercakap-cakap. Di AS, para mantan kepala
negara tetap menjalin silaturahmi, juga dengan penguasa di Gedung Putih.
Bukan hanya itu. George W Bush mengirim mantan Presiden Jimmy Carter ke
Timur Tengah untuk mengupayakan perdamaian, mengirim Bill Clinton ke
Aceh saat tsunami. Presiden Clinton pun pernah mengirim Presiden Bush
(senior) ke China untuk berunding dengan Pemimpin RRC. Suatu saat empat
mantan presiden dan Presiden Bush makan siang di Camp David sambil
membahas masalah bangsa.
Rupanya, bagi Indonesia, gambaran keakraban presiden dengan para mantan
presiden seperti di AS masih mimpi.
|
|