| |
C © updated 21122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/indonesiaselebriti |
|
| |
Nama:
Titiek Puspa
Nama Kecil:
Soedarwati, Kadarwati, dan Soemarti
Lahir:
Tanjung, Kalimantan Selatan, 1 November 1937
Agama:
Islam
Suami:
Mus Mualim
Anak:
Petty dan Ella
Cucu:
14 orang
Ayah:
Tugeno Puspowidjojo
Ibu:
Siti Mariam
Saudara:
-12 Orang
Pendidikan:
-SD
-SMP
-Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak
Profesi:
Penyanyi, pencipta lagu, koreografer seni, bintang iklan, dan bintang
film.
Rekaman:
-Pertama tahun 1955, di Semarang, Jawa Tengah, di Lokananta
-Kedua tahun 1956, di Jakarta, di Irama
-Ketiga tahun 1959, di Jakarta, di Irama
Organisasi Profesi:
-Orkes Simphony Djakarta (OSD), pimpinan Sjaiful Bachri, sebagai anggota
-Paguyuban Artis Pop Ibukota (Papiko), sebagai pimpinan
Grup Musik:
-White Satin
-Zaenal Combo
-Gumarang
Karya Cipta Musik:
-Pertama, Kisah Hidup (1963)
-Kedua, Mama (1964)
Hit lagu terkenal:
-Kisah Hidup (1963)
-Mama (1964)
-Minah Gadis Dusun (1965)
-Gang Kelinci
-Romo Ono Maling
-Rindu Setengah Mati
-Adinda
-Cinta
-Jatuh Cinta
-Bing (1973)
-Kupu-kupu Malam
-Pantang Mundur
-Ayah
-Adinda
-Marilah ke Mari
-Buruk Kakaktua
-Bapak Pembangunan
-Apanya Dong (1982)
-Horas Kasih (1983)
-Virus Cinta (1994)
Film yang dibintangi:
-Minah Gadis Dusun (1965),
-Di Balik Cahaya Gemerlapan, (1976)
-Inem Pelayan Sexy (1976),
-Karminem (1977),
-Rojali dan Juhela (1980)
-Gadis (1981)
-Koboi Sutra Ungu (1982)
Penghargaan :
-1954: Juara II Bintang Radio Jenis Hiburan tingkat Jawa Tengah, RRI
Semarang
-1984: Penghargaan Bronze Prize lewat lagu Horas Kasih pada The World Song
Festival in America di Los Angeles, tahun 1984
-1994: Penghargaan untuk untuk kategori “Pengabdian Panjang di Dunia Musik”
pada BASF Award ke-10 tahun 1994
Alamat Rumah:
Jalan Sukabumi 23, Menteng, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
Titiek Puspa
Bercerita Lewat Lagu
Karir artis penyanyi Titiek Puspa seolah tiada henti. Nenek awet muda ini
seorang pencipta lagu yang bercerita tentang manusia.
Cerita yang didasari oleh rasa empati dan simpati yang sangat dalam kepada
setiap manusia yang terpojok. Beragam tema kehidupan yang lekat dengannya
diterjemahkan menjadi lagu. Seperti kematian ayah dan ibunya, dan kisah
perjalanan hidup lainnya.
Ia terinspirasi
mencipta lagu hampir setiap hari, sekalipun kaki sudah naik ke tempat
tidur. Sebab seringkali terjadi, di kepalanya tiba-tiba muncul
notasi-notasi lagu seperti sedang berjalan-jalan. Itu, alamat Titiek harus
segera melanjutkan dengan menyanyi perlahan tak terlalu serius mengikuti
not. Kemudian, notasi itu diorat-oret di atas kertas untuk menjadi sebuah
lagu terkenal, atau tetap hanya onggokan kertas lusuh.
Itulah Titiek Puspa, entertainer sejati alias artis penyanyi serba bisa
yang sejak memulai kiprah di dunia tarik suara hingga hari senjanya tetap
memiliki reputasi membanggakan. Sudah lima puluh tahun lebih nenek 14
orang cucu ini berkarya namun seolah baru saja mulai dilakoni wanita
kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, 1 November 1937, ini.
Mencipta lagu
bagi Titiek bisa dimana saja dan kapan saja asal bukan di keramaian dan
tidak sedang mengobrol. Sepanjang hayatnya, ia merasakan hidup itu indah,
menyenangkan, dan mengesankan. Titiek sepertinya hidup terlelap dalam
keasyikan keseharaian yang terkadang harus diisinya sibuk di tiga atau
empat acara dan tempat berbeda, seperti mengadakan rapat atau shooting.
Titiek Puspa adalah komponis wanita dengan ratusan karya cipta, tergolong
terbanyak dibanding wanita komponis lain.
Oleh para penyanyi juniornya kepada Titiek dipersiapkan sebuah album
berisi 12 lagu karya cipta Titiek, yang dinyanyikan dan diaransemen ulang
oleh 12 musikus muda berbakat Indonesia. Judulnya Tribute to Titiek Puspa,
dimaksudkan sebagai persembahan kepada senior bernama Titiek Puspa. Titiek
Puspa memang layak dihargai demikian, bahkan mungkin harus lebih dari itu
karena dedikasi dan reputasi Titiek pada pengebangan musik sepanjang hayat.
Awalnya ‘nembang’
Titiek Puspa ketika kecil saat masih bernama Soemarti, berdua bersama
seorang dari 11 saudara kandung lainnya, suka sekali bernyanyi. Mereka
sering nembang musik kesenian tradisional Jawa. Ketika duduk di bangku SMP
tahun 1954, Titiek, putri pasangan ayah Tugeno Puspowidjojo seorang mantri
kesehatan, dan ibu Siti Mariam, mengikuti perlombaan menyanyi. Ia
mendaftar diam-diam sebab takut dimarahi ayah sebab Tugeno Puspowidjojo
menganggap menyanyi seperti ‘tukang nembang’.
Titiek kukuh maju ke festival mengikuti saran dan dorongan teman-teman.
Titiek atau Soemarti disarankan mendaftar dengan mengubah nama menjadi
Titiek Puspo, diambil dari nama panggilannya Titiek dan Puspo dari nama
ayahnya, sebagai siasat agar tidak ketahuan ayahnya. Soemarti setuju lalu
mengindonesiakan nama Puspo menjadi Puspa. Maka, lengkaplah nama baru
Titiek Puspa sebuah nama beken yang di kemudian hari melegenda dalam jagat
dunia musik pop Indonesia. Walau menghadapi saingan, kebanyakan murid SMA,
Titiek yang masih duduk di bangku SMP berhasil keluar sebagai juara
pertama.
Tahun 1954 Titiek kembali mengikuti lomba dan tampil sebagai juara kedua
Bintang Radio RRI Semarang, jenis hiburan tingkat Jawa Tengah. Ia bangga
sebab walau hanya juara dua, namun dengan meraih nilai tinggi Titiek
berkesempatan tampil beradu kemampuan di tingkat nasional. Pada malam
pemberian hadiah, berlangsung di Stadion Ikada, Gambir, Jakarta, tahun
1954, saat tampil di panggung Titiek didaulat oleh Sjaiful Bachri,
pimpinan Orkes Simphony Djakarta menyanyikan lagi Chandra Buana, karya
pahlawan nasional Ismail Marzuki.
Sebuah kebanggaan tersendiri mengingat
biasanya hanya juara I yang boleh tampil pada ‘Malam Gembira’ seperti itu.
Peristiwa ini sangat berpengaruh membentuk kepercayaan diri Titiek Puspa.
Keyakinan ‘Soemarti’ atau Titiek Puspa menjadi penyanyi, yang kemudian
sejak tahun 1960 tercatat sebagai salah satu artis penyanyi pada Orkes
Simphony Djakarta pimpinan Sjaiful Bachri, semakin tebal. Terlebih sang
ayah Tugeno Puspowidjojo, sesaat sebelum meninggal dunia dalam pelukan
Titiek memanfaatkan waktu terakhir menyampaikan permintaan maaf atas sikap
menentang Titiek terjun dalam dunia tarik suara.
Di tahun 1955 untuk pertamakali Titiek melakukan rekaman di Semarang, Jawa
Tengah, di perusahaan rekaman negara Lokananta. Setahun kemudian Titiek
kembali masuk dapur rekaman di perusahaan rekaman Irama, dengan satu lagu
Melayu. Berselang beberapa tahun kemudian, tahun 1959, Titiek melakukan
rekaman yang ketiga.
Rekaman kedua dan ketiga dilakukan di Jakarta
bersamaan dengan kegiatan Titiek mengikuti festival Bintang Radio, sebuah
obsesi kuat dan sudah berkali-kali dicoba namun sayang kemenangan selalu
gagal diraih. Pada masa itu menjadi juara Bintang Radio adalah impian
setiap artis pendatang baru sebab gaungnya sangat berpengaruh dalam dunia
musik, sebagai batu loncatan untuk dikenal masyarakat luas.
‘Gagal’ membangun jalur keartisan lewat Bintang Radio, Titiek banting
setir manggung dari satu panggung ke panggung lain, mengasah diri menjadi
entertainer komplit. Ia mengisi panggung hiburan bersama beberapa grup
musik seperti White Satin, Zaenal Combo, atau Gumarang. Dunia musik
hiburan mengalami efek bola salju berkat kemahiran bernyanyi wanita Jawa
kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, ini.
Bercerita manusia
Selain penyanyi Titiek Puspa juga pencipta lagu ternama. Talenta ini
muncul terdorong oleh dukungan Mus Mualim, pianis yang sejak tahun 1970
resmi menjadi suami kedua Titiek. Dalam hal komposisi musik Titiek mengaku
hanya tahu do-re-mi, karenanya Mus Mualim dijadikannya ‘ayahnya’ dalam
musik dan sebagai ‘kakek’ komponis Iskandar. Kepada keduanya Titiek sering
berkonsultasi. Usai mengarang lagu Titiek biasanya meminta Mus Mualim
menilai atau mengaransemen lagu-lagu yang baru saja ditulisnya.
Delapan lagu pertama sudah digubah Titiek namun Mus Mualim tetap tak
berkomentar banyak, alias menolak halus. Hingga pada lagu ke-9, Mus Mualim
mulai memberi komentar yang lebih baik, namun singkat saja, lumayan.
Barulah pada tahun 1963 Titiek berhasil mengubah lagu Kisah Hidup sebagai
karya cipta pertama. Lagu itu ditulis dengan not angka saja tanpa birama
maupun tanda-tanda baca musik apapun.
Tahun 1964 muncul lagu kedua, Mama, dari seorang pencipta lagu otodidak.
Lagu ini mulai melambungkan nama Titiek. Lagu lain kemudian bermunculan.
Sejumlah nama penyanyi berhasil terangkat ke permukaan menjadi artis
penyanyi terkenal setelah membawakan lagu karya Titiek. Seperti, Lilies
Suryani yang membawakan lagu Gang Kelinci, Eddy Silitonga (Romo Ono Maling,
Rindu Setengah Mati), Acil Bimbo (Adinda), serta Euis Darliah (Apanya
Dong). Euis Darliah juga membawakan lagu Horas Kasih, yang pada The World
Song Festival in America di Los Angeles, tahun 1984, berhasil memenangkan
penghargaan Bronze Prize. Padahal Titiek dengan merendah menyebutkan, lagu
itu gampangan saja, hura-hura, tak ada hebatnya.
Titiek adalah pencipta lagu yang bercerita tentang manusia lewat lagu.
Cerita yang didasari oleh rasa empati dan simpati yang sangat dalam kepada
setiap manusia yang terpojok. Beragam tema kehidupan yang lekat dengannya
diterjemahkan menjadi lagu. Seperti kematian ayah dan ibunya, dan kisah
perjalanan hidup lainnya. Sebagian kejadian penting lain berlalu begitu
saja tak menyisakan lagu sebagai bekas. Seperti, ketika tahun 1970 ia
bercerai dari suami pertamanya, untuk lalu mengasuh kedua putrinya Petty
dan Ella. Atau, kisah ketika Titiek menikah dengan Mus Mualim tahun 1970,
hingga Mus meninggal dunia 1 Januari 1990.
Dari kedua anaknya, Petty dan Ella, serta dari anak Mus Mualim, Titiek
yang masih kelihatan segar dan cantik dikaruniai 14 orang cucu. Salah satu
resep awet muda, kata Titiek, ia suka bicara ceplas-ceplos sebab basa-basi
menurutnya justru membuat orang lekas tua. Bahkan, di usia senjanya Titiek
menyebutkan masih merasakan ada feeling terhadap pria ganteng, dan itu
berhasil dibungkusnya dengan rapih.
Titiek biasa bercerita dalam lagu tentang kehidupan cinta manusia (dalam
lagu Cinta dan Jatuh Cinta), persahabatan (Bing), empati kepada kaum
pinggiran seperti pekerja seks komersial (Kupu-kupu Malam), rasa kekaguman
kepada sosok pribadi seorang tokoh (Soeharto Bapak Pembangunan), hingga ke
sikap patriotik bela negara (Pantang Mundur dan Ayah). Corak lagunya
tersedia mulai dari yang lembut dan syahdu (Adinda), hingga yang
menghentak-hentak (Marilah ke Mari dan Apanya Dong).
Lagu Bing (tercipta tahun 1973), berkisah tentang kedekatan hati dan
persahabatannya dengan Bing Slamet. Artis komedi dan penyanyi serba bisa
yang sudah menjadi pujaan hatinya sejak lama tiba-tiba dikabarkan
meninggal dunia. Berita kematian Bing sampai ke telinga Titiek seperti
petir menggelegar di siang hari. Sayang Titiek tak bisa menghadiri
pemakaman sahabat yang memikat hatinya sebab harus mengadakan pertunjukan
ke Singkep, Riau.
Jadilah lagu Bing tercipta di dalam pesawat dalam waktu
setengah jam namun sudah dengan mata basah penuh linangan air mata. Lagu
itu didedikasikan Titiek kepada sahabat yang sudah diidolakannya saat
memenangkan juara dua lomba menyanyi RRI Semarang, tahun 1954. Ceritanya,
ketika berlangsung penyerahan hadiah, pembawa acara bertanya pada Titiek
apa cita-citanya, dijawab sekenanya, ingin berkenalan dengan Bing Slamet.
Bing adalah teman, sahabat, dan guru entertainer yang serba bisa bagi
Titiek.
Potret keartisan Titiek bukan hanya menghiasi pentas musik. Sebagai
selebriti terkenal nama Titiek laku membintangi film layar lebar dan,
belakangan ikut pula membintangi film sinetron di layar kaca walau
dianggapnya sebagai obat kangen saja. Tahun 1965 Titiek sudah main film
Minah Gadis Dusun, judul yang diambil dari lagu ciptaan Titiek. Kemudian,
membintangi film Di Balik Cahaya Gemerlapan dan Inem Pelayan Seksi (1976),
Karminem (1977), Rojali dan Juleha (1980), Gadis (1981, Titiek sekaligus
penulis cerita), dan Koboi Sutra Ungu (1982).
Membela yang lemah
Banyak kejadian aneh pernah menimpa diri Titiek. Seperti, selama dua tahun
kehilangan suara, konon itu karena ‘dikerjai’ orang. Suara Titiek baru
berhasil disembuhkan setelah ditangani oleh Romo Lukman, dari Purworejo.
Dari peristiwa ini terciptalah lagu Apanya Dong (1982), dipopulerkan Euis
Darliah. Hasil lagu, kata Titiek, lumayan untuk membawa suami berobat ke
Jepang. Namun setahun kemudian (1983), rumahnya di kawasan Menteng, Jalan
Sukabumi, Jakarta Pusat terbakar menghanguskan semua dokumen miliknya.
Sejak awal kebangkitannya sebagai penyanyi dan pencipta lagu, berbagai
peristiwa sesungguhnya sudah akrab membelit kehidupan Titiek. Lagu karya
keduanya, Mama (1964), tercipta bersamaan meninggalnya ibu Titiek dan pers
sedang memusuhinya pula gara-gara salah paham. Titiek ketika itu juga
diliputi berbagai gosip, kasus perceraian, dan perjuangan hidup berat
membesarkan kedua putrinya, Petty dan Ella.
Suatu ketika Petty, putri sulungnya mengalami panas dan demam tinggi. Dua
hari sudah tidak makan, lalu meminta kepada Titiek agar dibelikan mie yang
sedang lewat di depan rumah. Titiek yang sedang tak memiliki uang membujuk,
berkata, di rumah hanya ada sop dan nasi, jika mau makan itu berarti Petty
sudah menyelamatkan seisi rumah. Bujukan berhasil seisi rumah selamat dari
kelaparan dan Petty sembuh. Setelah menikah dengan Mus Mualim, tahun 1970,
Titiek mulai dapat merasakan ada ketenteraman yang memayungi kehidupannya,
hingga Mus meninggal dunia 1 Januari 1990.
Pada setiap lagu Titiek bercerita tentang manusia. Itu, didasari oleh rasa
empati dan simpati yang dalam terhadap berbagai sisi kehidupan manusia
karena memang demikianlah naluri keseharian Titiek. Naluri yang lahir
sebagai hasil akhir pergulatan berbagai gelombang kehidupan yang digumuli.
Pembelaan Titiek selalu di pihak yang lemah, tanpa ada sedikitpun bobot
kepentingan pribadi di dalamnya. Tak heran jika Titiek tampil membela Inul
Daratista pada saat kebanyakan orang justru sedang menista Inul, karena
goyang ngebornya. Titiek menegaskan, yang dibelanya adalah posisi
keterpojokon Inul. Titiek pun pernah menyelamatkan seorang anak yang
dituduh mencuri tempe yang sedang digoreng kakaknya.
Atau, ketika maling masuk ke rumah dan saudara-saudaranya sudah siap
menangkap, naluri Titiek justru ingin menyelamatkan ‘si maling’. Dalam
pengejaran Titiek memerintahkan ‘si maling’ belok ke kiri, namun kepada
saudaranya dikatakannya maling sudah berbelok ke kanan. Demikian pula,
seorang pekerja seks komersial datang ke Titiek saat sedang show di luar
kota. Si ‘kupu-kupu malam’ menghampiri Titiek, di kamar, dan mencurahkan
segala kepedihan hati. Titiek membela bahkan dibuatkan lagu dengan judul
sama, ‘Kupu-kupu Malam’, dan menjadi hit di pasaran.
Pimpin Papiko
Titiek Puspa adalah artis penyanyi, pencipta lagu, bintang film, dan
koreografer seni yang menjadi simbol awal bermulanya peri kehidupan
kerlap-kerlip artis selebriti Indonesia. Titiek dahulu sering memposekan
diri lewat saluran tunggal TVRI, menyuguhkan hiburan operet ‘Ketupat
Lebaran’. Acara itu rutin setiap tiba hari raya Lebaran, demikian pula
pada tahun baru muncul operet lain disuguhkan oleh Paguyuban Artis
Penyanyi Ibukota (Papiko) pimpinan Titiek. Kedua hiburan bermutu itu pada
masanya sangat ditunggu-tunggu pemirsa, layaknya oase hiburan di tengah
kelangkaan tayangan siaran tv.
Papiko pada masanya sangat ampuh mengorbitkan artis-artis penyanyi
pendatang baru. Bahkan, di zaman Orde Baru Papiko selalu digandeng
organisasi massa sosial politik peserta pemilu Golongan Karya (Golkar),
untuk menghibur masyarakat setiap kali musim Pemilihan Umum tiba. Titiek
Puspa mempunyai keberuntungan lain selalu bisa dekat dengan penguasa. Di
situ ia ‘menjual’ profesionalisme semata tanpa ada interes pribadi.
Di usia senja nan penuh energi dan vitalitas Titiek peraih penghargaan
Pengabdian Panjang di Dunia Musik pada acara BASF Award ke-10 tahun 1994
lewat lagu Virus Cinta, masih dipercaya Ditjen Pajak Depkeu berkampanye
tentang pentingnya kesadaran masyarakat membayar pajak. Ketika sudah
muncul banyak penyanyi dan pencipta lagu muda berbakat, yang sudah teruji,
Titiek masih memperoleh kepercayaan menciptakan lagu mars dan himne
berbagai lembaga pemerintah. Titiek merelakan diri membuatkan lagu mars
dan himne tanpa dibayar, namun itu semua dikerjakannya dengan senang hati.
Titiek sepertinya tidak pernah dan tak akan kehabisan gawean. Kabar
tentangnya bisa saja tiba-tiba muncul, ia sudah menjadi juri berbagai
ajang lomba dan festival, atau terjun ke Bundaran Hotel Indonesia
berkampanye penanggulangan AIDS. Atau, seperti biasa saban hari usai
menaruh kakinya di atas tempat tidur, tiba-tiba muncul keinginan menulis
lagu. Lagu tentang apa saja sepanjang bercerita tentang cinta manusia dan
kemanusiaan, koridor pokok tema lagu ciptaan Titiek. Koridor yang muncul
karena Tuhan telah memberikan cinta kepada manusia walau, apa yang dilihat
dan didengar oleh Titiek, justru keadaan yang semakin diliputi iri dan
penuh kekerasan serta kesenangan manusia mencari kekurangan orang. ►e-ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|