| |
C © updated 25112005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Tino Sidin
Lahir:
Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925
Agama:
Islam
Pendidikan:
- Sekolah Taman Siswa, Tebingtinggi
- Pendidikan Melukis
- Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1960-1963)
Karir:
- Pegawai Kementerian Penerangan Jepang (1944-1945)
- Polisi Tentara di Sumatera (1945)
- Guru Menggambar di SMP Tebingtinggi (1945)
- TP Brigade 17 (1946-1949)
- Guru Taman Siswa di Tebingtinggi (1950-1952)
- Ketua Palang Merah Remaja di Langkat dan Ketua ASRI di Binjai
(1953-1957)
- Sekretaris Veteran di Deli Serdang (1958-1959)
- Ketua Pusat Latihan Lukis Anak (PLLA)/Acara Gemar Menggambar TVRI
Yogya (1969-1977)
- Penatar Guru Gambar SD Seluruh Indonesia (1980-1981)
- Pengisi Acara Gemar Menggambar TVRI Pusat (1978)
- Mengajarkan gambar di Pasar Seni, Ancol
Pluit
- Pimpinan Taman Tino Sidin, Surabaya dan Yogyakarta
Alamat Rumah:
Taman Aries Blok D 6/9, Meruya Ilir, Jakarta Barat
|
|
| |
|
|
|
|
| TINO SIDIN HOME |
|
|
 |
Tino Sidin
Guru Gemar Menggambar
Tino Sidin selalu tampil khas, berkemeja batik garis lengkung, berbaret
hitam dengan kuncir di atasnya, tatkala mengasuh gemar menggambar di
layar TVRI tahun 1978. Orang Jawa kelahiran Tebingtinggi, Sumatera
Utara, 25 November 1925, itu sangat akrab dengan anak-anak pada dekade
delapan puluhan.
Lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, 1963, yang
terkenal setelah mengasuh acara Gemar Menggambar di TVRI, sempat
ngambek, ketika acara mingguannya di TVRI diselingi Kak Alex, tanpa
pemberitahuan kepadanya.
Pasalnya, ada yang menganggap sistem Pak Tino bisa merusakkan
kreativitas anak. Sedangkan yang lain berpandangan justru karena caranya
yang kocak dapat membangkitkan minat menggambar para bocah.
''TV bukan sekolah menggambar,'' kata Tino. Acara Gemar Menggambar,
menurut dia, harus bisa dinikmati semua golongan dan usia. Menggambar
ibarat mengeja abjad, sedangkan melukis bagaikan mengarang novel. Karena
itu, prinsipnya mengajar adalah: ''Membuat anak suka menggambar, itu
saja.''
Putra bekas anggota pasukan Marsose di zaman Belanda itu suka menggambar
di masa kecilnya. Padahal, dilarang oleh kakeknya, seorang sais pedati,
karena dianggap tidak bisa menghidupi.
Menempati rumah kontrakan di Taman Aries, Jakarta Barat, Tino juga
mengajar menggambar di tempat lainnya di Jakarta, seperti Pasar Seni
Ancol, Pluit, dan Kepa Duri. Ia memimpin pelajaran menggambar di
sejumlah TK dan SD Jakarta, lewat ''Taman Tino Sidin'' yang juga
dikembangkan di Surabaya, Yogyakarta, dan Padang. Ini, katanya, diilhami
Taman Ismail Marzuki. ''Karena Taman Tino Sidin tak ada yang bikin, saya
bikin sendiri,'' tambahnya sambil tertawa.
Penggemar jalan-jalan ke ''gunung yang ada mistiknya'' ini telah
menghasilkan sejumlah buku. Antara lain, Bawang Merah Bawah Putih, dan
Ibu Pertiwi, terbitan Balai Pustaka. Mari Menggambar macet setelah
terbit 10 jilid. Malasnya timbul, katanya, setelah buku itu dibajak
orang.
Karirinya diawali sebagai pegawai Kementerian Penerangan Jepang
(1944-1945). Kemudian menjadi Polisi Tentara di Sumatera (1945) dan guru
menggambar di SMP Tebingtinggi (1945). Dia pun aktif sebagai Tentara
Pelajar Brigade 17 (1946-1949). Kemudian menjadi Guru Taman Siswa di
Tebingtinggi (1950-1952).
Ketua Palang Merah Remaja di Langkat dan Ketua ASRI di Binjai,
dilakoninya tahun 1953-1957. Tino pun sempat menjadi Sekretaris Veteran
di Deli Serdang (1958-1959).
Lalu menjabat Ketua Pusat Latihan Lukis Anak (PLLA) dan Acara Gemar
Menggambar TVRI Yogya (1969-1977). Kemudian aktif sebagai Penatar Guru
Gambar SD Seluruh Indonesia (1980-1981) seraya tampil sebagai pengasuh
Acara Gemar Menggambar TVRI Pusat (1978), mengajarkan gambar di Pasar
Seni, Ancol, dan memimpinan Taman Tino Sidin, Surabaya dan Yogyakarta. ►e-ti
(sumber pdat)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|