| |
C © updated 29052005-14102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/indopos |
|
| |
Nama:
Tifatul Sembiring
Lahir:
Bukittinggi, 28 September 1961
Istri:
Sri Rahayu
Anak:
1. Sabriana Sembiring
2. Fathan Sembiring
3. Ibrahim Sembiring
4. Yusuf Sembiring
5. Fatimah Sembiring
6. Muhammad Sembiring
7. Abdurrahman Sembiring
Pengalaman Organisasi:
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),periode 2005-2010
Pejabat Sementara Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Oktober
2004-April 2005
Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I Sumatera
Humas Partai Keadilan
Pendiri PartaiKeadlan (PK)
Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII)
Aktivis Yayasan Pendidikan Nurul Fikri, 1990
Aktivis Korps Mubaligh Khairu Ummah
Pekerjaan:
Direktur Asaduddin Press, Jakarta
PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jwa, Bali, Madura 1982-1989
Pendidikan:
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta
International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad,
Pakistan
Alamat Rumah:
Kompleks Pondok Mandala II Blok N-1, Cimanggis, Depok, Jawa Barat
Alamat Kantor:
Kantor Pusat DPP Partai Keadilan Sejahtera
Gedung Dakwah Keadilan
Jl. Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F
Jakarta Selatan, Indonesia
Telp +62-21-7995425
Fax +62-21-7995433
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Tifatul Sembiring
Si Anak Panah Ke-3 PKS
Dia salah seorang ‘anak panah’ (kader) Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
yang siap diluncurkan ke mana saja oleh pemegang busur (Majelis Surya)
selaku lembaga tinggi partai. Dia menjadi anak panah ketiga yang menerima
estafet kepemimpinan PKS. Tifatul Sembiring dipercaya menjabat Ketua Umum
DPP PKS menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Hidayat Nur Wahid yang
mengundurkan diri setelah terpilih menjadi Ketua MPR.
Tifatul yang sebelumnya menjabat Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I (Sumatera)
dipilih dan dilantik Majelis Surya menjadi Pjs Ketua Umum DPP PKS, Senin
11 Oktober 2004. Pria Batak Karo kelahiran Bukit Tinggi 28 September 1961,
melanjutkan kepemimpinan PKS periode 2001-2005.
Kemudian dalam Musyawarah Majelis Syuro I Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) yang berlangsung 26-29 Mei di Jakarta, Tifatul terpilih
sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) periode 2005-2010.
Selain memilih Presiden Partai, Majelis Syuro juga memilih ketua
lembaga- lembaga tinggi partai. KH Hilmi Aminuddin menjadi orang nomor
satu di PKS sebagai Ketua Majelis Syuro, Surahman Hidayat dipilih
sebagai Ketua Dewan Syariah Pusat, Suharna Surapranata sebagai Ketua
Majelis Pertimbangan Pusat, Tifatul Sembiring sebagai Presiden Partai,
Muhammad Anis Matta sebagai Sekretaris Jenderal, dan Mahfudz Abdurrahman
sebagai Bendahara Umum.
Dalam pidato pertamanya setelah terpilih secara definitif sebagai
Presiden PKS, Tifatul mengatakan, proses suksesi kepemimpinan di
PKS bisa memberikan contoh bagi pembelajaran politik tentang cara
berdemokrasi yang damai. Selain itu, proses suksesi kepemimpinan sebagai
peristiwa penting di PKS ternyata bisa dilakukan dalam biaya yang lebih
murah dibandingkan dengan pelaksanaan suksesi partai politik pada
umumnya.
"Di PKS selalu seru sorong- sorongannya, saling menyilakan maju dan
tidak ada kampanye untuk maju memimpin apalagi memakai politik uang,"
kata Tifatul menjelaskan.
Jabatan, bagi Tifatul, merupakan amanah yang pada akhirnya nanti harus
dipertanggungjawabkan di padang mashar. "Dengan diamanahkannya beban
jabatan ini, saya sendiri mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi
rajiun," ujarnya.
Tifatul yakin PKS ke depan akan kembali melakukan lompatan besar. Untuk
itu butuh kerja keras semua kader partai. Meskipun, tak akan membuat
target khusus, tetapi PKS akan berusaha membuat peningkatan perolehan
suara.
*** Partai kader yang digandrungi anak muda pencinta hati dan moral bersih ini
memberi teladan bahwa para kader partai tidak pantas merangkap jabatan di
partai manakala telah dipercaya menjabat di lembaga kenegaraan dan
pemerintah (publik).
Partai terbuka yang membawa misi moral dan dakwah dalam waktu singkat
berhasil melesatkan “anak panah” pertama Nur Mahmudi menjadi Menteri
Kehutanan dan Perkebunan (Menhutbun) di era Presiden Abdurrahman Wahid,
dan “anak panah” kedua Nur Wahid terpilih menjadi Ketua MPR RI periode
tahun 2004-2009.
PKS adalah partai yang mempunyai disiplin kuat membedakan mana hak-hak
publik dan mana hak-hak partai. Konflik kepentingan dan perangkapan antara
jabatan publik dan jabatan partai adalah tabu. Sikap itu pernah segera
dibuktikan oleh Nur Mahmudi yang ketika ditunjuk menteri mundur sebagai
Presiden PKS, demikian pula Nur Wahid usai terpilih 5 Oktober resmi mundur
per 11 Oktober 2004. Untuk sementara Tifatul masih merupakan “anak panah”
yang sedang disiapkan oleh sang pemegang “tali busur” untuk suatu ketika
dilesatkan kemana saja sesuai kebutuhan partai dan demi kemaslahatan umat.
Dianggap berhasil
Kemunculan Tifatul menjadi pengganti Nur Wahid mengejutkan banyak pihak.
Namun bagi Majelis Surya PKS mengetahui track record Tifatul, hal ini
bukan mengejutkan. Dia kader yang berhasil menggelontorkan 380 kursi
parlemen se-Sumatera ke pada Pemilu Legislatif 5 April 2004 menjadi milik
PKS. Dia pula kader yang dipercaya tampil dalam lobi politik sebelum
partai ini menjatuhkan pilihan mendukung pasangan SBY-MJK dalam Pilpres
putaran kedua, setelah pada Pilpres pertama 5 Juli 2004 mendukung pasangan
Amin Rais-Siswono Yudohusodo.
Sebagai Ketua DPP Wilayah Dakwah (Wilda) I Sumatera membawahi 10 propinsi
di Pulau Sumatera, dengan mengusung 52.000 kader PKS se-Sumatera Tifatul
Sembiring dianggap berhasil meraih total 380 kursi parlemen. Diantaranya,
sebanyak 17 kursi di DPR RI Senayan, 57 kursi di DPRD I seluruh propinsi
Sumatera, dan sisanya di DPRD II Kabupaten/Kotamadya seluruh Sumatera.
Jumlah ini adalah sepertiga dari total 1.112 kursi parlemen di semua
tingkatan yang berhasil diraih PKS di seluruh Indonesia.
Perihal lobi politiknya kepada pasangan SBY-MJK, Tifatul mengakui awalnya
ia yang didampingi Sekjen PKS Anis Matta berhasil mengadakan komunikasi
politik agar pada Pilpres pertama 5 Juli 2004 PKS ada di barisan SBY-MJK.
Sayangnya, lobi itu belum bisa diterima segenap pimpinan partai. Sebab
terbukti, berdasarkan mekanisme internal organisasi partai, di hari
terakhir sebelum masa tenang PKS baru bisa memutuskan sikap politik untuk
mendukung Amin Rais-Siswono Yudohusodo. Pasangan ini ternyata tak didukung
efektif oleh rakyat kebanyakan sebab hanya menempati urutan keempat
perolehan suara di bawah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf
Kalla, Megawati Soekarnoputri-KH Hasyim Muzadi, dan pasangan
Wiranto-Salahuddin Wahid.
Komunikasi politik kepada SBY-MJK kembali diteruskan Tifatul. Kali ini,
menjelang Pilpres kedua 20 September 2004 yang hanya menyisakan dua
pilihan pasangan ia disertai Irwan Prayitno. Hasil lobi lanjutan bisa
diterima oleh Majelis Syuro dan pimpinan PKS. Sehingga jauh-jauh hari PKS
sudah angkat bendera penuh mendukung pasangan SBY-MJK. Kendati sebagai
“penumpang” terakhir kontrak politik yang dibuat Tifatul efektif
menguntungkan sekali bagi kedua belah pihak. Dalam kontrak PKS memperoleh
beberapa jatah kursi strategis di kabinet.
Pasangan SBY-MJK berhasil meraih suara terbanyak sebagai pemenang Pemilu.
Sebagai the ruling party “anak-anak panah” PKS siap dilesatkan ke mana
saja dan kapan saja. Salah satu bukti awalnya adalah Hidayat Nur Wahid.
Atas restu dan dukungan SBY-MJK bersama Partai Demokrat (PD), Partai
Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan
Kebangsaan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), dan partai-partai lain yang
tergabung dalam koalisi kerakyatan ditambah sejumlah anggota DPD, Hidayat
Nur Wahid pada pemilihan 6 Oktober 2004 berhasil meraih kursi pimpinan MPR
berbeda tipis dua suara saja dari Sutjipto dari Koalisi Kebangsaan.
Walau partai baru dalam waktu singkat PKS sudah tergolongkan ke dalam
kelompok elit, atau sebagai the ruling party partai penguasa. Karena
sebagai partai penguasa Tifatul berjanji dan menjamin tak akan
melengserkan Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono di tengah jalan,
seperti pernah dialami Gus Dur. Kendati “hanya” sebagai pimpinan sementara
Tifatul pasti akan memberi banyak warna kepada partai dan peta perjalanan
politik nasional, paling tidak hingga berlangsung Mukhtamar April 2005
untuk memilih pimpinan baru PKS yang definitif.
Politik sebagai ibadah
Tifatul Sembiring adalah ayah dari tujuh orang anak hasil pernikahannya
dengan Sri Rahayu, wanita asal Karanganyar. Tifatul bersama Nur Mahmudi
Ismail dan Hidayat Nur Wahid adalah tiga dari antara 50 orang pendiri
Partai Keadilan (PK), partai yang menjadi cikal bakal PKS. PK pada Pemilu
1999 tidak lolos electoral threshold batas dua persen sehingga untuk bisa
maju kembali pada Pemilu 2004 PK harus bermetamorfosa menjadi partai baru.
Lahirlah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Tifatul mengaku menerima mandat memimpin PKS secara mendadak. Hanya tiga
hari sebelum diserahterimakan, dilantik, dan diumumkan resmi ke masyarakat
luas 11 Oktober, persisnya pada Jumat 8 Oktober 2004 malam hari. “Anak
panah” Tifatul dilesatkan menjadi presiden partai oleh “tali busur” yang
terdiri Majelis Pertimbangan Partai, Majelis Syura, Dewan Syariah Pusat,
dan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid. “Saya dan istri saya baru tahu malam
Sabtu. Keputusan itu sudah diambil dan dimandatkan kepada saya setelah
shalat magrib,” kata Tifatul, kepada Azhar Azis dari Indo Pos.
Tifatul menanggapi pemberian mandat sebagai biasa-biasa saja sebab tidak
ada yang istimewa dalam setiap proses peralihan kepemimpinan di PKS. Namun
karena yang menerima mandat adalah dirinya sendiri maka disertai pula rasa
takut. “Kalau di PKS, kita justru takut menerima jabatan. Karena itu,
tidak ada kader yang mau melakukan kampanye positif untuk pencalonannya.
Tetapi, kita seperti anak panah yang siap diluncurkan ke mana saja oleh
sang pemegang tali busur, yaitu Majelis Syura dan lembaga tinggi partai,”
jelas Tifatul.
Rasa takut muncul pada diri Tifatul sebab ia tidak dilibatkan dalam proses
pengambilan keputusan. Dirinya kaget saat mengetahui telah ditunjuk sebab
sepanjang memegang jabatan sementara hingga enam bulan ke depan ia menjadi
harus berhati-hati dalam mengambil setiap tindakan dan kebijakan partai.
Di sisi lain ia merasakan biasa-biasa saja sebab demikianlah halnya iklim
demokrasi di PKS. Tidak ada yang istimewa dalam setiap proses peralihan
pimpinan PKS. Bahkan, istri dan anak-anaknya sudah maklum akan pola kerja
PKS yang sedemikian tangkas. Sejak pertama kali aktif, saat masih bernama
PK Tifatul sudah sering berada di luar rumah. Sebagai Humas PK ia selalu
harus berada disamping Sang Presiden Nur Mahmudi Ismail, diminta untuk
mendampingi. Berada di luar rumah hingga 17 hari lamanya mudah dipahami
alasannya oleh seluruh anggota keluarga, yang menganggap pekerjaan politik
di PKS sebagai ibadah dan pengabdian kepada umat.
Tifatul beribadah dan mengabdi kepada umat melalui karir politik PKS
berjalan secara mulus. Urusan kebutuhan keluarga sudah ditopang oleh
kelancaran usaha penerbitan milik Tifatul. Dia adalah direktur merangkap
penulis pada perusahaan penerbitan Asahuddin Press, Jakarta, miliknya.
Demikian pula istrinya, Sri Rahayu tergolong aktif menulis tentang
kewanitaan. Dua buah bukunya, “Bila Muslimah Berpolitik” dan “Ketika Aku
Mencintaimu”, sudah diterbitkan oleh Gema Insani Press. Tifatul
pertamakali mengenal Sri Rahayu, istrinya, itu di arena dakwah kampus.
Tifatul awalnya adalah aktivis dakwah kampus yang menebarkan syiar Islam.
Di forum mulia itulah untuk pertama kali Tifatul, pria Batak Karo
kelahiran Bukittinggi dipertemukan sekaligus berkenalan dengan gadis asal
Karanganyar, Sri Rahayu.
Ketujuh putra-putri buah cinta pernikahan Tifatul-Sri Rahayu adalah si
sulung Sabriana pelajar kelas 2 SMU, dan Fathan kelas 1 SMU. Selanjutnya
adalah Ibrahim, Yusuf, Fatimah, Muhammad, dan si bungsu Abdurrahman yang
masih berusia 2 tahun 8 bulan.
Sesibuk apapun perjalanan karir politik
berupa ibadah dan dakwah, Tifatul selalu berusaha menyediakan waktu khusus
kepada seluruh anggota keluarga. Rapat keluarga seringkali digelar untuk
mendengarkan masukan dan kritikan dari anak-anak. Hasilnya, kendati sering
berada di luar rumah keseluruhan anaknya tak merasa terasing atau
teralienasi dari kegiatan Tifatul yang rajin berdakwah.
Tifatul adalah insinyur komputer lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen
Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta, yang sejak tahun 1982 bekerja di
PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, dan Madura. Tugasnya menggarap
bidang telekomunikadi dan data processing. Tahun 1989 ia mengundurkan diri
dari pekerjaan mapan itu hanya untuk berdakwah. Sejak aktif berdakwah di
kampus jiwa mubaligh sudah tertanam dalam diri Tifatul.
Pekerjaan di PLN begitu menyita waktu Tifatul sehingga tidak sempat
berinteraksi dengan sesama untuk berdakwah. Berangkat kerja jam enam pagi
lalu pulang jam enam sore sudah dalam kondisi kelelahan. Interaksi dengan
masyarakat sekitar menjadi minim sekali, padahal, dalam Islam
sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberikan manfaat kepada orang
lain.
Sejak tahun 1990 aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini bergabung
dengan Yayasan Pendidikan Nurul Fikri, serta dengan Korps Mubaligh Khairu
Ummah, hingga sekarang. Tifatul juga menyempatkan diri berkunjung ke
Pakistan selama enam bulan untuk mengasah wawasan berpikir politik di
International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad,
Pakistan.
Tifatul terus saja merangkai jaringan dakwah kampus. Begitu tiba era multi
partai, bersama Nur Mahmudi dan Nur Wahid ia berada bersama 50 kader
pendiri Partai Keadilan (PK), di tahun 1998. Sejak itu resmilah Tifatul
menggeluti politik praktis sebagai salah satu model ibadah dan dakwah yang
baru. Awalnya ia menjabat Humas partai yang mengharuskannya selalu
mendampingi Presiden Nur Mahmudi.
Menjelang Mukhtamar, Tifatul ditugaskan
sebagai Wakil Sekjen PKS, dan pasca mukhtamar diangkat mendapat mandat
sebagai Ketua DPP Wilayah Dakwah I Sumatera. Jabatan, mandat, dan amanah
itu berhasil dipertanggungjawabkan Tifatul dengan menggelontorkan
sepertiga total kursi palemen milik PKS berasal dari wilayah dakwah
pimpinannya.
►e-ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|