|
|
 |

Nama
Tien Setianingsih
Lahir
o
Pekerjaan
Pengusaha Atribut
Pendidikan
Hobi
Penghargaan:
Asean Development Golden Award 2002
|
|
Tien Setianingsih
Kisah 'Penyelamat' Tiga Jenderal Besar
Hampir seluruh tanda pangkat TNI dan Polri dipasok oleh Tien Setianingsih.
Ia pula yang mendesain atribut bagi tiga jenderal besar dan Presiden
Megawati. Seandainya waktu itu tidak ada Tien Setianingsih, bisa jadi
Soeharto dan A.H. Nasution (almarhum) tak jadi mengenakan atribut
kebesaran mereka sebagai jenderal besar. Ketika atribut kebesaran yang
dipesan buat tiga jenderal besar--satunya lagi Jenderal Soedirman--gagal
dibuat, untung ada Tien. Dalam sehari, segala atribut kebesaran berbahan
emas itu berhasil tercipta.
“Saya bangga bisa dipercaya oleh Mabes ABRI. Sebab, tidak ada satu pun
orang yang bisa membuat atribut untuk tiga jenderal besar,” ujarnya
mengenang.
Ceritanya, waktu itu, tahun 1995, akan dilangsungkan upacara Hari Ulang
Tahun ABRI (kini TNI). Nah, dalam rangka menyambut HUT ABRI yang ke-50,
Mabes ABRI menyiapkan atribut untuk tiga jenderal besar itu. Karena untuk
jenderal berbintang lima, tentu yang disiapkan bukan atribut biasa. Khusus
untuk tiga jenderal itu, Mabes ABRI memesan khusus dengan bahan emas.
Saat tender digelar, ada sebuah perusahaan yang mengaku sanggup membuat
atribut kepangkatan militer dari emas. Singkat cerita, perusahaan itu
memenangi tender. Celakanya, saat mendekati hari pelaksanaan peringatan
HUT ABRI, tepatnya tanggal 2 Oktober, atribut hasil kerja perusahaan itu
tidak memuaskan. Pihak pemesan menilai atribut yang dibuat itu kurang
simetris. Ternyata hal itu karena pembuatan cetakan emasnya ditangani oleh
tukang emas biasa yang tidak memiliki sertifikat. Tentu saja pihak ABRI
kelabakan.
Merasa tak puas dengan hasil yang didapat, mereka pun beralih ke PT
Kuantan Utama, sang rekanan lama, pada tanggal 2 Oktober malam. Meski
waktu yang diberikan sangat sempit, Tien (pemilik Kuantan) menyanggupi.
Tak pelak, keesokan harinya, ia dan para anak buahnya bekerja ekstrakeras
dan supercepat sejak pagi hingga malam hari.
Tien tak mau mengambil risiko. Ia menggunakan bahan-bahan pilihan untuk
membuat atribut pesanan tiga jenderal besar itu. Dipilihlah logam mulia 22
karat yang bersertifikat perusahaan logam negara. Demikian pula dengan
pencetakan atribut-atribut itu, Tien berusaha memberikan yang terbaik. Ia
pun menggunakan sistem komputerisasi untuk mencetaknya.
Akhirnya, atribut ketiga jenderal besar itu diselesaikan dengan hasil yang
sangat memuaskan dan tepat pada waktunya. Tepat satu hari menjelang
atribut-atribut itu harus dikenakan oleh tiga jenderal besar, ia
menyerahkan barang itu kepada Mabes ABRI. Dan pada 5 Oktober 1995, melalui
pesawat televisi, segenap rakyat Indonesia menyaksikan Jenderal Soeharto
dan Jenderal A.H. Nasution dengan gagahnya memimpin HUT setengah abad ABRI.
Ternyata, bukan hanya tiga jenderal besar itu saja yang atribut
kebesarannya “lahir” dari tangan Tien. Atribut kebesaran yang dikenakan
Megawati saat peringatan hari jadi TNI ke-57, Oktober lalu, juga digarap
oleh wanita peraih penghargaan Asean Development Golden Award 2002 itu.
Memang, Tien pantas memperoleh kepercayaan itu. Wanita berusia 68 tahun
itu cukup kenyang makan asam garam bisnis yang satu ini. Sejak tahun 1960,
ibu dua orang anak ini merintis usaha pembuatan tanda pangkat yang lazim
dikenakan oleh aparat negara.
Sebenarnya, mulanya, tahun 1958, Tien menggeluti usaha sablon dan batik.
Nama perusahaannya CV Wefza. Rupanya, waktu itu, Angkatan Laut Surabaya
tertarik dengan hasil kerja Tien. Maka, satuan militer yang identik dengan
warna putih itu pun memesan dibuatkan tanda pangkat Angkatan Laut Surabaya
beserta pasukan komandonya.
Seiring dengan berkibarnya tanda-tanda pangkat yang dikenakan para pelaut
itu, angin keberuntungan juga seolah terus bertiup ke peraih Top Eksekutif
dan Pengusaha Indonesia tahun 2001-2002 itu. Setelah Angkatan Laut
Surabaya merasa puas dengan atribut-atribut kepangkatan yang dibuatnya,
mulailah untuk pertama kalinya order datang dari ABRI, yakni pemesanan
pembuatan atribut dan pangkat.
Tentu saja omzet yang diperoleh Tien menjadi berlipat-lipat. Sejak saat
itu, ia telah menjadi rekanan yang lebih sering diminta untuk membuat
atribut dan pangkat oleh TNI dan Polri. Sebanyak 22 pangkat dalam
TNI--dari terendah hingga tertinggi--diproduksi oleh Tien. Demikian juga
dengan semua tanda pangkat di lingkungan Polri.
Rupanya, kiat yang digunakan Tien untuk membesarkan usahanya cukup
sederhana. “Hanya dengan kesabaran, meningkatkan mutu, dan terus melakukan
riset, saya dapat bertahan dalam usaha ini,” ujar wanita baya yang darah
berbisnisnya mengalir dari orang tuanya yang menjadi pedagang batik di
Solo.
Desainnya banyak dibajak
Kini, wanita yang telah ditinggal suaminya sejak 23 tahun lampau itu telah
mempekerjakan 80 karyawan. Dengan kiatnya itu, dari tahun ke tahun, Tien
selalu berusaha meningkatkan mutu produknya. “Awalnya, pembuatan atribut
atau pangkat masih menggunakan sablon. Kini telah menggunakan bordir,”
ujarnya saat ditemui di kantornya yang berlantai lima di Jalan Salemba
Raya, Jakarta.
Sekitar tahun 1980, Tien mulai melakukan revolusi dengan memperbarui
usahanya. Produksi atribut kepangkatan yang sebelumnya hanya menggunakan
sablon mulai diubahnya dengan memakai bordir. Untuk itu, ia membeli
peralatan produksi dari Jerman seharga DM 200. Hingga kini, pembuatan
atribut dan pangkat banyak dikerjakan oleh mesin dan komputer. “Bisa
dikatakan kamilah yang pertama kali merilis desain bordir dengan komputer,”
tuturnya kepada TRUST.
Rupanya, terobosan yang dilakukan Tien itu adalah hasil kejeliannya
mengintip usaha serupa yang dilakukan negara lain. Ia banyak melakukan
kunjungan ke beberapa negara, seperti Amerika Serikat, negara-negara Benua
Eropa, Asia, dan Australia. Di sana, Tien mengintip bagaimana
lambang-lambang kesatuan dan atribut militer dibuat. Tak lupa, ia juga
membeli lambang-lambang kesatuan, atribut, dan pangkat di masing-masing
negara tersebut.
Oleh-oleh yang dibelinya dari mancanegara itu rupanya bermanfaat. Ia
menggunakannya sebagai bahan riset desain. Dari beragam desain yang
ditemukan, wanita kelahiran Solo itu kemudian membuat desain baru yang
nantinya ditawarkan dan dipresentasikan kepada suatu kesatuan yang ada di
Indonesia. Jika kesatuan itu setuju, biasanya mereka akan memesan atribut
seperti topi, bet, name tag, dan--yang terbaru--kalung jati diri yang
mempunyai ciri khas kalangan TNI dan Polri.
Memang, tidak selalu desain yang dihasilkannya langsung disetujui oleh TNI
dan Polri. Seringkali korps baju hijau itu memintanya agar mengubah
desainnya di sana sini. Tapi, bagi Tien, itu adalah suatu hal yang biasa.
“Bahkan, kadang-kadang desain kami ditolak sama sekali,” ungkapnya.
Selain itu, guna meningkatkan kualitas hasil kerjanya, wanita yang
mempunyai moto “ora et labora” ini juga banyak mengikuti pameran, baik di
dalam maupun di luar negeri. Antara lain, pada 1981, Tien mengikuti
pameran di Jerman tentang produk-produk ekspor. Pada tahun yang sama, ia
juga mengikuti pameran di Singapura. Terakhir, bulan Agustus lalu, ia
mengikuti pameran Hankam di Universitas Indonesia dan pameran kebudayaan
bersama dengan stan polri. Memang, kadangkala, Tien diminta untuk mengisi
salah satu stan TNI atau Polri agar terlihat lebih menarik dalam suatu
pameran.
Satu-satunya persoalan yang disesalinya dalam bisnis ini adalah pesaingnya
banyak yang menyontek mentah-mentah desainnya. Dan celakanya, perusahaan
yang menyontek itu kemudian juga menawarkan barangnya kepada TNI atau
Polri. Tapi, meski desainnya dibajak, Tien menanggapinya dengan sabar dan
tidak mau mempersoalkan hal itu. “Masalah keuntungan, saya yakin bahwa
Tuhan pasti akan bersikap adil kepada hambanya,” kata pengusaha yang
tercatat paling lama menjadi pemasok atribut militer kepada TNI dan Polri
itu.
*e-ti, sumber Majalah Trust, Ariyanto, Anasta Prasidhi
|
|