| |
C © updated 26122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/pembelajar.com |
|
| |
Nama:
Theresia Widia Soerjaningsih
Lahir:
Malang, Jawa Timur, 19 Oktober 1950
Meninggal:
Jakarta, 24 Desember 2004
Agama:
Kristen Katholik
Suami:
Eko Atmo Boedi Santoso
Anak:
Steven, Francis dan Patricia
Ayah:
Joseph Wibowo
Ibu:
Cicilia Setianingsih
Pendidikan:
S1 Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Trisakti
S2 dari Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Indonesia
S3 untuk bidang ilmu pendidikan di Curtin University of Technology, Perth,
Australia
Jabatan Terakhir:
Rektor Universitas Bina Nusantara (1996-2004)
Karier:
= Mendirikan Modern Computer Course 1974
= Metrodata dan Jiwasraya serta mengajar di Trisakti tahun 1976-1978
= Mendirikan Akademi Teknik Komputer (ATK) tahun 1981
= ATK berubah menjadi Akademi Manajemen dan Informatika Komputer (AMIK)
Jakarta, Juli 1984
= AMIK Jakarta menjadi AMIK Bina Nusantara, 1985
= AMIK Binus menjadi Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STMIK)
Binus, 1987
= STMIK menjadi Universitas Bina Nusantara, tahun 1996
= Mendirikan Taman Kanak-kanak, SD, SMP dan SMA |
|
| |
|
|
|
|
Theresia Widia Soerjaningsih (1950-2004)
Pimpin Kursus jadi Universitas
Dia bersama saudara dan teman-temannya mendirikan bimbingan tes dan
kursus komputer yang menjadi cikal-bakal Universitas Bina Nusantara (UbiNus).
Universitas ini berkembang dengan pesat di bawah kepemimpinn doktor bidang
ilmu pendidikan dari Curtin University of Technology, Perth, Australia,
ini sebagai Rektor. Rektor Universitas Bina Nusantara Doktor Theresia
Widia Soerjaningsih meninggal dalam usia 54 tahun, Jumat 24 Desember 2004
sekitar pukul 02.40, di rumahnya di Kedoya, Jakarta Barat.
Jenazah disemayamkan di Rumah Duka Rumah Sakit Kanker Dharmais, dan
dimakamkan hari Rabu (29/12/2004) di Pemakaman Gunung Gadung 2, Bogor,
Jawa Barat. Dia meninggal karena menderita leukemia. Sekitar dua bulan
sebelumnya pernah dirawat di sebuah rumah sakit di Melbourne, Australia.
Widia, panggilan akrabnya, berkeinginan pulang sepekan sebelum meninggal.
Widia dilahirkan di Malang, Jawa Timur, 19 Oktober 1950. Anak ketiga (perempuan
satu-satunya) dari enam bersaudara keluarga almarhum Joseph Wibowo dan
Cicilia Setianingsih. Widia yang bersuamikan Eko Atmo Boedi Santoso
meninggalkan tiga anak dan satu cucu.
Dia termasuk sosok yang cenderung pendiam. Ketika berbicara kata-katanya
meluncur perlahan, disertai ekspresi wajah yang tak tampak perubahannya
meski dia tengah bercerita soal keberhasilan atau kesusahan dalam hidupnya.
Nada bicaranya pun cenderung datar-datar saja.
Widia tak pernah menduga bahwa usaha yang dulu dibuatnya karena terimpit
masalah keuangan ternyata berkembang menjadi sebuah institusi pendidikan
yang relatif diperhitungkan keberadaannya. Dari sebuah tempat bimbingan
belajar di sebuah teras pada tahun 1974, sampai menjadi universitas (UbiNus)
dengan sekitar 23.000 mahasiswa dan lebih dari 28.000 lulusan, pada saat
akhir hayatnya.
Dia pernah bercita-cita menjadi dokter, lalu berubah ingin menjadi
pramugari, akhirnya masuk di Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas
Trisakti. Lalu meraih S2 dari Program Pascasarjana Magister Manajemen
Universitas Indonesia tahun 1990 dan gelar S3 untuk bidang ilmu pendidikan
di Curtin University of Technology, Perth, Australia.
Dari Kursus Jadi Universitas
Sewaktu ia masih kuliah di Universitas Trisakti, secara ekonomi
keluarganya sedang jatuh. Bisnis ayahnya jatuh karena menerima pembayaran
pakai cek kosong. Dalam kondisi orangtua seperti itu, dia dan
saudara-saudara, harus berjuang. Mereka memulai sesuatu usaha baru yakni
bimbingan tes.
Tahun pertama kuliah, dia masih dibiayai orangtua, tahun kedua setelah
berjuang keras dia dapat beasiswa dari Trisakti. Kemudian, dia dan kakak
tertuanya terpikir membuka tempat bimbingan tes untuk murid SMA dan yang
mau masuk perguruan tinggi, seperti Siky Mulyono (tempat bimbingan tes
yang populer di Jakarta tahun 1970-an).
Mereka tak punya modal uang, hanya punya pengetahuan. Jadi, kenapa tidak
pengetahuan itu saja yang dibagikan? Kakaknya belajar kedokteran, mengajar
kimia dan biologi. Sementara Widia mengajar pelajaran fisika dan
matematika. Satu kakaknya yang lain mengurus pemasarannya.
Mereka bekerja sama dengan banyak orang, antara lain lewat teman-teman di
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Cukup banyak
siswa yang mau belajar, meskipun tempatnya cuma rumah kos sederhana di
Grogol. Meja dan kursi panjang dibuat dari potongan kayu tak terpakai di
Trisakti.
Tahun pertama, sudah banyak peserta kursus yang berhasil diterima di
universitas yang diinginkan. Ucapan terima kasih pun cukup banyak mereka
terima. Tahun berikutnya, Theresia tak bisa memberi bimbingan tes lagi,
karena hampir tidak lulus ujian. Dia tidak punya cukup waktu untuk belajar.
Besok ujian, hari ini dia baru belajar. Sangat riskan.
Setahun sebelum lulus sarjana, dia sempat bekerja di Pertamina. Di situ
selama tiga bulan dia praktik komputer IBM. Sebenarnya semuanya dimulai
dari kerja praktik ini. Ketika itu Pertamina mau mendirikan akademi
komputer. Untuk proyek itu disiapkan 30-40 orang lulusan S1 untuk menjadi
gurunya, termasuk Widia. Rencana ini akhirnya gagal.
Tetapi yang menarik perhatiannya, banyak ekspatriat yang mengerjakan
komputer di Pertamina kerjanya praktis empat hari dalam seminggu. Sabtu
mereka libur, Jumat mereka ikut orang Indonesia yang bekerja setengah hari.
Theresia lalu berpikir kalau ilmu komputer itu bisa disebarkan.
Dia lalu omong sama orangtua. Orangtua langsung mendukung. Tahun 1974 di
teras rumah orangtua dia memulainya, diberinama Modern Computer Course,.
Teman-teman yang sama-sama belajar komputer di Pertamina mau menjadi guru
kursus.
Kemudian, mereka bekerja sama dengan Panti Asuhan Vincentius di Jalan
Kramat Raya untuk tempatnya. Konsepnya bagi hasil. Sejak itu dari mulut ke
mulut orang tahu kursus komputer ini, siswanya dari anak muda sampai
pegawai. Gurunya tergantung jumlah kelas yang ada, satu kelas sekitar
25-30 siswa. Makin banyak siswa, mereka perlu ruang lebih banyak, tinggal
bilang sama Romo, boleh pakai ruang sebelah.
Tahun 1981 kebanyakan muridnya lulusan SMA dan tidak kuliah. Mereka ingin
ada sedikit gelar. Lalu dibuka akademi dengan 500-an siswa angkatan
pertama. Sekitar tahun 1978, mereka sudah bikin program aplikasi dan
melayani kebutuhan beberapa perusahaan. Juga dirintis software house
bersama IBM.
Ketika itu juga diputuskan untuk beli mesin komputer sendiri, cukup mahal.
Nah, di sini jadwal yang dijanjikan IBM mundur, sebagai "ganti rugi"
anak-anak boleh berlatih dengan komputer di kantor IBM. Anak-anak bilang,
’wah keren, standar kita sudah internasional’. Ini blessing in disguise,
ada beberapa perusahaan yang semula pelanggan IBM, lalu menarik anak-anak
bekerja di perusahaan mereka. Ini juga menyebabkan nama baik kursus itu
naik.
Tahun 1981 namanya Akademi Teknik Komputer (ATK), Juli 1984 berubah
menjadi Akademi Manajemen dan Informatika Komputer (AMIK) Jakarta, tahun
1985 menjadi Bina Nusantara. Tahun 1987 diubah menjadi Sekolah Tinggi
Manajemen Informatika Komputer. Itu juga karena dorongan mahasiswa.
Tahun 1996 ada kebutuhan menjadikannya universitas karena dari tahun 1974
sampai 1996 masih hanya terkait pada komputer, ingin ada keseimbangan
dengan ilmu-ilmu lainnya. Itulah yang memunculkan UBiNus.
Mereka yang bergabung di Binus hanya pakar-pakar komputer, sampai suatu
saat dalam pertumbuhannya muncul konflik. Ada arogansi ilmu yang merasa
lebih tinggi daripada yang lain. Makanya lalu terpikir untuk menunjukkan
keindahan ilmu yang lain, biar tidak ada arogansi.
Jadilah UBiNus mengelola Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ekonomi,
Fakultas Teknik, Fakultas Sastra, dan Fakultas MIPA. Selain itu, juga
diadakan program ganda misalnya matematika dan teknik informatika, teknik
industri, dan manajemen.
Sebenarnya ada yang bilang MIPA tidak laku karena MIPA identik dengan
menjadi guru. Padahal, MIPA kalau digarap dengan baik akan menjadi fondasi
yang baik karena di situlah dasar ilmunya. Dua tahun pertama mahasiswa
MIPA di bawah lima orang.
Tahun ketiga dibuat inovasi untuk menarik siswa ke MIPA. Caranya dengan
membuat program ganda, misalnya MIPA dengan Teknik Informatika. Ternyata
peminatnya langsung melompat menjadi 120 orang. Program ganda itu akhirnya
menjadi jurusan kebanggaan bagi mahasiswa.
Selain universitas, lembaga pendidikan Bina Nusantara juga mendirikan
pendidikan mulai jenjang Taman Kanak-kanak, SD, SMP, SMA, S1, S2 dan S3.
Alasan mendirikan pendidikan mulai dari jenjang terendah sampai tertinggi
antara lain ingin membangun karakteristik siswa ditanamkan dari bawah,
misalnya budaya bertanya, setidaknya sejak SD sampai SMA. Sehingga di
universitas dilihat, kenapa siswa tidak berani bertanya di kelas? Maka,
tahun 1998 dibentuk SMA. Dibuat yang bagus dan tidak tanggung-tanggung
untuk mendapatkan hasil yang bagus.
Sebelum bergabung dengan Pertamina, dia sempat kerja di Metrodata sampai
Jiwasraya. Juga sempat mengajar di Trisakti, sekitar tahun 1976-1978,
tetapi terganggu karena kelahiran anak-anak, buah pernikahannya (1975)
dengan Eko Santoso, lulusan ITB, bekerja di IBM sampai pensiun, dan
kemudian berkecimpung di Information Technology UBiNus. Mereka mendidik
anak-anaknya untuk mencintai buku dan membiasakannya dengan komputer sejak
berusia balita.
►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|