| |
C © updated 17102007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/csps.ugm.ac.id |
|
| |
Nama:
Prof Dr Teuku Jacob
Lahir:
Peureulak, Aceh Timur, 6
Desember 1929
Meninggal:
Yogyakarta, 17 Oktober 2007
Agama:
Islam
Isteri:
Nuraini
Anak:
Nina Nurilani Jacob
Ayah:
Teuku Sulaiman
Pendidikan:
- SD, Langsa (1943)
- SMP, Kutaraja (1946)
- SMA, Kutaraja (1949)
- Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta (1956)
- Universitas Amerika, Washington DC, AS (1960)
- Rijksuniversiteit, Negeri Belanda (Doktor, 1967)
Karir:
- Asisten Ahli Antropologi UGM (1954-1963)
- Asisten Anatomi Universitas Amerika, Washington DC (1959- 1960)
- Lektor Muda, 1963-1968
- Lektor Kepala Antropologi UGM (1968- 1971)
- Guru Besar Tamu Paleontologi, Manusia, San Diego (1968)
- Guru Besar Antropologi UGM (1971-2007)
- Sekretaris Fakultas Kedokteran UGM (1973-1975)
- Ketua Bidang Ilmu Kedokteran Lembaga Pendidikan Doktor UGM
(1977-sekarang)
- Anggota Komisi Kerja Senat UGM (1977)
- Rektor UGM (1982-1986)
- Guru besar antropologi UGM
- Guru Besar emeritus Fakultas Kedokteran UGM
Kegiatan Lain:
-Pemimpin Redaksi Berkala Ilmu Kedokteran (1969- sekarang)
-Anggota American Association of Physical Anthropologists
-Anggota Society for the Study of Social Biology
-Anggota American Association for the Advancement of Science
-Anggota Societe d’Anthropologie de Paris
-Anggota Society for Medical Anthropology
- Tentara Pelajar Resimen Aceh
Karya:
Karya tulis penting:
Antara lain:
- The Sixth Skull Cap of Pithecanthropus Erectus, American Journal of
Physical Anthropology, 1966
- Some Problems Pertaining to the Racial History of the Indonesia
Region, Neerlandia, Utrecht, 1967
- The Phitecanthropus of of Indonesia, Bulletins et Memoires de Societe
d’Anthropologie de Paris, 1975
Alamat Rumah Keluarga: Bulaksumur A 14,
Yogyakarta
Penghargaan:
Bintang Mahaputra Nararya, 2002
|
|
| |
|
|
|
|
| TEUKU JACOB HOME |
|
|
 |
Prof Dr Teuku Jacob (1929-2007)
Ahli Fosil dan Mantan Rektor UGM
Mantan Rektor Universitas Gadjah
Mada Profesor Dr Teuku Jacob, seorang ahli paleoantropologi dan
antropolog ragawi.
Guru besar antropologi UGM kelahiran Aceh Timur, 6
Desember 1929, ini meninggal dunia dalam usia 77 tahun akibat sakit
liver pada Rabu 17 Oktober 2007 pukul 17.45
di Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta.
Menurut Kepala Humas RS Dr Sardjito, Trisno
Heru Nugroho, Profesor Jacob sudah lama mengidap penyakit liver dan semakin parah
karena usia yang sudah menua. Sebelum meninggal dia sempat dirawat selama 12 hari di Ruang Isolasi ICCU RS Dr
Sardjito. Dua setengah jam sebelum meninggal, tekanan darahnya terus melemah dan
denyut nadi sudah tidak teraba. Kondisi makin buruk karena kemudian
terjadi perdarahan.
Jenazah dimakamkan
pada Kamis (18/10/2007) setelah disemayamkan di rumah duka di
Jalan Bulaksumur A 14, Yogyakarta serta penghormatan terakhir
dilaksanakan di Balairung UGM.
Selama empat
tahun sejak 1982,
Profesor Jacob memangku jabatan sebagai Rektor UGM . Seusai menjabat rektor,
dia lebih berkonsentrasi sebagai ahli fosil.
Guru besar antropologi ini merupakan ilmuwan yang terus memperjuangkan
penemuannya bahwa fosil di Flores bukan spesies baru, tetapi bagian
salah satu dari subspesies Homo sapiens dengan ras Austrolomelanesid.
Rektor UGM Prof Sudjarwadi menuturkan, Prof Jacob merupakan sosok
ilmuwan bidang paleoantropologi profesional dan tangguh. Nama Prof Jacob
tak asing di dunia ilmu paleoantropologi internasional. Jabatan terakhir
sebagai profesor emeritus Fakultas Kedokteran UGM.
Prof Etty Indriati, Kepala Laboratorium Bio-Paleoantropologi UGM yang
menggantikan Jacob mengungkapkan, almarhum berjasa besar mengembangkan
ilmu antropologi dan cabang-cabangnya, khususnya bidang antropologi
ragawi. "Spirit Prof Jacob itu sangat besar dan tak pernah padam untuk
terus bekerja dan mengabdi pada ilmu pengetahuan sampai akhir hayatnya,"
ujarnya.
"Pithecantropus"
Di forum internasional, Teuku Jacob dikenal sebagai ilmuwan andal dan
kukuh prinsipnya. Atas jasa Prof Dr Teuku Jacob inilah, fosil kunci
manusia Jawa pithecantropus erectus yang pernah ditemukan, lalu
diperdagangkan, akhirnya bisa dibawa pulang ke Indonesia.
Dalam kasus
lahan minyak di Celah Timor, Jacob ngotot agar Pemerintah Indonesia
berani menyatakan hak atas kawasan itu. Ia pula yang tegas menolak klaim
spesies baru oleh sekumpulan antropolog muda Australia atas fosil
manusia kerdil Flores itu.
Setelah empat tahun memangku jabatan rektor UGM, sejak 1982,
antropolog ragawi ini kembali menekuni penelitian di laboratorium. Ia
menekuni lagi fosil manusia dan binatang
sebagai kepala laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi.
Bungsu dari tiga bersaudara anak Teuku Sulaiman, Jacob tamat SMA di
Banda Aceh, 1949. Lulus FK UGM, 1956, ia belajar di Universitas Amerika,
Washington DC, tetapi mengambil gelar doktor di Rijksuniversiteit,
Utrecht, Negeri Belanda, 1970. Di dua perguruan tinggi ini, Jacob
dibimbing dua arkeolog ternama: Prof. Dr. W. Montague Cobb, dan Prof.
Dr. G.H.R. Koenigswald.
Berpendidikan sebagai dokter, tetapi Jacob lebih banyak menghabiskan
waktu sebagai ahli fosil. Guru besar antropologi UGM ini sempat pula
menjadi dosen tamu di San Deigo, AS. Pulang ke Indonesia, ia mengepalai
seksi antropologi ragawi FK UGM, kemudian sekretaris,
lantas dekan fakultas yang sama, sebelum menjabat rektor, menggantikan
Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardja.
Gagasannya di bidang pendidikan terasa orisinil. Misalnya, ia pernah
melempar gagasan untuk menerima lulusan SMA IPS di fakultas kedokteran.
Ia juga gusar melihat sebagian besar insinyur bekerja di kota. ''Kalau
dokter bisa menjadi dokter Inpres, mengapa insinyur tidak,'' katanya.
Tetapi, memenuhi harapan Menteri P & K untuk mencetak kader penerus
kegiatan bidang ilmu yang digelutinya, ia malah merasa sulit. Orang
tidak banyak tertarik bidang ini karena hasilnya tidak langsung
dirasakan. Lagi pula, bidang ini erat berkaitan dengan antardisiplin:
ilmu kedokteran, biologi, kedokteran gigi, arkeologi, dan antropologi
budaya. ''Menyiapkan program pendidikannya pun menjadi susah,'' ujarnya.
Di beberapa negara, Jacob tercatat sebagai anggota sejumlah
perkumpulan. Ia juga menulis beberapa karya. Jacob menolak anggapan para
ahli Barat bahwa manusia purba di kawasan Sangiran, Solo, bertradisi
mengayau -- memenggal kepala lalu memakan otak sesamanya. Ia menyatakan,
''Temuan-temuan tengkorak Sangiran umumnya sudah tidak bertulang dasar,
rusak karena lemah. Lagi pula, manusia purba cukup bekerja dua jam untuk
makan sepanjang hari, sehingga rangsangan untuk membunuh menjadi
berkurang.''
Menikah dengan Nuraini, Jacob dikaruniai seorang anak wanita, Nina
Nurilani Jacob.
Kegemarannya cuma membaca. Bila bepergian, ia sering membawa banyak
kopor. Bukan pakaian, melainkan tulang belulang. Ketika membawa fosil ke
Tokyo, 1977, ''Saya dijaga ketat, pakai polisi bersirene, dan lampu
merah segala,'' ceritanya.
Bintang Mahaputra Nararya
Presiden Megawati Soekarnoputri menganugerahkan tanda kehormatan
Bintang Mahaputra Nararya kepada Prof Dr Teuku Jacob. Upacara
penganugerahan berlangsung di Istana Negara Jakarta, Kamis 15 Agustus
2002. Penganugerahan itu dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres)
Nomor 503/TK/2002.
UGM "Melepas"
Segenap anggota sivitas akademika Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
Kamis (18/10/2007) pukul 12.15 di Balairung Gedung Pusat UGM Yogyakarta,
melepas kepergian sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada sang
guru sosok ilmuwan sejati Prof Teuku Jacob. Guru besar emeritus Fakultas
Kedokteran UGM ini dimakamkan di Makam Keluarga Besar UGM, Sawit Sari,
Sleman, Yogyakarta.
Pelepasan jenazah Prof Teuku Jacob di UGM dilakukan dengan upacara
militer dengan inspektur upacara Kepala Staf Komando Distrik Militer (Kodim)
Sleman Mayor Infanteri Narso. Sewaktu muda, Prof Jacob tercatat sebagai
pejuang yang tergabung dalam Tentara Pelajar Resimen Aceh.
Terlihat hadir dalam upacara penghormatan Prof Jacob antara lain mantan
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma’arif serta dua mantan
Rektor UGM, Ichlasul Amal dan Sofian Effendi.
Semua anggota keluarga dengan khusyuk mengikuti prosesi penghormatan
terakhir almarhum di Balairung Gedung Pusat UGM. Selama prosesi
pemakaman, istri Prof Jacob, Nuraini Jacob (68), lebih banyak
menggandeng lengan menantunya, Afmi dan putri satu-satunya, Nina
Nurilani Jacob.
Menurut keluarga, sejak masuk RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, pada 13 hari
sebelum neninggal, Prof Jacob telah kehilangan kesadaran. "Sudah tidak
bisa diajak berbicara lagi sejak masuk rumah sakit. Kondisinya lemah,"
kata famili almarhum.
Ketua Majelis Guru Besar UGM Suryo Guritno saat melepas almarhum
menuturkan, bangsa Indonesia, khususnya UGM, telah kehilangan salah satu
putra terbaik sosok ilmuwan sejati. Prestasi signifikan yang dimiliki
almarhum, selain di bidang ilmu yang digeluti, adalah dalam kurun waktu
36 tahun usia UGM, sebanyak 56,8 persen dari doktor yang dihasilkan oleh
UGM adalah saat beliau menjadi rektor.
Ichlasul Amal bercerita saat memangku jabatan sebagai Rektor UGM, Prof
Jacob sering mengundang dirinya yang saat itu masih menjabat Dekan
Fisipol UGM untuk berdiskusi masalah politik. "Sulit mencari pengganti
Pak Jacob. Beliau mendalami antropologi ragawi, tapi juga mengajar ilmu
perdamaian pada Program Perdamaian dan Keamanan pada Pascasarjana UGM,"
tuturnya.
Prof Jacob yang dikenal galak, justru sebaliknya bagi Sofian Effendi.
Menurut Sofian, sosok Jacob memberikan banyak inspirasi dan anekdot
keilmuan, bahkan dalam humor-humornya pada diskusi ilmiah. Sebab, Jacob
memiliki pengalaman studi dan bidang yang luas di banyak negeri.
►ti(Sumber Kompas, 18 Oktober 2007, 19 Oktober
2007, PDAT.co.id dan csps.ugm.ac.id)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|