| |
C © updated 14032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Dra Teti Suryati
Lahir:
Garut, 18 April 1961
Agama:
Islam
Profesi:
Guru SMAN 12 Jakarta
Suami:
Heriyanto
Anak:
- Muti Axanoriyanti
- Meti Asokariyanti
- Media Heriyanto
Karir:
- Guru Biologi SMAN 12 Jakarta
- Guru Muatan Lokal Lingkungan Hidup SMAN 12 Jakarta
- Pembina Kelompok Ilmiah Remaja SMAN 12 Jakarta
Instruktur Praktikum Biologi Plus untuk SMP dan SMA di Gelanggang
Samudera Ancol, Jakarta
Pengalaman:
- Terpilih sebagai kafer kebersihan oleh Dinas Kebersihan DKI
Jakarta, 2002
- Terpilih sebagai instruktur pendidikan lingkungan hidup bagi guru-guru
program Western Java Environment Management Project (WJEMP), 2003
- Kader Lingkungan Hidup RW 15 Klender, Jakarta Timur, 2004-sekarang
- Kader Lingkungan Hidup Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2006
- Kader Lingkungan Jakarta Green and Clean (Unilever), 2006
Alamat:
Kampung Bulak RT 04/RW 015 No. 42, Klender 13470, Jakarta Timur
Telepon: (021) 8600593
HP: 0816 1674392
|
|
| |
|
|
|
|
| TETI SURYATI HOME |
|
|
 |
Teti Suryati
Guru yang Mengurusi Sampah
KOMPAS:
Kecintaan Teti Suryati, kelahiran Garut, 18 April 1961, pada tanaman dan lingkungan mendorongnya gencar
menyosialisasikan pengolahan sampah menjadi kompos. Awalnya, guru
Biologi SMAN 12 Jakarta ini sekadar membagi ilmu dengan sesama guru di
Jakarta, lalu meluas sampai di berbagai wilayah di Tanah Air.
Keengganan warga mengolah sampah rumah tangga dijawab Teti dengan
menciptakan alat pembuat kompos atau komposter sederhana. Komposter
buatan Teti berbahan kaleng bekas cat berukuran 25 kilogram, yang diberi
alat pemutar pada bagian samping atau tutup kaleng.
Semua ini berawal saat Teti terpilih sebagai kader kebersihan oleh Dinas
Kebersihan DKI Jakarta, enam tahun lalu. Sebagai kader, dia mendapat
banyak informasi tentang pengolahan sampah menjadi kompos.
Pengetahuan itu tak dibiarkannya begitu saja. Tetapi dia
mengembangkannya dengan menciptakan komposter. Untuk memenuhi selera
masyarakat, Teti telah mengembangkan 13 tipe komposter dengan bahan baku
kaleng dengan alat pemutar. Tahun lalu, dia mengembangkan komposter
gantung yang dibuat dari tempayan air, untuk mengajari warga membuat
kompos cair.
”Setiap kali saya ceramah soal pengolahan sampah rumah tangga, warga
malah bertanya ’ngapain susah-susah ngurus sampah?’ Mereka merasa sudah
membayar retribusi kebersihan, jadi enggak perlu pusing mikirin sampah,”
cerita Teti.
Ketika ia meminta warga belajar bikin kompos, ”Sebagian warga menjawab,
untuk apa? Beli saja, kompos kan harganya murah, cuma Rp 1.000 per
kilogram,” ujarnya.
Sikap apatis warga yang dia datangi lewat kelompok arisan, pengajian,
PKK, warga perumahan, guru, maupun karyawan itu tetap tak menyurutkan
semangat Teti untuk berbagi dan mengubah paradigma berpikir masyarakat
soal sampah. Keluhan itu justru membuat dia kreatif dengan menciptakan
komposter untuk mengurangi sampah di rumah.
Umumnya warga kota malas berurusan dengan sampah organik atau basah yang
mudah berbau busuk. Mereka enggan membuka tempat pembuangan sampah, lalu
mengaduknya agar tak bau dan berbelatung.
”Dari situlah saya terpikir harus membuat alat pengaduk sehingga tempat
sampah organik tak harus sering dibuka. Saya lalu ke tukang las, minta
kaleng bekas cat itu dilubangi sisi kiri dan kanannya, lalu dipasangi
seperti jeruji yang memudahkan pemutaran sampah di dalamnya,” tuturnya.
Komposter ala Teti bahkan bisa disimpan di ruang tamu, tanpa orang sadar
bahwa isinya sampah basah. Adapun komposter gantung dari tempayan air
cocok dipasang di rumah yang tak punya halaman.
Bersih dan hijau
Keterlibatan Teti mengajak warga memilah dan mengolah sampah semakin
intens ketika suaminya terpilih menjadi Wakil Ketua RW 15, Kampung Bulak,
Klender, Jakarta Timur, tahun 2004. Teti, yang saat itu aktif sebagai
instruktur pendidikan lingkungan hidup bagi guru-guru DKI Jakarta,
merasa harus mendukung tugas suami.
”Ketika itu ada lomba RW bersih dan sehat tingkat kelurahan. Saya ikut
terlibat di PKK dan harus menggerakkan semua warga agar berpartisipasi,”
kenangnya.
Kondisi lingkungan tempat tinggal yang kumuh dan sempit menginspirasi
dia untuk mengajak warga mengubahnya menjadi lingkungan yang bersih dan
hijau. Ia minta setiap rumah menanam dua pohon. ”Ini menimbulkan pro-kontra.”
Warga yang umumnya masyarakat menengah-bawah keberatan harus membeli
tanaman dan pot. Teti pun menyarankan kaleng bekas sebagai ganti pot.
Selain itu, setiap pukul 16.00, salah satu penghuni rumah harus
membersihkan halaman masing-masing. Bagi warga yang tak bersedia, ada
denda menyediakan dua pohon di depan rumah.
”Cara itu efektif untuk membangkitkan kesadaran warga. Mereka ikut aktif
menciptakan kebersihan lingkungan. Setelah tampak hasilnya, warga jadi
gemar bertanam,” kata Teti. Hasilnya? RW 15 ditunjuk sebagai RW
percontohan di Jakarta Timur.
Namun, kecintaan warga menanam itu menimbulkan persoalan lain. Mereka
sulit menemukan media tanam. Dan Teti lalu memperkenalkan kompos sebagai
media tanam.
Pembuatan kompos menuntut warga punya kebiasaan memilah sampah di rumah.
Sampah organik warga RW itu dikumpulkan di enam posko, sedangkan sampah
nonorganik, seperti kertas, plastik, dan kayu, dijual atau dibuat
kerajinan tangan. Petugas kebersihan hanya mengangkut sampah yang sama
sekali tak bisa didaur ulang.
Dalam kurun 2004-2006, RW 15 ”hanya” mendapat juara ketiga RW bersih dan
sehat tingkat Provinsi DKI Jakarta. Tetapi, kebiasaan mengelola sampah
rumah dan mengolahnya menjadi kompos telah menjadi pola hidup warga.
Mereka cinta lingkungan bukan karena ada lomba.
Baru pada 2007, RW 15 menjadi juara nasional RW Bersih yang
diselenggarakan Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Sejak itu, kawasan
ini sering didatangi masyarakat dan pejabat yang ingin mengetahui
bagaimana warga setempat mengelola sampah rumah tangga.
”Untuk menumbuhkan kesadaran warga, seperti memilah sampah di rumah, tak
semudah membalik telapak tangan,” katanya. Padahal, sampah organik
mencapai 60 persen dari total sampah rumah tangga.
”Kalau semua orang mau sedikit saja susah, memilah sampah dan
mengolahnya, bayangkan, betapa nikmatnya lingkungan hidup ini. Akibat
global warming pun bisa diminimalkan,” ujarnya lebih lanjut.
Muatan lokal
Tahun 2006 Teti menggagas muatan lokal lingkungan hidup sebagai materi
pelajaran di sekolah tempatnya mengajar. Pengolahan sampah termasuk
salah satu materi yang diajarkan. Ia membuat semacam kurikulum, siswa
diajak praktik di rumah dan di sekolah.
Apa yang dia lakukan membuahkan hasil. Sekolah tempatnya mengajar, SMAN
12 Jakarta, terpilih sebagai sekolah berwawasan lingkungan tingkat
nasional. Dalam lomba pemanfaatan sampah oleh pelajar yang digelar World
Wildlife Fund, SMAN 12 Jakarta meraih juara kedua. Siswa mengolah sampah
plastik menjadi aksesori.
Kiprah Teti yang gencar memperkenalkan pengolahan sampah skala rumah
tangga dan sekolah ini menarik perhatian berbagai pihak yang peduli
lingkungan hidup. Dia semakin sering diminta menjadi pembicara ke
berbagai kota, seperti Balikpapan, Pontianak, dan Bandar Lampung. Ia
muncul dalam talkshow di radio dan televisi.
Teti semakin sibuk sebagai pembicara soal pengolahan sampah dan
pemberdayaan warga untuk menciptakan lingkungan hidup yang bersih dan
hijau. Namun, dia tak mengabaikan tugasnya sebagai guru. (Oleh Ester
Lince Napitupulu, Kompas, Jumat, 14 Maret 2008) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|