| |
C © updated 12112009-29032006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
Nama:
Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno
Nama Panggilan:
Tedjo
Lahir:
Magelang, 20 September 1952
Jabatan:
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (2008-2009)
Isteri:
Ny. Yusfien Karlina
Anak:
- Dian Avianti Yus Tedjo
- Devi Novani Yus Tedjo
- Dika Oktaviani Yus Tedjo
- Mahendra Adji Pratama
Cucu:
Irfan Zaidan A.P, Athallah Dendra Jalasena Pratama, Clarissa
Zahra Andina Rahmadani, Alodyana Deandra Queenaura Manda, dan Maydicta
Azzalya Anissa Putri
Pendidikan Militer:
- AAL (1975)
- Suspaja (1976)
- Conversion Nomad (1978)
- Dik Penerbang (1978)
- Alih Pesud N-22 (1979)
- Sus tar P-4 (1980)
- Captainci N-22 (1982)
- Alih Pesud C-47 (1983)
- Sus Flight Inst. (1984)
- Inst. FLT N-22 (1984)
- Alih Pesud C-212 (1984)
- Conversion C-47 (1984)
- Sus Prostis (1985)
- Diklapa-II (1986)
- Alih Pesud F-33-A (1987)
- Seskoal angk-29 (1991-1992
- Sesko ABRI angk-25 (1998
- KRA-34 Lemhanas (2001)
Karir:
- Satuan Udara
- Palaksa KRI Teluk Penyu (513)
- Satuan Amfibi Armatim
- Komandan KRI Teluk Lampung (540)
- Satlinlamil Surabaya
- Komandan KRI Teluk Semangka (512) Satfib Armatim
- Komandan KRI Multatuli (561) Satfib Armatim
- Paban VI Binkuat Sopsal Kasal Mabesal
- Komandan Satfib Armatim
- Asrena Mako Armatim
- Kapok Sahli A Kasal Bidang Wilnas
- Komandan Guskamla Armabar
- Kepala Staf Koarmatim
- Wakil Komandan Seskoal
- Sahli Tingkat III bidang HUbintek Mabes TNI
- Staf Ahli Manajemen Nasional Lemhanas
- Panglima Komando Armada RI Wilayah Barat
- Asisten Perencanaan Kasal
- Dirjen Perencanaan Pertahanan Dephan
- Komandan Sesko TNI
- Kepala Staf Umum TNI
- Kepala Staf TNI Angkatan Laut (2008-2009)
Penghargaan:
- Bintang Yudha Dharma Pratama
- Bintang Yudha Darma Nararya
- Bintang Jalasena Pratama
- Bintang Jalasena Nararya
- Satya Lencana GOM IX/Raksaka Dharma
- Satya Lencana Kesetiaan XXIV
- Satya Lencana Dwidya Sistha
- Satya Lencana Kebaktian Sosial
- Bintang Jalasena Utama
- Bintang Swabuanapaksa Utama
- Bintang Bayangkhari Utama
|
|
| |
|
|
|
|
| TEDJO EDHY HOME |
|
|
 |
Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno
Kepala Staf TNI AL ke-21
Kepala Staf TNI Angkatan Laut ke-21 periode 2008-2009. Pria kelahiran
Magelang, Jawa Tengah, 20 September 1952, ini digantikan
Laksamana Madya
TNI Agus Suhartono pada 12 November 2009. Sebelumnya, Tedjo menggantikan
Laksamana TNI AL Sumardjono yang menjabat Kasal 2007-2008.
Tedjo mengawali pendidikan militernya di Akademi Angkatan Laut (AAL)
angkatan 21 tahun 1975. Kemudian, dia mengikuti pendidikan militer
lainnya antara lain, Kursus Perwira Remaja (1976), Conversion Nomad
(1978), Dik Penerbang ABRI (1978), Alih Pesud N-22 (1979), Sustar P-4
(1980), Captainci N-22 (1982), Alih Pesud C-47 (1983), Sus Flight Inst.
(1984), Inst. FLT N-22 (1984), Alih Pesud C-212 (1984), Conversion C-47
(1984), Sus Prostis (1985), Diklapa-II (1986), Alih Pesud F-33-A (1987),
Seskoal Angkatan 29 (1991-1992, Sesko ABRI Angkatan 25 (1998, dan KRA-34
Lemhanas (2001).
Karir militernya, diawali di Satuan Udara selama 14 tahun. Lalu, tahun
1982 bertugas di KRI, antara lain, sebagai Palaksa KRI Teluk Penyu
(513), Satuan Amfibi Armatim, Komandan KRI Teluk Lampung (540)
Satlinlamil Surabaya, Komandan KRI Teluk Semangka (512) Satfib Armatim,
dan Komandan KRI Multatuli (561) Satfib Armatim.
Setelah itu bertugas sebagai Paban VI Binkuat Sopsal Kasal Mabesal,
Komandan Satfib Armatim, Asrena Mako Armatim, Kapok Sahli A Kasal Bidang
Wilnas, Komandan Guskamla Armabar, Kepala Staf Koarmatim, Wakil Komandan
Seskoal, Sahli Tingkat III bidang HUbintek Mabes TNI, Staf Ahli
Manajemen Nasional Lemhanas, Panglima Komando Armada RI Wilayah Barat
(Koarmabar), Asisten Perencanaan Kasal, Dirjen Perencanaan Pertahanan
Dephan, Komandan Sesko TNI.
Kemudian menjabat Kepala Staf Umum TNI, sampai akhirnya diangkat
menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Laut, dilantik pada tanggal 1 Juli
2008 oleh Presiden RI, menggantikan Laksamana TNI Sumardjono yang
memasuki masa pensiun. Lalu, pada pada tanggal 13 November 2009,
Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno menyerahterimakan jabatan Kepala
Staf TNI Angkatan Laut kepada Laksamana Madya Agus Suhartono.
***
Menjawab Tantangan di Samudera
Di bawah komandonya, Armada RI Kawasan Barat menuju visi TNI Angkatan
Laut masa depan yang besar, kuat dan profesional.
Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Armabar) yang satu ini seperti
layaknya penampilan perwira militer yang lain: serius. Dengan lugas dan
gamblang, ia menguraikan berbagai hal mengenai visi dan misi TNI
Angkatan Laut (AL), khususnya Armabar.
Tetapi kesan serius itu luntur perlahan-lahan ketika pembicaraan mulai
menghangat. Ternyata, Laksamana Muda TNI Tedjo Edhy Purdijatno, sang
panglima komando, adalah orang yang penuh humor. Maka, obrolan Berita
Indonesia dengannya pun menjadi lebih santai. Meski demikian, kesan
sungguh-sungguh tetap terpancar dari wajahnya ketika ia menjelaskan
berbagai persoalan yang dihadapi TNI AL, khususnya Armabar, dalam
mengamankan perairan wilayah barat.
Beberapa pihak mengkritik ketidakmampuan TNI AL mengamankan perairan
Indonesia yang dinilai memiliki tingkat kriminalitas tertinggi di dunia,
khususnya Selat Malaka. Bahkan, kritik juga datang dari Biro Maritim
Internasional (IMB).
Menurut perwira kelahiran Magelang 20 September 1952 ini, pernyataan IMB
bahwa perairan Indonesia bagian barat itu sangat rawan tidak semuanya
benar. Karena data yang dimiliki Armabar agak berbeda. Hasil operasi AL
yang ada di sana cukup signifikan. Beberapa perompak berhasil ditangkap.
Hal itu sudah disampaikan kepada IMB supaya balance. Apalagi mereka
selalu mengatakan banyak terjadi perompakan.
Sebagai perwira yang kenyang pengalaman, Tedjo Edhy menganggap kritik
adalah tantangan yang mesti dijawab dengan bekerja lebih baik lagi.
Armabar dengan sekuat tenaga akan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia di wilayah perairannya.
Tedjo Edhy berharap armada TNI AL akan lebih diperkuat dan diperbesar,
dengan jumlah kapal dan peralatan yang lebih banyak dan lebih moderen.
Tidak dipungkiri bahwa jumlah armada Malaysia yang lebih besar dan
moderen membuat mereka menyepelekan Indonesia. Tetapi terlalu naif jika
keterbatasan armada menjadi penghalang bagi kinerja prajurit AL
mengamankan wilayah NKRI. Karena itu, Armabar dengan seksama menempatkan
personelnya di semua perbatasan wilayah perairan Indonesia.
Jumlah kapal yang dimiliki Armabar saat ini hanya 39. Sementara seluruh
armada TNI AL ada 114 kapal. Idealnya, TNI AL memiliki 250-300 kapal.
Sedangkan kebutuhan minimal Armabar sekitar 100 kapal. Tedjo Edhy
mengaku tidak berniat menutup-nutupi hal ini. Kebutuhan kapal sangat
penting bagi tugas TNI AL. Menurutnya, di tahun 1960-an, Armada TNI AL
pernah menjadi armada terkuat di Asia.
“Bayangkan, jika Anda punya rumah dengan Satpam dan anjing herder,”
katanya kepada kami. “Orang akan berpikir dua kali untuk menerobos
masuk.” Menurutnya, dalam kasus Ambalat, jika RI punya AL yang kuat,
Malaysia akan berpikir dua kali untuk menyerobot wilayah RI.
Minimal, menurutnya, TNI AL punya perimbangan kekuatan dengan negara
tetangga. Karena itu, Tedjo Edhy menyambut baik rencana KSAL yang tengah
mengupayakan penambahan jumlah kapal secara bertahap. TNI AL akan
mencapai level Green Water Navy. Blueprint-nya direncanakan sampai 2024.
Meski tidak bisa langsung menyamai Amerika Serikat atau Jepang yang
levelnya sudah Blue Water Navy, tetapi level Green Water Navy itu akan
segera direalisasikan.
Sikap demokratis
Kemudian, ia menanyakan pendapat kami soal militer yang kerap dianggap
otoriter, ia pun meluruskan anggapan itu. Menurutnya, militer justru
sebuah institusi yang paling demokratis. Dalam setiap pengambilan
keputusan, seorang komandan akan memaparkan dulu pendapatnya dan
menanyakan pendapat anak buahnya setelah itu. Jika disetujui, maka
rencana itu dijalankan. Jika tidak, akan dicari yang terbaik.
Selama ini militer memang selalu dianggap eksklusif. Tetapi ia berharap,
masyarakat tidak langsung under estimate. Jika tentara itu bersikap
tegas, disiplin dan satu komando, itu memang harus. Karena tentara
bertugas menjaga negara, baik kedaulatan bangsa maupun wilayahnya.
Bagaimana mungkin sebuah institusi yang amburadul bisa menjaga negara
dengan baik.
Tentang hal itu, ia punya kisah saat mengikuti sebuah kursus reguler di
Lemhanas. Orang-orang sipil yang semula menganggap tentara itu kaku dan
otoriter, setelah sekian bulan bersama-sama ikut kursus dengan tentara,
akhirnya mengerti bahwa tentara justru sangat demokratis. “Mereka
bilang, oh ternyata begitu ya,” katanya sambil tertawa kecil.
Suatu kali, dalam kursus itu ada sebuah permainan. Seluruh peserta
dengan mata tertutup disuruh membentuk sebuah segi tiga sama sisi.
Peserta sipil ribut saling memberi perintah, sehingga segitiga itu tidak
pernah terbentuk. Disitu terlihat perbedaan sipil dan militer.
Orang-orang sipil tidak mengenal apa yang disebut satu komando. Mereka
semuanya ingin jadi pemimpin.
Tetapi bukan berarti Tedjo Edhy menganggap militer lebih baik daripada
sipil. Buktinya, ia membantah anggapan bahwa kepala daerah yang berlatar
belakang militer lebih baik dari kepala daerah yang berlatar belakang
sipil. Menurutnya, baik sipil maupun militer sama baiknya. Masing-masing
memiliki kebaikan dan kelemahan.
Sebagai ayah dari empat orang anak (tiga puteri dan satu putera), Tedjo
Edhy sangat concern terhadap generasi muda. Ia menerima dengan tangan
terbuka kunjungan para mahasiswa ke Markas Komando Armabar. Hanya ada
satu yang disayangkannya. Menurutnya, generasi muda sekarang nyaris
tidak lagi menghormati pemimpin bangsanya. Contohnya, mereka menyebut
nama pemimpin langsung namanya. SBY, bukannya Bapak Presiden, Bapak SBY
atau Bapak Bambang Yudhoyono. JK, bukan Bapak Wapres atau Bapak Jusuf
Kalla.
Besar, kuat dan profesional
Menjadi bagian dari TNI AL merupakan kebanggaan tersendiri baginya.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Sumber daya lautnya
sangat besar dan terbarukan, tidak akan pernah habis. Ikan-ikan
berlimpah tanpa perlu susah payah memelihara. Mereka bertelur di kawasan
utara seperti Eropa dan Rusia, begitu akan besar, mereka berimigrasi ke
arah selatan. Indonesia diuntungkan dan tinggal mengambil hasilnya saja.
Tetapi, jika kita tidak bisa menjaganya, kekayaan laut akan dicuri oleh
nelayan-nelayan asing.
Awalnya konsep TNI AL adalah kecil, efektif dan efisien. Namun kini
konsep itu diubah menjadi besar, kuat dan profesional. Tedjo Edhy yang
pernah menjabat sebagai Staf Ahli Manajemen Nasional di Lemhanas itu
berharap visi AL yang besar, kuat dan profesional itu bisa melindungi
seluruh wilayah NKRI. Jangan sampai sejengkal pun wilayah RI diambil
oleh negara lain, termasuk wilayah lautnya. Untuk itu batas wilayah
dengan negara tetangga yang belum ada batas lautnya harus segera
ditetapkan.
Satu hal lagi yang paling penting, menurutnya, adalah kerja sama semua
pihak terkait untuk mengamankan wilayah laut. Selama ini AL telah
bekerja sama secara bilateral dengan negara-negara tetangga. Berbagai
operasi bilateral selalu digelar di kawasan Selat Malaka. Demikian
halnya kerja sama dengan berbagai institusi terkait seperti Bea Cukai
dan Polri.
Kerjasama juga dijalin dalam menanggulangi ancaman terorisme. “Kita
harus selalu waspada. Ingat nggak, waktu di DPR Kapolri bilang tidak ada
terorisme, baru ngomong, langsung bleng ledakan di Kedubes Australia.
Karena itu saya tidak mau ngomong masih ada atau tidaknya terorisme itu.
Tetapi saya katakan bisa saja terjadi. Karena itu kita harus
mewaspadai.”
Kerja sama yang baik diperlukan untuk menghadapi tantangan mengamankan
wilayah NKRI. Karena itu, ia juga mengingatkan agar bangsa Indonesia
tidak lagi berpikir sektoral. Kita semua harus berpikir untuk
kepentingan bangsa dan negara. ►ti/rh-sp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Sumber: 1) Wawancara TokohIndonesia, 29032006 2)
Pusat Data TokohIndonesia |
|