| |
C © updated 03102009-15052003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
BIODATA
Nama:
Taufiq Kiemas
Lahir:
Jakarta, 31 Desember 1942
Agama:
Islam
Isteri:
Megawati Sukarnoputeri
Jabatan:
- Ketua MPR 2009-2014
- Anggota DPR periode 2004-2009 dan 2009–2014 dari PDI-P untuk Daerah
Pemilihan Jawa Barat II
Organisasi:
- Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDI-P
- GMNI
|
|
| |
|
|
|
|
| TAUFIQ KIEMAS HOME |
|
|
 |
Taufiq Kiemas
Politisi Berbasis Kerakyatan
Taufiq Kiemas dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat
periode 2009-2014 dan sekaligus dilantik Sabtu, 3 Oktober 2009. Suami
Megawati Soekarnoputri kelahiran Jakarta, 31 Desember 1942 yang juga menjabat Ketua Dewan Pertimbangan DPP
PDI-P, itu terpilih bersama empat Wakil Ketua yang diajukan delapan
fraksi dalam satu paket.
Taufiq Kiemas (lahir di Jakarta, 31 Desember 1942; umur 66 tahun) adalah
politikus Indonesia yang menjabat Ketua MPR RI periode 2009–2014. Ia
juga dikenal sebagai suami Presiden Indonesia ke-5, Megawati
Soekarnoputri. Ia pernah menjadi anggota GMNI. Ia adalah anggota DPR
periode 2009–2014 dari PDI-P untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II.
Hanya terdapat satu paket pimpinan yang diusulkan delapan dari sembilan
fraksi yang ada di MPR. Kedelapan fraksi itu adalah Fraksi Partai
Demokrat, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Fraksi Partai
Golkar, Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Kebangkitan Bangsa, Fraksi
Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Hanura, dan Fraksi Partai
Gerindra.
Kedelapan fraksi MPR itu mengusung Taufiq Kiemas dari unsur Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai ketua MPR. Empat wakil ketua adalah
Melani Leimena Suharli (Partai Demokrat), Hajriyanto Y Thohari (Partai
Golkar), Lukman Hakim Saifuddin (PPP), dan Ahmad Farhan Hamid (DPD).
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera akhirnya gagal mengajukan paket calon
pimpinan MPR bersama Kelompok DPD karena kurang dukungan.
Mayoritas anggota DPD tidak menghadiri sidang paripurna. Dari 132
anggota DPD, hanya 25 yang menghadiri sidang paripurna. Mayoritas
anggota DPD memilih tidak hadir karena usulan mereka agar komposisi
pimpinan MPR terdiri dari tiga unsur DPR dan dua unsur DPD (3-2) tidak
dikabulkan.
Karena hanya ada satu paket calon pimpinan MPR, sebanyak 549 anggota MPR
yang menghadiri sidang menyatakan setuju secara aklamasi paket calon itu
menjadi pimpinan MPR periode 2009-2014. Sidang yang dipimpin Ketua
Sementara MPR Marzuki Alie itu hanya berlangsung sekitar 45 menit.
Kemudian, satu jam berikutnya, Taufik Kiemas beserta keempat wakilnya
dilantik Pelantikan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Selain telah memilih pimpinan MPR, sembilan fraksi juga telah memilih
pimpinannya, yakni F-PD diketuai Agus Hermanto, F-PG Hajriyanto Y
Thohari (masih sementara menunggu hasil Munas Golkar, 5-8 Oktober),
F-PDIP Panda Nababan, F-PKS Sumandjaja, F-PAN Ibrahim Sakty Batubara,
F-PPP Irgan Chaerul Mahfiz, F-KB M Lukman Edy, Fraksi Partai Gerindra
Martin Hutabarat, dan Fraksi Partai Hanura Soemintarsih Muntoro serta
Fraksi Kelompok DPD Wahidin Ismail dari daerah pemilihan Papua.
Setelah pelantikan, Taufiq memimpin sidang perdana di ruang Nusantara
gdung MPR Senayan Jakarta, Sabtu (3/10/2009)tengah malam. Dalam
sambutannya, dia mengatakan, lembaga MPR yang dipimpinnya lima tahun ke
depan diharapkan menjadi lembaga negara yang demokratis dan dapat
menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sesuai amanah undang undang
dasar (UUD).
"Tugas-tugas MPR sejalan dengan tugas-tugas lembaga negara yang lain
yakni sesuai amanah UUD," kata Taufiq Kiemas.
Dia juga mengajak presiden dan lembaga negara lainnya untuk bersama-sama
menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan bidang tugas dan
kewenangannya masing-masing.Taufiq juga mengajak seluruh lapisan
masyarakat untuk mendukung dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan
negara sesuai dengan profesi dan pekerjaannya masing-masing.
Menurut Taufiq, selama lima tahun ke depan, MPR memiliki sejumlah agenda
yang harus dilaksanakan dengan baik. Agenda terdekat akan melaksanakan
pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.
Tanpa Rakyat Tak Berarti Apa-apa
Itulah judul buku Taufiq Kiemas, suami Presiden
Megawati Soekarnoputri, yang diluncurkan pada saat merayakan ulang tahunnya ke-60.
Sebuah buku yang ditulisnya sendiri.
Buku yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan dan Panitia Penerbitan Buku
60 Tahun Taufiq Kiemas dengan editor Panda Nababan ini terdiri 4 bab 832
halaman. Berisi pokok-pokok pikiran Taufiq Kiemas dan pandangan
cendekiawan, kerabat, dan sahabat, bahkan lawan politiknya. Benang merah
pemikirannya berujung pada asas kerakyatan.
Perhatian besar Taufiq Kiemas terhadap kehidupan rakyat kecil dituangkan
pada halaman 16-17. "Tanpa dukungan rakyat, aku tidak akan jadi seperti
sekarang ini," kata Taufiq. Dia memberi contoh
perjuangannya terhadap kehidupan rakyat kecil, yaitu, bersama
beberapa kawannya aktivis GMNI, memelopori pembentukan koperasi tukang
becak.
Mula-mula mereka menangani langsung manajemen koperasi dan bengkel becak
itu. Tapi, setelah jalan, diserahkan kepada para tukang becak sendiri.
Buku ini juga mengisahkan penangkapan Taufiq Kiemas dan puluhan
aktivis GMNI Palembang pasca-tragedi 1965. Juga mengukir
kisah asmaranya dengan Megawati. Juga perihal pendampingannya selama Megawati dalam perjalanan panjang kehidupannya
dalam dunia politik. Antara lain saat naiknya
Megawati ke puncak kekuasaan, menyusul lengsernya KH Abdurrachman Wahid
sebagai Presiden RI pada pertengahan 2001.
Setelah reformasi, peran dan pengaruh Taufiq sangat signifikan dalam
menentukan arah dan peta perpolitikan di Indonesia. Bukan semata-mata karena statusnya sebagai suami
mantan Presiden
Megawati Soekarnoputri, tapi juga karena posisinya yang cukup sentral
sebagai Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDI Perjuangan. Dia piawai memainkan perannya sebagai
aktor politik, lewat berbagai manuvernya yang telah mewarnai
kanvas perpolitikan negeri ini. ►tsl
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|