| |
C © updated 03012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/indie-indonesie.nl |
|
| |
Nama:
Prof Dr Taufik Abdullah
Lahir:
Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Januari 1936
Agama:
Islam
Isteri:
Rasida
Anak:
Tiga orang
Ayah:
Abdullah Nur
Ibu:
Pendidikan:
- SD (1948)
- SLP (1951)
- SLA (1954)
- S1 Jurusan Sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM Yogyakarta (lulus
1961)
- Orientasi Program East-West Center, Universitas Hawaii, Honolulu, AS
(1964)
- S2 (Master) Universitas Cornell, Ithaca, AS (1967)
- S3 (Doktor) Universitas Cornell, Ithaca, AS, (1970) Desertasi: School
and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933)
Karir:
- Asisten pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UGM
(1959-1961)
- Kepala Bagian Umum Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (Biro MIPI),
Jakarta (1962-1963)
- Asisten Peneliti Leknas LIPI (1963-1967)
- Peneliti Leknas (1967-1974)
- Direktur Leknas LIPI (1974-1978)
- Peneliti, LeknaswLIPI (1978)
- Ketua LIPI (2000-2002
Karya:
Karya tulis penting:
- Sejarah Lokal di Indonesia, Islam di Indonesia, (ed), Tintamas, 1974
- Gadjah Mada Univ. Press, 1979
- Etos (ed) Kerja dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta, (ed.) LP3ES &
Yayasan Obor, 1979
- Trends and Perspectives of Social Science in Indonesia, bersama EKM
Masinambow (ed.)
Penghargaan:
- Satya Lencana Karya Satya Tk II (1986)
- Penulis Buku Ilmu Sosial Terbaik 1987 dari yayasan Buku Utama (1989)
- Fukuoka Asian Cultural Prize, Category: International/Academica (1991)
- Bitang Jasa Utama RI (1994)
- Bintang Satya Lencana 30 Tahun (1995)
Alamat Rumah:
Komp. LIPI A 4, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan Telp: 511546
Sumber:
PDAT, Kompas dan Antara
|
|
| |
|
|
|
|
| TAUFIK ABDULLAH HOME |
|
|
 |
Taufik Abdullah
Sejarawan dan Peneliti Mantan Ketua Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini seorang sejarawan dan peneliti
yang teguh berpegang pada etika ilmiah. Pria kelahiran Bukittinggi, 3
Januari 1936, lulusan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM
Yogyakarta (1961) dan doktor (S3) Universitas Cornell, Ithaca, AS
(1970), ini senang menjadi peneliti, karena merasa tidak terpasung pada
birokrasi.
Menurutnya seorang peneliti dituntut untuk berpegang teguh pada etika
ilmiah. Karena itu, diperlukan kejujuran, sehingga tercapai integritas
intelektual. Sikap wajar diperlukan, di samping rasional dan jernih
dalam berpikir -- sikap yang bukannya tidak mengundang risiko.
Prof Dr Taufik Abdullah menganggap sejarawan Indonesia masih terbelenggu pada
asumsi-asumsi teoretis maupun primordial. Posisi sejarawan hendaknya
netral, dan menjaga jarak dari sasaran penelitian, sehingga dapat
memberi makna obyektif terhadap realitas.
Dipandang dari segi peranan kaum intelektual, masa Orde Baru, di mata
Taufik, terbagi dalam tiga periode. Masa 1966-1974 merupakan periode
kreatif-produktif bagi kaum intelektual. Dalam periode itu berbagai
masalah strategi pembangunan dibicarakan. Masa 1974-1978 merupakan
periode transisi. Di sini, dilihatnya, ada kecenderungan kaum teknokrasi
makin dihargai. Yang dihargai, menurut dia, bukan gagasan mereka, tetapi
pelaksanaannya. Periode 1978 hingga sekarang, peranan intelektual
semakin diambil oleh penguasa. ''Akibatnya, kesegaran berpikir
berkurang, dan eksesnya merangsang untuk bertindak radikal,'' kata
Taufik.
Taufik menolak pendapat ahli sejarah modern Indonesia dari Prancis, Dr
Jacques Leclerc, bahwa sejarawan Indonesia sering melakukan pembunuhan
dua kali terhadap tokoh sejarah bangsanya -- dengan mengucilkannya,
karena tidak disenangi oleh kelompok tertentu, dan kemudian bersikap
diam terhadap keadaan itu. Kata Taufik, sejarawan memiliki perhatian
berbeda terhadap suatu bidang kajian -- yang menyukai dinamika sosial
misalnya, tidak bisa dipaksa memperhatikan tokoh-tokoh sejarah.
Menganggap sastra sangat dekat dengan sejarah, ia berpendapat bahwa,
''Perang terlalu besar untuk diberikan pada jenderal saja, dan sastra
terlalu penting dibiarkan untuk sastrawan saja!'' Mengingatkan bahwa
sejarawan terkemuka pastilah seorang literer, baginya sendiri novel
memperkaya pengertian tentang dinamika dan sejarah.
Sebagai peneliti, suami dari Rasida dan ayah tiga anak, ini bekerja
tanpa terikat waktu. Pulang dari kantornya di Jalan Gatot Subroto,
Jakarta, ia meneruskan kesibukan di rumah. ''Kadang-kadang, malam
Minggu, saya sendirian ke Cipanas, biar konsentrasi,'' katanya. Termasuk
untuk merampungkan buku barunya, Pengantar ke Sosiologi Moralitas.
Sekitar 30 karya tulis yang sudah lahir duluan, termasuk Islam di Asia
Tenggara (LRKN-LIPI, 1976). Disertasi gelar doktornya, Scholl and
Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra, diterbitkan oleh
Universitas Cornell, 1971.
Sejak SD ia rajin dan tekun belajar. ''Bukan yang terpandai,'' kata
Taufik Abdullah sebagaimana dirilis PDAT. ''Tapi pokoknya termasuk dalam kelompok papan atas.''
Posisi ''papan atas'' tetap didudukinya sampai ia merampungkan studinya
pada jurusan sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan Universitas Gadjah
Mada.
Cinta kepada ilmu mungkin diwarisi Taufik dari Abdullah Nur, ayahnya.
Abdullah, ayah tujuh anak itu, memang seorang pedagang, tetapi gemar
membaca. Taufik sendiri akrab dengan dunia bacaan, sejak di SMP. Suatu
kali, ia mendapat pinjaman majalah luar negeri, yang penuh gambar. Kagum
pada keindahan kota-kota besar seperti New York, Berlin, dan London,
anak sulung itu berpikir, ''Siapa tahu nanti bisa terkenal, dan pergi ke
luar negeri.''
Belasan tahun kemudian angan-angannya menjadi kenyataan. Dua kali ia
mendapat kesempatan memperdalam ilmu di Universitas Cornell, Ithaca, AS.
Pertama, 1967, untuk meraih gelar M.A., dan kemudian, 1980, saat
menggondol gelar doktor (PhD). Pulang ke tanah air, Taufik memantapkan
dirinya sebagai peneliti. Bekas Direktur Leknas-LIPI ini rajin
menghadiri berbagai seminar dan pertemuan sejarawan di luar negeri. Ia
pernah menjadi wakil presiden Southeast Asian Social Science
Association, dan ketua komite eksekutif Program Studi Asia Tenggara.
Kini, Taufik tenaga peneliti di LIPI.
Mantan Asisten pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UGM
(1959-1961), ini mengawali karir di LIPI sebagai Kepala Bagian Umum
Majalah Ilmu Pengetahuan Indonesia (Biro MIPI), Jakarta (1962-1963) dan
Asisten Peneliti Leknas LIPI (1963-1967). Kemudian menjadi Peneliti
Leknas (1967-1974), Direktur Leknas LIPI (1974-1978) dan Peneliti,
LeknaswLIPI (1978) sampai menjabat Ketua LIPI.
Sebuah Pilihan
Sebagai intelektual, ia menghasilkan lebih dari 150 artikel di luar
tulisannya di berbagai media massa. Lebih dari 50 kata pengantar
ditulisnya, khususnya untuk buku berbau sejarah.
Taufik identik dengan sejarah. Pun sebaliknya. Meski tak ada penelitian
khusus tentang persepsi masyarakat, zaman telanjur mengidentikkannya
dengan sejarah.
Mengenai hal itu, Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) tersebut
mengaku tidak tahu. Pencapaiannya saat ini berawal dari sikap yang
disebutnya rentetan atas ”keharusan logis sebuah pilihan”.
Persinggungan dengan ilmu sejarah bermula pada tahun 1954. Bersama
kawan-kawannya setamat SMA di Bukittinggi, Sumatera Barat, ia berlayar
ke Yogyakarta untuk kuliah. Tak jelas jurusan apa yang akan ditekuni.
Pilihan ke Yogyakarta terkait dengan sikap politik ayahnya, republiken
tulen. Tak ada celah mendebat keputusan ayah yang menginginkannya
belajar di pusat pemerintahan nasional kala itu.
Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya
dipilih setelah diskusi dengan teman-teman seperjalanan dan membaca
buku. ”Kami membagi jurusan, seolah kami yang akan memerintah negara
ini. Waktu itu jumlah lulusan SMA di Sumatera amat sedikit,” ujar dia
mengenang.
Pilihannya sempat menyulitkan. Kurikulum kuliah sejarah waktu itu tidak
fokus. Tak ayal, ilmu psikologi, sosiologi, tata bahasa, sejarah, hingga
filsafat harus dikuasainya. Belakangan, ia mensyukuri kekacauan sistem
pengajaran karena memperkaya wawasan.
Di sana ia menjadi asisten pengajar sejarah Eropa yang kemudian
menghasilkan skripsi berbahasa Inggris. Satu-satunya skripsi berbahasa
Inggris dalam jurusan sejarah hingga kini. Ia lulus tahun 1962.
”Bukan karena bahasa Inggris saya bagus, tapi pembimbingnya orang
Inggris dan India,” tutur suami Rasida ini. Tahun 1962-1963 ia menjadi
Kepala Bagian Urusan Ilmiah Biro Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia
(MIPI) Jakarta.
Gelar master (MA) dan doktor (PhD) diraih di Universitas Cornell, New
York, Amerika Serikat, 1970. Disertasinya berjudul ”School and Politics:
The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933)” diterbitkan Cornell
Press.
Buku itu menjadi bacaan khusus di beberapa kampus di AS. Hasil
pendalamannya, ia menulis modernisasi di Minangkabau dan masuk buku
bunga rampai ”Culture Politics in Indonesia” karya Claire Holt. Taufik
merasa ”kecipratan beken” karena karyanya bersanding dengan karya
sejarawan Sartono Kartodirjo, Daniel S Lev, dan Benedict Anderson. Kata
pengantar ditulis Clifford Gertz.
Penelitiannya di negara lain makin intens pertengahan tahun 1970-an
setelah jabatan fungsional sebagai peneliti dicabut dan karier ahli
penelitinya dibekukan pemerintah. Itu terjadi pascaprotes atas
pemenjaraan tokoh, pendudukan kampus, dan pemberangusan kantor media
massa.
Di masa sulit itu ia tercatat mengajar dan meneliti di Departemen Ilmu
Politik Universitas Chicago, Universitas Wisconsin, dan Netherlands
Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Science
(NIAS) Wassenaar. Lalu menduduki posisi penting di institusi lintas
bangsa, seperti Ketua Komite Eksekutif Program Kajian Asia Tenggara
(ISEAS) Singapura, Wakil Presiden Asosiasi Ilmu Sosial Asia Tenggara
Kuala Lumpur, Wakil Presiden Asosiasi Sosiologi Internasional Dewan
Riset Sosiologi Agama. Dan, masih banyak lagi.
Pertengahan tahun 1980-an sanksinya dicabut dan direhabilitasi setelah
sempat menyakiti hatinya. ”Sudahlah,” kenang dia.
Ayah tiga anak yang pernah menjadi Ketua LIPI periode 2000-2002 ini
masih terlibat dalam berbagai proyek besar sampai sekarang, seperti
naskah buku Sejarah Indonesia delapan jilid yang ditargetkan selesai
pertengahan tahun. Dia juga mengerjakan tulisan perdebatan peristiwa
tahun 1965-1967.
Pertengahan tahun ini ia akan meluncurkan buku yang didanai ISEAS
berjudul Indonesia: Towards Democracy di Singapura.
Di usianya sekarang ia mengaku gelisah karena beberapa proyek tidak
sempurna dikerjakan dan ia bukan pengajar resmi. Harapannya, muncul
sejarawan muda yang berpikiran canggih. Berwawasan luas sebagai dampak
”keharusan logis sebuah pilihan”. (Kompas, 3 Januari 2006)
Spiral Kebodohan Masih Terjadi
Ketua LIPI Taufik Abdullah saat memberikan sambutan pada presentasi
Pemilihan Peneliti Muda Indonesia ke-9 di Cibinong, Jawa Barat, Rabu
(29/8/2001) sebagaimana disiarkan KB Antara, mengatakan spiral kebodohan
masih terus terjadi di Indonesia sehingga terus menggerogoti kehidupan
dan budaya yang semula diagungkan sebagai adiluhung.
Menurutnya, spiral kebodohan terus membesar ketika tindakan kebodohan
dibalas dengan kebodohan juga. Dia mengatakan, upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa seperti semakin menjauh akibat banyak tindakan bodoh
yang dilakukan dalam semua lapisan masyarakat, sehingga terus melingkar
bagai spiral yang makin membesar setiap hari.
"Bagaimana bisa dibilang cerdas kalau seorang pencuri yang tertangkap
malah langsung dibakar?" katanya. Taufik mengatakan, kebodohan dalam
kehidupan bangsa ini juga terlihat saat terus-menerus dikumandangkannya
slogan `persatuan dan kesatuan'.
"Kalau persatuan itu memang bagus, karena bangsa ini memang terdiri atas
berbagai keragaman. Tapi bagaimana mungkin perbedaan itu mau menjadi
kesatuan? Kalau kesatuan dalam cita-cita bolehlah," katanya.
Pembicaraan soal negeri ini sebagai warisan nenek moyang, kata Taufik,
juga adalah suatu tindakan yang membodohkan, karena negara ini adalah
hasil perjuangan, bukan warisan.
Menurut Taufik, saat ini negeri ini juga terus berproses untuk menjadi
lebih baik, jadi perlu banyak pemikiran dan ide dari berbagai sumber.
"Proses making negara ini tidak bisa diandalkan pada elite-elite politik
yang terus-menerus saling cakar," katanya.
Pemilihan Peneliti Muda Indonesia ke-9 dibagi dalam lima bidang, yaitu
pengetahuan sosial dan budaya, ekonomi dan manajemen, pengetahuan alam
dan lingkungan, teknik dan rekayasa, serta kedokteran dan kesehatan. ►e-ti,
dari berbagai sumber di antaranya PDAT, Kompas dan Antara
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|