| ROMO TAN HOME |
|
|
 |
FX Tan Soe Ie SJ
Pastor Peduli Petani
Dia seorang rohaniawan, pastor yang sangat peduli pada petani.
Fransiskus Xaverius Tan Soe Ie SJ yang akrab dipanggil Romo Tan, punya
obsesi ikut berperan meningkatkan kesejahteraan petani kecil. Pintu
masuk untuk mewujudkan obsesinya itu adalah cacing. Cacing dijadikannya
'mesin' pupuk organik yang disebut Kascing (bekas cacing).
Cacing di matanya adalah
lambang kesuburan. Binatang melata berlendir, liat, tanpa telinga dan
mata, dan tak bertulang itu dia ubah jadi ”mesin” pembuat pupuk organik.
Kascing” atau bekas cacing tidak lebih dari kotoran cacing.
”Kotoran cacing tidak bau,” katanya, sambil menyorongkan segenggam
pupuk kotoran cacing.
Di tempat tinggalnya, Desa Ponggol, Hargobinangun, Pakem 21 kilometer
utara Kota Yogyakarta biarawan Jesuit itu sehari-hari bergelut dengan
cacing. Dibantu tujuh pegawai, dalam satu minggu dia produksi 15-20 ton
pupuk kascing.
Dikemas dalam karung besar berisi 20 kilogram dengan harga Rp 13.000 per
karung atau kemasan kecil berisi tiga kilogram, pupuk kascing Romo Tan
mulai dikenal luas. ”Saya belum umumkan ke luar,” katanya. ”Cuma sering
geram ketika di arena pameran pertanian bertani jadi gaya baru hidup
orang kota Yogya pupuk saya dibeli Rp 12.000 per 20 kilo dan dijual Rp
20.000.”
Menurut Romo Tan kepada Kompas demikian ia biasa disapa usaha kascing
dimulai secara kebetulan. Awalnya kascing jadi pintu masuk mewujudkan
obsesi meningkatkan kesejahteraan petani kecil. ”Perhatian pemerintah ke
petani kecil hampir tidak ada. Produk yang mereka hasilkan dibabat oleh
produk luar yang didatangkan pemerintah.”
Dirunut lewat perjalanan hidupnya, obsesi pada orang kecil menyatu
sebagai jati diri Romo Tan. Jati diri itu pelan-pelan terbentuk sejak
memimpin lembaga pendidikan calon-calon pastor di Magelang, berkarya di
Paroki Baciro, Yogyakarta, kemudian di Tangerang, hingga saat berkarya
di Dare, Timor Timur tahun 1985-2002.
Di Dare, 60 km tenggara Kota Dili, lebih dari 20 tahun Romo Tan merintis
kaderisasi petani lewat Pusat Latihan Wiraswasta Pertanian. Romo Tan
pernah ingin meninggal dan dikuburkan di sana.
Ketika diingatkan nazar itu, matanya berkaca-kaca, menerawang jauh.
Katanya, ”Tidak mungkin saya tinggal di sebuah negara yang kemudian
memusuhi negara saya. Setelah Timtim lepas, saya ingin pulang saja ke
Indonesia, ke Jawa, tahun 2002.”
Sejak tinggal di kawasan sejuk Kaliurang, tahun 2003, Romo Tan terus
mencari cara merealisasikan obsesinya. Secara kebetulan pada tahun 2004
seorang bekas muridnya menawarkan usaha pupuk kascing. Bekas murid yang
tinggal di Semarang itu mau menghentikan usahanya setelah kehilangan
kontak dengan mitra kerja di Jepang. ”Dia tidak bisa lagi ekspor pupuk
kascing ke sana,” kata Romo Tan.
”Saya diminta ambil oper, dan saya mau, barangkali bisa jadi cara
mewujudkan obsesi saya,” kata Romo Tan. Sebagai tanda terima kasih,
merek perusahaan Pangkal Sejahtera diambil dari nama aslinya,
Pangkalrejo.
Masyarakat Indonesia Baru
Sebagai pastor (gembala) umat, pupuk kascing hanyalah langkah konkret
dan sarana merealisasi gagasan besarnya. Gagasan besar itu, selain
pencerahan untuk petani kecil, terutama bagaimana mengajak kelompok
masyarakat Tionghoa mau turun ke desa.
Romo Tan bercita-cita, nyaris jadi obsesi seperti kecintaannya pada
petani kecil, bangsa Indonesia maju kalau kelompok Tionghoa menyatu
dengan masyarakat pedesaan Indonesia.
”Setelah negara dan masyarakat warga, mereka harus diberi panggung,”
kata Romo Tan menerawang, bertemu dengan arus besar pemikiran membangun
bangsa Indonesia.
Katanya lagi, ”Kalau umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta yang sebagian
di antaranya orang-orang Tionghoa kaya live in di desa, mereka akan
terbuka mata.”
”Jangan tuntut rakyat desa dan petani itu kreatif. Mereka harus diberi
contoh. Contoh lebih mudah diterima, sementara umumnya orang desa sulit
menerima contoh, sebaliknya juga sulit melepaskan apa yang sudah jadi
kebiasaan turun-temurun.”
Menurut Romo Tan, kalau orang-orang Tionghoa bersatu dan merasa satu
napas dengan persoalan pedesaan, pandangan dan penilaian mereka tentu
lain. Di satu pihak bagi masyarakat desa tidak ada perasaan curiga, di
lain pihak orang-orang Tionghoa merasa diterima sebagai bagian utuh
rakyat dan bangsa Indonesia.
Romo Tan yang lahir di Gowongan, Yogyakarta, 16 Desember 1928,
ditahbiskan pastor tahun 1963, hampir menghabiskan separuh hidupnya
tinggal di desa dan pertanian.
Diselingi tugas sebagai pendidik dan pastor paroki, sebagian besar karya
kegembalaannya ada di lingkungan pertanian. Habitat pertanian dengan bau
sawah, lumpur, dan comberan adalah bagian dari kesehariannya. Di ruang
kerjanya, suara kicau burung dan tumpukan pupuk kascing nyaris
menghilangkan sosok Romo Tan sebagai seorang pastor, kecuali di atas
mejanya tergeletak lusuh buku doa brevir—doa wajib biarawan yang dia
daraskan setiap pagi.
Tan Soe Ie SJ yang punya obsesi petani mandiri dan menyatunya kelompok
Tionghoa dengan bangsa Indonesia adalah juga pendidik yang di mata bekas
murid-muridnya berhasil menanamkan cita-cita manusia berkarakter.
Pupuk kascing dalam konteks tersebut sebenarnya hanya pintu masuk sebuah
gagasan besar tentang Masyarakat Indonesia Baru. (ST SULARTO, Kompas 22
Februari 2006) ►ti
***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |