| |
C © updated 17022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ |
|
| |
Nama:
DR. Ir. G.M. Tampubolon
Lahir:
Padang, 14 Mei 1933
Pendidikan:
- SD, SMP, dan SMA di Kota Padang
- Institut Teknologi Bandung, lulus tahun 1958
- Doktor H.C. dari Perguruan Tinggi Heidelberg, Amerika Serikat tahun 1985
Istri:
Tiara br. Siregar
Anak :
Lima orang, dua putra dan tiga putri:
1. Roberto Mangaradja Tampubolo/ Ade Amir Murtono
2. Dipl. Ing. Henry Pascal Tampubolon/ van Zanten
3. Ir. Juanita Tampubolon/ Zokanda Siahaan
4. Natasha Tampubolon, SE/ Dwi Sampurno Suparjo Rustam
5. Varina Tampubolon, SE
Jumlah cucu :
Sembilan orang
Orangtua:
Nama Ayah : Calvijn Bismarck Tampubolon gelar Ompu Boksa II,
meninggal tahun
1989 dalam usia 91 tahun
Nama Ibu : Agustina br. Pardede, meninggal dunia tahun 1990 dalam usia 89
tahun
Saudara kandung:
Anak ketiga dari tujuh bersaudara, dua laki-laki dan lima perempuan
Pengalaman:
Bidang Organisasi:
1. Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), tahun 1969-19884
2. Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO), tahun 1981-1982
3. Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik, tahun 1982-1984
4. Anggota Pengurus/Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia,
tahun 1975-1993
5. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI), tahun
1985-Sekarang
6. Ketua Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID),
tahun 1998-Sekarang
7. Komite Kerja Kaukus Teknologi, tahun 2003-Sekarang
Bidang Lembaga Tinggi Negara:
1. Anggota DPR-GR/MPRS dan DPR/MPR-RI, tahun 196801992
2. Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI, tahun 1993-1998
3. Penasehat Presiden RI Bidang Teknik, tahun 199-2000
4. Anggota MPR-FUG, Penasehat, tahun 1999-2004
Bidang Pendidikan:
1. Ketua/Pendiri Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI)/
Institut Teknologi Indonesia (ITI), tahun 1985-Sekarang
2. Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia, tahun 1985-1986
3. Anggota Pengurus Yayasan Pendidikan dan Universitas Pancasila, tahun
1972-Sekarang
Bidang Media:
1. Pemimpin Umum Majalah Insinyur Indonesia, tahun 1971-1984
2. Pemimpin Umum Majalah TEKNOLOGI, tahun 1985-Sekarang
Penghargaan:
1. Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keppres
R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1997, tahun 1997
2. Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/1995,
tahun 1995
Alamat Rumah:
Jalan Tanjung Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat
Alamat Kantor:
GMT Building, Jalan Wijaya I No. 5, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
DR. Ir. GM Tampubolon
Insinyur yang Tak Henti Mencipta
Dia sangat terkenal sebagai mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
dan Komisi V DPR RI. Teknokrat kaliber dunia ini 15 tahun memimpin PII dan
berbagai organisasi insinyur tingkat dunia, serta 24 tahun sebagai
politisi kawakan di DPR Senayan. Pria kelahiran Padang, tanggal 14 Mei
1933 yang sangat dekat Habibie itu adalah cucu seorang pendeta, sukses
berbisnis lewat bendera GMT Group yang menjalin kerjasama dengan mitra
Jepang.
Teknokrat bernama lengkap DR. Ir. Godefridus Mangaradja Tampubolon ini
menjabat Ketua Umum PII tergolong lama, 15 tahun, antara 1969-1984.
Sebagai tokoh organisasi insinyur kaliber dunia dia juga berkiprah sebagai
Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO) pada tahun 1981-1982,
Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik (FEISEAP) tahun
1982-1984, hingga ke tingkat dunia sebagai Anggota Perngurus/ Wakil Ketua
Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia (WFEO) tahun 1975-1993.
Di legislatif dia kawakan berkiprah 24 tahun sejak tahun 1968 hingga 1992.
Dia juga pendiri dan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI)
sejak tahun 1985 hingga sekarang. Sejak tahun 1999 hingga 2004 dia kembali
ke legislatif sebagai Anggota MPR RI Utusan Golongan Insinyur dan Ahli
Teknik Indonesia.
Di awal republik ini berdiri hingga dicetuskannya PII pada 23 Mei 1952 di
Kota Bandung, oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan kawan-kawan, jumlah
insinyur masih mudah dihitung sebab tak lebih dari 52 orang. Padahal,
kemerdekaan harus segera diisi dengan berbagai pembangunan fisik dan non
fisik untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yaitu memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia.
Ketika itu semua merasa bangga sebagai insinyur dan karenanya sifat
keanggotaan stelsel passive artinya siapa saja kalau insinyur dia dapat
langsung menjadi anggota PII.
“Gemar mencipta” adalah pesan penting Presiden R.I. pertama Bung Karno
kepada PII saat beraudiensi di Istana Negara, Jakarta. Pesan tersebut
masih segar dalam ingatan G.M. Tampubolon. Dan menurutnya, tetap sangat
aktual dikedepankan terutama untuk membantu bangsa keluar dari krisis
multidimensional yang berkepanjangan. Bung Karno termasuk orang yang
sangat bangga akan kehadiran PII, maklum, presiden flamboyan ini adalah
juga insinyur lulusan dari ITB Bandung.
”Saya pikir relevansi pernyataan Bung Karno itu masih berlaku segar sampai
hari ini,” tegas Tampubolon. Dia masih ingat betul bahwa tugas pertama
yang Bung Karno berikan kepada mereka adalah memperbaiki jalan Thamrin,
Jakarta, yang berlubang-lubang. Memperoleh tugas seperti itu membingungkan.
Sekolah tinggi-tinggi hingga insinyur tapi hanya disuruh menambal lubang
jalan, oleh seorang Presiden pula. Apalagi jika yang disuruh itu adalah
insinyur mesin, seperti dirinya.
“Tapi, Bung Karno punya pikiran lain: Tanamkan dulu suatu suasana perekat
diantara insinyur untuk dapat dimobilisasi,” kenang dia. Mereka lalu
belajar menutup lubang. Insinyur sekelas Sutami pun harus dikursus cara
menutup lubang. Cara kerja mereka sangat serius bahkan hingga tiga shift
sehari.
Bung Karno sangat antusias dengan pendirian PII. Tampubolon menyebutkan,
setelah Pengurus PII dipanggil empat diantaranya dijadikan Menteri. Yaitu
Ir. Slamet Bratanata sebagai Menteri Urusan Jalan Raya Sumatera, Ir.
Sutami Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Harjo Sudarjo Menteri Pengairan, dan
Ir. Soehadi sebagai Menteri LIPI. “Yang lucu, waktu dipanggil Presiden
semua tidak siap. Ir. Slamet Bratanata itu datang menemui Presiden memakai
jas yang saya pinjamkan,” ungkap Tampubolon.
Ketika itu GM Tampubolon adalah insinyur lulusan ITB Bandung, Jurusan
Mesin, tahun 1958. Bersama kawan-kawan dia disuruh membangun sekaligus
menentukan cetak biru organisasi para insinyur tersebut. Pada sekitar
tahun 1960 itu, G.M. Tampubolon dan beberapa insinyur muda lainnya, dia
adalah yang termuda, dipanggil oleh Ukat untuk diminta menyusun PII.
Mereka lalu membentuk pengurus pusat dan mulai meletakkan dasar-dasar
administrasi. Tidak lama kemudian, pada tahun 1963 Tampubolon mulai
diangkat menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen). “Pikiran kita waktu itu
hanya satu, bagaimana menyertakan insinyur dalam pembangunan. Itu saja,”
kenangnya. PII lalu menyelenggarakan kongres berkali-kali, tahun 1963,
1967.
Pada kongres yang kesekian di tahun 1969, di Parapat, Sumatera Utara,
Tampubolon terpilih menjadi ketua umum yang kelima setelah Ir. H. Djuanda
Kartawidjaja (1952-1954), Ir. Kaslan Tohir (1954-1959), Ir. Umar
Bratakusuma (1959-1961), dan Ir. Suratman Dharmaperwira (1965-1969).
Untuk mensejajarkan diri dengan organisasi profesi insinyur lain di luar
negeri, yang peran dan fungsinya sama-sama sangat strategis dalam
membangun setiap bangsa, sejak tahun 1975 PII menjadi anggota Federasi
Organisasi Insinyur Se Dunia, organisasi yang selanjutnya menempatkan
Tampubolon sebagai Anggota Pengurus/Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi
Insinyur Se Dunia tahun 1975-1993. Tepat dua tahun kemudian, di tahun 1979
PII menjadi tuan rumah Kongres Insinyur Se Dunia yang mengangkat tema
pangan, energi, dan transportasi yaitu sektor yang sangat relevan untuk
segera dibangun di Indonesia ketika itu.
Di bawah kepemimpinan Tampubolon yang selalu titik perhatian PII adalah
bagaimana agar para insinyur bisa berperan aktif dalam setiap proses
pembangunan. Sehingga, meski kata “evaluasi” tidak begitu disukai oleh
Presiden Suharto, namun setiap tahun PII selalu mengadakan evaluasi
terhadap pelaksanaan pembangunan.
Sebuah langkah maju pernah dilakukan PII, ketika di tahun 1977 mereka
mengajukan sebuah konsep GBHN yang sudah lengkap dan matang untuk
diperdebatkan di forum sidang umum majelis MPR. Tentang naskah GBHN itu,
ungkap Tampubolon, “Jadi, hanya ada dua naskah, satu pemerintah, satunya
lagi PII.”
PII adalah salah satu organisasi profesi yang cukup disegani di era
pembangunan. Bukan hanya tampil mengajukan konsep pemikiran membangun
bangsa melalui sebuah naskah GBHN tadi, namun, berani pula bersikap
berbeda terhadap pimpinan nasional.
Di tahun 1977 itu, kata Tampubolon, kepada Presiden Soeharto yang menerima
mereka berdiskusi sejak pukul 10.00 pagi hingga 14.00 sore di Istana
Negara, PII mengusulkan bahwa pembangunan itu haruslah seimbang. Antara
pembangunan sosial, ekonomi, budaya, dan politik serta pertahanan harus
seimbang. “Boleh salah satu menonjol, tapi kalau sektor itu naik, semuanya
juga harus naik. Tidak boleh timpang,” kata Tampubolon tanpa bermaksud
mendikte Pak Harto, ketika itu.
Cucu Pendeta
Walau sebagai putra Batak, namun dia lahir di Padang, pada tanggal 14 Mei
1933 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Calvijn Bismarck
(CB) Tampubolon gelar Ompu Boksa II (meninggal tahun 1989 dalam usia 91
tahun) dan ibunya, Agustina br. Pardede (meninggal setahun kemudian, tahun
1990 dalam usia 89 tahun), sudah lama merantau ke Padang menggeluti usaha
perbengkelan mobil dan jual-beli kendaraan angkutan.
Keluarga CB Tampubolon oleh pemuka masyarakat setempat pernah diangkat
menjadi Warga Kehormatan Kota Padang. Mereka sekeluarga pandai sekali
berbahasa Padang dan menjadikannya bahasa ibu, jauh lebih mahir dibanding
berbahasa Batak. Tampubolon meninggalkan kota Padang saat mulai kuliah di
ITB Bandung, dan dalam masa perkuliahan itulah dia bertemu dan menikah
dengan gadis muda nan cantik jelita yang sangat diidamkannya bernama Tiara
br. Siregar, yang kini memberinya dua orang putra dan tiga putri serta
sembilan orang cucu.
Kakeknya adalah pendeta, namanya Pendeta Mangaradja Enos Tampubolon. Jika
ditarik ke atas lagi kakek buyutnya bernama Hiskia. Ayah Hiskia adalah
Ompu Boksa, titisan nama inilah yang lalu dipakai ulang sebagai gelar
kehormatan Ompu Boksa II bagi C.B. Tampubolon, ayahnya
Hiskia pernah berjasa besar menyelamatkan seorang misionaris asing bernama
Tuan Pilgramm. Pilgramm, yang karena tugas panggilan penginjilan dia
memberitakan kabar baik keselamatan dari Yesus Kristus Tuhan ke Tanah
Batak, yang saat itu dominan masih menganut paham animisme. Pilgramm lalu
dicari-cari dan hendak dibunuh oleh Panglima Raja Sisingamangaradja XII,
bernama Sarbut Tampubolon.
Tuan Pilgramm melarikan diri dan terdampar di sebuah tepian Danau Toba
dekat desa Sibolahotang, sebuah desa kecil yang menjadi asal muasal marga
Tampubolon. Mengetahui misionaris Jerman itu dalam keadaan bahaya Hiskia
yang menemukan Pilgramm terdampar lemah lalu menawarkan jasa untuk
menyembunyikan Tuan itu ke loteng rumah adat Batak tempat kediaman mereka
sehari-hari.
Sang panglima, yang dalam setiap pertempuran selalu melakukan praktek bumi
hangus yaitu setiap daerah yang ditaklukkan harus dibakar habis hingga
hancur, mengetahui buruannya ada di daerah kampung asal dia sendiri yaitu
desa Lumban Julu, Sibolahotang. Akhirnya dia mengurungkan niat mencari
Tuan Pilgramm. Jadilah Tuan Pilgramm selamat untuk selanjutnya meneruskan
kembali misi penginjilan di Tanah Batak hingga wafat dan dimakamkan di
Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara.
Ingat pesan Bung Karno bahwa insinyur harus gemar mencipta, demikian pula
Tampubolon dalam setiap langkah pengabdian terhadap bangsa dan negara yang
sangat dicintainya. Dia, yang dalam usia muda 30-an tahun telah pernah
dipercaya menjadi direksi PN Gaya Motor, sebuah perusahaan otomotif
patungan antara pemerintah dan swasta, memang bukan menciptakan barang
atau komoditi perdagangan sebagai hasil penelitian dan inovasi. Melainkan,
sebagai teknokrat atau pemikir tidak pernah berhenti menggagas ide,
pemikiran, dan jasa pengabdian sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, untuk tetap menjaga kiprahnya mengisi pembangunan selepas
ketua umum dari PII di tahun 1985 Tampubolon bersama kawan-kawannya
kembali membentuk sebuah organisasi profesi baru yang cakupannya lebih
luas, yaitu Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI). Organisasi inilah
yang di tahun 1999 menghantarkannya ke keanggotaan MPR RI mewakili utusan
golongan para ahli teknik dari segala strata pendidikan dan keahlian yang
jumlahnya sekitar 15,3 juta orang. Sebagai salah seorang pendiri dia
terpilih pula sebagai Ketua Umum PATI, tahun 1985 hingga sekarang.
Hampir bersamaan waktunya di tahun 1985, masih bersama kawan-kawan
diantaranya Prof. B.J. Habibie, Ir. Hartarto, Ir. Erna Witoelar, Ir.
Humuntar Lumbangaol dan lain-lain dia mendirikan Yayasan Pengembangan
Teknologi Indonesia (YPTI), sekaligus sebagai ketuanya hingga sekarang.
YPTI adalah pemilik dan pengasuh Institut Teknologi Indoneisa (ITI),
berlokasi di Serpong, Tangerang, Banten. ITI adalah sebuah perguruan
tinggi keteknikan swasta terkemuka dan modern di tanah air.
Perjuangan Tampubolon tergolong luar biasa saat mendirikan YPTI, bahkan,
sebuah rumahnya di Jalan Sutan Syahrir, Menteng, Jakarta Pusat harus dia
agunkan ke bank untuk menambah dana pendirian YPTI dan kampus ITI. Padahal
dalam setiap berusaha, dia, adalah “haram” hukumnya meminjam dana ke bank
sebab khawatir hidup tidak tenang sebab setiap bangun pagi yang pertama
kali terpikir adalah hutang yang terus bertambah. Dia percaya bunyi firman
Tuhan, “Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada”.
Di kampus tersebut, peraih gelar doktor kehormatan honoris causa dari
Perguruan Tinggi Heidelberg di tahun 1985 ini pernah diangkat sebagai
Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia, tahun 1985. Pelayanan
membangun dunia pendidikan sebelumnya telah dia lakukan ketika menjadi
Anggota Pengurus Yayasan Pendidikan dan Universitas Pancasila, Jakarta,
sejak tahun 1972 hingga sekarang.
Orang Dekat Habibie
Dia tidak pernah berhenti berkarya dan mencipta khususnya melahirkan
ide-ide baru yang segar agar para insinyur dan ahli teknik tetap dapat
berperan dalam arus perjalanan bangsa.
Gagasan-gagasannya sebagai teknokrat keteknikan semakin memperoleh
pembenaran sekaligus pengakuan dari semua pihak tatkala Ketetapan MPR
menggariskan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan nasional. Demikian
pula yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem
Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi.
Sejak tahun 1998 hingga sekarang Tampubolon adalah pendiri sekaligus Ketua
Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID),
sebuah institusi nirlaba yang secara khusus bekerja mengkaji dan mendalami
pengembangan teknologi dan industri di tanah air.
Bersama kawan-kawan dia aktif menggelorakan betapa pentingnya peranan
teknologi sebagai elemen kunci pembangunan agar semua pihak bisa
memanfaatkan kapabilitas teknologi untuk membantu menyelesaikan sebagian
persoalan bangsa.
Seperti, meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja baru untuk
mengurangi pengangguran, dan memberi nilai tambah yang sangat signifikan
dalam setiap proses produksi barang dan jasa supaya bernilai ekonomis. Dia
kampanye menemui pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara, pimpinan
partai-partai politik berpengaruh, LSM dan organisasi profesi, termasuk
institusi pers dan berbagai institusi lain untuk diseminasi informasi.
Keanggotaannya di MPR RI Periode 1999-2003 yang mewakili Utusan Golongan
Ahli Teknik, dia manfaatkan pula untuk menggalang kekuatan para anggota
majelis yang berprofesi insinyur dan ahli teknik dari lintas partai.
Mereka lalu dimobilisasi untuk menunjukkan kepedulian dan keprihatinan
atas semakin lemahnya kapabilitas teknologi di Indonesia. Mereka sepakat
membentuk Komite Kerja Kaukus Teknologi sejak 2003, hingga sekarang. G.M.
Tamnpubolon adalah Penasehat Fraksi Utusan Golongan MPR RI 1999-2004.
Organisasi profesi keteknikan dan lembaga legislatif adalah dua ladang
pengabdian dia sebagai teknokrat. Dan itu sudah berlangsung lama sejak
tahun 1968 saat masih bernama DPR-GR dan MPRS. Keanggotaannya di DPR/MPR
tidak pernah kosong hingga berakhir di tahun 1992.
Di dua periode terakhir pengabdiannya itu dia dipercaya sebagai Ketua
Komisi V DPR yang membidangi pembangunan sarana dan prasarana pembangunan
seperti transportasi, pelabuhan, telekomunikasi, energi, perumahan rakyat,
pariwisata, pos, pekerjaan umum, dan lain-lain. Ketika itu nama dia cukup
populer di kalangan masyarakat sebab sebagai Ketua Komisi V DPR kebijakan
yang dia tetaskan sangat berpengaruh strategis terhadap kehidupan
masyarakat.
Misalnya, ketika dia harus menolak atau menyetujui kenaikan tarif tol yang
diajukan oleh Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri sulung
Presiden Soeharto yang mengelola jalan tol Cawang-Grogol, lewat bendera
usaha PT Citra Marga Nusaphala Persada di awal dekade 1990-an. Rakyat dan
lembaga swadaya masyarakat tentu saja menolak usul kenaikan tarif sehingga
muncul polemik luas dan berkepanjangan di media massa.
Tampubolon baru masuk kembali ke gelanggang Senayan sebagai Utusan
Golongan di MPR sejak tahun 1999 hingga 2004.
Setelah tidak terpilih kembali menjadi anggota DPR RI di tahun 1993, oleh
Pemerintah dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI
di bawah kepemimpinan Laksamana (Purn) Sudomo, mantan Pangkopkamtib dan
Menko Polkam. Namun justru di masa keanggotaan DPA itulah segala kiprah,
jasa dan pengabdiannya sebagai teknokrat di bidang keteknikan secara resmi
diakui pantas untuk dihargai.
Penghargaan itu pertama kali dia rasakan tahun 1995 saat memperoleh Tanda
Kehormatan Bintang Jasa Utama, berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/Tahun
1985 dari Pemerintah RI, yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto.
Selempang penghargaan itu disematkan langsung oleh sahabatnya Menristek
Prof. B.J. Habibie, dalam sebuah upacara peringatan Hari Kemerdekaan R.I
di halaman upacara Kantor Menristek, Jakarta.
Antara B.J. Habibie dan G.M. Tampubolon terdapat sebuah hubungan
persahabatan yang sangat dalam, sebagai sesama anak bangsa yang menggeluti
bidang keteknikan. Bukan hanya keduanya terlibat di berbagai institusi
yang dibangun bersama-sama, seperti di Yayasan Pengembangan Teknologi
Indonesia (YPTI) yang mendirikan kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI),
sebuah perguruan tinggi keteknikan terlengkap dan termodern di Indonesia
yang dibangun persis berdekatan dengan Puspiptek Serpong.
Keduanya sudah saling menopang sejak dari institusi PII hingga ke PATI.
Terlebih di awal-awal kedatangan Habibie dari Jerman dan mulai dipercaya
sebagai Menteri Negara Ristek di tahun 1978, Habibie banyak memperoleh
dukungan dari kalangan insinyur yang bergabung di PII. PII menjadi basis
dukungan massa yang dimobilisasi untuk menjalankan program-program Habibie
membangun industri-industri strategis di Indonesia. Dan G.M. Tampubolon
ada di belakang layar itu semua.
Bahkan ketika tampil sebagai Ketua Umum ICMI sekalipun, seperti pengakuan
Ir. Tadjudin Noor Said, seorang politisi kawakan sekaligus vokalis dari
Golkar asal Sulawesi Selatan, kini menjadi Anggota KPPU (Komisi Pengawas
Persaingan Usaha), menyebutkan, praktis hanya G.M. Tampubolon satu-satunya
warga bangsa non ICMI yang masih tetap bisa berdekatan dengan B.J. Habibie
ketika itu.
Bukti lain kedekatan mereka adalah, ketika tampil sebagai Presiden R.I
ketiga menggantikan Pak Harto, Habibie membentuk sebuah institusi baru di
lingkungan kepresidenan yaitu Penasehat Presiden R.I Bidang Keteknikan.
Dan sudah pasti adalah G.M. Tampubolon satu-satunya nama yang dipercaya
menduduki jabatan tersebut.
Hubungan keduanya tidak putus kendati Habibie sudah bukan lagi presiden,
lalu memilih tinggal menetap di Jerman. Sebab, jika setiap kali
menginjakkan kaki di Indonesia keduanya pasti akan berkangen-kangenan.
Menjelang Pemilu 2004 saat Habibie mulai lebih sering bermukim di
Indonesia dan menemui tokoh-tokoh partai politik dan calon-calon pemimpin
bangsa, pertemanan dan pertemuan mereka juga semakin erat dan intens.
Habibie, yang menyatakan diri kembali bersedia memimpin Republik Indonesia
jika diminta oleh rakyat dan istrinya yang masih terbaring sakit di Jerman
bisa sembuh total, barangkali, patut menjagokan tokoh pemikir kawakan G.M.
Tampubolon sebagai tim sukses kampanye kepresidenan agar kejadian di tahun
1999 tidak terulang dimana Habibie memperoleh resistensi tinggi dari
kalangan masyarakat.
Berselang dua tahun setelah menerima selempang Bintang Jasa Utama, di
tahun 1997 G.M. Tampubolon akhirnya memperoleh penghargaan tertinggi
sebagai putra terbaik bangsa, yaitu Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra
Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1987. Kali itu
disematkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta.
Apakah Tampubolon berhenti menggagas ide setelah menjadi mahaputra terbaik
bangsa dan usianya sudah memasuki masa awal anugerah 70 tahun lebih,
jawabannya tidak. Energinya tetap terjaga selalu meningkat dan semakin
membara. Tantangan yang dia hadapi masih banyak. Misalnya, bagaimana
mengamankan kelanjutan kerjasama bisnisnya dengan mitra asing yang telah
puluhan tahun dibangun dengan baik.
Dengan bendera GMT Group di tangan, dia bekerjasama dengan Shimizu Corp.
sebuah kontraktor multinasional asal Jepang untuk membentuk PT Dextam
Contractor. Dextam adalah perusahaan kontraktor yang sudah menorehkan
banyak catatan emas membangun gedung-gedung bertingkat di Jakarta.
Demikian pula dengan Kinden Corp. dari Jepang, sejak 12 September 1974 dia
membentuk PT Rakintam sebagai perusahaan kontraktor mekanikal dan
elektrikal. Di perusahaan penangkapan ikan PT Toyo Fishing Corp. (Tofico)
berbasis di Indonesia Bagian Timur dia bermitra dengan Seven Ocean Corp.
dari Jepang.
Karena kerjasama itu rata-rata dibangun di tahun 1974 dan berjangka 30
tahun, maka, tahun 2004 adalah masa-masa penting bagi Tampubolon untuk
meyakinkan mitra asingnya bahwa melanjutkan usaha patungan di Indonesia
masih tetap sangat prospektif.
Dari sebuah gedung GMT Building miliknya di Jalan Wijaya I, Jakarta
Selatan, dia sehari-hari mengendalikan grup usahanya bernama GMT Group.
Perusahaan yang masuk dalam grup itu, selain yang sudah disebut di atas
antara lain adalah PT Inti Karya Persada Tehnik (IKPT), PT Godi Maran
Tiara, PT Gofri Megah Tiara, PT Kujang Tiara Lapi, PT Inti Era Cipta, PT
Dharma Yasamas Teknindo, PT Rakintam Nusa, PT Asianenco Consult, dan
lain-lain.
Di kantor GMT Building itu pula dia setiap hari Jumat berkumpul bersama
puluhan karyawannya yang kristiani, berikut istri anak dan anggota
keluarga dekat lainnya. Mereka melakukan ibadah kebaktian rutin Jumat
siang untuk menghimpun kekuatan energi mengucap puji syukur kepada Tuhan
Allah Yang Maha Kuasa yang selalu memberinya pertolongan, perlindungan,
dan penghiburan sekaligus berkat-berkat berlimpah yang tiada tara.
Kekuatan Tuhan itulah yang mampu menopang dia tetap bertahan di tengah
gelombang arus perubahan zaman. Baik sebagai teknokrat, politisi,
pengusaha, dan pelayan masyarakat luas.
Tampubolon tetap berkarya di semua zaman kepresidenan. Mulai dari Bung
Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur sahabatnya sebagai sesama anggota
Fraksi Utusan Golongan MPR sebelum terpilih menjadi presiden. Dan kini
Megawati. Pada masanya Tampubolon malah dijuluki sebagai king maker di
kalangan insinyur dan ahli teknik.
Sebutan itu malah menjurus ke arah sebagai master mind dalam setiap mutasi
dan promosi seseorang untuk menempati posisi dan jabatan tertentu di
pemerintahan atau direksi di BUMN yang dia bidangi. Connection yang dia
bangun di antara sesama kolega memang solid. ►ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|