|
|
 |

Nama:
RO Tambunan, SH
Lahir:
Tapanuli Utara 24 Juli 1935
Pendidikan:
Fakultas Hukum Universitas Jayabaya
Profesi:
Advokat - Politisi
Jabatan:
Ketua Umum Partai Kemerdekaan
|
|
Wawancara RO Tambunan,SH
Kembalikan Kedaulatan Kepada Rakyat
Popularitasnya mencapai puncak ketika ia dengan berani tampil memimpin Tim
Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) untuk melawan kesewenangan penguasa
Orde Baru. Apa yang mendorongnya tampil di depan membela Megawati dan
partainya ketika itu? Apakah ia dibayar untuk itu? Jika tidak, untuk apa
ia melakukannya? Lalu, kenapa ia harus mendirikan partai, kenapa tidak
bergabung saja dengan PDIP yang secara all out dibelanya?
Sejumlah pertanyaan itu dijawabnya yang tersimpul bahwa ia bertekad
membela rakyat, bangsa dan negara dan penindasan penguasa yang dinilainya
zalim. Ia berobsesi mengembalikan kedaulatan kepada rakyat. Ia berobsesi
memprioritaskan membela rakyat, membebaskan rakyat dari kebodohan dan
penindasan, serta meningkatkan harkat dan martabat rakyat dari segala sisi.
Berikut petikan wawancara Wartawan Tokoh Indonesia dengan Ketua Umum
Partai Kemerdekaan ini.
Ketika kekuatan Orde Baru berada pada puncaknya, antara lain melakukan
tekanan kepada Mega dan partainya, PDI, Anda tampil sebagai Ketua Tim
Pembela Demokrasi, faktor apa yang mendorong sehingga Anda berani
mengambil resiko?
Pada tahun 1996 adalah masa-masa yang sulit bagi kehidupan kepartaian di
Indonesia. Segala sesuatu diatur oleh pemerintah. Artinya, siapa saja yang
akan diangkat menjadi ketua umum partai harus mendapat restu dari Menteri
Dalam Negeri. Ini saja tidak cukup. Restu dari presiden sangat menentukan
dipilih tidaknya seorang ketua partai. Jadi, kedudukan partai pada waktu
itu tidak lebih hanya sebuah pelengkap, tidak sebagai wadah aspirasi dan
kedaulatan rakyat. Itulah yang dialami Partai Demokrasi Indonesia waktu
itu.
Soeharto, tentu sebagai presiden, tidak menghendaki terpilihnya Mega
menjadi Ketua Umum PDI. Lalu, dengan segala macam cara dilakukan rekayasa
agar dia tersingkir. Faktanya, Mega benar-benar tersingkir. Suryadi naik
ke pentas sebagai Ketua Umum PDI.
Dari kenyataan ini jelaslah bahwa kondisi politik sangat dikendalikan oleh
penguasa. Kedaulatan rakyat hanya sebuah lip service semata. Faktanya
begitu. Lihat apa yang dialami Mega. Ketika dia disingkirkan dalam
pencalonan ketua umum dan mengangkat Suryadi hasil Kongres PDI di Medan,
terlihat jelas bahwa hak-hak azazi manusia untuk berserikat, berkumpul dan
berpolitik, tidak ada di negara ini. Semuanya ditentukan oleh penguasa
yaitu presiden, yang didukung oleh militer dan Golkar.
Saya melihat keadaan tersebut. Saya berkesimpulan bangsa ini sudah menjadi
bangsa boneka, di mana yang menjadi pusatnya adalah kepentingan penguasa,
rakyat hanya sebagai alat. Bahkan, hak-haknya dirampas, hak-hak politiknya
sama sekali tidak ada. Dalam kondisi seperti itu hati saya mengatakan,
keadaan politik seperti ini harus diakhiri. Jika perlu harus dilawan.
Sebab, perilaku yang menyingkirkan hak-hak rakyat tidak dapat dibiarkan.
Pada saat yang bersamaan Mega meminta saya, sebagai salah satu di antara
rekan-rekan yang diminta, untuk membela kepentingannya, juga kepentingan
partainya. Tawaran itu tak mungkin saya tolak, karena ada persamaan
pemikiran saya dengannya. Saya berpikir inilah kesempatan bagi saya untuk
ikut dalam suatu barisan melawan kekuasaan yang otoriter.
Tampilnya Anda sebagai Ketua Tim Pembela Demokrasi, apakah hanya untuk
kepentingan Mega dan partainya?
Tidak. Ada kepentingan yang lebih besar lagi. Terus terang, saya menerima
tawaran itu dengan senang hati. Tapi, kepada Mega dan kepada fungsionaris
PDI saya katakan, saya menerima harapan itu bukan berarti saya hanya
membela kepentingan Mega dan partainya. Tapi, ada kepentingan yang lebih
besar lagi, yakni membela kepentingan bangsa, negara, kepentingan
demokrasi dan kepentingan hak asazi manusia. Sebab, yang dirampas adalah
hak-hak rakyat untuk berpolitik untuk menentukan pilihan. Hak-hak rakyat
untuk berserikat dan berkumpul. Itulah yang dirampas. Mega hanya salah
satu korban dari penguasa otoriter. Namun, korban yang terbesar adalah
bangsa dan negara Indonesia ini. Itulah yang saya bela.
Apakah Mega merespon perjuangan Anda?
Dia memahami apa yang hendak saya perjuangkan. Dia memberi respon yang
positif.
Apakah Anda menerima bayaran dari jerih payah yang Anda lakukan?
Ketika tawaran itu saya terima, saya katakan kepada Mega, bahwa perjuangan
ini tidak sebatas untuk membela dia dan partai. Tapi untuk bangsa dan
negara. Itu sebabnya saya tidak meminta bayaran, dan saya juga tidak akan
pernah bersedia menerima bayaran apapun pada saat saya merasa bahwa yang
saya bela itu adalah kepentingan rakyat sendiri. Ini saya katakan kepada
Mega.
Dalam tim Anda terdapat 1.500 pengacara dan advokat. Hal ini tidak pernah
terjadi dalam sejarah peradilan di dunia. Apakah mereka memiliki pandangan
yang sama dengan Anda?
Saya tak membayangkan kalau kemudian tim pembela ini didukung sampai 1.500
pengacara dan advokat. Hal itu tak terbayangkan sebelumnya. Tapi, nyatanya
memang begitu. Ini terjadi setelah saya bersama rekan-rekan mendirikan Tim
Pembela Demokrasi Indonesia yang terdiri dari rekan-rekan pengacara di
Jakarta, Medan, Makasar, Bali dan berbagai kota besar lainnya.
Secara pribadi, saya keliling ke setiap kota untuk membetuk cabang. Dari
sikap saya itu, juga tertular kepada rekan–rekan pengacara lain. Sehingga
dalam waktu singat terbentuklah cabang-cabang Tim Pembela Demokrasi di
berbagai tempat dan kota yang jumlah anggotanya kurang lebih dari 1.500
orang.
Respon yang saya terima begitu antusias, sehingga mudah sekali bagi saya
untuk membagikan visi dan misi, karena sudah memiliki aspirasi yang sama.
Artinya, pada saat itu para advokat, pengacara Indonesia menyimpulkan,
kesewenangan penguasa, Golkar dan militer sudah mencapai titik klimaksnya.
Mau tidak mau kami sebagai bagian rakyat Indonesia yang berprofesi sebagai
pembela hukum, terpanggil untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
Begitu besarnya keinginan rekan-rekan yang ingin turut ambil bagian dalam
gerakan ini, sempat membuat saya kewalahan untuk meresmikan cabang pembela
demokrasi dalam waktu yang singkat.
Apakah mereka dibayar atau Anda menjanjikan sesuatu?
Banyak orang yang menanyakan hal itu. Anda (TokohIndonesia DotCom) mungkin
penanya yang kesekian. Seperti saya katakan tadi, saya tidak meminta
bayaran, dan saya juga tidak akan pernah bersedia menerima bayaran apapun
pada saat saya merasa bahwa yang saya bela adalah kepentingan rakyat. Ini
jugalah yang saya katakan kepada rekan-rekan. Kalau perlu kita harus
berani merogoh kantong sendiri untuk membiayai legal action yang kita
lakukan melawan penguasa, melawan Golkar dan militer. Jadi, teman-teman
mengeluarkan uang sendiri untuk setiap kasus yang merampas hak rakyat.
Saya menganggap ini adalah sumbangsih kami untuk bangsa dan negara.
Inilah motivasi kami ketika diminta untuk membela Mega. Tim Pembela
Demokrasi tidak pernah mempersoalkan tentang pembayaran. Bahkan, semua
rekan-rekan berani untuk rugi. Inilah untuk pertama kali terjadi di
republik ini dalam kurun waktu tiga bulan, lahir sebuah kekuatan besar
dari bawah yaitu Tim Pembela Demokrasi dan menyatakan sikap siap untuk
membela kebenaran bangsa dan negara Indonesia.
Kenapa Anda tidak bergabung dengan PDI Perjuangan?
Ini juga pertanyaan yang selalu naik kepermukaan. Bukan Anda saja yang
menanyakan demikian.
Satu hal yang perlu Anda catat, ketika saya diminta oleh Mega untuk
membela dirinya, saya menerimanya dengan penuh keikhlasan. Pertimbangan,
Mega dan partai yang dipimpinnya adalah bagian dari rakyat Indonesia yang
pada saat itu ditekan dan dirampas hak-hak azasinya oleh penguasa yang
korup. Tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa yang saya bela PDI
(Perjuangan) unsich atau Mega saja. Itulah sebabnya saya tidak bergabung
dengannya.
Saya sendiri secara pribadi tidak mengenal Mega. Saya bertemu dan
mengenalnya setelah persoalan ini terangkat ke permukaan.
Sebagai orang yang berada di luar lingkaran, pandangan Anda terhadap PDI
Perjuangan?
Terus terang saya tidak simpatik. Karena dalam tubuh partai ini selalu
ribut dari zaman ke zaman. Tidak pernah lepas dari perselisihan,
pertentangan, perpecahan, intrik-intrik di dalamnya. Terbukti, sampai
sekarang juga begitu. Itulah yang membuat saya tidak simpatik terhadap
partai ini sejak dulu.
Bahkan, ketika Suryadi dijagokan menjadi Ketua Umum, saya diundang oleh
Suryadi secara pribadi untuk masuk PDI, tetapi saya tetap menolak. Saya
katakan, saya bukan orang PDI.
Menurut Anda, faktor apa yang senantiasa menyulut pertentangan dalam tubuh
partai ini?
Semua tahu kalau partai ini merupakan penggabungan dari berbagai partai.
Sudah pasti asas dan tujuan juga berbeda. Dalam tubuh partai ini ada yang
dari PNI, Murba, Parkindo, Katolik, Ipki dan lain sebagainya. Sehingga ada
begitu banyak kepentingan di dalamnya yang heterogen. Jadi, partai ini
tidak ideal untuk basis kekuatan politik yang bisa bersatu. Tidak ada asas
perjuangan yang dapat mempersatukannya. Yang menonjol dalam tubuh partai
ini adalah unsur kepentingan-kepentingan. Tegasnya, secara politik saya
tidak simpati terhadap partai ini.
Kalau ada yang bertanya; mengapa saya mau menjadi tim pembelanya?
Jawabnya; “untuk melawan kezaliman”. Saya melawan kezaliman dan
otoriterisme Soeharto.
Jadi Anda menggunakan perahu PDI Perjuangan melawan kezaliman?
Katakanlah begitu. Pada waktu itu saya tidak punya nama yang dapat saya
jual. Sedangkan Mega punya nama. Sesungguhnya saya menggunakan nama Mega
untuk dapat menentang Soeharto. Saya menggunakan kesempatan itu. Seorang
anak presiden, Mega mampu melawan Soeharto.
Kalau saya maju sendiri, orang akan berkata “alah… anak petani saja, bisa
apa dia?”. Saya sadar bahwa bangsa ini masih menganut feodalisme. Jadi
kalau anak presiden diperhadapkan dengan pejabat masih bisa dijual. Saya
ingin menggunakan kesempatan ini, dan kebetulan juga Mega mau pasang
badan. Lalu, mengapa tidak pakai kesempatan tersebut, kita adu melawan
Soeharto. Ternyata berhasil, Mega mendapat dukungan rakyat, sehingga
menjadi kekuatan politik yang kuat untuk melawan Soeharto. Ditambah dengan
perlawanan lainnya yang membuat Soeharto jatuh.
Tahun 1999 Anda mendirikan Partai Pilihan Rakyat, apa yang mendorong Anda
membentuk partai dimaksud?
Ada seribu satu alasan yang mendorong saya dan rekan-rekan mendirikan
Partai Pilihan Rakyat. Satu hal yang perlu Anda catat, pembentukan partai
ini karena didorong suatu fenomena politik. Selama orde baru tiga partai
politik yang menjadi peserta Pemilu, memiliki dosa politik yang tidak bisa
dimaafkan. Merekalah yang telah membawa bangsa ini menjadi bangsa yang
teraniaya.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP), misalnya, tidak konsisten dalam
mengadakan perlawanan terhadap pemerintah Soeharto. Begitu juga PDI.
Satu hal yang saya tidak setuju dengan PDI Mega, yang ketika itu saya
bela. Di dalam setiap sidang pengadilan, yang menjadi modal saya adalah
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga PDI. Tiap kali saya membuka
halaman pertama, kemudian halaman kedua, saya membaca empat sikap politik
PDI. Isinya, pertama, mempertahankan Pancasila dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Kedua, mendukung Dwifungsi ABRI. Ketiga,
menjunjung tinggi kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden. Keempat, saya
tidak ingat.
Tapi, saya sungguh tidak setuju dengan sikap yang kedua dan yang ketiga.
Lho….saya berjuang membela Anda (Mega) untuk melawan Soeharto, tetapi
sikap seperti ini masih tetap disimpan.
Walaupun memang pada tahun 1998 sikap tersebut akhirnya dicabut, namun
bagi saya jelas ini bukan sebuah sikap partai pilihan saya. Saya tidak
ikut Mega, sebab dia menjunjung tinggi kepemimpinan Soeharto.
Dengan keadaan tersebut saya berpikir, saya adalah seorang praktisi hukum
sejak muda, dan hidup saya di situ, saya harus mencari tempat ke mana
aspirasi saya berikan sebagai seorang pejuang hukum. Saya melihat tiga
partai yang ada adalah partai yang cacat, sehingga harus dilahirkan sebuah
partai baru. Partai yang dapat mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat,
dan mampu berjuang untuk kepentingan rakyat. Inilah alasan saya yang utama
mengapa saya membentuk Partai Pilihan Rakyat.
Sayangnya, partai ini tak bisa mengikuti Pemilu 2004 karena tidak dapat
mencapai ketentuan batas electoral treshold 2%. Kami telah berjuang agar
ketentuan tersebut tidak diberlakukan. Sebab, tidak adil bagi partai yang
baru tumbuh kemudian dihentikan. Namun, usaha kami itu tidak berhasil,
karena anggota DPR saat ini hanya memperjuangan kepentingan diri dan
kelompoknya saja yang kebetulan memenangkan Pemilu 1999.
Sehingga keluarlah undang-undang yang mengatakan, setiap partai yang
mengikuti Pemilu 1999 yang tidak memenuhi ketentuan electoral treshold,
tidak dapat mengikuti Pemilu berikutnya. Kami tidak bisa melawan mereka
dalam soal itu. Kami juga tidak mau ribut. Kami terima apa adanya.
Sebagai kelanjutan dari upaya itu, pada 22 Februari 2003, kami telah
mendeklarasikan partai baru, yaitu Partai Kemerdekaan. Visi dan misinya
yang utama adalah mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Sedangkan
kata kemerdekaan dipilih karena kemerdekaan yang kita rasakan saat ini,
bukalah kemerdekaan yang sebenarnya.
Secara yuridis formal kita sudah merdeka dari penjajah sejak 1945, namun
setelah itu kita masih tetap terjajah oleh bangsa sendiri. Rakyat tetap
berada dalam kungkungan penderitaan, tidak bebas dari penderitaan.
Sehingga kita ingin memerdekaan rakyat kembali, menjadi merdeka dari
penderitaan dan perkosaan terhadap hak-hak azasi manusia. Itulah inti dari
Partai Kemerdekaan.
Startegi Partai Kemerdekaan dalam menghadapi pemilu 2004?
Persoalannya kita kembalikan kepada rakyat untuk menilai hasil Pemilu
sebelumnya. Apakah setelah memilih partai tertentu, pemenang Pemilu,
aspirasi mereka telah direalisasikan?
Banyak dari masyarakat yang menyatakan bahwa mereka tidak puas bahkan
tidak sedikit yang kecewa. Sebagian terbesar dari pemilih partai besar
pemenang Pemilu menyatakan tidak akan memilih kembali partai-partai besar.
Mereka tidak mau dibohongi untuk yang kedua kali.
Di situ kita beritahukan kepada mereka, bukan dengan menghasut atau
propaganda, tetapi dengan fakta-fakta kehidupan ekonomi misalnya. Apakah
semua semakin lebih baik? Jawaban dari masyarakat mengatakan, semakin
buruk.
Partai Kemerdekaan tidak pernah menjual janji. Yang kami inginkan adalah
menjadikan dirinya sebagai partai pembela rakyat. Artinya, ketika rakyat
menderita, kita harus berani membelanya, sehingga partai ini mau terus
berada di barisan rakyat dan memperjuangkan apa yang mereka tuntut
sekarang ini.
Saya juga tidak mau berjanji apa yang saya janjikan pasti terjadi, tetapi
minimum saya tidak mau membohongi rakyat dan tidak akan meninggalkan
rakyat. Sebab, banyak yang sudah menduduki jabatan meninggalkan rakyat
sehingga tidak heran ada gap antara rakyat dengan pemimpin.
Saya yakin dengan strategi yang seperti itu, rakyat akan terpanggil untuk
mengerti apa yang kita maksud. Saya tidak pernah mengecap jabatan apapun,
sehingga sekarang saya dapat berani mengatakan kalau saya tidak pernah
mengkhianati rakyat dan membohongi rakyat. Inilah modal yang kami
sampaikan kepada rakyat.
Jadi, dengan berbagai kebohongan publik dan penderitaan di tengah-tengah
rakyat, minimal kehadiran kami masih bersih, belum cacat. Dengan demikian
ada keyakinan bagi kami bahwa rakyat akan memilih partai yang belum
memiliki dosa. Partai Kemerdekaan ini sebagai partai yang belum memiliki
dosa.
Ditambah dengan sosialisai yang efektif, kami berharap partai ini memiliki
prospek ke depan. Paling tidak partai ini menjadi partai alternatif. Untuk
masalah target, saya tidak mau menjadi orang yang takabur. Tetapi saya mau
mencoba. Setelah disosialisasikan dan hasilnya tidak begitu baik, kami
juga tidak kecewa. Tapi, jika rakyat percaya dan mau bersama-sama dengan
partai ini berjuang, kami senang sekali. Mudah-mudahan jika partai akan
masuk dalam pemerintahan kita bertekad untuk melakukan dengan
sebaik-baiknya.
Obsesi Anda ke depan?
Jika partai yang saya pimpin dipercaya rakyat melalui Pemilu, berada di
bangku kekuasaan, program pemerintahan harus memprioritaskan membela
rakyat, membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan, serta
meningkatkan harkat dan martabat rakyat dari segala sisi. Apakah itu hak
hukum, hak politik dan hak azasi manusia. Sehingga sejahtera dan makmur
bagi rakyat Indonesia yang digembar-gemborkan selama 57 tahun merdeka
dapat dicapai.
Kemudian mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Yang
terakhir menciptakan pemerintahan yang bersih dan kuat dengan memberantas
KKN.
Kesan Anda terhadap penegakan supremasi hukum?
Terus terang, kondisi penegakan hukum masih merupakan hasil rekayasa
penguasa dan pejabat dalam mempertahankan kepentingan kelompok dan
pribadi. Bukan membela kepentingan rakyat dan bangsa. Lembaga pengadilan
juga demikian, masih banyak keputusan peradilan yang dicampuradukkan
dengan kepentingan politik dan uang. Sehingga harus ada yang namanya
revolusi total dalam bidang hukum. Artinya, produk-produk hukum yang ada
harus ditinjau kembali dan meninjau kembali pejabat-pejabat aparat hukum,
yang menurut saya, harus diganti 90%. Jika itu dilakukan saya yakin hukum
di negeri ini dapat ditegakkan.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Kembali ke:
Profil: Sang Pembela Demokrasi |
|