| MAJALAH TI - 29 |
|
|
 |
PENDIDIKAN
Unikarta Lahirkan Profesor Universitas Kutai
Kartanegara (Unikarta) setelah lebih dari 20 tahun berdiri, kini boleh
berbangga telah melahirkan dan memiliki seorang guru besar, yang tak
lain adalah rektornya sendiri yang juga menjabat Bupati Kutai
Kartanegara. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara
telah pula berencana membangun kampus baru Unikarta di area lahan seluas
75 hektare di Tenggarong Seberang.
Di atas lahan 48 hektare dari 75 hektare itu akan dibangun gedung
perkuliahan, gedung rektorat, dekanat, ge-dung pascasarjana, gedung
perpusta-kaan, gedung lembaga penelitian, dan gedung asrama mahasiswa.
Menurut Rektor Unikarta Prof Dr H Syaukani HR, kampus yang akan dibangun
itu juga akan dilengkapi sarana penunjang kegiatan belajar-mengajar,
berupa laboratorium batu bara, gedung pameran, serta kolam dan hutan
IPTEK. Juga fasilitas umum yang mencakup student centre, kantor pos,
koperasi mahasiswa, bank bursa tanaman, serta area jogging dan hiking.
Kala baru didirikan, 26 Mei 1984, atas prakarsa Syaukani bersama Bupati
Kutai kala itu, boleh dibilang memulai dari nol, dengan modal sangat
terbatas. Kampus Unikarta ketika itu hanya memiliki tujuh ruang kuliah
yang masing-masing berdaya tampung 50 orang ditambah tiga ruang rektorat
dengan daya tampung total 120 orang.
Namun, dengan semangat kuat dan teguh bak batu karang, infrastruktur
fisik kampus ini dibangun dengan kemandirian. Sehingga, kini ruang
kuliah sudah lebih dari 25 ruang dengan fasilitas pendukung yang lebih
lengkap. Seperti laboratoriun yang sebelumnya hanya dua ruang
(laboratorium pertanian), kini bertambah lengkap dengan tambahan
laboratorium bahasa Inggris dan laboratorium komputer.
Pertambahan infrastruktur ini sekaligus mengindikasikan betapa pesatnya
perkembangan penyelenggaraan pendidikan di universitas ini. Ketua
Yayasan Kutai Kartanegara, Dr Teguh Budiharso, M.Ed, kepada Tokoh
Indonesia mengatakan jumlah fakultas yang sebelumnya hanya dua, kini
telah berkembang menjadi enam fakultas dan satu pasca sarjana.
Keenam fakultas dimaksud yakni, Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Sospol, Fakultas Teknik, Fakultas Agama
Islam, dan Fakultas Hukum.
Sedangkan S2-nya adalah Program Administrasi Publik. Fakultas yang
akreditasinya paling bagus adalah Fakultas Ekonomi dan Sospol yakni
akreditasi ‘B’. Sehingga Sospol punya kewenangan atau kelayakan untuk
membuka S2.
Dari tujuh fakultas itu, yang paling banyak diminati calon mahasiswa
adalah Fakultas Ekonomi yakni rata-rata 2.000 pelamar setiap tahunnya.
Sementara kursi yang tersedia hanya 200-300 melalui tiga jalur: reguler
kelas pagi, reguler kelas sore, dan kelas khusus.
Unikarta yang kini memiliki kira-kira 6.000 mahasiswa semuanya mendapat
beasiswa dari Pemda Kabupaten Kutai Kartanegara. Mereka memperoleh biaya
kuliah Rp.600.000 per smester atau Rp.1.200.000 per tahun. Tidak
dibedakan siapa mahasiswanya. Total jumlah beasiswa yang ditanggung
Pemda Kukar sekitar 5-6 milyar per tahun. Selain itu, Pemda juga
memberikan biaya operasional yayasan.
Dari mahasiswa tetap ditarik biaya SKS atau biaya ujian. Satu SKS-nya
bervariasi, ada yang Rp25.000 sampai Rp.40.000, tergantung angkatan dan
jenis ujiannya. Tapi kalau dikalkulasi total, dalam satu semester itu
masih relatif lebih rendah dibanding yang diberikan oleh Pemda.
Kualifikasi Dosen
Perkembangan yang sama terjadi pada program dan penyediaan tenaga
pengajar. Saat ini, Unikarta didukung 160 dosen. Menurut Dr Teguh
Budiharso, M.Ed, dosen yang mengajar di Unikarta ada 3 kategori yakni,
dosen PNS yang ditugaskan oleh Pemda berkisar 40%, dosen dari Kopertis
wilayah III Kalimantan 4%, dan dosen yang diangkat yayasan sendiri
sekitar 56%. Di samping itu, ada juga tenaga honor yang statusnya digaji
oleh Pemda tapi ditugaskan di sini, mereka bisa di administrasi atau di
Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM).
Sebagian besar dosen adalah alumni Unikarta yang melanjutkan S-2 dan S-3
ke sejumlah perguruan tinggi negeri terkemuka, seperti Universitas
Gadjah Madah Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, Universitas
Padjajaran Bandung, Universitas Brawijaya Malang. Dosen setiap fakultas
rata-rata 60-70% sudah S2. Kondisi ini yang memungkinkan Unikarta, sejak
2001, melalui kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta,
telah membuka program pasca sarjana dengan program studi Magister
Administrasi Publik.
Saat ini tercatat dua dosen yang telah menamatkan program doktor di
Institut Teknologi Bandung, satu orang di Universitas Gadjah Mada, dan
dua kandidat doktor ekonomi di Universitas Brawijaya. Tahun ini Unikarta
mengirim 4 orang dosennya untuk mengambil program S3. Dana Pendidikan
untuk dosen berasal dari bantuan pemerintah kabupaten, Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi, Kopertis, atau pihak swasta, seperti Total
Fina Elf.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran pembelajaran, telah banyak
upaya yang dilakukan. Di antaranya, pada 1986, Unikarta menjalin kerja
sama dengan Universitas Mulawarman. Dengan kerja sama ini, Unikarta bisa
mendapatkan bantuan tenaga pengajar senior atau guru besar dari
Universitas Mulawarman.
Kerja sama yang serupa juga dijalin Unikarta dengan dua perguruan tinggi
swasta di Kalimantan Timur, yakni Universitas 17 Agustus dan Universitas
Widya Gama yang keduanya berlokasi di Samarinda. Lalu pada 2003, kerja
sama seperti ini juga dijalin dengan Universitas Balikpapan.
Sejumlah dosen UGM, seperti Riswandha Imawan, secara berkala datang
untuk membimbing para pengajar. Profesor Moebyarto juga pernah terlibat
di Unikarta. Bahkan secara tidak langsung pemikirannya juga sedikit
banyak tertuang dalam konsep Gerbang Dayaku. ►mti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|