| MAJALAH TI - 29 |
|
|
 |
PARIWISATA
Kukar, Surga Bagi Wisatawan Bupati Prof Dr H Syaukani
HR, MM, bertekad mewujudkan Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi daerah
tujuan wisata terkemuka di Indonesia. Pada 2010, dia mencanangakan Kutai
Bersinar, yang akan menjadi ‘surga’ bagi para wisatawan. Kukar berobsesi
mengimbangi kepopuleran Bali. Jika Indonesia dikenal dengan Bali,
setidaknya Kalimantan dikenal dengan Kutai Kartanegara. Obsesi itu bukan
hanya impian kosong. Tapi suatu kehendak realistis yang sudah mulai
diwujudkan dengan membangun berbagai infrastruktur pendukungnya.
Apalagi daerah ini memang kaya sumber daya alam, sejarah dan budaya.
Ibukotanya Tenggarong, yang digelari sebagai ‘Kota Raja’ adalah kota
pariwisata yang menarik bagi wisatawan. Sebagai sebuah daerah dan kota
kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kesultanan Kutai Kartanegara, daerah
ini menyimpan sejumlah kekayaan sejarah dan budaya yang menjadi
primadona bagi wisatawan.
Para pelancong yang berkunjung ke Kutai Kartanegara dan ‘Kota Raja’
Tenggarong ini memiliki banyak pilihan untuk menghabiskan liburan
bersama keluarga. Ada obyek wisata bersejarah Museum Mulawarman, bekas
keraton atau istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Ada juga Museum Kayu
“Tuah Himba” dan Waduk Panji Sukarame, sekitar 3 km dari pusat kota
Tenggarong. Juga Wisata Alam Bukit Bangkirai dan pusat rekreasi Pulau
Kumala.
Kenyamanan dan kemewahan begitu terasa sesaat menjejakkan kaki di
Tenggarong, ibukota Kutai Kartanegara. Terutama saat menjelang malam.
Kota ini bersinar cemerlang. Sangat berbeda dengan suasana kota-kota
lain di Kalimantan Timur (Kaltim).
Di kota raja ini terdapat jembatan berdesain indah yang membentang
sepanjang 712 meter di atas Sungai Mahakam, laksana Golden Gate di San
Fransisco. Lebih menarik dan mengagumkan lagi, pada malam hari, jembatan
ini bertaburan cahaya terang benderang warna-warni. Jika ditatap dari
kejauhan, seperti dari Hotel Singgasana yang memang sengaja dibangun di
perbukitan yang agak tinggi, terasa kota ini menghadirkan rasa damai,
sukacita dan hati yang berbunga-bunga. Segemerlap cahaya lampu yang
menghiasi jembatan dan Pulau Wisata Kumala.
Begitu pula jalan menuju jembatan itu dari arah Samarinda penuh kilau
cahaya terang dengan lalu lintas yang amat lancar, tenang dan relatif
sepi. Tidak ada kemacetan dan jubelan penduduk dan pemukiman yang
sumpek. Suatu suasana yang sungguh damai.
Begitu tiba di atas jembatan, tatapan mata tertuju pada Pulau Wisata
Kumala seluas 76 hektar di tengah-tengah Sungai Mahakam. Pulau wisata
ini direncanakan akan dirampungkan pembangunannya dengan biaya ratusan
milyar rupiah. Patung Lembu Swana ukuran raksasa yang indah karya
pematung terkenal Nyoman Nuarta, berdiri tegak di salah satu sudut Pulau
Wisata Kumala itu. Konon, patung Lembu Swana itu merupakan sosok legenda
hewan sakti berbadan berupa lembu, berbelalai gajah, dan memiliki sayap
laksana burung.
Pulau wisata ini, juga dilengkapi fasilitas wisata yang tidak kalah
dengan fasilitas objek wisata lainnya, seperti Taman Impian Jaya Ancol,
Jakarta. Untuk bisa menatap pemandangan seluruh pulau, di situ ada
menara yang puncaknya setinggi sekitar 80 meter, seperti Monas di pusat
kota Jakarta. Juga ada kereta gantung (sky lift) sepanjang 1.300 meter
yang membentang di atas Pulau Kumala. Bahkan, resor modern pun ada di
tengah pulau itu.
Di pusat Kota Raja Tenggarong, juga ada Museum Mulawarman bekas istana
Kerajaan Kutai Kartanegara. Di sebelahnya terdapat bangunan baru keraton
untuk tempat tinggal Sultan Kutai Kartanegara. Juga ada Planetarium
Jagad Raya tempat menampilkan visualisasi alam raya.
Di kota Tenggarong, akomodasi juga sudah memadai. Ada dua hotel yang
terbilang mewah. Satu di antaranya Hotel Singgasana, hotel berbintang
tiga milik Pemda Kukar. Bahkan, demi memberi kemudahan bagi para
wisatawan, investor dan juga bagi warga setempat untuk datang dan pergi
mengunjungi Kutai Kartanegara, Pemerintah Kabupaten Kukar telah
berencana membangun Bandar Udara (Bandara) Sultan Kutai berkelas
internasional di desa Jongkang, Kecamatan Loa Kulu. Juga jalan akses ke
Bandara yang menghubungkannya dengan Tenggarong dan Samarinda.
Bandara Internasional Kutai Kartanegara ini dirancang sangat futuristis
dengan anggaran lebih Rp 800 miliar. Bandara seluas 13.000 hektar ini
dirancang memiliki landasan pacu 2.500 meter dan apron menampung 10
pesawat sekaligus.
Bandara ini mengadopsi teknologi Bandara Brisbone, Australia. Bupati
Kukar Prof Dr H Syaukani HR MM menuturkan pembangunan bandara ini tidak
akan menggunakan APBN dan APBD. Tetapi murni menggunakan dana dari
investor. Investornya adalah Sultan Kamal Bawazier, menyiapkan dana
sekitar Rp10 triliun.
Biaya pembangunan dengan sejumlah dana yang telah disiapkan investor,
menurut Bupati, sudah mencakup semuanya hingga bandara beroperasi. Pemda
hanya menyediakan lahan sekitar 1.300 haktare di Loa Kulu ini yang
dikonversi sebagai penyertaan modal.
Kadis PU Kukar Ir Sugiyanto MM menjelaskan ada tiga fase pembangunan
yang diterapkan. Dimulai dengan pembangunan runway sepanjang 2.500
meter, disusul pembangunan sarana pendukung lainnya.
Empat perusahaan yang tergabung dalam Konsorsium Engineering Consultant,
dilibatkan dalam pembangunan Bandara ini. Konsorsium Engineering
Consultant tersebut terdiri dari Grahacipta Hadiprana (arsitektur,
konstruksi bangunan), Rumah Indonesia (bisnis plan), Dirgantara
Indonesia (navigasi, komunikasi dan keselamatan), dan Pakarya untuk
pengadaan SDM, development sumber daya manusia.
Museum Mulawarman
Salah satu objek wisata menarik adalah bekas keraton Kesultanan Kutai
Kartanegara yang dijadikan Museum Mulawarman. Museum ini menjadi
primadona bagi para wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong. Obyek
wisata bersejarah ini setiap hari, terutama hari libur, selalu ramai
dikunjungi para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Bangunan megah bergaya arsitektur barat dan didominasi warna putih ini
sangat memikat bagi para wisatawan. Bangunan ini dirancang oleh
Estourgie dari Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) dan dibangun pada
tahun 1936 pada masa pemerintahan Sultan Adji Mohamad Parikesit. Para
wisatawan selalu menyempatkan diri berpose di depan bekas keraton ini.
Museum ini menyimpan berbagai benda bersejarah peninggalan Kesultanan
Kutai Kartanegara. Di ruang bagian depan (pertama) terdapat singgasana
Sultan Kutai yang diapit dua arca Lembu Swana. Di bagian latar
belakangnya terpampang dua mozaik gambar Sultan Kutai Kartanegara ke-17
AM Soelaiman dan Sultan Kutai Kartanegara ke-18 AM Alimoeddin, serta
lukisan Sultan AM Parikesit. Di ruangan ini terdapat pula payung
kebesaran Kesultanan dan tiga buah patung perunggu dari Eropa.
Di bagian lain ada lemari kristal yang di dalamnya tersusun rapi
seperangkat alat upacara Pangkon Perak, perhiasan, keris dan tombak.
Juga ada kursi santai yang biasa digunakan Sultan untuk beristirahat.
Terdapat pula rehal atau alas kitab suci Al Qur’an, dilengkapi kursi
yang terbuat dari tanduk rusa Siberia dan tanduk rusa lokal, yang konon
biasa digunakan keluarga sultan untuk mengaji.
Di bagian dalam museum, koleksi yang disajikan makin beragam. Di
antaranya benda-benda arkeologi berupa prasasti dan arca-arca
peninggalan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yakni Kerajaan Kutai
Martadipura yang terkenal dengan rajanya Mulawarman. Ada pula koleksi
hasil tenunan dari suku Dayak Benuaq yang dikenal dengan nama ulap doyo
lengkap dengan alat tenun tradisionalnya. Juga koleksi ukiran-ukiran
khas dari suku Dayak Kenyah, Benuaq, Busang, Modang, Punan dan etnis
Dayak lainnya.
Di ruang bagian belakang, terdapat minirama mengenai lahirnya Aji Batara
Agung Dewa Sakti yang kemudian menjadi raja Kutai Kartanegara pertama.
Juga minirama lahirnya Puteri Karang Melenu yang kemudian menjadi
permaisuri raja Kutai Kartanegara pertama. Nama Puteri Karang Melenu
diabadikan menjadi nama sebuah gedung pertemuan di Tenggarong Seberang.
Dilengkapi minirama pertambangan batubara, industri kayu, tanaman khas
Kalimantan, Pesut Mahakam dan lain-lain.
Selain itu, terdapat pula koleksi uang kuno yang pernah beredar pada
masa pemerintahan Hindia Belanda, Jepang hingga Indonesia merdeka. Lalu,
jalan keluar dari museum, terlebih dahulu melewati ruang bawah tanah. Di
situ disajikan koleksi ratusan keramik kuno buatan Cina, Thailand,
Vietnam, Jepang, Eropa dan lain-lain.
Di bagian akhir dipajang benda-benda koleksi nusantara seperti pakaian
adat tiap provinsi di Indonesia, miniatur candi Borobudur dan Prambanan,
tenunan Sumatera, senjata tradisional serta alat musik tradisional.
Setelah keluar dari museum, terdapat sebuah bangunan kayu yang menjadi
kompleks makam Sultan dan para kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara. Di
antaranya, makam pendiri kota Tenggarong Aji Imbut gelar Sultan AM
Muslihuddin, makam Sultan AM Sulaiman dan Sultan AM Parikesit.
Guna memberi kepuasan bagi pengunjung yang ingin melepas lelah, di
kompleks Museum Mulawarman, ini juga terdapat warung-warung yang
menyajikan aneka makanan dan minuman. Juga kios-kios cenderamata khas
Kalimantan Timur, di antaranya aksesoris mutiara.
Museum Kayu Tuah Himba
Museum Kayu “Tuah Himba” terletak di kawasan objek wisata Waduk Panji
Sukarame atau sekitar 3 km dari pusat kota Tenggarong. Di Museum Kayu
Tuah Himba, ini terdapat beraneka macam koleksi yang berkaitan dengan
kehutanan. Di antaranya koleksi daun-daun kering (herbarium), koleksi
biji-bijian, koleksi potongan log atau batang pohon yang tumbuh di pulau
Kalimantan, alat-alat pengolah kayu, alat-alat dapur tradisonal hingga
perabot rumah tangga yang terbuat dari hasil hutan Kalimantan.
Selain menampilkan aneka macam koleksi hasil hutan, museum ini juga
menampilkan koleksi dua ekor ‘monster’ buaya yang telah diawetkan
ditaruh di dalam etalase kaca. Konon kisahnya, kedua ekor buaya muara
(Crocodelus porosus) ini pernah menggegerkan masyarakat Kaltim pada
tahun 1996 karena telah memangsa dua manusia di dua tempat terpisah
dalam selisih waktu hanya satu bulan.
Lalu penduduk dipimpin pawang buaya yang sangat berpengalaman di Kutai,
memburu dan membunuh kedua buaya ini untuk mengeluarkan potongan tubuh
korban yang tertinggal di dalam perutnya. Setelah itu, diawetkan dan
dipajang di Museum Kayu Tuah Himba.
Buaya pertama yang memangsa Ny Hairani (35) ditangkap pada 8 Maret 1996
di sungai Kenyamukan, Kecamatan Sangatta (kini masuk wilayah Kabupaten
Kutai Timur setelah pemekaran). Buaya ini berkelamin jantan berusia
sekitar 70 tahun, panjang sekitar 6,6 meter, berat 350 kg dan lingkar
perut 1,8 meter.
Sementara buaya kedua yang memangsa seorang pria bernama Baddu (40) di
Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak (Kabupaten Kukar) ditangkap pada
tanggal 10 April 1996. Buaya berkelamin betina ini memiliki panjang 5,5
meter, berat 200 kg dengan lingkar perut sekitar 1 meter.
Guntingan koran yang berisi berita mengerikan mengenai kedua buaya yang
memangsa manusia ini, termasuk berita tertangkapnya buaya ini dipajang
juga di museum ini. Museum ini buka setiap hari, kecuali Senin.
Waduk Panji Sukarame
Kawasan wisata alam Waduk Panji Sukarame terletak sekitar 3 km dari
pusat kota Tenggarong, berdekatan dengan (sebelum) Museum Kayu Tuah
Himba. Waduk ini tak lagi difungsikan untuk pengairan. Objek wisata ini
diminati para wisatawan lokal dan kota-kota utama di Kaltim. Tempat ini
ramai pada hari Sabtu dan Minggu atau hari libur nasional. Biasanya
pengunjung datang dengan rombongan pelancong dari luar kota seperti
Samarinda, Balikpapan, Bontang maupun kota-kota lainnya. Juga pasangan
muda-mudi.
Para pelancong biasanya dengan santai berjalan kaki mengitari kawasan
ini, melihat-lihat koleksi tanaman anggrek. Juga bersantai duduk-duduk
di bawah pepohonan yang rindang, tenteram dan sejuk. Tak jarang
rombongan pengunjung datang hanya untuk beristirahat makan siang di
bawah rindang pepohonan itu.
Wisata Alam Bukit Bangkirai
Kawasan wisata alam Bukit Bangkirai terletak di Kecamatan Samboja,
sekitar 150 km dari kota Tenggarong atau Samarinda dan hanya sekitar 58
km dari kota Balikpapan serta 20 km dari ibukota Kecamatan Samboja.
Kawasan wisata alam ini, dapat ditempuh melalui jalan darat dengan
menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua.
Di kawasan Bukit Bangkirai ini, wisatawan dapat menikmati suasana hutan
hujan tropis yang masih alami. Juga kicauan burung dan suara-suara satwa
hutan lainnya. Di sini juga terdapat canopy bridge atau jembatan tajuk
yang digantung berketinggian 30 meter dari muka tanah menghubungkan lima
pohon Bangkirai. Panjangnya sekitar 64 meter.
Canopy bridge Bukit Bangkirai ini merupakan yang pertama di Indonesia,
kedua di Asia dan yang kedelapan di dunia. Konstruksinya dibuat di
Amerika Serikat. Keamanannya juga cukup terjamin. Untuk mencapai canopy
bridge, ini terdapat dua menara dari kayu ulin yang didirikan
mengelilingi batang pohon Bangkirai.
Jembatan gantung ini akan berayun manakala seseorang melintas di
atasnya, apalagi saat mencapai separo jalan. Bagi orang yang tidak
memiliki masalah terhadap ketinggian, berjalan menyusuri canopy bridge
ini sungguh menyenangkan. Dari atas canopy bridge, wisatawan dapat
dengan leluasa melihat panorama hutan hujan tropis (tropical rain
forest) Bukit Bangkirai serta mengamati dari dekat formasi tajuk tegakan
“dipteropcarpaceae” yang menjadi ciri khas hutan hujan tropis, yang
membentuk stratum atas yang saling sambung menyambung.
Kawasan wisata alam Bukit Bangkirai, ini juga telah dilengkapi berbagai
sarana dan prasarana, seperti restoran dengan menu yang cukup
bervariasi, lamin untuk pertemuan yang mampu menampung 100 orang, serta
penginapan berupa cottage dengan fasilitas AC. Juga jugle cabin, yakni
cottage yang tidak dilengkapi fasilitas listrik sehingga wisatawan yang
menginap dapat merasakan suasana hutan yang sebenarnya.
Kawasan Bukit Bangkirai seluas 1.500 hektare ini merupakan kawasan hutan
konservasi. Kawasan ini mempunyai peran penting untuk mengembangkan
monumen hutan alam tropika basah yang dapat dijadikan sebagai sarana
pendidikan lingkungan dan kehutanan.
Kawasan hutan wisata ini juga bertujuan untuk penelitian ilmiah serta
meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap lingkungan dan hutan.
Djamalludin Suryohadikusumo, Menteri Kehutanan RI pada Kabinet
Pembangunan VI, yang meresmikan 510 hektare dari kawasan ini sebagai
kawasan wisata dan penelitian ilmiah untuk meningkatkan kecintaan
terhadap lingkungan terutama pada flora dan fauna, pada 14 Maret 1998.
Di kawasan wisata alam ini sangat dominan ditumbuhi pohon jenis
Bangkirai. Sehingga kawasan ini diberi nama Bukit Bangkirai. Di kawasan
ini banyak terdapat pohon Bangkirai yang berumur lebih dari 150 tahun
dengan ketinggian mencapai 40 hingga 50 m, dengan diameter 2,3 m.
Pertumbuhan banir (akar papan) yang besar dan kuat menjadikan pohon ini
memiliki nilai keindahan tersendiri.
Diperkirakan terdapat 113 jenis burung yang hidup di kawasan Bukit
Bangkirai ini. Kawasan ini menjadi tempat invasi burung dari wilayah
Kawasan Hutan Taman Wisata Bukit Soeharto (sekitar 30 km) maupun wilayah
sekitarnya jika terkena pengaruh kebakaran hutan. Pasalnya, secara
geografis, kawasan ini termasuk dataran rendah (primary lowland)
“Dipterocarp forest” yang stabil.
Di kawasan hutan lindung ini juga terdapat berbagai jenis fauna. Di
antaranya, Owa-Owa (Hylobates muelleri), Beruk (Macaca nemestrina),
Lutung Merah (Presbytus rubicunda), Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis), Babi Hutan (Susvittatus), Bajing Terbang (Squiler) serta
Rusa Sambar (Corvus unicolor) yang telah ditangkarkan.
Di kawasan ini sedikitnya ada 45 jenis anggrek yang tumbuh secara alami
di pepohonan yang masih hidup maupun yang sudah mati. Di antaranya,
Anggrek Hitam (Coelegyne pandurata) yang sangat terkenal dan menjadi
salah satu maskot Kalimantan Timur.
Telah pula dilakukan pembudidayaan anggrek-anggrek alam di kawasan ini.
Juga dilakukan pengembang-an anggrek silangan seperti Anggrek Kala,
Anggrek Apple Blossom dan Anggrek Vanda. Selain kebun anggrek, kawasan
wisata alam ini juga dilengkapi dengan kebun buah-buahan seluas 4
hektare.
Demi menjaga kelestarian pohon bangkirai di kawasan ini, pihak pengelola
Bukit Bangkirai menawarkan Pro-gram Adopsi Pohon kepada para sponsor
atau donatur untuk menjadi “orangtua asuh” bagi pohon-pohon bangkirai
yang dikehendaki. Saat ini pengadopsian pohon tersebut banyak dilakukan
oleh pihak VIVO JICA Japan. ►mti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|