A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
     ► Kaltim
     ► Kukar
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 18052006  
   
  ► e-ti/esero  
  Majalah Tokoh Indonesia 29

Syaukani HR Seteguh Batu Karang

TOKOH UTAMA: Syaukani Hasan Rais: Berkapasitas Kepemimpinan Nasional = Profesor Pertama dari PTS Bumi Etam = Dilahirkan Sebagai Pemimpin = Pemimpin Seteguh Batu KarangWAWANCARA: Daerah Kuat, NKRI KukuhDEPTHNEWS: Keagungan Kutai KartanegaraPERSPEKTIF: Gerbang Dayaku Menuju Kutai Emas = Kutai Kartanegara ‘Emas’ Bagi InvestorPARIWISATA: Kukar, Surga Bagi WisatawanBUDAYA: Kekayaan Budaya Dayak dan Kutai = Kesultanan Kutai KartanegaraPENDIDIKAN: Unikarta Lahirkan ProfesorLEGISLATIF: Bachtiar Effendi: Mengubah Budaya ‘Penonton’ = DPRD Kutai Kartanegara = Profil Anggota DPRD Kukar 04-09IN HEADNEWS: APBD Kukar 2006 Rp 3,795 TriliunKAPUR SIRIH: Bobot KepemimpinanBERITA: Deklarasi Sempekat Keroan Kutai = Peringatan Maulid Nabi di Kukar
  
 
     
 
MAJALAH TI

 

DEPTHNEWS:

Keagungan Kutai Kartanegara

 

Lembu Suwana yang berwarna kuning keemasan dijadikan lambang keagungan Kabupaten Kutai Kartanegara. Keagungan kabupaten ini selain dimeteraikan dengan kekayaan sumber daya alam, juga karena di kabupaten ini terdapat Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Inilah kabupaten terkaya di Indonesia yang dengan Gerbang Dayaku, dicanangkan 2010 Bersinar.

 

Kabupaten Kutai Kartanegara yang berpenduduk sekitar 504 jiwa ini kaya sumber daya alam, terutama minyak, gas bumi,
dan batu bara. Di kabupaten ini, ada sejumlah perusahaan minyak internasional melakukan kegiatan, di antaranya PT Total Indonesia, Vico, Unocal, dan Exspan.


Otonomi daerah yang lebih luas sebagai buah reformasi, membuat daerah ini makin kukuh mengatur keuangan daerahnya sendiri, sebagai kabupaten terkaya di Tanah Air. Diberkahi kekayaan alam yang melimpah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ini tahun 2003 sebesar Rp 2,45 triliun dan tahun 2004 sebesar Rp 2,7 triliun. Bandingkan dengan APBD provinsi di Pulau Jawa yang cuma sekitar Rp 2 triliun dengan penduduk 22 juta jiwa.


Namun, di sisi lain, kabupaten ini masih menghadapi masalah kemiskinan yang melilit hampir 14 persen penduduknya. Untuk mengentaskan kemiskinan ini, Bupati H Syaukani HR, menggagas Gerbang Dayaku, akronim dari Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai. (Selengkapnya baca: Gerbang Dayaku Menuju Kutai Emas).

Keagungan Kutai
Dimulai Kerajaan Kutai Martapura atau Martadipura yang berdiri abad IV di Martapura, Kecamatan Muara Kaman. Kemudian pada abad XIII seorang pembesar kerajaan Singosari, Raden Kesuma yang bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti, mendirikan Kerajaan Kutai Kartanegara di muara Sungai Mahakam.


Lalu kedua kerajaan tersebut disatukan pada abad XIII melalui perkawinan politik dan pada abad XVI melalui perang besar sehingga wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi sangat luas dan namanya berubah menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sampai sekarang. (Selengkapnya baca: Kesultanan Kutai Kartanegara).


Setelah Indonesia merdeka, Kesultanan Kutai Kartanegara berstatus Daerah Swapraja Kutai pada tahun 1947, masuk ke dalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir. Kemudian pada 27 Desember 1949 bergabung dalam Republik Indonesia Serikat.


Berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953, Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten. Kemudian berdasarkan UU No.27 Tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai dihapus menjadi daerah Swatantra dan dibagi menjadi tiga Daerah Tingkat II, yakni: 1. Kotapraja (Kotamadya) Balikpapan yang beribukota di Balikpapan; 2. Kotapraja Samarinda yang beribukota di Samarinda; dan 3. Kabupaten Kutai yang beribukota di Tenggarong.


Kabupaten daerah Tingkat II Kutai berkembang sedemikian rupa sehingga sejak tahun 1995/1996 menjadi salah satu daerah percontohan pelaksanaan Otonomi Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1995.
Selanjutnya setelah reformasi bergulir, Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi tiga daerah kabupaten dan satu kota (UU No. 47 tahun 1999) yaitu: 1. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong; 2. Kabupaten Kutai Barat dengan ibukota Sendawar; 3. Kabupaten Kutai Timur dengan ibukota Sangatta; 4. Kota Bontang dengan ibukota Bontang.


Setelah pemekaran, istilah Kabupaten Kutai Induk sering digunakan untuk membedakan antara Kabupaten Kutai lama dengan Kabupaten Kutai hasil pemekaran. Kemudian Presiden RI Abdurrahman Wahid tatkala membuka Musyawarah Nasional I Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) di Tenggarong tahun 2000, mengusulkan agar Kabupaten Kutai hasil pemekaran menggunakan nama Kabupaten Kutai Kartanegara, mengingat kota Tenggarong juga merupakan ibukota dari Kesultanan Kutai Kartanegara.


Usul Presiden RI Abdurrahman Wahid itu disambut hangat berbagai kalangan. Kemudian pada 23 Maret 2002, Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menetapkan penggunaan nama Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang “Perubahan Nama Kabupaten Kutai Menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara”.

Lambang Keagungan
Keagungan Kabupaten Kutai Kartanegara tergambar secara visual dalam lambang kabupaten ini yang berinti pada gambar Lembu Swana yang didominasi warna kuning yang melambangkan keagungan. Lembu Swana juga bermakna sebagai sumber kekuasaan dan kewibawaan Pemerintah Daerah.


Lingkaran putih yang mengelilingi Lembu Swana adalah melambangkan kebulatan tekad dan kesamaan pandangan/persepsi. Dilengkapi gambar Mandau dan Sumpit yang menyimbolkan sarana kekuatan dalam meningkatkan pembangunan. Dipadu dengan Keliau (Perisai Suku Dayak) sebagai simbol ketahanan dan pertahanan. Serta Menara yang melambangkan cita-cita yang agung dan tinggi.


Di latar tampak Jembatan sebagai simbol pemersatu dan Air/Gelombang sebagai simbol dinamika kehidupan dalam pembangunan. Sementara Gong di bagian depan adalah simbol pemersatu budaya. Lalu Bintang Bersudut Lima di bagian atas melambangkan Pancasila.


Untaian Kapas dan Padi di sebelah kiri dan kanan yang terdiri dari 17 Daun Kapas, 8 Kuntum Bunga Kapas dan 45 Butir Padi melambangkan tujuan bangsa Indonesia untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sesuai dengan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Sementara Lingkaran atau Bingkai Gambar bersudut tujuh melambangkan kultur dan falsafah hidup.


Tulisan Kabupaten Kutai Kartanegara di bagian atas menggambarkan Daerah Otonomi Kabupaten Kutai Kartanegara. Dan di bagian bawah tertulis slogan “Bina Benua Etam” yang bermakna kepedulian seluruh lapisan masyarakat untuk membangun daerah Kabupaten Kutai Kartanegara menuju masyarakat madani.


Keseluruhan lambang itu terdiri dari beberapa warna yang juga memiliki makna tersendiri. Warna Kuning melambangkan keagungan. Warna Hijau Tua melambangkan tentang kesuburan dalam meningkatkan potensi SDA dan SDM. Warna Hijau Muda melambangkan tentang ketentraman dan kedamaian. Warna Merah melambangkan keberanian, kegigihan, kejujuran dan jiwa ksatria. Warna Putih melambangkan kebenaran, keikhlasan dan kesucian. Dan, Warna Hitam melambangkan tantangan dan kendala yang dihadapi.

Gambaran Umum
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terletak pada posisi 115º26’28'’ - 117º36’43'’ Bujur Timur dan 1º28’21'’ Lintang Utara - 1º08’06'’ Lintang Selatan. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Malinau, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur dan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Kabupaten Pasir dan sebelah Barat dengan Kabupaten Kutai Barat. Luas wilayah daratan 27.263,10 Km² dan luas perairan ± 4.097 Km².


Topografi wilayah bervariasi. Sebagian besar bergelombang sampai berbukit dengan kelerengan landai sampai curam. Daerah dengan kemiringan datar sampai landai terdapat di beberapa bagian, yaitu berupa kawasan pantai dan sebagian besar Daerah Aliran Sungai Mahakam. Sedangkan daerah pedalaman dan perbatasan umumnya merupakan pegunungan dengan ketinggian 500 - 2.000 meter di atas permukaan air laut.


Menurut Soil Taxonomi USDA jenis-jenis tanah daerah ini mtermasuk golongan Ultisol, Entisol, Histosol, Inceptisol dan Mollisol. Sementara menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor terdiri dari jenis tanah Podsolik, Alluvial, Andosol dan Renzina.
Perbedaan antara musim kemarau dan musim hujan tidak begitu tegas. Sehingga karakteristik iklim tergolong iklim hutan tropika humida. Curah hujan berkisar antara 2.000 - 4.000 mm per tahun dengan temperatur rata-rata 26º C. Perbedaan temperatur siang dan malan berkisar 5º-7º C.


Sesuai Sensus penduduk Tahun 2004, jumlah penduduk kabupaten ini mencapai 503.709 jiwa. Sebelumnya, sesuai analisis penduduk Kabupaten Kutai pada tahun 1999 (pasca pemekaran wilayah) berjumlah 340.029 jiwa. Jadi pertumbuhan penduduk selama lima tahun terakhir sebesar 2,28% per tahun.


Kepadatan penduduk mencapai rata-rata 16 jiwa per Km². Pola penyebaran penduduk pada umumnya mengikuti pola transportasi yang ada. Sungai Mahakam merupakan jalur arteri bagi transportasi lokal utama sehingga sebagian besar pemukiman penduduk terkonsentrasi di tepi sungai Mahakam dan cabang-cabangnya.


Sementara daerah-daerah yang agak jauh dari tepi sungai dan belum terdapat prasarana jalan darat, penyebaran penduduk dan pemukiman relatif lebih jarang. Penduduk yang bermukim diwilayah ini terdiri dari penduduk asli (Kutai, Benuaq, Tunjung, Bahau, Modang, Kenyah, Punan dan Kayan) dan penduduk pendatang (Jawa, Bugis, Madura, Banjar, Timor dan lain-lain).


Mata pencaharian penduduk sebagian besar di sektor Pertanian 38,25%, Industri atau Kerajinan 18,37%, Perdagangan 10,59%, dan yang lainnya 32,79%. Sementara Analisis Pertumbuhan Ekonomi kabupaten ini pasca pemekaran wilayah yang tergambar dari perkembangan nilai PDRB 1999 tumbuh sebesar 6,29% (dengan migas) dan 8,30% tanpa migas.


Dari perhitungan PDRB sementara, struktur perekonomian daerah tahun 1999 masih didominasi Sektor Pertambangan dan Penggalian (77,45%). Sektor Pertanian dan Kehutanan hanya memberikan konstribusi sebesar 11,21%, Perdagangan dan Hotel (3,27%), Industri Pengolahan (2,54%), Bangunan (2,87%), Sektor Keuangan dan Sewa (0,91%) dan Sektor lainnya (1,75%).


Apabila dihitung tanpa migas, Sektor Pertambangan dan Penggalian masih dominan (32,97%) tetapi sektor lainnya juga memberikan konstribusi yang cukup memadai seperti sektor Pertanian dan Kehutanan (28,95%), Industri Pengolahan (2,87%), Bangunan (9,64%), Perdagangan, Hotel dan Restoran (5,17%), Keuangan dan Jasa (5,89%).


Nilai PDRB Kabupaten Kutai Kartanegara adalah sebesar Rp. 15,596 trilyun (dengan Migas) dan tanpa migas sebesar Rp. 4,510 trilyun. Pendapatan perkapita pada tahun 1999 mencapai Rp. 33,726 juta (dengan migas) dan sebesar Rp. 9,752 juta (tanpa migas).


Namun pendapatan perkapita yang relatif tinggi tersebut belum mutlak menggambarkan bahwa masyarakat kabupaten ini telah sedemikian makmur. Sebab, selain pendapatan tersebut adalah pendapatan bruto juga masih adanya unsur ketimpangan dalam distribusi pendapatan.

Pemerintahan
Kabupaten Kukar terdiri dari 18 wilayah kecamatan dan 225 desa/kelurahan. Ke-18 kecamatan tersebut adalah Samboja, Muara Jawa, Sanga-Sanga, Anggana, Muara Badak, Marang Kayu, Tenggarong Seberang, Loa Janan, Loa Kulu, Tenggarong, Sebulu, Muara Kaman, Kota Bangun, Muara Muntai, Muara Wis, Kenohan, Kembang Janggut dan Tabang.
Pada periode 1999-2004 dan 2005-2009, Kabupaten Kutai Kartanegara dipimpin Bupati Prof Drs. H. Syaukani HR, MM dibantu Wakil Bupati Drs H Samsuri Aspar, MM dan Sekretaris Kabupaten, Drs H Eddy Subandi, MM.


Dalam perjalanan sejarah sejak 1950, Kabupaten Kutai telah dipimpin 12 Bupati/Kepala Daerah. Yakni: 1. AM Parikesit (1950-1960) sebagai Kepala Daerah Istimewa Kutai; 2. AR Padmo (1960-1964) sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Kutai; 3. Roesdibiyono (1964-1965); 4. Drs H Achmad Dahlan (1965-1979); 5. Drs H Awang Faisyal (1979-1984); 6. Drs H Chaidir Hafiez (1984-1989); 7. Drs H Said Sjafran (1989-1994); 8. Drs HAM Sulaiman, MSc (1994-1999); 9. Drs H. Syaukani HR, MM (1999-2004) sebagai Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara; 10 H Awang Dharma Bakti ST, MT (2004-2005) sebagai Penjabat Sementara; 11. Drs Hadi Sutanto (2005) juga Penjabat Sementara; dan 12. Prof Dr H Syaukani HR, MM (2005-2009) sebagai Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara pertama pilihan rakyat secara langsung.


Dalam menjalankan roda pemerintahan dibentuk beberapa lembaga yang terdiri dari 21 Dinas Otonom, 8 Kantor Daerah, 9 Badan Daerah. Dinas Otonom terdiri dari Dinas Kehutanan, Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi dan PKM, Dinas Pariwisata dan Budaya, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga, Dinas Pendaftaran Penduduk, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Pendidikan Nasional, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian, Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Pertanahan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Peternakan, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja, serta Dinas Transmigrasi dan Penataan Penduduk.


Sedangkan Kantor Daerah terdiri dari Kantor Arsip Daerah, Kantor Informasi Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan, Kantor Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman, Kantor Pusat Data Teknologi Informasi dan Komunikasi, Kantor Pendidikan dan Latihan, Kantor Pengelolaan Pasar, Kantor Perpustakaan Umum, dan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja.


Dilengkapi Badan Daerah yang terdiri dari Badan Perencanaan Pem-bangunan Daerah, Badan Pengawas Daerah, Badan Kepegawaian Daerah, Badan Pengendalian Dampak Ling-kungan Daerah, Badan Perberdayaan Masyarakat Desa, Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah dan Badan Pengelola Keuangan Daerah.


Kantor Bupati Kutai Kartanegara beralamat di Jl. Wolter Monginsidi No.1, Tenggarong 75511 – Kaltim, Telepon: +62 541 662088 Fax: +62 541 661490 (Humas & Protokol). ►mti


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)