|
|
|
| MAJALAH TI |
|
|
 |
DEPTHNEWS:
Keagungan Kutai Kartanegara Lembu Suwana yang berwarna kuning keemasan dijadikan lambang keagungan
Kabupaten Kutai Kartanegara. Keagungan kabupaten ini selain dimeteraikan
dengan kekayaan sumber daya alam, juga karena di kabupaten ini terdapat
Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang merupakan kerajaan
tertua di Indonesia. Inilah kabupaten terkaya di Indonesia yang dengan
Gerbang Dayaku, dicanangkan 2010 Bersinar.
Kabupaten Kutai Kartanegara yang berpenduduk sekitar 504 jiwa ini
kaya sumber daya alam, terutama minyak, gas bumi,
dan batu bara. Di kabupaten ini, ada sejumlah perusahaan minyak
internasional melakukan kegiatan, di antaranya PT Total Indonesia, Vico,
Unocal, dan Exspan.
Otonomi daerah yang lebih luas sebagai buah reformasi, membuat daerah
ini makin kukuh mengatur keuangan daerahnya sendiri, sebagai kabupaten
terkaya di Tanah Air. Diberkahi kekayaan alam yang melimpah, Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah ini tahun 2003 sebesar Rp 2,45 triliun dan
tahun 2004 sebesar Rp 2,7 triliun. Bandingkan dengan APBD provinsi di
Pulau Jawa yang cuma sekitar Rp 2 triliun dengan penduduk 22 juta jiwa.
Namun, di sisi lain, kabupaten ini masih menghadapi masalah kemiskinan
yang melilit hampir 14 persen penduduknya. Untuk mengentaskan kemiskinan
ini, Bupati H Syaukani HR, menggagas Gerbang Dayaku, akronim dari
Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai. (Selengkapnya baca: Gerbang
Dayaku Menuju Kutai Emas).
Keagungan Kutai
Dimulai Kerajaan Kutai Martapura atau Martadipura yang berdiri abad IV
di Martapura, Kecamatan Muara Kaman. Kemudian pada abad XIII seorang
pembesar kerajaan Singosari, Raden Kesuma yang bergelar Aji Batara Agung
Dewa Sakti, mendirikan Kerajaan Kutai Kartanegara di muara Sungai
Mahakam.
Lalu kedua kerajaan tersebut disatukan pada abad XIII melalui perkawinan
politik dan pada abad XVI melalui perang besar sehingga wilayah Kerajaan
Kutai Kartanegara menjadi sangat luas dan namanya berubah menjadi
Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sampai sekarang.
(Selengkapnya baca: Kesultanan Kutai Kartanegara).
Setelah Indonesia merdeka, Kesultanan Kutai Kartanegara berstatus Daerah
Swapraja Kutai pada tahun 1947, masuk ke dalam Federasi Kalimantan Timur
bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung,
Gunung Tabur dan Pasir. Kemudian pada 27 Desember 1949 bergabung dalam
Republik Indonesia Serikat.
Berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953, Daerah Swapraja Kutai diubah
menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah
istimewa tingkat kabupaten. Kemudian berdasarkan UU No.27 Tahun 1959,
status Daerah Istimewa Kutai dihapus menjadi daerah Swatantra dan dibagi
menjadi tiga Daerah Tingkat II, yakni: 1. Kotapraja (Kotamadya)
Balikpapan yang beribukota di Balikpapan; 2. Kotapraja Samarinda yang
beribukota di Samarinda; dan 3. Kabupaten Kutai yang beribukota di
Tenggarong.
Kabupaten daerah Tingkat II Kutai berkembang sedemikian rupa sehingga
sejak tahun 1995/1996 menjadi salah satu daerah percontohan pelaksanaan
Otonomi Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1995.
Selanjutnya setelah reformasi bergulir, Kabupaten Kutai dimekarkan
menjadi tiga daerah kabupaten dan satu kota (UU No. 47 tahun 1999)
yaitu: 1. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong; 2. Kabupaten Kutai
Barat dengan ibukota Sendawar; 3. Kabupaten Kutai Timur dengan ibukota
Sangatta; 4. Kota Bontang dengan ibukota Bontang.
Setelah pemekaran, istilah Kabupaten Kutai Induk sering digunakan untuk
membedakan antara Kabupaten Kutai lama dengan Kabupaten Kutai hasil
pemekaran. Kemudian Presiden RI Abdurrahman Wahid tatkala membuka
Musyawarah Nasional I Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia
(APKASI) di Tenggarong tahun 2000, mengusulkan agar Kabupaten Kutai
hasil pemekaran menggunakan nama Kabupaten Kutai Kartanegara, mengingat
kota Tenggarong juga merupakan ibukota dari Kesultanan Kutai
Kartanegara.
Usul Presiden RI Abdurrahman Wahid itu disambut hangat berbagai
kalangan. Kemudian pada 23 Maret 2002, Presiden Republik Indonesia
Megawati Soekarnoputri menetapkan penggunaan nama Kabupaten Kutai
Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang
“Perubahan Nama Kabupaten Kutai Menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara”.
Lambang Keagungan
Keagungan Kabupaten Kutai Kartanegara tergambar secara visual dalam
lambang kabupaten ini yang berinti pada gambar Lembu Swana yang
didominasi warna kuning yang melambangkan keagungan. Lembu Swana juga
bermakna sebagai sumber kekuasaan dan kewibawaan Pemerintah Daerah.
Lingkaran putih yang mengelilingi Lembu Swana adalah melambangkan
kebulatan tekad dan kesamaan pandangan/persepsi. Dilengkapi gambar
Mandau dan Sumpit yang menyimbolkan sarana kekuatan dalam meningkatkan
pembangunan. Dipadu dengan Keliau (Perisai Suku Dayak) sebagai simbol
ketahanan dan pertahanan. Serta Menara yang melambangkan cita-cita yang
agung dan tinggi.
Di latar tampak Jembatan sebagai simbol pemersatu dan Air/Gelombang
sebagai simbol dinamika kehidupan dalam pembangunan. Sementara Gong di
bagian depan adalah simbol pemersatu budaya. Lalu Bintang Bersudut Lima
di bagian atas melambangkan Pancasila.
Untaian Kapas dan Padi di sebelah kiri dan kanan yang terdiri dari 17
Daun Kapas, 8 Kuntum Bunga Kapas dan 45 Butir Padi melambangkan tujuan
bangsa Indonesia untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sesuai dengan
cita-cita Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Sementara Lingkaran
atau Bingkai Gambar bersudut tujuh melambangkan kultur dan falsafah
hidup.
Tulisan Kabupaten Kutai Kartanegara di bagian atas menggambarkan Daerah
Otonomi Kabupaten Kutai Kartanegara. Dan di bagian bawah tertulis slogan
“Bina Benua Etam” yang bermakna kepedulian seluruh lapisan masyarakat
untuk membangun daerah Kabupaten Kutai Kartanegara menuju masyarakat
madani.
Keseluruhan lambang itu terdiri dari beberapa warna yang juga memiliki
makna tersendiri. Warna Kuning melambangkan keagungan. Warna Hijau Tua
melambangkan tentang kesuburan dalam meningkatkan potensi SDA dan SDM.
Warna Hijau Muda melambangkan tentang ketentraman dan kedamaian. Warna
Merah melambangkan keberanian, kegigihan, kejujuran dan jiwa ksatria.
Warna Putih melambangkan kebenaran, keikhlasan dan kesucian. Dan, Warna
Hitam melambangkan tantangan dan kendala yang dihadapi.
Gambaran Umum
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terletak pada posisi 115º26’28'’ -
117º36’43'’ Bujur Timur dan 1º28’21'’ Lintang Utara - 1º08’06'’ Lintang
Selatan. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Malinau, sebelah
timur berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur dan Selat Makasar, sebelah
selatan dengan Kabupaten Pasir dan sebelah Barat dengan Kabupaten Kutai
Barat. Luas wilayah daratan 27.263,10 Km² dan luas perairan ± 4.097 Km².
Topografi wilayah bervariasi. Sebagian besar bergelombang sampai
berbukit dengan kelerengan landai sampai curam. Daerah dengan kemiringan
datar sampai landai terdapat di beberapa bagian, yaitu berupa kawasan
pantai dan sebagian besar Daerah Aliran Sungai Mahakam. Sedangkan daerah
pedalaman dan perbatasan umumnya merupakan pegunungan dengan ketinggian
500 - 2.000 meter di atas permukaan air laut.
Menurut Soil Taxonomi USDA jenis-jenis tanah daerah ini mtermasuk
golongan Ultisol, Entisol, Histosol, Inceptisol dan Mollisol. Sementara
menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor terdiri dari jenis tanah
Podsolik, Alluvial, Andosol dan Renzina.
Perbedaan antara musim kemarau dan musim hujan tidak begitu tegas.
Sehingga karakteristik iklim tergolong iklim hutan tropika humida. Curah
hujan berkisar antara 2.000 - 4.000 mm per tahun dengan temperatur
rata-rata 26º C. Perbedaan temperatur siang dan malan berkisar 5º-7º C.
Sesuai Sensus penduduk Tahun 2004, jumlah penduduk kabupaten ini
mencapai 503.709 jiwa. Sebelumnya, sesuai analisis penduduk Kabupaten
Kutai pada tahun 1999 (pasca pemekaran wilayah) berjumlah 340.029 jiwa.
Jadi pertumbuhan penduduk selama lima tahun terakhir sebesar 2,28% per
tahun.
Kepadatan penduduk mencapai rata-rata 16 jiwa per Km². Pola penyebaran
penduduk pada umumnya mengikuti pola transportasi yang ada. Sungai
Mahakam merupakan jalur arteri bagi transportasi lokal utama sehingga
sebagian besar pemukiman penduduk terkonsentrasi di tepi sungai Mahakam
dan cabang-cabangnya.
Sementara daerah-daerah yang agak jauh dari tepi sungai dan belum
terdapat prasarana jalan darat, penyebaran penduduk dan pemukiman
relatif lebih jarang. Penduduk yang bermukim diwilayah ini terdiri dari
penduduk asli (Kutai, Benuaq, Tunjung, Bahau, Modang, Kenyah, Punan dan
Kayan) dan penduduk pendatang (Jawa, Bugis, Madura, Banjar, Timor dan
lain-lain).
Mata pencaharian penduduk sebagian besar di sektor Pertanian 38,25%,
Industri atau Kerajinan 18,37%, Perdagangan 10,59%, dan yang lainnya
32,79%. Sementara Analisis Pertumbuhan Ekonomi kabupaten ini pasca
pemekaran wilayah yang tergambar dari perkembangan nilai PDRB 1999
tumbuh sebesar 6,29% (dengan migas) dan 8,30% tanpa migas.
Dari perhitungan PDRB sementara, struktur perekonomian daerah tahun 1999
masih didominasi Sektor Pertambangan dan Penggalian (77,45%). Sektor
Pertanian dan Kehutanan hanya memberikan konstribusi sebesar 11,21%,
Perdagangan dan Hotel (3,27%), Industri Pengolahan (2,54%), Bangunan
(2,87%), Sektor Keuangan dan Sewa (0,91%) dan Sektor lainnya (1,75%).
Apabila dihitung tanpa migas, Sektor Pertambangan dan Penggalian masih
dominan (32,97%) tetapi sektor lainnya juga memberikan konstribusi yang
cukup memadai seperti sektor Pertanian dan Kehutanan (28,95%), Industri
Pengolahan (2,87%), Bangunan (9,64%), Perdagangan, Hotel dan Restoran
(5,17%), Keuangan dan Jasa (5,89%).
Nilai PDRB Kabupaten Kutai Kartanegara adalah sebesar Rp. 15,596 trilyun
(dengan Migas) dan tanpa migas sebesar Rp. 4,510 trilyun. Pendapatan
perkapita pada tahun 1999 mencapai Rp. 33,726 juta (dengan migas) dan
sebesar Rp. 9,752 juta (tanpa migas).
Namun pendapatan perkapita yang relatif tinggi tersebut belum mutlak
menggambarkan bahwa masyarakat kabupaten ini telah sedemikian makmur.
Sebab, selain pendapatan tersebut adalah pendapatan bruto juga masih
adanya unsur ketimpangan dalam distribusi pendapatan.
Pemerintahan
Kabupaten Kukar terdiri dari 18 wilayah kecamatan dan 225
desa/kelurahan. Ke-18 kecamatan tersebut adalah Samboja, Muara Jawa,
Sanga-Sanga, Anggana, Muara Badak, Marang Kayu, Tenggarong Seberang, Loa
Janan, Loa Kulu, Tenggarong, Sebulu, Muara Kaman, Kota Bangun, Muara
Muntai, Muara Wis, Kenohan, Kembang Janggut dan Tabang.
Pada periode 1999-2004 dan 2005-2009, Kabupaten Kutai Kartanegara
dipimpin Bupati Prof Drs. H. Syaukani HR, MM dibantu Wakil Bupati Drs H
Samsuri Aspar, MM dan Sekretaris Kabupaten, Drs H Eddy Subandi, MM.
Dalam perjalanan sejarah sejak 1950, Kabupaten Kutai telah dipimpin 12
Bupati/Kepala Daerah. Yakni: 1. AM Parikesit (1950-1960) sebagai Kepala
Daerah Istimewa Kutai; 2. AR Padmo (1960-1964) sebagai Bupati Kepala
Daerah Tingkat II Kabupaten Kutai; 3. Roesdibiyono (1964-1965); 4. Drs H
Achmad Dahlan (1965-1979); 5. Drs H Awang Faisyal (1979-1984); 6. Drs H
Chaidir Hafiez (1984-1989); 7. Drs H Said Sjafran (1989-1994); 8. Drs
HAM Sulaiman, MSc (1994-1999); 9. Drs H. Syaukani HR, MM (1999-2004)
sebagai Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara; 10 H Awang Dharma Bakti ST,
MT (2004-2005) sebagai Penjabat Sementara; 11. Drs Hadi Sutanto (2005)
juga Penjabat Sementara; dan 12. Prof Dr H Syaukani HR, MM (2005-2009)
sebagai Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara pertama pilihan rakyat secara
langsung.
Dalam menjalankan roda pemerintahan dibentuk beberapa lembaga yang
terdiri dari 21 Dinas Otonom, 8 Kantor Daerah, 9 Badan Daerah. Dinas
Otonom terdiri dari Dinas Kehutanan, Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi dan
PKM, Dinas Pariwisata dan Budaya, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pendidikan
Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga, Dinas Pendaftaran Penduduk, Dinas
Pendapatan Daerah, Dinas Pendidikan Nasional, Dinas Perikanan dan
Kelautan, Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Dinas Perkebunan, Dinas
Perindustrian, Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Pertanahan, Dinas
Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Peternakan, Dinas Sosial, Dinas Tenaga
Kerja, serta Dinas Transmigrasi dan Penataan Penduduk.
Sedangkan Kantor Daerah terdiri dari Kantor Arsip Daerah, Kantor
Informasi Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan, Kantor Kebersihan,
Pertamanan dan Pemakaman, Kantor Pusat Data Teknologi Informasi dan
Komunikasi, Kantor Pendidikan dan Latihan, Kantor Pengelolaan Pasar,
Kantor Perpustakaan Umum, dan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja.
Dilengkapi Badan Daerah yang terdiri dari Badan Perencanaan Pem-bangunan
Daerah, Badan Pengawas Daerah, Badan Kepegawaian Daerah, Badan
Pengendalian Dampak Ling-kungan Daerah, Badan Perberdayaan Masyarakat
Desa, Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, Badan
Koordinasi Penanaman Modal Daerah, Badan Penelitian dan Pengembangan
Daerah dan Badan Pengelola Keuangan Daerah.
Kantor Bupati Kutai Kartanegara beralamat di Jl. Wolter Monginsidi No.1,
Tenggarong 75511 – Kaltim, Telepon: +62 541 662088 Fax: +62 541 661490
(Humas & Protokol). ►mti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|