| MAJALAH TI - 29 |
|
|
 |
BUDAYA (02)
Kesultanan Kutai Kartanegara = Kerajaan Tertua di
Indonesia
Paleografi tujuh buah prasasti berhuruf Pallawa dalam bahasa
Sansekerta yang diperkirakan dibuat abad ke-5 Masehi, menjadi bukti
sejarah bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia.
Namun kesultanan yang mencapai kejayaan sampai tahun 1900-an ini, sempat
diakhiri oleh Pemerintah Pusat pada tahun 1960. Kemudian beberapa saat
setelah H. Syaukani HR terpilih menjadi Bupati Kutai Kartanegara, 1999,
dia pun berupaya menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing
Martadipura, yang terwujud pada 22 September 2001.
Sebelumnya, 7 November 2000, Bupati H Syaukani HR bersama Putera
Mahkota Kutai H Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat menghadap
Presiden RI Abdurrahman Wahid di Jakarta un-tuk menyampaikan maksud di
atas. Presiden Wahid menyetujui dan merestui dikembalikannya Kesultan-an
Kutai Kartanegara kepada keturunan Sultan Kutai yakni putera mahkota H
Aji Pangeran Praboe.
Lalu pada tanggal 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai
Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan
menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad
Salehuddin II. Sejak itu, Kesultanan Kutai Kartanegara hidup kembali.
Bupati Kutai Kartanegara Drs. H. Syaukani HR, MM mengatakan
dikembalikannya Kesultanan Kutai ini bukan dengan maksud untuk
menghidupkan feodalisme di daerah ini, namun demi pelestarian warisan
sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia.
Selain itu, dia menegaskan, dihidupkannya tradisi Kesultanan Kutai
Kartanegara adalah untuk mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur
dalam upaya menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Kerajaan Tertua
Ditinjau dari sejarah Indonesia kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan
tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tujuh buah
prasasti yang ditulis diatas yupa (tugu batu) dalam bahasa Sansekerta
dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, tulisan
tersebut diperkirakan dibuat pada abad ke-5 Masehi.
Dari prasasti tersebut diketahui adanya sebuah kerajaan di bawah
kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu
dari Maharaja Kudungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini
bernama Kerajaan Kutai Martadipura, dan berlokasi di seberang kota Muara
Kaman.
Lalu, pada awal abad ke-13, berdirilah sebuah kerajaan baru di Tepian
Batu atau Kutai Lama yang bernama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan
rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).
Dengan adanya dua kerajaan di kawasan Sungai Mahakam ini tentu
menimbulkan friksi di antara keduanya. Pada abad ke-16 terjadilah
peperangan di antara kedua kerajaan Kutai ini. Kerajaan Kutai
Kartanegara di bawah raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa berhasil
menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura. Raja kemudian menamakan
kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pada abad ke-17, agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai
Kartanegara. Setelah itu, banyak nama-nama Islami yang digunakan pada
nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Sebutan raja pun
diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama
Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778). Tahun 1732, ibukota
Kerajaan Kutai Kartanegara pindah dari Kutai Lama ke Pemarangan. Lalu
pada tahun 1782 pindah lagi ke Tenggarong.
Melawan VOC
Sejarah mencatat, Sultan Aji Muhammad Idris yang merupakan menantu dari
Sultan Wajo Lamaddukelleng berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan
untuk turut bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis. Kala itu,
Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh
Dewan Perwalian.
Pada tahun 1739, Sultan A.M. Idris gugur di medan laga itu. Sehingga
sepeninggal Sultan Idris, terjadilah perebutan tahta kerajaan oleh Aji
Kado. Putera mahkota kerajaan Aji Imbut yang saat itu masih kecil
kemudian dilarikan ke Wajo. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai
Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad
Aliyeddin.
Setelah dewasa, Aji Imbut sebagai putera mahkota yang syah dari
Kesultanan Kutai Kartanegara kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis
dan kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut
dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji
Muhammad Muslihuddin. Penobatan Sultan Muslihuddin ini dilaksanakan di
Mangkujenang (Samarinda Seberang). Sejak itu dimulailah perlawanan
terhadap Aji Kado.
Perlawanan berlangsung dengan siasat embargo yang ketat oleh
Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam
perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap
Pemarangan. Tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC namun tidak dapat
dipenuhi.
Pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut kembali ibukota Pemarangan
dan secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Aji
Muhammad Muslihuddin di istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Aji Kado
dihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan.
Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota
Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September
1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan
pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah
kehilangan tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga
Arung yang berarti Rumah Raja, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer
dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.
Pada tahun 1838, Kesultanan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Sultan Aji
Muhammad Salehuddin setelah Aji Imbut mangkat pada tahun tersebut.
Inggris Dipukul Mundur
Pada tahun 1844, 2 buah kapal dagang pimpinan James Erskine Murray asal
Inggris memasuki perairan Tenggarong. Murray datang ke Kutai untuk
berdagang dan meminta tanah untuk mendirikan pos dagang serta hak
eksklusif untuk menjalankan kapal uap di perairan Mahakam.
Namun Sultan A.M. Salehuddin mengizinkan Murray untuk berdagang hanya di
wilayah Samarinda saja. Murray kurang puas dengan tawaran Sultan ini.
Setelah beberapa hari di perairan Tenggarong, Murray melepaskan tembakan
meriam ke arah istana dan dibalas oleh pasukan kerajaan Kutai.
Pertempuran pun tak dapat dihindari. Armada pimpinan Murray akhirnya
kalah dan melarikan diri menuju laut lepas. Lima orang terluka dan tiga
orang tewas dari pihak armada Murray, dan Murray sendiri termasuk di
antara yang tewas tersebut.
Insiden pertempuran di Tenggarong ini sampai ke pihak Inggris.
Sebenarnya Inggris hendak melakukan serangan balasan terhadap Kutai,
namun ditanggapi oleh pihak Belanda bahwa Kutai adalah salah satu bagian
dari wilayah Hindia Belanda dan Belanda akan menyelesaikan permasalahan
tersebut dengan caranya sendiri.
Kemudian Belanda mengirimkan armadanya di bawah komando t’Hooft dengan
membawa persenjataan yang lengkap. Setibanya di Tenggarong, armada
t’Hooft menyerang istana Sultan Kutai. Sultan A.M. Salehuddin diungsikan
ke Kota Bangun.
Panglima perang kerajaan Kutai, Awang Long gelar Pangeran Senopati
bersama pasukannya dengan gagah berani bertempur melawan armada t’Hooft
untuk mempertahankan kehormatan Kerajaan Kutai Kartanegara. Awang Long
gugur dalam pertempuran yang kurang seimbang tersebut dan Kesultanan
Kutai Kartanegara akhirnya kalah dan takluk pada Belanda.
Hindia Belanda
Pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan A.M. Salehuddin harus
menandatangani perjanjian dengan Belanda yang menyatakan bahwa Sultan
mengakui pemerintahan Hindia Belanda dan mematuhi pemerintah Hindia
Belanda di Kalimantan yang diwakili oleh seorang Residen yang
berkedudukan di Banjarmasin.
Tahun 1846, H. von Dewall menjadi administrator sipil Belanda yang
pertama di pantai timur Kalimantan. Pada tahun 1850, Sultan AM Sulaiman
memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Kutai kartanegara Ing
Martadipura.
Pada tahun 1853, pemerintah Hindia Belanda menempatkan J Zwager sebagai
Assisten Residen di Samarinda. Saat itu kekuatan politik dan ekonomi
masih berada dalam genggaman Sultan A.M. Sulaiman (1850-1899).
Pada tahun 1863, kerajaan Kutai Kartanegara kembali mengadakan
perjanjian dengan Belanda. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa
Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi bagian dari Pemerintahan Hindia
Belanda.
Tahun 1888, pertambangan batubara pertama di Kutai dibuka di Batu
Panggal oleh insinyur tambang asal Belanda, J.H. Menten. Menten juga
meletakkan dasar bagi ekspoitasi minyak pertama di wilayah Kutai.
Kemakmuran wilayah Kutai pun nampak semakin nyata sehingga membuat
Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi sangat terkenal di masa itu.
Royalti atas pengeksloitasian sumber daya alam di Kutai diberikan kepada
Sultan Sulaiman.
Tahun 1899, Sultan Sulaiman wafat dan digantikan putera mahkotanya Aji
Mohammad dengan gelar Sultan Aji Muhammad Alimuddin.
Pada tahun 1907, misi Katholik pertama didirikan di Laham. Setahun
kemudian, wilayah hulu Mahakam ini diserahkan kepada Belanda dengan
kompensasi sebesar 12.990 Gulden per tahun kepada Sultan Kutai
Kartanegara.
Sultan Alimuddin hanya bertahta dalam kurun waktu 11 tahun, beliau wafat
pada tahun 1910. Berhubung pada waktu itu putera mahkota Aji Kaget masih
belum dewasa, tampuk pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian
dipegang oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran
Mangkunegoro.
Pada tanggal 14 Nopember 1920, Aji Kaget dinobatkan sebagai Sultan Kutai
Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit.
Ekonomi Berkembang
Pada masa kejayaannya hingga tahun 1959, Kesultanan Kutai Kartanegara
ing Martadipura memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas, sekitar
94.700 km2. (Wilayah kekuasaannya meliputi beberapa wilayah otonom yang
ada di propinsi Kalimantan Timur saat ini, yakni: Kabupaten Kutai
Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, Kota
Balikpapan, Kota Bontang dan Kota Samarinda).
Sejak awal abad ke-20, ekonomi Kutai berkembang dengan sangat pesat
sebagai hasil pendirian perusahaan Borneo-Sumatra Trade Co. Di
tahun-tahun tersebut, kapital yang diperoleh Kutai tumbuh secara mantap
melalui surplus yang dihasilkan tiap tahunnya. Hingga tahun 1924, Kutai
telah memiliki dana sebesar 3.280.000 Gulden - jumlah yang sangat
fantastis untuk masa itu.
Tahun 1936, Sultan A.M. Parikesit mendirikan istana baru yang megah dan
kokoh yang terbuat dari bahan beton. Dalam kurun waktu satu tahun,
istana tersebut selesai dibangun.
Ketika Jepang menduduki wilayah Kutai pada tahun 1942, Sultan Kutai
harus tunduk pada Tenno Heika, Kaisar Jepang. Jepang memberi Sultan
gelar kehormatan Koo dengan nama kerajaan Kooti.
Indonesia merdeka pada tahun 1945. Dua tahun kemudian, Kesultanan Kutai
Kartanegara dengan status Daerah Swapraja masuk ke dalam Federasi
Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti
Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan
Kesultanan. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik
Indonesia Serikat.
Berakhir dan Hidup Kembali
Lalu 1953, Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai
yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten
berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.
Kemudian pada tahun 1959, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 tentang
“Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan”, wilayah Daerah
Istimewa Kutai dipecah menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni: (1) Daerah
Tingkat II Kutai dengan ibukota Tenggarong, (2) Kotapraja Balikpapan
dengan ibukota Balikpapan, (3) Kotapraja Samarinda dengan ibukota
Samarinda.
Pada tanggal 20 Januari 1960, bertempat di Gubernuran di Samarinda,
A.P.T. Pranoto yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Timur, atas
nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik dan mengangkat
sumpah 3 kepala daerah untuk ketiga daerah swatantra tersebut, yakni:
(1) A.R. Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai; (2) Kapt.
Soedjono sebagai Walikota Kotapraja Samarinda; dan (3) A.R. Sayid
Mohammad sebagai Walikota Kotapraja Balikpapan.
Sehari kemudian, 21 Januari 1960, bertempat di Balairung Keraton Sultan
Kutai, Tenggarong, diadakan Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai.
Inti dari acara ini adalah serah terima pemerintahan dari Kepala Kepala
Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Parikesit kepada Aji Raden
Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, Kapten Soedjono
(Walikota Samarinda) dan A.R. Sayid Mohammad (Walikota Balikpapan).
Sejak itu, pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara di bawah Sultan Aji
Muhammad Parikesit berakhir, dan dia pun hidup menjadi rakyat biasa.
Sampai 39 tahun kemudian, tepatnya tahun 1999, Bupati Kutai Kartanegara
Drs. H. Syaukani HR, MM berniat dan berupaya untuk menghidupkan kembali
Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Dia pun mengajak Putera Mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe Anoem
Soerja Adiningrat menghadap Presiden RI Abdurrahman Wahid di Bina Graha
Jakarta pada tanggal 7 Nopember 2000. Seperti gayung bersambut, niat dan
upaya mulia itu disetujui Presiden Wahid.
Lalu, hampir satu tahun berikutnya, tepatnya tanggal 22 September 2001,
Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem
Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan
gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II.
Keraton Jadi Museum
Kerajaan Kutai Kartanegara mengalami tiga kali perpindahan ibukota,
berarti istana atau keraton juga ikut berpindah. Namun, tidak ada
dokumentasi sejarah mengenai rupa bangunan istana raja-raja Kutai di
masa lalu, baik yang di Kutai Lama, ibukota pertama Kerajaan Kutai
Kartanegara maupun di Pemarangan, ibukota kerajaan yang kedua.
Dokumentasi bentuk istana Sultan Kutai hanya ada pada masa pemerintahan
Sultan A.M. Sulaiman yang kala itu beribukota di Tenggarong. Carl Bock,
seorang penjelajah berkebangsaan Norwegia yang melakukan ekspedisi
Mahakam pada tahun 1879 sempat membuat ilustrasi pendopo istana Sultan
A.M. Sulaiman. Istana Sultan Kutai pada masa itu terbuat dari kayu ulin
dengan bentuk yang cukup sederhana.
Setelah Sultan Sulaiman wafat pada tahun 1899, Kesultanan Kutai
Kartanegara kemudian dipimpin oleh Sultan A.M. Alimuddin (1899-1910).
Sultan Alimuddin mendiami keraton baru yang terletak tak jauh dari bekas
keraton Sultan Sulaiman. Keraton Sultan Alimuddin ini terdiri dari dua
lantai dan juga terbuat dari kayu ulin (kayu besi). Keraton ini dibangun
menghadap sungai Mahakam. Hingga Sultan A.M. Parikesit naik tahta pada
tahun 1920, keraton ini tetap digunakan dalam menjalankan roda
pemerintahan kerajaan.
Pada tahun 1936, keraton kayu peninggalan Sultan Alimuddin ini dibongkar
karena akan digantikan dengan bangunan beton yang lebih kokoh. Untuk
sementara waktu, Sultan Parikesit beserta keluarga kemudian menempati
keraton lama peninggalan Sultan Sulaiman.
Pembangunan keraton baru ini dilaksanakan oleh HBM (Hollandsche Beton
Maatschappij) Batavia dengan arsiteknya Estourgie. Dibangun dalam waktu
satu (1937). Setahun kemudian (1938) keraton baru ini secara resmi
didiami oleh Sultan Parikesit beserta keluarga.
Sementara itu, dengan telah berdirinya keraton baru maka keraton buruk
peninggalan Sultan Sulaiman dirobohkan. Kini, areal bekas keraton lama
ini telah diganti dengan sebuah bangunan baru yakni gedung Serapo LPKK.
Setelah pemerintahan Kesultanan Kutai berakhir (1960), bangunan keraton
seluas 2.270 m2 ini masih tetap menjadi tempat kediaman Sultan AM
Parikesit hingga tahun 1971. Lalu pada tanggal 25 Nopember 1971, Keraton
Kutai ini diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, yang
kemudian menyerahkannya kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 18
Februari 1976) dan dijadikan museum negeri dengan nama Museum
Mulawarman.
Di dalam Museum Mulawarman ini disajikan beraneka ragam koleksi
peninggalan kesultanan Kutai Kartanegara, di antaranya singgasana, arca,
perhiasan, perlengkapan perang, tempat tidur, seperangkat gamelan,
koleksi keramik kuno dari China, dan lain-lain.
Kemudian sejalan dengan penobatan putra mahkota H. Aji Pangeran Praboe
Anum Surya Adiningrat menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar
Sultan HAM Salehuddin II (22 September 2001), Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara membangun sebuah istana baru yang disebut Kedaton bagi
Sultan Kutai Kartanegara yang sekarang. Bentuk kedaton baru yang
terletak di samping Masjid Jami’ Hasanuddin ini memiliki konsep
rancangan yang mengacu pada bentuk keraton Kutai pada masa pemerintahan
Sultan Alimuddin. Sumber: kutaikartanegra.com ►mti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|