| MAJALAH TI - 29 |
|
|
 |
BUDAYA (01)
Kekayaan Budaya Dayak dan Kutai Kekayaan budaya salah
satu keagungan dari Kutai Kartanegara (Kukar). Masyarakat Kukar yang
terdiri dari banyak suku dan sub suku, memiliki agama dan bahasa yang
beragam. Juga memiliki bermacam-macam alat musik, baik berupa alat musik
petik, pukul dan tiup. Kaya dengan seni drama dan seni tari juga seni
pahat patung dan arsitektur.
Secara umum, masyarakat Kutai Kartanegara memiliki sifat yang ramah
tamah, jujur dan semangat gotong-royong yang tinggi. Mereka sangat
menghormati tamu atau pendatang dari luar. Masyarakatnya juga sangat
religius dan memiliki rasa toleransi antarumat beragama yang tinggi.
Sebagian besar penduduk Kukar terutama yang yang berdiam di daerah
pantai dan tepian sungai memeluk agama Islam. Penganut agama ini
terutama adalah suku Kutai dan suku-suku pendatang seperti Banjar, Bugis
dan Jawa. Suku Dayak ada juga yang memeluk agama Islam namun jumlahnya
tidak terlalu banyak. Sebagian lagi memeluk agama Kristen dan Katholik.
Penganut kepercayaan animisme juga masih ada, terutama penduduk yang
tinggal di pedalaman.
Bupati Kukar Prof Dr H Syaukani HR, MM, menjelaskan bahwa agama Islam
mulai dianut di Kerajaan Kutai Kartanegara pada awal abad ke-16 dan
berkembang pada awal abad ke-17, yakni pada masa pemerintahan Sultan Aji
Pangeran Sinum Panji Mendapa (sekitar tahun 1635). Hal ini terbukti dari
Undang Undang Dasar Kerajaan yang disebut Panji Selaten dan Kitab
Peraturan yang disebut Undang Undang Beraja Nanti yang bersumber kepada
hukum Islam. Sejak saat itu penganut agama Islam berkembang lebih banyak
di daerah ini.
Penganut agama Kristen menempati kedudukan kedua dalam hal banyaknya.
Pada mulanya penyiaran agama ini dilakukan para penginjil dari Jerman
dan Swiss. Badan yang mengirimkan perutusan Injil dari Jerman adalah
Rheinische Mission Gessellschaft zu Barmen (1863-1925). Kemudian
dilanjutkan oleh Evangelische Gessellschaft zu Basel dari Swiss. Setelah
itu banyak lagi badan-badan Kristen dan Katholik yang melakukan kegiatan
penginjilan di wilayah Kutai. Para pengikut agama Kristen dan Katholik
sebagian besar adalah dari suku Dayak.
Selain penganut agama Islam, Kristen dan Katolik, sampai saat ini masih
ada sebagian penduduk yang menganut kepercayaan asli setempat. Mereka
terutama adalah kelompok suku Dayak yang masih sedikit mendapat pengaruh
dari luar.
Kepercayaan asli berpusat pada penyembahan roh-roh lain (animisme)
serta percaya pada kekuatan yang tersembunyi di balik benda-benda alam
(dinamisme). Penganut kepercayaan ini memiliki berbagai macam upacara
baik yang berhubungan dengan siklus hidup dan kehidupan manusia
(kelahiran, kematian, perkawinan, sakit, dsb) dan upacara yang berkaitan
dengan siklus pertanian. Dalam menyelenggarakan upacara-upacara ini,
masing-masing suku memiliki variasinya sendiri-sendiri.
Penduduk asli di pedalaman dahulunya hidup berpindah-pindah (nomaden).
Karena mata pencaharian utama mereka adalah berladang dengan
berpindah-pindah serta berburu. Sedangkan penduduk yang tinggal di
daerah pantai dan tepi sungai, sudah sejak lama hidup dengan bercocok
tanam secara menetap. Sebagian mereka juga ada yang hidup sebagai
nelayan, pedagang, pegawai negeri dan karyawan swasta.
Selain menganut berbagai agama, masyarakat kabupaten ini juga terdiri
dari banyak suku dan sub suku yang memiliki bahasa yang beragam. Namun
sebagian bahasa sub suku sudah tidak dipergunakan lagi atau sudah punah.
Di antaranya bahasa yang dulunya digunakan oleh masyarakat Dayak di hulu
maupun hilir Mahakam seperti bahasa Umaa Wak, Umaa Palaa, Umaa Luhaat,
Umaa Palog, Baang Kelo, dan Umaa Sam.
Sesuai perkembangan zaman, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
telah dikenal hampir di seluruh pelosok Kutai. Bahasa Indonesia telah
menjadi bahasa yang lazim dipergunakan dalam acara-acara resmi serta
untuk berkomunikasi dengan orang luar daerah. Sedangkan bahasa suku
hanya dipergunakan untuk berkomunikasi antarsuku sendiri.
Penduduk Kukar terdiri dari beberapa suku yang secara garis besar dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu kelompok suku Melayu dan kelompok suku
Dayak.
Kelompok Suku Melayu, menurut kepercayaan penduduk setempat, dulunya
terdiri dari lima puak, yaitu: (1) Puak Pantun, tinggal di sekitar Muara
Ancalong dan Muara Kaman; (2) Puak Punang, tinggal di sekitar Muara
Muntai dan Kota Bangun; (3) Puak Pahu, mendiami daerah sekitar Muara
Pahu; (4) Puak Tulur Dijangkat, mendiami daerah sekitar Barong Tongkok
dan Melak; dan (5) Puak Melani, mendiami daerah sekitar Kutai Lama dan
Tenggarong.
Kemudian dalam perkembangan komunitas selanjutnya, Puak Pantun, Punang
dan Melani tumbuh dan berkembang menjadi suku Kutai yang memiliki bahasa
sama namun beda dialek. Suku Kutai adalah suku asli daerah ini.
Selanjutnya secara bergelombang berdatangan suku Banjar dan Bugis,
sehingga kelompok suku Melayu yang mendiami daerah Kutai terdiri atas
suku Kutai, Banjar dan Bugis.
Sementara, keturunan Puak Tulur Dijangkat tumbuh dan berkembang menjadi
suku Dayak. Mereka berpencar meninggalkan tanah aslinya dan membentuk
kelompok suku masing-masing yang sekarang dikenal sebagai suku Dayak
Tunjung, Bahau, Benuaq, Modang, Penihing, Busang, Bukat, Ohong dan
Bentian.
Suku Tunjung mendiami daerah kecamatan Melak, Barong Tongkok dan Muara
Pahu. Suku Bahau mendiami daerah kecamatan Long Iram dan Long Bagun.
Suku Benuaq mendiami daerah kecamatan Jempang, Muara Lawa, Damai dan
Muara Pahu. Suku Modang mendiami daerah kecamatan Muara Ancalong dan
Muara Wahau. Suku Penihing, suku Bukat dan suku Ohong mendiami daerah
kecamatan Long Apari. Suku Busang mendiami daerah kecamatan Long
Pahangai. Dan, Suku Bentian mendiami daerah kecamatan Bentian Besar dan
Muara Lawa.
Selain suku-suku tersebut, terdapat pula suku-suku lain yaitu suku Dayak
Kenyah, Punan, Basap, dan Kayan. Suku Kenyah merupakan pendatang dari
Apo Kayan, Kab. Bulungan. Kini suku ini mendiami wilayah kecamatan Muara
Ancalong, Muara Wahau, Tabang, Long Bagun, Long Pahangai, Long Iram dan
Samarinda Ilir.
Suku Punan merupakan suku Dayak yang mendiami hutan belantara di seluruh
Kalimantan Timur mulai dari daerah Bulungan, Berau hingga Kutai. Mereka
hidup dalam kelompok-kelompok kecil di gua-gua batu dan pohon-pohon.
Sebagian mereka dibina oleh Departemen Sosial melalui Proyek
Pemasyarakatan Suku Terasing.
Sementara, Suku Basap menurut cerita merupakan keturunan orang-orang
Cina yang kawin dengan suku Punan. Mereka mendiami wilayah kecamatan
Bontang dan Sangkulirang. Sedangkan Suku Kayan berasal dari Kalimantan
Tengah. Suku ini sering juga disebut dengan suku Biaju. Mereka mendiami
daerah kecamatan Long Iram, Long Bagun dan Muara Wahau.
Seni Musik Dayak
Suku Dayak memiliki bermacam-macam alat musik, baik berupa alat musik
petik, pukul dan tiup. Dalam kehidupan sehari-hari suku di pedalaman
ini, musik juga merupakan sarana yang tidak kalah pentingnya untuk
penyampaian maksud-maksud serta puja dan puji kepada yang berkuasa, baik
terhadap roh-roh maupun manusia biasa.
Selain itu, alat-alat musik ini digunakan untuk mengiringi
bermacam-macam tarian. Seperti halnya dalam seni tari, pada seni musik
pun mereka memiliki beberapa bentuk ritme, serta lagu-lagu tertentu
untuk mengiringi suatu tarian dan upacara-upacara tertentu.
Masing-masing suku memiliki kekhasannya sendiri-sendiri.
Alat musik Suku Dayak ini terdiri dari beberapa jenis, di antaranya
gendang, genikng, gong, glunikng, jatung tutup, jatung utang, kadire,
klentangan, sampe, suliikng, taraai, dan uding (uring).
Gendang juga terdiri dari beberapa jenis (suku Dayak Tunjung) yakni
prahi, gimar, tuukng tuat dan pampong. Genikng berupa sebuah gong besar
yang juga digantungkan pada sebuah standar (tempat gantungan) seperti
halnya gong di Jawa. Sedangkan alat musik Gong sama seperti gong di
Jawa, berdiameter 50-60 cm.
Glunikng adalah sejenis alat musik pukul yang bilah-bilahnya terbuat
dari kayu ulin. Mirip alat musik saron di Jawa. Jatung Tutup berupa
gendang besar dengan ukuran panjang 3 m dan diameter 50 cm. Jatung Utang
adalah sejenis alat musik pukul dari kayu yang berbentuk gambang.
Memiliki 12 kunci, tergantung dari atas sampai bawah dan dimainkan
dengan kedua belah tangan.
Kadire adalah alat musik tiup yang terbuat dari pelepah batang pisang
dan memiliki lima buah pipa bambu yang dibunyikan dengan mempermainkan
udara pada rongga mulut untuk menghasilkan suara dengung.
Klentangan, alat musik pukul yang terdiri dari enam buah gong kecil
tersusun menurut nada-nada tertentu pada sebuah tempat dudukan berbentuk
semacam kotak persegi panjang (rancak). Bentuk alat musik ini mirip
dengan bonang di Jawa. Gong-gong kecil terbuat dari logam sedangkan
tempat dudukannya terbuat dari kayu.
Sampe, sejenis gitar atau alat musik petik dengan dawai berjumlah tiga
atau empat. Biasanya diberi hiasan atau ukiran khas suku Dayak.
Sedangkan Suliikng adalah alat musik tiup yang terbuat dari bambu.
Suliikng terdiri beberapa jenis yakni bangsi/serunai, suliikng dewa,
kelaii dan tompong.
Alat musik Taraai berupa sebuah gong kecil yang digantungkan pada sebuah
standar (tempat gantungan). Alat pemukul terbuat dari kayu yang agak
lunak. Sedangkan uding (uring) adalah sebuah kecapi yang terbuat dari
bambu atau batang kelapa. Alat musik ini dikenal juga sebagai Genggong
(Bali) atau Karinding (Jawa Barat).
Seni Musik Kutai
Seni suara dan musik Kutai banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan
Islam. Di antaranya Musik Tingkilan dan Hadrah. Selain seni musik
(kesenian) suku Kutai juga memiliki seni drama tradisional yang disebut
Mamanda.
Musik Tingkilan adalah seni musik khas suku Kutai. Kesenian ini memiliki
kesamaan dengan kesenian rumpun Melayu. Alat musik yang digunakan adalah
Gambus (sejenis gitar berdawai enam), ketipung (semacam kendang kecil),
kendang (sejenis rebana yang berkulit sebidang dan besar) dan biola.
Musik Tingkilan disertai pula dengan nyanyian yang disebut betingkilan.
Betingkilan sendiri berarti bertingkah-tingkahan atau bersahut-sahutan.
Dahulu sering dibawakan oleh dua orang penyanyi pria dan wanita sambil
bersahut-sahutan dengan isi lagu berupa nasihat-nasihat, percintaan,
saling memuji, atau bahkan saling menyindir atau saling mengejek dengan
kata-kata yang lucu. Musik Tingkilan ini sering digunakan untuk
mengiringi tari pergaulan rakyat Kutai, yakni Tari Jepen.
Sedangkan Hadrah adalah kesenian yang mempergunakan alat musik terbang
atau rebana. Kesenian ini dibawakan sambil menabuh terbang tersebut
disertai nyanyian dalam bahasa Arab yang diambil dari kitab Barjanji.
Kesenian ini umumnya ditampilkan untuk mengarak pengantin pria menuju ke
rumah mempelai wanita, selain itu juga sering ditampilkan pada perayaan
hari-hari besar Islam.
Seni Drama Mamanda
Seni drama tradisional masyarakat Kutai disebut Mamanda. Istilah mamanda
diduga berasal dari istilah pamanda atau paman. Kata tersebut dalam
suatu lakon merupakan panggilan raja yang ditujukan kepada menteri,
wajir atau mangkubuminya dengan sebutan pamanda menteri, pamanda wajir
dan pamanda mangkubumi. Karena seringnya kata pamanda diucapkan dalam
setiap pementasan, maka istilah tersebut menjadi julukan bagi seni
pertunjukan itu sendiri.
Seni drama tradisional Mamanda merupakan salah satu seni pertunjukan
yang populer di Kutai di masa lalu. Kesenian ini selalu dipertunjukkan
pada setiap perayaan nasional, pada acara perkawinan, khitanan dan
sebagainya. Mamanda merupakan salah satu jenis hiburan yang disenangi
masyarakat.
Mamanda dapat disejajarkan dengan seni Kethoprak dan Ludruk di Jawa.
Jika jalan cerita yang disajikan dalam Mamanda adalah tentang sebuah
kerajaan, maka pementasan Mamanda tersebut mirip dengan Kethoprak. Namun
jika yang dilakonkan adalah cerita rakyat biasa, maka pementasan Mamanda
tersebut mirip dengan Ludruk. Dalam pementasannya, Mamanda selalu
menggunakan dua jenis alat musik yakni Gendang dan Biola.
Kesenian ini sudah jarang dipentaskan secara terbuka. Namun pada
Festival Erau di kota Tenggarong, kesenian Mamanda sering dipertunjukkan
secara terbuka untuk mengisi salah satu mata acara hiburan rakyat.
Sedangkan melalui media televisi lokal, kesenian Mamanda ditampilkan
seminggu sekali.
Seni Tari Dayak
Dayak memiliki berbagai jenis tari. Paling tidak ada 14 tari yang
menonjol, yakni Tari Gantar, Tari Kancet Papatai (Tari Perang), Tari
Kancet Ledo (Tari Gong), Tari Kancet Lasan, Tari Leleng, Tari Hudoq,
Tari Hudoq Kita, Tari Serumpai, Tari Belian Bawo, Tari Kuyang, Tari
Pecuk Kina, Tari Datun, Tari Ngerangkau, dan Tari Baraga’ Bagantar.
Tari Gantar adalah tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi.
Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian di
dalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya. Tarian ini cukup
terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara
lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga
dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini terdiri dari tiga versi yaitu
tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.
Tari Kancet Papatai/Tari Perang adalah tarian yang menceritakan tentang
seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian
ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh
pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari menggunakan pakaian
tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan perlatan perang seperti
mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku
dan hanya menggunakan alat musik Sampe.
Tari Kancet Ledo/Tari Gong, adalah tarian yang menggambarkan
kelemah-lembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk
lembut ditiup oleh angin. Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan
memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua belah
tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya
tari ini ditarikan di atas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut
juga Tari Gong.
Tari Kancet Lasan sebuah tarian yang menggambarkan kehidupan sehari-hari
burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena
dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan
merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan
posisinya seperti Tari Kancet Ledo.
Namun si penari Kancet Lasan tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu
burung Enggang. Dalam tari ini si penari banyak mempergunakan posisi
merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian
ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang
melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.
Tari Leleng, menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan
dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak
dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri ke dalam hutan. Tarian
gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu
Leleng.
Tari Hudoq, dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai
binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai
penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara
keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq
dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama
perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen
yang banyak.
Tari Hudoq Kita’ adalah tarian dari suku Dayak Kenyah yang pada
prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang,
yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa
terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik.
Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita’ dan Tari Hudoq ada
pada kostum, topeng, gerakan tari dan iringan musiknya. Kostum penari
Hudoq Kita’ menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai
kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang
banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng
dalam tari Hudoq Kita’, yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa
cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.
Tari Serumpai adalah tarian suku Dayak Benuaq yang dilakukan untuk
menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila.
Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai
(sejenis seruling bambu).
Tari Belian Bawo sebuah tarian dalam upacara Belian Bawo bertujuan untuk
menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain
sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan
pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini
merupakan tarian suku Dayak Benuaq.
Tari Kuyang, sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir
hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak
mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.
Tari Pecuk Kina, tarian yang menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah
dari daerah Apo Kayan (Kabupaten Bulungan) ke daerah Long Segar
(Kabupaten Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.
Tari Datun, merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan
jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari
bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo
Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan
atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap
daerah suku Dayak Kenyah.
Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak
Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi
yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga
menimbulkan irama tertentu.
Tari Baraga’ Bagantar, pada awalnya tarian upacara belian untuk merawat
bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Namun belakangan upacara
ini sudah diubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.
Seni Tari Kutai
Tidak kalah kaya dan agung, seni tari suku Kutai juga memiliki nilai
seni tinggi dan beragam. Pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua
jenis, yakni Seni Tari Rakyat dan Seni Tari Klasik.
Seni Tari Rakyat, merupakan kreasi artistik yang timbul di tengah-tengah
masyarakat umum. Gerakan tarian rakyat ini menggabungkan unsur-unsur
tarian yang ada pada tarian suku yang mendiami daerah pantai.
Ada beberapa ragam tari yang termasuk dalam Seni Tari Rakyat ini di
antaranya Tari Jepen. Tari Jepen adalah kesenian rakyat Kutai yang
dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam. Kesenian ini sangat
populer di kalangan rakyat yang menetap di pesisir sungai Mahakam maupun
di daerah pantai.
Tarian pergaulan ini biasanya ditarikan berpasang-pasangan, tetapi dapat
pula ditarikan secara tunggal. Tari Jepen ini diiringi oleh sebuah
nyanyian dan irama musik khas Kutai yang disebut dengan Tingkilan. Alat
musiknya terdiri dari gambus (sejenis gitar berdawai 6) dan ketipung
(semacam kendang kecil).
Karena populernya kesenian ini, hampir di setiap kecamatan terdapat
grup-grup Jepen sekaligus Tingkilan yang masing-masing memiliki gayanya
sendiri-sendiri, sehingga tari ini berkembang pesat dengan munculnya
kreasi-kreasi baru seperti Tari Jepen Tungku, Tari Jepen Gelombang, Tari
Jepen 29, Tari Jepen Sidabil dan Tari Jepen Tali.
Seni Tari Klasik, merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di
kalangan Kraton Kutai Kartanegara pada masa lampau. Termasuk dalam Seni
Tari Klasik Kutai adalah Tari Persembahan, Tari Ganjur, Tari Kanjar,
Tari Topeng Kutai, dan Tari Dewa Memanah.
Tari Persembahan, pada mulanya (dahulu) berupa tarian wanita kraton
Kutai Kartanegara, namun akhirnya tarian ini boleh ditarikan siapa saja.
Tarian yang diiringi musik gamelan ini khusus dipersembahkan kepada
tamu-tamu yang datang berkunjung ke Kutai dalam suatu upacara resmi.
Penari tidak terbatas jumlahnya, makin banyak penarinya dianggap bagus.
Tari Ganjur, merupakan tarian pria istana yang ditarikan secara
berpasangan dengan menggunakan alat yang bernama Ganjur (gada yang
terbuat dari kain dan memiliki tangkai untuk memegang). Tarian ini
diiringi oleh musik gamelan dan ditarikan pada upacara penobatan raja,
pesta perkawinan, penyambutan tamu kerajaan, kelahiran dan khitanan
keluarga kerajaan. Tarian ini banyak mendapat pengaruh dari unsur-unsur
gerak tari Jawa (gaya Yogya dan Solo).
Tari Kanjar, tidak jauh berbeda dengan Tari Ganjur, hanya saja tarian
ini ditarikan oleh pria dan wanita dan gerakannya sedikit lebih lincah.
Komposisi tariannya agak lebih bebas dan tidak terlalu ketat dengan
suatu pola, sehingga tarian ini dapat disamakan seperti tari pergaulan.
Tari Kanjar dalam penyajiannya biasanya didahului oleh Tari Persembahan,
karena tarian ini juga untuk menghormati tamu dan termasuk sebagai tari
pergaulan.
Tari Topeng Kutai, asal mulanya memiliki hubungan dengan seni tari dalam
Kerajaan Singosari dan Kediri, namun gerak tari dan irama gamelan yang
mengiringinya sedikit berbeda. Sedangkan cerita yang dibawakan dalam
tarian ini tidak begitu banyak perbedaannya, demikian pula dengan kostum
penarinya.
Tari Topeng Kutai ini disajikan untuk kalangan kraton saja, sebagai
hiburan keluarga dengan penari-penari tertentu. Tarian ini juga biasanya
dipersembahkan pada acara penobatan raja, perkawinan, kelahiran dan
penyambutan tamu kraton. Tari ini terdiri beberapa (12) jenis yakni
Penembe, Kemindhu, Patih, Temenggung, Kelana, Wirun, Gunung Sari, Panji,
Rangga, Togoq, Bota dan Tembam.
Tari Dewa Memanah adalah tari yang dilakukan oleh kepala Ponggawa dengan
mempergunakan sebuah busur dan anak panah yang berujung lima. Ponggawa
mengelilingi tempat upacara diadakan sambil mengayunkan panah dan
busurnya ke atas dan ke bawah, disertai pula dengan bememang (membaca
mantra) yang isinya meminta pada dewa agar dewa-dewa mengusir roh-roh
jahat, dan meminta ketentraman, kesuburan, kesejahteraan untuk rakyat.
Seni Pahat Patung dan Arsitektur
Suku Dayak mengenal seni pahat patung yang berfungsi sebagai ajimat,
kelengkapan upacara atau sebagai alat upacara. Patung Ajimat ini terbuat
dari berbagai jenis kayu yang dianggap berkhasiat untuk menolak penyakit
atau mengembalikan semangat orang yang sakit.
Ada juga patung yang berfungsi sebagai kelengkapan upacara. Terdiri dari
patung-patung kecil yang biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara
adat seperti pelas tahun, kuangkai, dan pesta adat lainnya. Patung kecil
ini terbuat dari berbagai bahan, seperti kayu, bambu hingga tepung
ketan.
Selain itu ada juga Patung Alat Upacara. Patung sebagai alat upacara ini
berupa patung blontang yang terbuat dari kayu ulin. Tinggi patung antara
dua sampai empat meter dan dasarnya ditancapkan ke dalam tanah sedalam
satu meter.
Pahatan Suku Dayak memiliki pola-pola atau motif-motif yang unik.
Umumnya polanya diambil dari bentuk-bentuk alam seperti tumbuhan,
binatang serta bentuk-bentuk yang mereka percaya sebagai roh dari
dewa-dewa, misalnya Naang Brang, Pen Lih, Deing Wung Loh, dan
sebagainya.
Seni Arsitektur Dayak terlihat menarik pada rumah tradisional suku Dayak
yang dikenal dengan sebutan Lamin. Bentuk rumah adat Lamin dari tiap
suku Dayak umumnya tidak jauh berbeda. Lamin biasanya didirikan
menghadap ke arah sungai. Dengan bentuk dasar bangunan berupa empat
persegi panjang. Panjang Lamin ada yang mencapai 200 meter dengan lebar
antara 20 hingga 25 meter.
Di halaman sekitar Lamin terdapat patung-patung kayu berukuran besar
yang merupakan patung persembahan nenek moyang (blang).
Lamin berbentuk rumah panggung (memiliki kolong) dengan menggunakan atap
bentuk pelana. Tinggi kolong ada yang mencapai empat meter. Untuk naik
ke atas Lamin, digunakan tangga yang terbuat dari batang pohon yang
ditakik-takik membentuk undakan dan tangga ini bisa dipindah-pindah atau
dinaik-turunkan. Kesemua ini adalah sebagai upaya untuk mengantisipasi
ancaman serangan musuh ataupun binatang buas.
Pada awalnya, Lamin dihuni oleh banyak keluarga yang mendiami
bilik-bilik di dalam Lamin, namun belakangan kebiasaan itu sudah semakin
memudar. Bagian depan Lamin merupakan sebuah serambi panjang yang
berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan upacara perkawinan, melahirkan,
kematian, pesta panen, dan lain-lain. Di belakang serambi inilah
terdapat deretan bilik-bilik besar. Setiap kamar dihuni oleh lima kepala
keluarga.
Lamin kediaman bangsawan dan kepala adat biasanya penuh dengan
hiasan-hiasan atau ukiran-ukiran yang indah mulai dari tiang, dinding
hingga puncak atap. Ornamen pada puncak atap ada yang mencuat hingga 3
atau 4 meter. Dinding Lamin milik bangsawan atau kepala adat terbuat
dari papan, sedangkan Lamin milik masyarakat biasa hanya terbuat dari
kulit kayu.
Seni Kriya
Seni Kriya atau kerajinan tangan di daerah ini juga beragam. Di
antaranya, Perisai/Kelembit, Ulap Doyo, Anjat, Bening Aban, Sumpitan,
Seraung, Mandau, dan Manik.
Seni kriya Perisai (Kelembit) adalah berupa alat penangkis dalam
peperangan melawan musuh. Perisai terbuat dari kayu yang ringan tapi
tidak mudah pecah. Bagian depan perisai dihiasi dengan ukiran, namun
sekarang ini kebanyakan dihiasi dengan lukisan yang menggunakan warna
hitam putih atau merah putih. Ada tiga motif yang digunakan untuk
menghias perisai, yakni motif Burung Enggang (Kalung Tebengaang), motif
Naga/Anjing (Kalung Aso’) dan motif Topeng (Kalung Udo’).
Selain sebagai alat pelindung diri dari serangan musuh, perisai juga
berfungsi sebagai alat penolong sewaktu kebakaran (melindungi diri dari
nyala api), perlengkapan menari dalam tari perang, alat untuk melerai
perkelahian, dan perlengkapan untuk upacara Belian. Kini perisai banyak
dijual sebagai souvenir dan penghias dekorasi rumah tangga.
Ulap Doyo, berupa kain dari serat daun doyo hasil kerajinan yang hanya
dibuat oleh wanita-wanita suku Dayak Benuaq yang tinggal di Tanjung
Isuy. Tanaman doyo yang menyerupai pandan tumbuh dengan subur di Tanjung
Isuy. Serat daunnya kuat dan dapat dijadikan benang untuk ditenun.
Tenunan doyo ini kemudian sering diolah menjadi pakaian, kopiah atau
hiasan dinding.
Anjat, berupa alat berbentuk seperti tas yang terbuat dari anyaman rotan
dan memiliki dua atau tiga sangkutan. Anjat biasanya digunakan untuk
menaruh barang-barang bawaan ketika bepergian.
Bening Aban, adalah alat untuk memanggul anak yang hanya terdapat pada
masyarakat suku Dayak Kenyah. Alat ini terbuat dari kayu yang biasanya
dihiasi dengan ukiran atau dilapisi dengan sulaman manik-manik serta
uang logam.
Sumpitan adalah alat yang biasa digunakan untuk berburu atau berperang
yang dikenal oleh hampir seluruh suku Dayak di Kalimantan. Alat ini
terbuat dari kayu ulin atau sejenisnya yang berbentuk tongkat panjang
yang diberi lubang kecil untuk memasukkan anak sumpitan. Sumpitan
dilengkapi dengan sebuah mata tombak yang diikat erat pada ujungnya dan
juga dilengkapi dengan anak sumpitan beserta wadahnya (selup).
Seraung adalah topi berbentuk lebar yang biasa digunakan untuk bekerja
di ladang atau untuk menahan sinar matahari dan hujan. Kini banyak
diolah seraung-seraung ukuran kecil untuk hiasan rumah tangga.
Mandau, adalah senjata tradisional khas suku Dayak yang menyerupai
pedang. Mandau terbuat dari besi dengan gagang terbuat dari kayu atau
tulang. Sebelum pembuatan dimulai, terlebih dahulu dilakukan upacara
adat sesuai dengan tradisi dari masing-masing suku Dayak.
Terakhir, Manik adalah kerajinan manik-manik khas suku Dayak biasanya
dibuat menjadi pakaian, menghias topi atau seraung maupun bening aban.
Kini banyak hasil kerajinan manik-manik yang diolah menjadi tas, kalung,
gelang, gantungan kunci dan aneka macam hiasan
lainnya.(kutaikartanegara.com) ►mti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|