ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
  C © updated 27092004 -110603  
   
  ► e-ti/atur  
  Nama:
H. Syamsul Muarif BA
Lahir:
Kandangan, Kalimantan Selatan, 8 Desember 1948
Isteri:
Siti Zubaidah
Anak:
Fadhillah Akbar (S2)
Farid Al Ma'arif (S2)
Ida Zuraida (S2)
Fajar Muttaqien (S1)
Fauzie Al Hamidy (mahasiswa)
Fitri Rahmiyani (SMP)
Ayah:
H. Mandar
Ibu:
Siti Wasnah

Organisasi/Karir
Ketua HMI Cabang Kandangan
Ketua Pengurus Daerah PII Kabupaten Kandangan
Ketua Umum Dema IAIN Antasari Banjarmasin (1975-1977)
Ketua Umum Badko HMI Kalimantan (1977-1979)
Ketua KNPI Kalimantan Selatan (1982-1985)
Ketua AMPI Kalimantan Selatan (1985-1989)
Anggota DPRD (1982-1987)
Anggota DPR (1987-2001)
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR-RI (1999-2001)
Wakil Sekjen DPP Golkar (1998-2004)
Menteri Negara Komunikasi dan Informasi (2000-2004)
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Barat No.9, Jakarta Pusat
Telp (021) 3844227
 
     

==   1        5   6   7   ==

Wawancara Syamsul Mu'arif (4)

Langkah Menuju Information Society

 

WAWANCARA 02: Kembali ke grand strategy itu, kan selama dua atau tiga tahun terakhir Tim Anda sudah merumuskan yang tadi sudah dijelaskan sedemikian rupa. Bagaimana titik sambungnya nanti dengan pemerintahan yang baru. Apa upaya Anda sehingga apa yang dirumuskan itu bisa diterima atau diterapkan dan dilanjutkan oleh pemerintahan yang akan datang?

 

Kementerian ini, institusi ini menyiapkan memori serah terima. Dan memori serah terima itu saya rencanakan untuk dipublish. Jadi, jangan hanya catatan menteri saya kepada menteri baru, habis itu habis. Tapi saya bicara kepada publik begini keadaannya. Jadi katakanlah setelah serahterima itu menteri yang menyerahkan dengan menteri yang menerima itu duduk bersama dengan media. Dan memori serahterima itu paling tidak resumenya dibagikan supaya itu juga menjadi milik publik.

 

Dan satu lagi, grand strategy dalam bidang komunikasi dan informasi ini pada tahun 2005 akan dibawa ke dalam sidang WSIS (World Summit on Information Society), di Tunisia, dipersandingkan dengan yang lain-lain di dunia. Jadi memang dunia yang global itu betul, hampir menyatu itu benar.

 

Presiden dan Wakil Presiden yang baru terpilih ini juga ada dalam kabinet kemarin. Apakah grand strategy ini juga ada dalam pikiran mereka waktu bersama-sama dalam kabinet?

 

Kalau yang baru belum, belum tahu persis. Karena itu tadi harus ada memori serah terima untuk pemerintahan yang baru. Namun sebagian besar sudah dikoordinasikan dalam kabinet. Makanya UU lahir, Keppres lahir, Inpres lahir. Itu setelah ada mekanisme dari kita ke koordinator bidang Polkam, dari Koordinator bidang Polkam nanti ke Sekneg.

 

Seluruh alur kebijakan itu tetap terintegrasi. Dan, setiap kebijakan di sini harus diketahui oleh menteri-menteri yang lain. Jadi ketika Keppres tentang TKTI lahir seluruh menteri itu harus terima. Ketika Inpres tentang e-Gov seluruh menteri harus terima. Ketika saya membikin pedoman maka saya sampaikan kepada seluruh menteri termasuk gubernur dan bupati.

 

Berarti, calon presiden yang baru dan wakil presiden yang baru merupakan inner circle ketika platform ini digagas?

 

Oh, iya, ya.

 

Secara substansial ada perbedaan yang sangat fundamental jika suatu saat kementerian ini menjadi departemen. Artinya, kebetulan bidang ini informasi dan informasi itu bersifat transparan, demokratis, itu berbeda dengan model-model departemen yang kita kenal selama ini. Bagaimana menghadapi disonansi kognitif demikian?

 

Ya. Makanya tadi saya katakan, yang terkait dengan informasi dan industri informasi itu dalam tanda petik milik masyarakat, tidak dicampuri oleh pemerintah. Apa yang disiapkan oleh Pemerintah, ICT tadi, information and communication technology, elektronic government, penyusunan data yang masih sangat dibutuhkan untuk pelayanan publik dan penyiapan administrasi pemerintahan, termasuk tadi e-procurement, pelelangan elektronik. Makanya kita harus mulai dulu dari sekolah. Sekolah sudah ngerti internet, begitu dia jadi pegawai negeri dia sudah ngerti internet, dia bisa mendayagunakan ini. Itu aspek yang berjiwa strategis sekali baik jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Nah, konsentrasi nanti, kalau dia jadi departemen bukan informasi yang ditangani, tapi aspek telematika ini. Karena telematika itu akan menjadi pemicu atau trigger untuk kemajuan bangsa ke depan.

 

Salah satu kendala departemen adalah birokratis, berbeda spiritnya dengan informatika?

 

Tadi sudah saya katakan, kelemahan birokrasi itu apa, budaya birokrasi yang dibentuk 32 tahun dia menjadi penguasa, dia menjadi pemerintah, kita salah membuat istilah. Istilahnya orang birokrasi itu pemerintah, pemerintah itu kan berarti tukang perintah. Mestinya, birokrasi itu public service, pelayanan publik sebetulnya. Tapi kita tidak pakai istilah itu, salah sendiri kan. Nah, makanya itu harus kita ubah mentalnya dari birokrasi itu menjadi melayani. Kalau belum ada mentally itu, ICT ini nggak jalan di pemerintahan, dia akan dilawan. Karena apa, karena orang yang biasa dapat amplop sekarang nggak dapat amplop lagi.

 

Tetapi yang dijamin oleh pemerintah apa, kesejahteraan pegawai negeri akan lebih baik. Pegawai negeri tidak akan meluas banyak, sektor pemerintah akan berkurang, sektor swasta akan meluas. Tetapi pegawai negeri yang efisien dan efektif itu sudah memiliki data, dia hanya manajemen data.

 

Manajemen data akan mempermudah pelayanan. Jadi kalau umpamanya seseorang hilang berapa tahun, tinggal siapa nama, siapa bin-nya, siapa keluarganya, dan nomor kependudukannya. Seperti di Amerika, walau seseorang menghilang 20 tahun, jika nomor kependudukannya dicari, masih ada. Kira-kira akan seperti itu yang akan kita bangun ke depan.

 

Jadi, nggak mungkin lagi satu orang memiliki dua nomor, nggak mungkin lagi. Karena kalau umpama beda, orangtua beda, bahkan kalau data itu benar itu masuk urat mata masuk ke dalam sistem. Jadi potret orang itu ada di komputer. Nggak susah lagi cari yang namanya Azhahari itu jika sudah ada datanya dalam komputer.

 

Dengan paperless di era informatika kehilangan pula kontak dengan orang lain sekaligus kehilangan “mata pencaharian” tambahan bagi banyak orang?

 

Betul, tapi itu di birokrasi! Tadi saya sudah katakan terjadi efisiensi di pemerintahan, di birokrasi. Birokrasi akan menyedikit tetapi swastanya menguat. Karena apa, karena begitu saya membangun sistem informasi, saya tidak boleh menunjuk staf atau seseorang membangun sistem informasi, tapi harus bekerja sama dengan suatu perusahaan.

 

Di Malaysia e-procurement disebut dengan e-perolehan. E-Perolehan itu menunjuk (tender) suatu perusahaan, untuk bertanggungjawab mengelola selama delapan tahun. Setelah delapan tahun, baru dilakukan birokrasi. Jadi birokrasinya magang dulu dalam sistem itu. Kalau nanti begitu ditangani birokrasi, menurun, itu berarti birokrasinya yang nggak benar. Tapi kalau dia itu bisa jalan seterusnya akan terjadi perbaikan administrasi pemerintahan yang hebat ke depan.

 

Anda tadi kemukakan, setiap pertumbuhan informasi satu persen akan menimbulkan pertumbuhan ekonomi tiga persen. Apakah kesadaran ini sudah dimiliki oleh semua aparat pemerintah (perencana dan penentu kebijakan) di negara ini, untuk bisa memprioritaskan pertumbuhan informasi?

 

Belum, belum, belum! Karena kita masih berada dalam sistem tatanan lama yang belum direkonstruksi tadi. Contohnya sederhana. Duopoli telekomunikasi, UU-nya itu sudah liberalisasi tapi sampai sekarang masih duopoli. Sebetulnya secara hakekatnya itu bertentangan dengan UU. Tapi itu masih terjadi. Kenapa? Karena belum berpola pikir untuk yang tadi, yang reformasi.

 

Padahal secara filosofis, siapa yang menguasai informasi dia yang menguasai dunia?

 

Betul.

 

Sebenarnya itu sudah diketahui oleh umum, tetapi secara ekonomis tadi, hitungan pertumbuhan itu belum membumi?

 

Ya, belum membumi. Itu yang tadi memerlukan kesamaan visi dan persepsi. Dan saya terus terang saja termasuk yang bertanya di mana itu disusun? Kita nggak ada GBHN lagi, berarti kan seluas pandang presiden saja yang nanti akan menyusun itu. Presiden, pada awalnya mudah-mudahan membentuk perencanaan yang komprehensif untuk lima tahun. Makanya kalau di Malaysia ada yang namanya Visi 2020, itu kan pembangunan jangka panjang. Bahaya di kita adalah ganti presiden ganti pola, itu bahaya.

 

Itu yang kita khawatirkan. Padahal sudah demikian baik perencanaan mengangkat Indonesia untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lain dalam penguasaan informasi oleh kementerian ini dalam tiga tahun terakhir. Bagaimana ini nanti bisa berlanjut, atau mungkin Anda yang akan tetap menterinya supaya ada jaminan kesinambungannya?

 

Ya, tidak harus! Dari segi peran bisalah walaupun di luar pemerintahan. Yang namanya pikiran dan konsep kan harus tetap untuk kepentingan bangsa. Kalau saya melihatnya seperti itu, saya hanya berpikir untuk melaksanakan tugas. Jadi kalau Bung Robin umpamanya mikirin nih Pak Syamsul kapan ke Cikeas, saya nggak, saya nggak akan lakukan itu. Tapi kalau diperlukan, saya akan menyiapkan diri.

 

Bagaimana informasi dan grand strategy ini sampai ke sana?

 

Ha…ha…ha… Tadi kan sudah dikatakan, kita itu di kabinet mulainya sama-sama. Jadi saya ingin katakan ke TokohIndonesia ini ya, ketika saya menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi saya lapor ke koordinator saya. Koordinator saya itu namanya Susilo Bambang Yudhoyono, karena beliau adalah Menko Polkam. Apa pernyataan beliau yang pertama? Beliau tidak bicara tentang kebebasan pers atau segala macam, nggak. Melainkan, “Pak Syamsul, pelajari yang namanya Malaysia.”

 

Itu bulan Agustus. September saya diundang APICTA (Asia Pasific Information and Communication Technology Award), di Malaysia, memberi penghargaan tahunan kepada orang-orang berprestasi di bidang teknologi informasi. Saya datang ke sana. Itulah pertama kali saya berkenalan dengan Multimedia Supercoridornya Malaysia.

 

Mahathir Muhammad membangun tiga jaringannya, yaitu ibukota negara dipindahkan dari Petaling Jaya di Kuala Lumpur ke Putra Jaya. Putra Jaya seluruhnya jaringan teknologi informasi wireless. Jaringan industrinya dibangun di Cyber Jaya. Di sana untuk industri teknologi informasi, 10 tahun bebas pajak. Kemudian, dibangun Kuala Lumpur International Airport, nomor dua sistem pelayanan terbaik di dunia setelah Hongkong. Siapa di balik ini? Mahathir Muhammad. Dan siapa yang dia gunakan sebagai penasehatnya? Bill Gates.

 

Pemerintahan Ibu Mega secara makro berhasil, tetapi keberhasilan dari sisi mikro kan banyak masyarakat yang nggak tahu. Bagaimana lebih mempopulerkan Kominfo agar masyarakat dapat mengakses informasi pertumbuhan suatu daerah kabupaten, misalnya?

 

Jadi, nanti yang sedang kita rencanakan, bantuan Bank Dunia sedang kita usulkan, itu adalah Pengembangan Kelompok Informasi Masyarakat dan Balai Informasi Masyarakat. Balai Informasi Masyarakat ini bukan konsep pemerintah, tapi konsep TKTI-Mastel (Masyarakat Telematika). Mereka membuat konsep sejenis kios di pedesaan.

 

Sekarang, baru Telekomuikasi Pedesaan melalui Departemen Perhubungan yang dikirim. Nanti yang akan kita bangun itu Balai Informasi Masyarakat yang oleh masyarakat sendiri. Pemerintah hanya membantu. Barangkali operatornya satu dua tahun akan disiapkan oleh negara. Lalu, nanti manakala e-gov itu sudah jalan, maka setiap institusi pemerintahan akan melayani publik, baik melalui internet, telepon maupun surat tentang informasi.

 

Kalau itu di masyarakat terbangun, kemudian di pemerintahan terbangun dengan e-gov ini, orang mau tahu yang namanya Kutai Kertanegara berapa pendapatannya satu tahun, mana kita tahu itu nomor satu di Indonesia, punya pendapatan Rp 2,5 triliun.

 

Balai Informasi Masyarakat bukan hanya informasi kepada pemerintah seperti yang anda katakan dibutuhkan itu tadi, tetapi petani di kampung itu mau beternak itik, dia nggak ngerti dimana dapat bibitnya, bagaimana memeliharanya, apa persyaratan lingkungannya, dia nggak ngerti. Dia tanya melalui Balai Informasi Masyarakat, masuk ke BPPT, BPPT punya website yang memberikan modul pembelajaran tentang macam-macam, beternak itik umpamanya, menanam cabe umpamanya.

 

Kalau dia nelayan, mau melaut tanyanya ke BMG, arus laut kaya apa, kekencangan angin kaya apa, ikan bergerak ke mana, kira-kira begitu. Kalau teknologi informasi ini lebih canggih lagi, seperti terjadi di Korea Selatan, itu ikan bergerak dipotret dari satelit, dipotret dari kapal. Itu kira-kira manfaat ke depan dengan adanya sistem ini.

 

Tapi saya masih mengatakan ini mimpi. Di negara lain ini sudah terjadi. Di Philipina dia pakai kios. Nanti orang kampung di Kalimantan, ada anaknya sekolah di Jakarta, dia mau ngirim wesel bagaimana. Melalui POS, karena nanti kan wesel itu tidak melalui kartu wesel seperti yang dulu, sudah internet langsung terkirim masuk ke rekening anak kita di Jakarta.

 

Rencana implementasi kapan kira-kira?

 

Sebetulnya langkah terobosannya banyak, Ibu Mega banyak melakukan sesuatu tetapi sulit untuk dibahasakan karena informasi tadi terputus. Saya banyak diketawakan juga, lho kok ini kurang bunyi. Karena orang beranggapan kita ini juru bicara pemerintah, tapi tidak juru bicara pemerintah, ya susahlah.

 

Kalau tidak salah, tahun 2015 harus dicapai untuk bisa masuk information society, apa saja syarat-syaratnya dan apakah bisa dicapai Indonesia?

 

Berat untuk dicapai Indonesia tapi kita harus menuju ke arah sana. Salah satunya adalah siaran radio dan televisi harus 100 persen penduduk dapat menerimanya. Kalau itu barangkali bisa. Tapi internet tadi, baru empat persen akses, harus ditingkatkan menjadi lebih 50 persen penduduk, itu yang cukup berat. Kemudian sistem informasi itu terintegrasi mulai dari sekolah. Jadi sistem kurikulumnya akan sama, SD di manapun akan sama kurikulumnya. Kemudian akan dikembangkan e-learning, e-library. Sistem perpustakaan dan pembelajarannya menggunakan teknologi informasi. Jadi orang bisa belajar dengan model pembelajaran internet. Itu sudah termasuk yang direncanakan untuk tahun 2015.

 

Desa, kecamatan, kota/kabupaten tingkat dua sampai propinsi dan pusat, integrasi dalam sistem informasinya. Perpustakaan dan kebudayaan juga sudah seperti itu. Jadi ada sistem-sistem informasi yang integrated, makanya di nasional kita harus membangun database nasional. Di propinsi ada database propinsi, kabupaten ada database kabupaten, atau data center.

 

Data-data center ini menjadi bagian dari sistem nasional di komunikasi dan informasi. Ada 10 ukuran-ukuran itu. Sama dengan Millenium Development Goal (PBB) dan information society (ITU) serta knowledge society (Unesco). Ini sudah kesepakatan dunia yang kita harus mengarah ke sana, terlepas dari segala kelemahan kita. Makanya saya katakan, paling tidak kita mimpi dululah.

 

Tadi Anda mengatakan tidak akan pergi ke Cikeas, apa itu terkait dengan posisi Anda sebagai kader Golkar, atau bagaimana?

 

Maksud saya, saya berprinsip dalam hidup itu adalah tidak mengejar jabatan. Saya tidak tahu mengapa saya dibentuk seperti itu. Berkeinginan itu tidak boleh. Itu prinsip hidup saya. Tetapi kalau saya diberi tugas, saya harus laksanakan dengan baik. Semampu saya.

 

Waktu jadi menteri, saya bersedih di depan anak dan isteri. Saya katakan, saya jadi anggota DPR saja sudah jarang makan bersama di rumah. Apalagi jadi menteri! Itu kesedihan saya yang pertama.

 

Kesedihan yang kedua, di tengah keluarga itu, hadir kawan-kawan masyarakat Kalimatan Selatan, karena saya orang Kalimantan Selatan. Saya katakan mulai saat ini, saya tidak bisa berpikir untuk Kalimantan lagi, saya harus berpikir untuk Indonesia. Mohon maaf, saya bilang, saya tidak boleh memprioritaskan kampung saya karena saya sudah milik nasional.

 

Filosofi-filosofi seperti itu memang agak sulit kita kembangkan dalam dunia yang katakanlah zaman edan kalau kita pakai Ronggowarsito.

 

Sekarang ini, saya ingin sampaikan, saya diminta oleh partai saya di Kalimantan Selatan untuk pulang dan menjadi calon gubernur. Apa jawaban saya kepada masyarakat? Saya bilang, saya tidak memiliki ambisi apa pun. Tapi kalau tulus masyarakat itu menghendaki saya untuk pulang walaupun saya ini adalah menteri, saya siap untuk melaksanakan tugas itu. Tapi missionnya apa kalau saya harus pulang?

 

Saya kebetulan mengikuti jam 11 malam di SCTV, ada satu kabupaten baru namanya Tanah Bumbu. Di Tanah Bumbu itu, ilegal minning-nya luar biasa di Kalimantan Selatan. Jadi, kalau keluar malam, kota Banjarmasin penuh dengan arus masuk dan keluar kota angkutan batu bara. Jadi, setengah badan jalan rusak sebelahnya nggak. Karena yang lewat situ bawa batu bara kalau pulang kan sudah kosong.

 

Pak Nabiel Makarim memperhitungkan dibutuhkan 3-4 trilyun untuk mereklamasi, untuk mengembalikan alam. Betapa rusaknya, karena penambangan liar. Makanya, sekarang di Kalimantan Selatan ada ratusan sungai yang sudah tidak ada lagi airnya. Bayangkan kalau Kalimantan sudah kayak begitu, dia paru-paru dunia, apa yang akan terjadi? Kira-kira itu alasannya, pulang dong Pak, untuk memperbaiki keadaan ini. Kita perlu menyadarkan masyarakat bagaimana memperbaiki sungai itu tanpa merusak perekonomian rakyat.

 

Jadi, saya bilang, kalau itu tujuannya, saya siap kalau memang masyarakat menghendaki. Lalu apa yang saya katakan, tapi minta ijin dulu dong melalui mekanisme partai. Saya secara pribadi, tidak menjadi soal apakah menjadi menteri, menjadi gubernur, atau tidak jadi apa-apa.

Saat ini, saya mempunyai tiga pilihan. Pertama, menteri, tapi partai saya kan mengatakan kalau saya jadi menteri, saya dipecat. Pak Akbar mengatakan itu. Saya tunduk kepada partai. Saya tidak tahu kalau umpamanya betul-betul diminta, saya harus bersedia dipecat atau saya harus menolak. Ini masalah yang pertama. Ini terjadi bulan Oktober.

 

Kedua, bulan Desember, Munas partai saya. Terus terang saja, saya agak kurang sependapat dengan Pak Akbar untuk menempatkan diri sebagai oposisi permanen. Kalau oposisi loyal barangkali boleh. Tapi kalau oposisi dalam arti permanen rasanya tidak cocok. Permanen itu ditunjukkan dengan tidak mau satu orang pun dari kadernya untuk duduk di kabinet.

 

Nah, berarti saya juga harus memikirkan bagaimana partai saya lima tahun ke depan. Bukan menjadi ketua umum partai. Bukan. Tapi kalau umpamanya partai saya membutuhkan, saya kan nggak bisa pulang untuk yang ketiga yaitu kira-kira awal tahun 2005, pemilihannya sendiri terjadi pada bulan Juni yaitu pemilihan gubernur.

 

Dari ketiga pilihan ini harus dilakukan manajemennya dari sekarang, melakukan pilihan-pilihan, dan satu antara lain tidak bisa saling berhubungan. Umpamanya, kalau saya masuk ke kabinet, saya harus berhenti dari partai, berarti nggak bisa ikut di partai. Kalau saya jadi gubernur, saya nggak bisa ikut DPP, nggak bisa jadi menteri. Jadi, ini harus alternatif, ini yang harus saya pikirkan. Tidak berarti saya harus menteri tidak berarti saya harus jadi gubernur. Saya bisa saja ada ambil di partai, tidak menjadi ketua umum partai tapi untuk menjaga supaya partai saya ini lima tahun ke depan dihormati oleh rakyat karena menyelamatkan perjalanan republik. Saya ingin seperti itu.

 

Kalau saya berada di kabinet, saya ingin juga, walaupun presidennya Ibu Mega PDI-P, wakil presidennya PPP, saya Golkar, saya dan kawan-kawan di lintas fraksi itu bertekad ini harus selesai sampai 2004. Makanya saya tidak berpikir untuk keluar dari kabinet walaupun kawan-kawan saya banyak yang marah. Tapi akhirnya apa, eh, ternyata partai saya mendukung Ibu Mega.

 

Padahal waktu pertama-pertama, saya termasuk yang agak dimusuhi. Loh kok kita berkelahi di bawah, Pak Syamsul ikut ditempatkan di atas. Kan begitu waktu Pemilu 99.

Tapi baiknya ada kesadaran. Platform bersama itu yang penting bagi kepentingan nasional. Nah, kalau sudah ada hitam putih seperti yang dikembangkan Pak Akbar sekarang, wah bisa membahayakan juga. Nggak tahulah itu yang kemaren. Saya tidak melakukan pilihan.

 

Saya ikut filosofi air mengalir saja. Saya ada di dalamnya, yang penting saya tidak tenggelam dalam air itu. Tapi mengikuti arus, bersahaja apa adanya.

 

Anda punya filosofi demikian, padahal waktu menggagas Lintas Fraksi dahulu menjatuhkan Gus Dur, Anda termasuk motor yang sangat aktif?

 

Dulu itu lintas fraksi, saya ketua fraksi. Pada waktu itu, presidennya Gus Dur. Saya tidak ingin menjatuhkan Gus Dur, saya ingin memperingati Gus Dur agar memperbaiki manajemen pemerintahan. Saya tiga kali pada waktu itu, kalau tidak salah, melalui orang-orang tertentu diminta untuk bertemu dengan Gus Dur. Saya menolak. Barangkali saya lebih cepat jadi menteri kalau seandainya saya mau datang pada waktu itu. Karena apa. Saya ingin memberi peringatan pada Gus Dur untuk memperbaiki manajemen pemerintahannya. Tapi nggak jalan-jalan.

 

Sekarang setelah saya tidak di pimpinan fraksi lagi, terkonsentrasi di sini, kegiatan untuk partai pun saya kurang. Tidak lagi aktif dalam lintas partai. Makanya dalam konteks membangun lintas partai yang sekarang, membangun koalisi itu, saya tidak mengambil peran. Kampanye pun saya tidak banyak mengambil peran karena kebanyakan harus melaksanakan tugas di sini. Saya beranggapan ini tugas negara, tugas partai masih ada yang lain, kecuali memang sangat dibutuhkan.

 

Ini kan waktunya sudah sangat pendek untuk menjatuhkan pilihan-pilihan, menjadi menteri atau apa?

 

Saya katakan, saya tidak melakukan pilihan itu. Saya mengikuti seperti air mengalir. Saya dibawa ke mana, di mana nyangkutnya, saya akan terima semua kenyataan itu. Termasuk pulang kampung tidak jadi apa-apa pun, itu sudah saya siapkan.

 

Itu artinya, kita harus siap yang namanya kita merangkak dari bawah pelan-pelan ke atas, yah, kita harus siap ke bawah lagi. Makanya belajarlah. Kemarin, saya ke Semarang, nggak pakai ajudan. Kita belajar lagi untuk duduk bukan di ruang VIP tapi biasa. Tadi pagi pulang juga begitu. Jadi di airport, orang Garuda heran. Kok Bapak nggak ada ajudan, nggak ada yang melayani lagi. Saya paling dua tiga kali pakai VIP di Bandara Soekarno Hatta. Saya memang terbiasa hidup yang biasa saja. Duduk pun bersama kawan-kawan yang umum saja. Sering orang tanya, “Kok bapak tidak di VIP?” Yah, tidak harus di VIP dong. Jadi saya punya keyakinan, selama prinsip hidup itu saya pegang tidak dimusuhi orang, paling tidak.

 

Kebersahajaan Anda sudah banyak diketahui orang. Selama menjadi menteri, tiga tahun terakhir ini, bagaimana kehidupan keluarga apakah berubah?

 

Saya paling sulit dimintai oleh kawan bantuan untuk mencari pekerjaan bagi anaknya. Itu paling sulit buat saya, karena saya tidak mencarikan pekerjaan untuk anak saya. Kalau saya carikan pekerjaan untuk orang lain, saya akan dicemburui oleh anak saya. Itu contoh sederhana saja dari kehidupan saya.

 

Anak saya di sekolah pintar sendiri, tidak pernah satu surat pun saya minta supaya diterima di ITB. Tapi anak saya diterima di ITB, diterima di UI melalui perjuangannya sendiri, kepintarannya sendiri. Saya hanya membangun disiplin di rumah tangga walaupun saya dalam bentuk yang sangat terbatas bertemu dengan keluarga tapi disiplinnya harus tetap.

Kalau saya nggak ada di rumah, saat maghrib tiba, anak saya harus mimpin ibunya ikut di belakang, berjama’ah. Itu kan pembentukan karakter.

 

Saya bilang, berdosa saya menjadi orang yang membangun orang lain, katakan begitu, berjuang untuk orang lain, untuk bangsa, selama rumah tangga saya sendiri hancur-hancuran. Tapi saya katakan pada anak-anak, jangan karena bapak menjadi menteri, kamu jadi lebih hebat, lebih tinggi. Tapi kamu itu hebat karena punya prestasi. Itu yang saya bangun dalam rumah tangga saya. Prestasi belajar anak-anak sebetulnya memang bagus.

 

Bayangkan saya sampai menyuruh istri saya berhenti dari pegawai negeri. Tahun 1987 saya bersama keluarga pindah ke Jakarta. Istri saya mengurus kepindahannya ke Dinas Pendidikan DKI. Sudah masuk berkasnya, pulang. Besoknya datang orang DKI itu ke rumah, sore-sore: ‘Ibu, kalau ingin beres ini, gampang saja, uang doang’.

 

Itulah kata-kata pertama yang dikenal anak saya tentang 'kejahatan' Jakarta. Anak saya mendengar uang doang itu. Jadi saya bilang ke istri, ‘kalau begitu sudahlah, nggak usah, ngurus anak-anak sajalah, daripada anak-anak kita nanti rusak’. Jadi istri saya cuti di luar tanggungan negara dan pensiun dipercepat, dia ngurus anak, karena saya anak banyak, enam orang. Kalau saya lepas, siapa yang mengontrol anak-anak. Itulah, saya membangun rumah tangga.

 

Apakah anak-anak Anda merasakan memperoleh previledge selama Bapak menjadi menteri?

 

Sulit saya mengevaluasi. Barangkali anak saya juga nggak suka dengan saya. Barangkali. Karena saya terlalu keras, sering marah. Anak saya yang pertama S-2, yang kedua S-2, dan ketiga juga S-2 sudah, yang keempat baru selesai S1-nya. Yang tiga ini kerja.

 

Yang ketiga ini perempuan di UI Sosiologi. Bayangkan saya marah sama dia kenapa, karena dia berhenti bekerja agar dia bisa menyelesaikan tesis S2-nya. Dia dulu bekerja di salah satu perusahaan. Saya bilang, kamu ini gimana, orang susah cari kerja di Jakarta, kamu tinggalkan pekerjaanmu. Gajinya kecil Pak, dia bilang. Ini perempuan. Akhirnya dia selesaikan tesisnya, cum laude. Dia langsung dapat 3 tawaran kerja. Dia kembali mengabdi pada almamaternya walaupun barangkali gajinya lebih kecil. Padahal ada perusahaan Jepang, ada PPM menariknya. Tapi dia ambil yang di UI, jadi konsultan dan sambil ngajar, barangkali penghasilannya nggak gede tapi dia mendapat kepuasan dari itu.

 

Kalau Anda mengatakan hidup seperti air mengalir, apakah berarti tidak mempunyai ambisi politik?

 

Tadi saya sudah katakan. Jadi saya itu mengajukan diri untuk pengabdian, untuk melaksanakan tugas, bukan untuk mengejar sesuatu. Ingin berbuat yang terbaik. Saya memiliki prinsip, waktu saya dilatih di-training, basic training saya dulu di HMI: pantang tolak tugas, pantang ulur waktu, pantang kerja tak selesai. Ini saja prinsip yang harus dilakukan. InsyaAllah, kamu akan berprestasi.

 

Terus masih ingat melekat di kepala saya, Buya Hamka berpesan, kalau kamu menuntut keutamaan kamu konfrontasi dengan tidur. Jadi malam digunakan untuk membaca, untuk belajar, dan lain-lain.

 

Kemudian, kalau saya mendefinisikan bahagia itu apa. Bahagia itu bukanlah karena kita mendapatkan sesuatu yang kita cita-citakan atau yang kita inginkan. Bahagia itu adalah kemampuan untuk menahan penderitaan terpahit yang kita alami tanpa menggoncang stabilitas diri.

 

Sebab itu, kalau sudah sepahit apapun hidup yang kita alami, kita nggak goncang. Kepahitan itu justru menjadi nikmat, gitu loh kira-kira. Jadi itu saya katakan, ini adalah orang-orang yang disebut dengan problem hunter. Makanya istri saya bingung kalau seandainya saya pensiun. Jadi nggak ada lagi yang di-hunter-kan. Kayak apa Bapak ini kalau sudah harus pensiun. Saya bilang itu adalah tantangan baru saya, penderitaan baru saya, yang harus saya atasi. Jadi gak perlu ada post power syndrome. Itu justru jadi tantangan baru, bagaimana meng-handle kalau tidak diberi tugas apa-apa. ►crs-ht-mlp-sam Kembali

==   1        5   6   7   ==

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 
Copyright © 2003-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero