|
== 1
2 3
4 5 6 7
==
Syamsul Mu'arif (1)
Politisi Negarawan dari Kalsel
Hidup bersahaja dan mengalir laksana air. Baginya pedoman hidup adalah
nurani dan amal. Dia politisi yang tidak mau mengkhianati hati nurani
hanya untuk mendapatkan sesuatu. Dia tidak ambisius! Kader Golkar yang
menjabat Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Gotong-Royong,
ini berobsesi jadi seorang politisi negarawan. Putra bangsa asal Kalimantan Selatan
ini selalu mengutamakan panggilan tugas dan tanggung jawab sesuai
posisinya.
Lelaki bernama Syamsul Mu’arif, kelahiran Kandangan, 135 km dari
Ibukota Kalimantan Selatan, Banjarmasin, 8 Desember 1948, ini berprinsip
tidak mengejar jabatan. Dia sendiri tidak tahu persis mengapa dibentuk
seperti itu. Berkeinginan (ambisius) itu tidak boleh. Itu prinsip hidupnya.
Tetapi kalau diberi tugas, dia selalu melaksanakan dengan baik, bahkan
dengan mengorbankan kepentingan diri dan kelompoknya sendiri.
Tatkala diangkat jadi menteri, dia mengutamakan pelaksanaan tugas
kementeriannya daripada kepentingan keluarga, kepentingan daerah asalnya
dan kepentingan politik partainya. Dia seorang politisi profesional,
negarawan, yang selalu berusaha melepaskan diri dari kepentingan pribadi
dan kelompoknya dalam mengemban tugas pemerintahan dan kenegaraan.
Di depan anak dan isteri, dia sedih ketika diangkat menjadi menteri.
Menjadi anggota DPR saja sudah jarang makan bersama di rumah, apalagi jadi
menteri! Dia meminta pengertian anak-isterinya. “Itu kesedihan saya yang
pertama,” katanya menggambarkan.
Begitu pula kepada sahabat dan konstituennya di Kalimantan Selatan,
sebagai putra daerah dan kader Golkar yang diangkat menjadi menteri, dia
mengatakan tidak bisa lagi berpikir memprioritaskan Kalimantan saja,
tetapi harus berpikir untuk Indonesia. Hal itu berbeda ketika ia duduk di
legislatif, DPR, sebagai wakil rakyat dari Kalimantan Selatan. Dia
benar-benar berorientasi dan berkomunikasi pada konstituennya di
Kalimantan Selatan. Maka dia menyebut hal ini sebagai kesedihan yang kedua.
Hal ini bukanlah sekadar retorika. Melainkan, itulah kenyataan hidupnya
yang sesungguhnya. Bukan dibuat-buat atau dipaksakan, tapi benar-benar
gaya hidup dan jalan hidupnya. Jalan hidup yang berpedoman pada nurani dan
akal sehat serta mengalir bagaikan air. Dia mengikuti filosofi air
mengalir. “Saya ada di dalamnya, yang penting saya tidak tenggelam dalam
arus, tapi mengikuti arus. Bersahaja, apa adanya,” katanya menjelaskan.
Di situ pula dia menemukan jati diri dan kebahagiaannya. Baginya,
kebahagiaan itu bukanlah kepuasan menerima atau karena mendapatkan sesuatu
yang dicita-citakan atau diinginkan. Tetapi kebahagiaan itu adalah
kemampuan untuk menahan dan menghadapi penderitaan terpahit yang kita
alami tanpa menggoncang dan merusak stabilitas diri. Jadi apa pun problem
yang dihadapi, yang terpenting adalah tetap teguh berdiri pada prinsip
yang dipegang.
Salah satu contoh ujian moral yang dihadapi oleh Syamsul adalah ketika
ia menjadi wakil rakyat di DPR dalam kurun waktu 1987-2001. Dalam
tahun-tahun ini terjadi peperangan batin yang sangat berat dihadapinya
antara memilih mengkhianati hati nurani untuk mendapatkan sesuatu atau
mengikuti hati nurani tetapi tidak mendapat apa-apa. Dia pun teguh
mengikuti kata hatinya.
Keputusannya untuk mengikuti hati nurani itu jualah yang akhirnya
membukakan jalan baginya menjadi seorang menteri. Baginya pedoman hidup
itu adalah nurani dan akal sehat. Bila hidup dengan nurani dan akal sehat,
ia yakin akan menemukan arti dan jalan hidup yang sebenarnya.
Meskipun ada beberapa yuniornya yang jauh lebih kaya darinya, Syamsul
tidak menjadi iri dan tetap bersyukur, “Enak tidur saja sudah berkah yang
luar biasa bagi saya,” katanya.
Untuk menggambarkan perjuangan politiknya, Syamsul memberikan ilustrasi
seperti seorang miskin yang tidak mempunyai apa-apa melihat mahasiswa
cantik dan ingin mendapatkan wanita itu. Si miskin ini diperhadapkan pada
dua pilihan, frustrasi atau semakin termotivasi untuk berusaha lebih baik.
Ia sendiri memilih termotivasi berusaha lebih baik. Tekadnya itulah
yang membawanya menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa (Dema), yaitu memiliki
si wanita cantik itu. Bahkan era roformasi akhirnya membuka jalan baginya.
Ia diangkat menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi.
Ketika menerima tanggung jawab sebagai Menteri Negara Komunikasi dan
Informasi, mengira ruang lingkup tugasnya adalah berhubungan dengan media.
Baginya berhubungan dengan media termasuk bidang pekerjaan yang biasa
ditanganinya.
Sebab, ia mempunyai pengalaman di dunia jurnalistik dengan menjadi
anggota Ikatan Pers Mahasiswa dan mulai aktif menulis ketika di
Banjarmasin. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di bagian editorial sebuah
surat kabar. Saat itu, ia menjadi redaktur sore part time sembari
berguru dari Ketua PWI Kalsel Anang Adenansi, yang pernah memimpin koran
itu selama beberapa periode.
Tapi ternyata yang juga menjadi bagian tugasnya adalah telematika:
telekomunikasi, media, dan informatika. Ia pun prihatin melihat
ketertinggalan Indonesia di bidang telematika. Dengan cepat dan cerdas dia
mendalami bidang ini. Sehingga dalam tiga tahun, dia bersama timnya
berpacu meletakkan grand strategy telematika di Indonesia. Maka, ia
mempersiapkan kementerian ini menjadi departemen pada kebinet 2004.
Moral Politisi
Mantan Ketua Fraksi Partai Golkar DPR-RI yang sempat terpilih dua kali
menjadi Ketua Pansus perubahan tata tertib dan menjadi anggota DPR terbaik
pilihan wartawan, ini sering mengatakan bahwa seorang politisi harus
memiliki moral dan etika di samping profesionalisme dalam melakukan
tugasnya.
Keteguhan dalam mempertahankan prinsip diperolehnya dari pengalaman
berorganisasi dan menjadi guru agama. Maka, tidaklah mengherankan bila
kemudian ia dipercaya untuk menduduki jabatan Ketua Fraksi dan Menteri
Negara Komunikasi dan Informasi.
Ia menjelaskan bahwa keputusannya untuk bergabung dengan Partai Golkar
di tahun 70-an membutuhkan kesabaran dan kekuatan mental yang dilandasi
keyakinan bahwa visi politik yang diembannya harus terus
dipertanggungjawabkan, baik kepada Tuhan maupun kepada rakyat.
Keputusan itu sempat ditentang oleh rekan-rekannya di HMI. Walaupun
begitu, ia tetap teguh pada keputusannya sembari berjanji bahwa ia akan
berfungsi paling tidak sebagai rem seandainya kendaraan Golkar berjalan di
luar jalur yang dapat merugikan umat. Dia pun mengimplementasikannya
dengan teguh, walaupun sarat dengan peperangan batin yang sangat berat.
Kala itu, sebelum reformasi, sering kali dia dihadapkan antara memilih
mengkhianati hati nurani untuk mendapatkan sesuatu atau mengikuti hati
nurani tetapi tidak mendapat apa-apa. Dan, dia memilih hati nurani, moral
dan etika.
Guru Agama
Keteguhan moral telah terasah dari masa kecil dalam pengasuhan orang
tuanya. Dia diasuh untuk menjadi seorang yang taat beragama. Semasa di
kampung, ia bersama keluarganya terpaksa pindah ke kota Kandangan karena
terjadi pemberontakan Ibnu Hajar. Ayahnya yang berprofesi sebagai guru
terpaksa pulang-balik dari Kandangan ke desa Batang Kulur. Setelah keadaan
aman, orang tuanya akhirnya tinggal di desa itu.
Semenjak kelas 3 SD, Syamsul bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah, sering
disebut Sekolah Arab, yang khusus mengajarkan agama. Dengan bekal inilah,
Syamsul memilih masuk pendidikan guru agama setelah lulus dari sekolah
dasar. Ia tinggal di Rantau bersama kakaknya sambil bolak-balik ke kampung.
Biasanya setiap seminggu sekali ia pulang ke kampung, namun sesudah kelas
4 PGAN, hampir setiap hari dia pulang dengan bersepeda yang menempuh jarak
sekitar 15-16 Km.
Ia kemudian memutuskan untuk mengikuti sekolah berikatan dinas lalu
dilanjutkan di Banjarmasin selama dua tahun. Selanjutnya ia kembali ke
desa dan mengajar di sana. Sebagai guru, Syamsul mulai mengukir beberapa
prestasi yang kurang lazim di jamannya. Saat menjadi guru agama di
Madrasah Ibtidaiyah yang mengikuti PGA 6 tahun, ia sudah mendapat pangkat
golongan IIa sedangkan rekan-rekannya sesama pegawai negeri yang mengikuti
UGA masih berpangkat golongan I. Jadi paling tidak secara administratif,
Syamsul sudah lebih unggul daripada yang lain.
Satu tahun kemudian, ia ikut mendirikan Madrasah Tsanawiyah yang
langsung dinegerikan. Pekerjaannya sebagai guru selama 5 tahun di desa itu
ditekuninya sembari kuliah. Kalau pagi ia mengajar, sorenya ia kuliah di
Kandangan.
Dewan Mahasiswa
Tahun 1967, ia melanjutkan studi di Fakultas Syariah Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Kandangan, mendapatkan gelar Sarjana Mudanya (BA) di
IAIN Antasari. Semasa kuliah waktunya banyak disisihkan untuk kegiatan
keorganisasian Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Di kalangan mahasiswa ia dipercaya menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa
IAIN Antasari Banjarmasin pada tahun 1975-1977. Di tahun-tahun ini pulalah,
Dema sedang mengalami masa keemasan di mana peranan Ketua Umum Dewan
Mahasiswa (Dema) bisa populer menandingi rektor.
Namun, kenyataan lain yang harus diterimanya adalah ia tidak
menyelesaikan skripsinya walaupun semua mata kuliah sudah diambilnya.
Meskipun demikian, ia sempat membantu beberapa temannya membuat skripsi di
mana waktu itu ia sedang menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa yang
selalu mendapat ranking sepuluh besar selama mengikuti berbagai jenjang
pendidikan dan latihan.
Sukses memimpin Dema, kemampuan kepemimpinannya kembali diasah saat
menjadi Ketua Umum Badan Koordinasi HMI Kalimantan pada tahun 1977-1979.
Di tahun-tahun inilah, ia sempat diajak Golkar untuk bergabung namun
ditolak karena ia belum berkehendak untuk terjun di dunia politik praktis.
Masuk Golkar
Baru pada awal tahun 80-an, Syamsul tidak mempunyai alasan lagi untuk
menolak ikut dalam politik praktis. Dia memilih masuk Golkar. Ia
berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang jahat permanen dan tidak ada
sesuatu yang baik permanen. Di Golkar ia merasa bisa mengambil pelajaran
yang bermanfaat dengan masuk di Biro Pemuda Mahasiswa dan Cendekiawan.
Pada Pemilu tahun 1982, ia terpilih menjadi wakil rakyat di DPRD
Tingkat I Kalimantan Selatan pada usia 33 tahun, bersamaan dengan
aktivitasnya sebagai Ketua KNPI Kalsel (1982-1985), dan Ketua AMPI
Kalimantan Selatan (1985-1989). Hingga tahun 1987, Syamsul tetap menjadi
anggota DPRD yang termuda.
Karir politiknya terus menanjak, ia ditarik ke DPR Pusat, padahal waktu
itu, ia merasa harus lebih lama mengabdi di daerah. Nasib baik itu muncul
ketika tahun 1987, Ketua Umum Golkar H. Soedharmono mengeluarkan kebijakan
yang menghendaki kader Golkar di legislatif pusat 20% di antaranya diisi
oleh generasi muda. Beruntung baginya karena di DPRD tempatnya berada
hanya ia satu-satunya yang berusia di bawah 40 tahun.
Semasa menjabat sebagai anggota DPR tahun 1987-2001, Syamsul merasa
tidak bisa menjadi orang Jakarta baik di rumah maupun di pergaulan politik.
Ia melihat kenyataan bahwa bila ingin menjadi orang Jakarta di jaman Orde
Baru harus bisa mendekati orang-orang yang dekat dengan kekuasaan entah
itu lewat koneksi atau uang.
Syamsul tidak memiliki semuanya itu. Modal politik yang ia miliki
adalah kemampuan berorganisasi, kemampuan menulis dan kemampuan berbicara.
Itulah sebabnya dalam kurun waktu 12 tahun, kedudukan paling tinggi yang
pernah diraihnya adalah sebagai Sekretaris Fraksi. Dia juga mengenang
bagaimana beberapa rekannya setelah membaca naskah pidato buatannya
diangkat menjadi menteri. Selama masih berada dalam tatanan Orde Baru,
boleh dikatakan ia termasuk kelompok minoritas kritis yang sering tidak
dihargai pendapatnya.
Namun, hal ini tidak berlangsung lama, karena Golkar mereformasi diri
dan menamakan diri Partai Golkar pada tahun 1998. Pada tahun 1999, Syamsul
mendapat suara terbanyak dari 3 nama yang dipilih untuk menduduki jabatan
sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar DPR-RI.
Namanya makin mencuat di pentas perpolitikan nasional tatkala sebagai
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, ia ikut menggagas ide pembentukan
lintas fraksi DPR untuk memperingatkan Presiden KH Abdurrahman Wahid agar
mau segera memperbaiki manajemen pemerintahan. Awalnya, tidak ada sama
sekali niat menurunkan Presiden Gus Dur.
Namun Gus Dur yang pernah diduga terkait dengan kasus Bulog, ketika itu
tetap saja mengabaikan peringatan (Memorandum I dan II) DPR itu. Bahkan
Gus Dur membubarkan MPR/DPR lewat pemberlakuan dekrit. Kegoncangan politik
berakhir dengan kejatuhan Gus Dur dan digantikan wakilnya, Megawati
Soekarnoputri, Juli 2001. Syamsul Mu’arif pun dipercaya memimpin
Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dalam Kabinet Gotong-Royong.
Teladan Keluarga
Jejak kariernya tak terlepas dari dukungan isteri dan anak-anaknya.
Keluarganya sangat memahami prinsipnya sebagai seorang politisi dan
menteri. Kesederhanaan hidup yang diasuhkan dalam keseharian keluarganya
melalui keteladanan telah membuatnya tidak pernah dibebani oleh
kepentingan keluarga dalam menjalankan tugas pengabdian, baik di
legislatif maupun eksekutif.
Ketika pertama kali memboyong anak-isteri ke Jakarta tahun 1987, ia
mengalami pengalaman, yang menurutnya, sangat menyedihkan dan berdampak
kurang baik pada anak-anaknya. “Bayangkan saya sampai menyuruh istri saya
berhenti dari pegawai negeri,” katanya. Waktu itu, istrinya, Siti Zubaidah,
yang berprofesi sebagai guru hendak pindah mengajar di Jakarta.
Surat
permohonan pindah istrinya sudah dilengkapi. Istrinya mengurus lngsung
kepindahan itu ke Dinas Pendidikan DKI. Setelah berkasnya masuk, besoknya
orang Dinas Pendidikan DKI itu datang ke rumah, sore-sore: ‘Ibu, kalau
ingin beres ini, gampang saja, uang doank’. Petugas itu datang ke rumah
meminta sejumlah uang. Dari kejadian inilah, anak-anaknya mengenal bahasa
gaul Jakarta, “uang doank”.
“Itulah kata-kata pertama yang dikenal anak saya tentang ‘jahat’-nya
Jakarta. Anak saya mendengar uang doang itu. Jadi saya bilang ke istri,
‘kalau begitu sudahlah, nggak usah, ngurus anak-anak sajalah, daripada
anak-anak kita nanti rusak’. Jadi istri saya cuti di luar tanggungan
negara dan kemudian pensiun dipercepat. Dia ngurus anak, karena saya anak
banyak, enam orang. Kalau saya lepas, siapa yang mengontrol anak-anak.
Itulah, saya membangun rumah tangga,” katanya.
Menurutnya, filosofi-filosofi seperti itu memang agak sulit kita
kembangkan dalam dunia yang katakanlah zaman edan kalau kita pakai
Ronggowarsito. Ia melihat kehidupan ini memang sudah begitu adanya, namun
bila ia menggunakan cara itu (suap) agar istrinya bisa mengajar di
Jakarta, Syamsul khawatir anak-anaknya bisa terkontaminasi nantinya.
Saat itu, anak-anaknya mulai berpikir bahwa di Jakarta untuk memperoleh
sesuatu harus dengan uang. Karena Syamsul melihat hal ini kurang baik dan
merasa anak-anaknya perlu dididik lebih baik lagi maka ia meminta istrinya
agar cuti bahkan kemudian pensiun dini.
Syamsul justru bersyukur, karena isterinya malah mengurusi anak-anaknya
hingga besar. Anak-anaknya berprestasi dengan tingkat pendidikan yang baik
dan tetap menjadi ‘orang kampung’ meskipun tinggal di Jakarta. Tiga orang
anaknya sudah meraih gelar S2. Keadaan keluarga seperti ini membuat dia
sangat bahagia. Prinsipnya, ia harus menjadi pemimpin yang baik dan
menjadi teladan di rumah baru kemudian di luar rumah. Ia dan keluarga juga
selalu berusaha untuk hidup yang lurus-lurus saja. Prinsip inilah yang
selalu dipegangnya.
Dia pun tak pernah mencarikan pekerjaan buat anak-anaknya. Demikian
pula jika ada keluarga atau kerabat dan kenalan dari Kalimantan Selatan,
yang meminta mencarikan pekerjaan, sulit ia layani. Sebab anak-anaknya
sudah pasti akan merasa cemburu. Bahkan, untuk urusan sekolah anak-anak
pun ia tak pernah meminta dan memberi selembar surat agar bisa diterima di
perguruan tinggi tertentu. Namun nyatanya anak-anaknya yang dibimbing
keras berdisiplin berotak encer dapat diterima kuliah di ITB Bandung dan
UI Jakarta.
Bukan itu saja. Ia mengakui bahwa saat ini tidak memiliki bisnis atau
perusahaan. Suatu kali ia pernah diajak berbisnis lalu diberi saham kosong.
Namun, perusahaan itu akhirnya rugi dan ia harus turut membantu agar bisa
menyelesaikan kewajiban-kewajiban perusahaan itu. Ia merasa tidak memiliki
bakat untuk berusaha. “Setiap kali saya dimasukkan ke dalam perusahaan,
perusahaan itu jadi nggak bagus,” katanya sambil tersenyum. Meskipun
demikian, ia tetap bersyukur karena tidak menjadi orang bisnis dan tidak
mempunyai perusahaan. Ia hidup semata-mata dari politik (profesional) dan
posisinya sebagai menteri membuatnya semakin bersyukur.
Sebelum menjadi menteri, Syamsul masih menyetir mobil sendiri. Ia dan
isteri juga sepakat untuk tidak mengambil pembantu di rumah. Keenam
anaknya diajarkan untuk membantu membereskan rumah, entah itu mengepel
lantai dan mencuci mobil secara berganti-gantian. Bila sholat Maghrib, ia
menjadi Imam, dan bila ia tidak ada di rumah, anaknya yang menggantikan.
Syamsul selalu berusaha agar budaya ini terus terpelihara di rumah.
Bahkan dalam kebersahajaan hidup, posisinya sebagai menteri justru
membuatnya merasa menderita. Ia tidak lagi menyetir sendiri, tidak bebas
jalan-jalan setelah jam kerja, dan harus melalui prosedur protokoler yang
berbelit-belit. Dalam kaitan kebebasan pribadi ini, bila disuruh memilih
antara menjadi anggota DPR atau menteri, Syamsul mengatakan lebih enak
menjadi anggota DPR karena lebih bebas dalam berkreasi.
Maka tak heran bila ia pun tidak selalu patuh pada aturan protokoler.
Kadang kala dia jalan tanpa ajudan, dalam kota maupun ke luar kota. Di
bandara, dia juga jarang duduk di ruang VIP (very important person)
tapi tempat biasa. Sering kali di airport, orang Garuda heran karena dia
tak didampingi ajudan. Dia paling dua-tiga kali pakai VIP di Bandara
Soekarno Hatta. Dia memang terbiasa hidup yang biasa saja. Saat menumpang
pesawat Garuda, misalnya, ia berbaur dengan penumpang biasa. Sering orang
tanya, “Koq Bapak tidak di VIP?”
Tak Kejar Jabatan
Dia pun berprinsip dalam hidup tidak mengejar jabatan. “Saya tidak tahu
mengapa saya dibentuk seperti itu. Berkeinginan itu tidak boleh. Itu
prinsip hidup saya. Tetapi kalau saya diberi tugas, saya harus laksanakan
dengan baik. Semampu saya,” katanya.
Itulah yang dilakoninya sejak masih berkiprah di daerah hingga menjadi
menteri. Saat akhir jabatan sebagai Menteri Negara Komunikasi dan
Informasi Kabinet Gotong-Royong pun, dia tak berupaya mendekati calon
presiden terpilih, sebagaimana lazimnya dilakukan banyak orang. Dia
mengikuti seperti air mengalir. “Saya dibawa ke mana, di mana nyangkutnya,
saya akan terima semua kenyataan itu. Termasuk pulang kampung atau tidak
jadi apa-apa pun, itu sudah saya siapkan,” ujarnya.
Kendati sesungguhnya saat ini, dia mempunyai tiga kemungkinan. Pertama,
jadi menteri lagi, tapi partainya cenderung jadi oposisi. Kalau umpamanya
betul-betul diminta, harus bersedia dipecat dari partai. Ini terjadi bulan
Oktober.
Kedua, bulan Desember, Munas partai Golkar. Mungkin saja Partai Golkar
membutuhkannya, walau bukan menjadi ketua umum. Ketiga, pulang ke
Kalimantan Selatan, untuk pemilihan gubernur 2005.
Sebagai pemegang share dan portopolio terbesar dalam penyiapan
cetak biru Departemen Telematika atau Departemen Telekomunikasi dan
Informasi, sesuai orientasi kinerja, adalah layak jika nama Syamsul
Mu’arif berada di urutan teratas calon menteri pertama di departemen itu.
Namun karena peran oposisi permanen yang digariskan Ketua Umum Partai
Golkar Akbar Tandjung, ia harus tunduk pada kebijakan partai. Kalaupun ia
bersikeras bersedia masuk dalam kabinet, jika diminta SBY-MJK misalnya, ia
harus menghadapi konsekuensi paling buruk yakni keluar dari Partai Golkar.
Sebaliknya, kalau kerja kerasnya selama ini memimpin Kominfo ternyata
kurang diapresiasi, memang akan memberikan keleluasaan dan ruang besar
baginya untuk mengembangkan Partai Golkar agar dalam lima tahun ke depan
tidak kehilangan kepercayaan dari rakyat pemilih. Momentum Munas Partai
Golkar Desember 2004 adalah kesempatan besar bagi Syamsul Mu’arif untuk
“balik kandang”.
Bukan hanya itu dilema yang sedang dihadapinya. Partai Golkar
Kalimantan Selatan memintanya pulang kampung untuk menjadi calon Gubernur
Kalimantan Selatan. Walau sudah dan sedang menjabat menteri, dan tak
pernah memiliki ambisi politik apa pun, Syamsul menyebutkan akan mau
memenuhi panggilan pulang kampung asal disampaikan dengan tulus oleh
masyarakat, dan karena memang ada mission besar yang harus
dijawabnya.
Mission besar itu akhirnya terungkap sendiri. Dan adalah Syamsul
Mu’arif sendiri yang menyaksikan langsung tayangan di sebuah stasiun
televisi swasta, jam sebelas malam, tentang sebuah kabupaten baru bernama
Tanah Bambu di Kalimantan Selatan yang illegal minning atau
pertambangan liar batubara telah luar biasa merusak lingkungan paru-paru
dunia di Kalimantan Selatan itu. Bahkan, Menteri Lingkungan Hidup Nabiel
Makarim menyebutkan, dibutuhkan tak kurang Rp 3-4 triliun biaya reklamasi
untuk mengembalikan lokasi penambangan liar batubara ke kondisi alamiahnya.
Saban malam hari truk-truk angkutan batubara berseliweran merusak
separuh badan jalan, sedangkan sebelahnya tidak apa-apa sebab dilintasi
truk bermuatan kosong. Saat ini pun, di Kalimantan Selatan ratusan sungai
mulai mengering sebab tidak ada lagi air mengalir. “Kira-kira itu
alasannya, pulang dong Pak, untuk memperbaiki keadaan ini. Kita
perlu menyadarkan masyarakat bagaimana memperbaiki sungai itu tanpa
merusak perekonomian rakyat,” kata Syamsul Mu’arif, mengungkapkan
kegundahan isi hatinya akan kampung halaman, menjelang pemilihan Gubernur
Kalimantan Selatan pertengahan 2005.
Maka dia bilang, kalau itu tujuannya, dia siap kalau memang masyarakat
menghendaki. Tapi, katanya, minta ijin dulu dong melalui mekanisme partai.
Dia secara pribadi, tidak menjadi soal apakah menjadi menteri, menjadi
gubernur, atau tidak jadi apa-apa.
Kebetulan, pilihan-pilihan itu satu antara lain tidak bisa saling
berhubungan. Umpamanya, kalau dia masuk ke kabinet, harus berhenti dari
partai. Kalau jadi gubernur, tak bisa ikut DPP dan menteri. Ini yang harus
dia pikirkan. “Tidak berarti saya harus menteri, tidak berarti saya harus
jadi gubernur atau pengurus partai. Saya bisa saja ada di partai, tidak
menjadi ketua umum partai tapi untuk menjaga supaya partai saya ini lima
tahun ke depan dihormati oleh rakyat karena menyelamatkan perjalanan
republik. Saya ingin seperti itu,” kata mantan guru agama ini.
Perubahan Leadership
Berkaitan dengan kinerja pejabat pemerintah, ia berpendapat bahwa di
masa depan diperlukan orang-orang yang memiliki profesionalisme,
background akademis, dan leadership. Sayangnya, ketiga hal ini sekarang
masih terpisah.
Hal ini antara lain disebabkan kebijakan pendidikan. “Tahun 1977 ketika
Dema dibekukan, mahasiswa dipersiapkan untuk masuk ke dalam tekno
structure berbekal akademis dan itu menghasilkan akademisi, melahirkan
ilmuwan-ilmuwan tetapi steril terhadap leadership,” katanya dengan
suara nyaring.
Syamsul menjelaskan bahwa Korea Selatan sama dengan Indonesia dalam hal
tentara pernah berkuasa penuh (Orde Baru), namun berbeda dalam hal
perlakuan terhadap aktivis kampus. Di Korea, para aktivis yang vokal
dikirim belajar ke luar negeri seperti Amerika, Jepang dan Eropa. Di sana
mereka magang kemudian kembali ke tanah air menjadi ahli yang mempunyai
leadership dan idealisme, mempunyai rasa kebangsaan dan kehormatan
diri.
Sementara, Indonesia hanya satu jurusan, keilmuan saja. Hanya sedikit
aktivis Indonesia yang dikirim ke luar negeri seperti Syahrir, Hariman,
dan sebagainya. Setelah Dema dibekukan, profesionalisme dan leadership
menjadi terpisah. “Beginilah kondisi pemimpin Indonesia saat ini,” katanya
menjelaskan.
Di samping itu, ia melihat bahwa faktor politik yang kondusif juga
merupakan hal yang sangat menentukan. Menurutnya reformasi adalah
transparansi, demokratisasi, akuntabilitas, supremasi hukum, penegakan
HAM, lingkungan hidup dan reposisi TNI. Ia mempertanyakan apakah konsep
tatanan politik jelas kesepakatannya.
“Kita melakukan deconstruction tetapi kita tidak memiliki konsep
untuk reconstruction. Akibatnya yang terjadi adalah kita melakukan
trial and error dalam penetapan UUD yang dalam empat tahun baru
kita buat tetapi kita tidak puas kemudian kita buat dan susun lagi. Sejauh
ini mengapa tidak ada perubahan. Mengapa korupsi yang kita perangi
habis-habisan masih terus merajalela dibandingkan yang lain?” tanyanya
lagi.
Syamsul mengatakan bahwa Indonesia melakukan reformasi di berbagai
sektor kehidupan namun belum mempunyai konsep secara tuntas sehingga
rekonstruksi dan reformasi mental - reformasi leadership belum terjadi.
Kedua hal inilah yang membuat Indonesia belum bergerak.
Baginya, keputusan Korea untuk keluar dari program IMF lalu membayar
semua utangnya, merupakan contoh yang perlu ditiru oleh Indonesia.
Keberhasilan Korea dalam mengatasi kelesuan ekonomi didukung oleh
agresivitas, leadership dan profesionalisme yang tinggi. Sedangkan
Indonesia mungkin memiliki orang-orang yang profesional namun belum masuk
ke kancah kepemimpinan yang bermoral.
Menanggapi tentang tidak adanya titik temu antara hidup religius dengan
kehidupan sehari-hari yang menggerogoti bangsa ini, ia menjelaskan bahwa
manusia Indonesia harus dididik dengan benar semenjak usia dini. Ia yakin
bahwa kondisi psikologis pada masa pembuahan menentukan watak dan karakter
anak di kemudian hari. Pembentukan karakter dan prinsip harus dimulai dari
rumah tangga baru kemudian masyarakat dan pendidikan.
Ia mengatakan bahwa di Indonesia, pendidikan dan agama dibuat terpisah.
“Bila orang mau beragama masuk sekolah agama, bila mau ahli masuk sekolah
ilmu. Keadaan ini membangun manusia Indonesia yang tidak integrated.
Padahal membangun manusia itu harus ada keseimbangan.” katanya menambahkan. ►crs ►Lanjut == 1
2 3
4 5 6 7
==
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|