| |
C © updated 14032006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Drs Syamsuddin Haris MSi
Lahir:
Bima, Nusa Tenggara Barat, 9 Oktober 1957
Agama:
Islam
Jabatan:
Profesor Riset Bidang Politik LIPI
Pendidikan:
- Sarjana FISIP Universitas Nasional (Unas)
- Master dari Universitas Indonesia
- Kandidat Doktor Universitas Indonesia
Karir:
- Ahli Peneliti Utama bidang Perkembangan Politik Nasional dengan
pangkat/Golongan Pembina Utama /IV E.
- Staf Pengajar Pasca Sarjana Universitas Indonesia dan Universitas
Nasional
Kegiatan Lain:
- Ketua II Pengurus Pusat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI)
Publikasi:
- Menggugat Politik Orde Baru (1998)
- Menggugat Pemilu Orde Baru (1998)
- Reformasi Setengah Hati (1999)
Alamat:
Bumi Satria Kencana Bekasi
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA - OPINI |
|
|
 |
Syamsuddin Haris
Premanisme DPR
Ketika busung lapar dan polio yang dialami rakyat kecil belum sepenuhnya
ditangani, diam-diam para wakil rakyat justru merencanakan kenaikan
tunjangan pada 2006 ini. Pemerintah mengakui ada usulan kenaikan
tunjangan, tetapi masih ”rencana”. Sampai kapan kita harus mengurut
dada?
Ironisnya, penggunaan hak interpelasi DPR dalam kasus busung lapar
ditanggapi setengah hati oleh pemerintah. Melalui Menteri Koordinator
Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, pemerintah menjelaskan program dan
langkah-langkah kebijakan yang diambil. Namun, seperti biasa,
penjelasan-penjelasan pemerintah amat normatif dan jauh dari kesan
serius.
Juga sebagaimana lazimnya, rapat paripurna DPR diakhiri dengan seperti
dilansir media cetak dan elektronik ”acara” ketawa bersama antara wakil
pemerintah dan pimpinan DPR. Seolah dengan keterangan yang diberikan
pemerintah itu persoalan busung lapar telah selesai.
Kita kian prihatin karena sidang paripurna DPR yang mengagendakan
keterangan pemerintah tentang penanganan busung lapar diwarnai
”vandalisme” ala DPR. Menurut beberapa anggota Dewan dan pekerja pers,
sidang itu bukan hanya menjadi keterangan sepihak pemerintah karena
hampir tidak ada dialog tetapi juga diwarnai cara-cara premanisme
politik. Betapa tidak, para pengusul hak interpelasi tidak bisa
berbicara karena mikrofon dimatikan atau tiba-tiba mati, atau karena
pimpinan sidang yang notabene pimpinan DPR tidak memberi kesempatan
berbicara.
Premanisme
Pembungkaman perbedaan pendapat melalui cara-cara premanisme yang
mengarah kepada ”vandalisme” ini patut disesalkan karena rakyat berharap,
pemerintah dan DPR dapat berdialog secara terbuka, transparan, dan
bertanggung jawab. DPR mestinya tidak dipaksakan sekadar menjadi tukang
stempel kebijakan pemerintah seperti disinyalir Amien Rais. Dewan
terhormat ini justru diciptakan sebagai tempat pertukaran pikiran
mengenai nasib rakyat dan masa depan bangsa, bukan ”komedi omong” ala
Volksraad era kolonial Belanda.
Seperti dibayangkan HOS Tjokroaminoto saat menolak Volksraad, DPR di era
demokrasi saat ini mestinya benar-benar menjadi ”parlemen sejati”. Atau
sebagaimana diimpikan proklamator Bung Karno, yakni sebuah parlemen di
mana dialog dan pertukaran pikiran di dalamnya ”mendidih” bagai kawah
candradimuka. Entah apa yang dikhawatirkan sebagian anggota dan pimpinan
DPR jika dialog dan perdebatan terbuka dibiarkan berlangsung. Juga,
entah apa yang ditakutkan Ketua DPR Agung Laksono sehingga merasa perlu
menyurati Presiden Yudhoyono agar mewakilkan saja penyampaian keterangan
pemerintah di DPR.
Jika perbedaan pendapat di DPR diharamkan, untuk apa lembaga terhormat
ini dihasilkan melalui pemilihan umum yang berbiaya ekonomi, sosial, dan
politik begitu besar. DPR seperti inikah yang harus terus dinaikkan gaji
dan tunjangan penghasilannya?
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Yudhoyono terlampau sibuk menjaga
citra publik sehingga aneka persoalan mikro-riil ekonomi diabaikan. Yang
hampir selalu menjadi ukuran keberhasilan adalah pencapaian yang
bersifat makro-ekonomi seperti tingkat pertumbuhan, inflasi, dan
stabilitas kurs rupiah terhadap dollar Amerika. Padahal seperti
disinyalir sebagian ahli ekonomi kualitas hidup rakyat tidak lebih baik,
tingkat pengangguran terbuka terus meningkat, dan kemiskinan absolut
belum berkurang secara signifikan.
Kompensasi agar membeo
Yang dikhawatirkan adalah jika skenario kenaikan tunjangan penghasilan
para anggota DPR itu justru diberikan sebagai ”kompensasi” sikap membeo
DPR seperti dipaksakan pimpinan Dewan dalam sidang paripurna interpelasi
busung lapar pekan lalu. Jika kekhawatiran ini mendekati benar,
sebenarnya belum ada yang berubah dalam relasi antara rakyat-pemerintah-
DPR pasca-Orde Baru. Seperti berlangsung selama tiga dekade era Soeharto,
posisi rakyat masih sebagai ”obyek” dari proyek demokratisasi yang hanya
dinikmati segelintir elite yang memperoleh mandat melalui pemilihan umum.
Di tengah penderitaan rakyat yang tak kunjung berkurang, pemerintah
pilihan rakyat mestinya lebih cerdas dalam menentukan pilihan kebijakan.
Orientasi pencapaian keberhasilan makro-ekonomi sudah saatnya diimbangi
keseriusan penanganan persoalan riil ekonomi seperti busung lapar, gizi
buruk, dan pengangguran.
Secara retorik, pemerintah sering mengemukakan komitmen untuk mengurangi
penderitaan rakyat. Namun, dalam realitasnya, pilihan kebijakan hampir
selalu ”tulalit”, dalam arti tidak ”nyambung” dengan kebutuhan rakyat.
Kebijakan kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik, misalnya, bisa
jadi malah memperbesar angka kemiskinan ketimbang sebaliknya.
Karena itu, demonstrasi dan unjuk rasa berbagai elemen masyarakat mulai
dari buruh, petani, guru, bahkan kepala desa akhir-akhir ini bukan hanya
akibat reformasi yang ”kebablasan”. Semua fenomena itu justru lebih
disebabkan kecenderungan elite politik yang ”kebablasan” karena tidak
lagi memiliki kepekaan sosial, tanggung jawab, dan nurani.
Rencana diam-diam kenaikan tunjangan anggota DPR hanya contoh kecil dari
tak adanya kepedulian dan nurani elite kita. Masih banyak contoh yang
tidak terungkap dan belum tercium pers. Begitu pula premanisme politik
ala DPR, hanya contoh kecil dari lautan premanisme politik dan
kesewenang-wenangan kekuasaan yang berpotensi meluluhlantakkan bangunan
negeri kita.
Semoga saja Tuhan memaafkan para elite politik yang mau kembali ke jalan
yang lurus. (Kompas, 14 Maret 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|