| |
C © updated 04082003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dok |
|
| |
Nama:
Ir. Syahrial Oesman, MM
Gelar:
Bagindo Basa Nan Kayo
Lahir:
Palembang, 25 Mei 1955
Jabatan:
Gubernur Sumatera Selatan
Istri:
Maphilinda
Anak:
- Melinda Priharum (Imee)
- Neoprabu Oesman (Neo-Alm)
- Belinda Priharum (Beby)
- Relinda Priharum (Rere)
Ayah:
Oesman Ismail
Ibu:
Zaleha Oesman HA Hamid
Pendidikan:
- SD Xaverius II Palembang, 1966
- SMP Perguruan Cikini Jakarta, 1971
- SMAN VII Jakarta, 1974
- Fakultas Tehnik Universitas SriWijaya, Palembang, 1984
Diklat:
- Manajemen Proyek, Diklat TK I Sumsel, 1992
- Peningkatan Jasa Konstruksi, Diklat TK. I Sumsel, 1983
- Kepala Seksi Bina Marga, Diklat TK. I Sumsel, Palembang, 1984
- Lemhanas, Jakarta, 2001
- Manajemen TK. I, Diklat PU Wil II, Bandung, 1986
- Sepadya, Diklat Wil II Depdagri, Bandung, 1994
Karir:
- Kepala Dinas Pelaksana Diklat Regional II Sumatra Bagian
Selatan,
- Dinas PU Kabupaten Ogan Komering Ulu dengan pangkat golongan III b,
1988
- Kepala Dinas PU Dati II Bangka tahun 1993 golongan pangkat III b
- Pjs Kasi Tehnik Dati II Bangka, Sumsel
- Kasi Pelaksana Diklat Regional II Sumsel
- Pjs Kasi Bina Marga Kabupaten Dati II Bangka Sumsel golongan IV b.
- Bupati Ogan Komering Ulu, 1999,
- Gubernur Sumatera Selatan, periode 2003-2008
Penghargaan:
- Piagam Ekspedisi Pinisi Jakarta-Vancou 1986
- Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi 1995
- Peran serta pengabdian, 1995
- Manggala Karya Kencana, 2002
- Tingkat Karya Ketahanan Pangan Nasional, 2002
- Satya Lencana Pembangunan Bidang Perkoperasian 2003
- Satya Lencana Wira Karya, 2004
- Program Pembangunan Karet Rakyat, 2005
- Bintang Legiun Veteran RI, 2005
- Piagam Lencana Melati dan Pembina Karang Taruna 2005
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI - VISI |
|
|
 |
BIOGRAFI-VISI:
01
02 03 ==
Syahrial Oesman
Revitalisasi Kejayaan Bumi Sriwijaya
Gubernur Sumatera Selatan Ir Syahrial Oesman, MM berupaya merevitalisasi
kejayaan bumi Sriwijaya. Tercermin dari visinya:
Sumatera Selatan 2008 bersatu, lebih maju, sejahtera dan berdaya saing
global dengan menerapkan otonomi daerah secara murni dan konsekuen.
Mantan Bupati Ogan Komering Ulu, kelahiran Palembang, 25 Mei 1955, ini
mencanagkan Sumsel sebagai lumbung pangan dan enerji.
Guna mewujudkan obsesinya, alumni Lemhannas 2001, ini melaksanakan empat
misi, yakni: Pertama, Meningkatkan kinerja pemerintahan daerah ke arah
realitas kepemerintahan yang baik untuk memacu kerjasama dan tanggung
jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.
Kedua, Mengoptimalkan pendayagunaan potensi berbagai sumberdaya
secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan guna meningkatkan daya
saing Sumatera Selatan terhadap pasar regional, nasional dan
internasional.
Ketiga, Meningkatkan pengembangan bidang-bidang unggulan guna
mempercepat pengembangan industri serta peningkatan pendapatan
masyarakat dan daerah.
Keempat, Meningkatkan kemandirian kabupaten/kota melalui penguatan
kemampuan pembiayaan dalam rangka penyelenggaraan otonomi yang luas,
nyata dan bertanggung jawab
Keempat misi itu dicanangkan untuk mencapai lima tujuan utama, Yakni:
Pertama, Menjadikan Provinsi Sumatera Selatan sebagai pusat pertumbuhan
ekonomiSumatera Bagian Selatan yang konduktif bagi ketertiban dan
stabilitas regional maupun nasional.
Kedua, Memacu kepariwisataan daerah yang mengngkat harkat social budaya
local sehingga menjadi sumber pendapatan masyarakat dan daerah yang
semakin dapat diandalkan.
Ketiga, Mempercepat pertumbuhan agroindustri untuk meningkatkan nilai
tambah produk dan nilai pendapatan masyarakat.
Keempat, Mengangkat potensi sumberdaya energi dan migas untuk
memenuhi kebutuhan tenaga listrik daerah serta untuk menunjang
percepatan pembangunan wilayah secara berkelanjutan.
Kelima, Memajukan sitem perdagangan yang mendorong peran aktif
masyarakat dalam memperbesar intensitas dan volume perdagangan lintas
kabupaten atau lintas provinsi dan perdagangan antar pulau ataupun
ekspor impor.
Jadi Gubernur
Syahrial Oesman berpasangan denganMahyuddin terpilih menjadi
Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel periode 2003-2008 dengan meraih 38
dari 75 suara. Pasangan yang didukung Fraksi Persatuan Gabungan ini
menang dengan hanya selisih satu suara dari pasangan Rosihan Arsyad dan
Radjab Semendawai yang dijagokan F-PDIP dan F-PG dengan mengantongi 37
suara. Sementara, pasangan Harry Salman Farizi Sohar-Marzuki Alie
didukung Fraksi Reformasi tidak meraih satu suara pun.
Pemilihan Gubernur Sumsel yang berlangsung dalam rapat paripurna DPRD
Sumsel dipimpin Wakil Ketua Zamzami Achmad itu nyaris kisruh saat
perhitungan suara yang terpaksa diulang tiga kali. Pada perhitungan
pertama pasangan Syahrial Oesman-Mahyuddin meraih 38 suara dan pasangan
Rosihan Arsyad-Radjab Semendawai 36 suara. Berarti ada suara yang hilang.
Perhitungan kedua dilakukan suara untuk pasanganSyahrial-Mahyudin
berkurang dua, sementara untuk pasangan Rosihan- Radjab bertambah
menjadi 37 suara. Masih ada satu suara yang hilang. Suasana makin tegang.
Penghitungan ulang ketiga dilanjutkan, hasil akhirnya pasangan
Syahrial-Mahyuddin memperoleh 38 suara dan Rosihan-Radjab 37 suara.
Kekalahan pasangan Rosihan-Radjab ini mengejutkan. Sebab berdasarkan
kursi fraksi yang mendukungnya sedikitnya ia meraih 41 suara. Sebab di
DPRD Sumsel Fraksi PDI-P memiliki 26 anggota dan Fraksi Partai Golkar 15
anggota. Tapi tampaknya tidak semua anggota kedua fraksi itu memilih
Rosihan Arsyad yang ytengah menjabat Gubernur Sumsel (1998-2003).
Talenta yang dimiliki pria kelahiran 25 mei 1955 ini luar biasa. Dia
menguasai tak kurang 7 bahasa asing pasif dan 1 bahasa asing aktif.
Ketujuh bahasa asing pasif yang dikuasai Syahrial adalah; bahasa Arab,
Perancis, Belanda, China, Jepang, Rusia, Inggris dan Jerman. Ditambah
satu bahasa asing aktif yang dikuasainya, yakni bahasa Inggris.
Dengan kepiawaian dan kepandaiannya yang dimilikinya, membuat Syahrial
sangat mudah bergaul dan diterima oleh siapapun juga dari berbagai
kalangan.
Dengan kepiawaiannya juga Syahrial memiliki sejumlah penghargaan atas
prestasi dan jasanya membangun Sumsel. Beberapa penghargaan tersebut
adalah sebagai berikut; Tahun 1986 Syahrial mendapat Piagam Ekspidisi
Pinisi-Vouncover RI dari Presiden kedua Indonesia, Soeharto.
Penghargaan ini diberikan atas erhatian dia terhadap dunia maritime,
khususnya kapal Phinisi. Menurut sejarah, Palembang terkenal dengan
sebutan lain Bumi Sriwijaya ini terkenal dengan dunia miritimnya. Bukan
hanya di Indonesia tapi juga mancanegara mulai China hingga Madagaskar,
Benua Afrika.
Disusul kemudian penghargaan Satya Lencana pembangunan bidang koperasi,
atas keberhasilan membangun Sumsel melalui koperasi terpadu. Penghargaan
ini ia dapatkan tahun 1995. Penghagaan lain yang dia raih tahun 1995
adalah Peran serta pengadian dari presiden RI tahun 1995, disusul
penghargaan Bintang Legiun Veteran RI dari Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono tahun 2005. Pada tahun yang sama Syahrial mendapat penghargaan
penghargaan pembina karang taruna dari Presiden. Serta masih banyak
penghargaan-penghargaan lain yang dia dapatkan seperti penghargaan dari
menteri Pertanian, Kepala BKKBM Pusat dan Kuartir Gerakan Pramuka Pusat.
Syahrial Oesman, beristrikan Maphilinda, kelahiran Palembang 2 Agustus
1964 yang merupakan campuran antara ibu yang berasal dari Lubuk Jantan –
Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar dengan ayah yang
berasal dari Sumatra Selatan. Maka secara adat Minang Kabau menurut
garis ibu Maphilinda adalah orang Minangkabau. Sementara Syahrial Oesman
disebut sebagai Urang Sumando.
Sebagai orang Sumando Minagkabau, sosok Syahrial Oesman Selama ini telah
memberikan perhatian yang tinggi kepada para perantau Sumatra Barat yang
bermukim di Sumatra Selatan. Telah banyak motifasi dan bantuan yang di
berikan oleh Sahrial Oesman dan warga perantau Minangkabau pun telah
merasakannya.
Berdasarkan keberadaan beliau sebagai “ Urang Sumando Ninik Mamak”. Oleh
sebab itulah maka para Ninik Mamak dari kerapatan Adat Nagari dan Nagari
Lubuk Jantan memberinya gelar Bagindo Raso nan Kayo.
Pemimpin Sederhana Bertoleransi Tinggi
Syahrial Oesman sebagai pemimpin bersahaja. Suatu hari ia bersama
istrinya berkeliling ko Tarutung, Tapanuli Utara dengan mengendarai
sepeda motor. Tak ada sedikitpun sikap gengsi atau malu, kendati dia
adalah orang nomor satu di Palembang. Kemudian Syahrial menyempatkan
diri singgah di kantor pusat HKBP di Pearaja, Tarutung.
Walau dia beragama Islam, rasa toleransinya begitu tinggi. Diapun merasa
kagum melihat kebesaran gereja HKBP. Para jemaat gereja tersebut
menyebar sampai kepelosok negeri dan bahkan luar negeri. Gereja HKBP di
Tapanuli tersebut hamper sama dengan HKBP yang ada di Palembang. Hanya
di Tapanuli gerejanya lebih besar.
Selama berada di Tarutung Syahrial pun menyempatkan melihat langsung
objek wisata Salib Kasih. Dan diapun menyempatkan diri bertemu dengan
warga Tarutung secara langsung di gedung Sopo Partungkoan. Bahkan pada
kesempatan tersebut Syahrial mendapatkan pakaian adat Batak Toba
“sape-sape dan piso halasan” . Tak ketinggalan Nyonya Maphilinda pun
merasa bangga menerima sarung hajut dan sirtoli
Pada kesempatan tersebut Syahrial mendapatkan gelar Raja Pargomgom.
Gelar ini diberikan atas dedikasinya sebagai pelindung dan penasehat
orang Batak rantau yang ada di Sumsel. Syahrial mengaku sangat senang
dengan gelar tersebut. Kedatangan Syahrial ke Tapanuli memberikan kesan
yang mendalam bagi Bupati Tapanuli Utara, Torang Lumbantobing. Dia
meminta gubernur senantiasa peduli dan melindungi orang Batak yang ada
di Sumsel.
Selaku Gubernur Sumsel, Syahrial yang memiliki sifat toleransi yang
tinggi terhadap berbagai agama dan suku yang ada di tempatnya dan ia
berjanji akan selalu melindungi dan menghormati pemeluk agama lain atau
suku lain di daerahnya.
Di Palembang sendiri menurut Syahrial sering diadakan pagelaran budaya
Batak dan mendapat respon positif dari warga di sana. Bahkan mereka
mendirikan perkumpulan dan arisan marga per marga untuk menjalin rasa
persaudaraan bagi sesama.
Usai dari Tarutung, rombongan Gubernur Sumsel menuju Hutaginjang,
Kecamatan Muara, untuk melihat panorama Danau Toba. Sesudahnya mereka ke
Medan untuk menghadiri acara yang digelar alumni Universitas Sriwijaya
yang berdomisili di Sumut. ►e-ti/az
Sumatera Selatan Lumbung Pangan dan Energi
Melihat potensi sumberdaya alam yang melimpah ruah, tidaklah berlebihan
bila Propinsi Sumatera Selatan menjadi terdepan dalam dua pilar penting
yang selama ini menjadi pijakan bagi kesejahteraan masyarakat Palembang.
Dua pilar tersebut adalah Propinsi Lumbung Pangan dan Propinsi Lumbung
Energi.
Sumatera Selatan sebagai Propinsi Lumbung Pangan ini mempunyai orientasi
mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran dan peningkatan pendapatan
masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera
Selatan.
Dalam penjabaran lebih luas lagi propinsi lumbung pangan dimaknai
sebagai potensi non migas yang berasal dari sektor pertanian dan
beberapa sector lain yang terkait. Tahun 2006 total PDRB non migas
Sumatera Selatan memberi konstribusi sebesar 66.54 persen. Konstribusi
ini selain berasal dari sector pertanian juga berasal dari sector
industri dan sector perdagangan.
Pencanangan sebagai Propinsi Lumbung Pangan ini diperkuat melalui
rencana strategis tahun 2003 – 2008 yang berpijak pada perspektif
pembangunan Sumatera Selatan sebelumnya. Dalam salah-satu butirnya
dijelaskan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi non migas propinsi Sumatera
Selatan tahun 2002 sebesar 4,63 %. Dalam kurun waktu lima tahun
1998-2002, terjadi peningkatan pendapatan perkapita non migas dari US $
385 menjadi US $ 608. Peningkatan sector non migas tahun 1998 sebesar
US$ 63,90 meningkat menjadi US $ 70,38 tahun 2002.
Sementara, sebagai Propinsi Lumbung Energi, pemaknaannya lebih pada
potensi sumber daya energi Sumatera Selatan. Sumber ini meliputi minyak
bumi yang mempunyai cadangan minyak 705 MMSTB, setara dengan 9,8 %
cadangan minyak nasional. Disusul cadangan gas bumi sebesar 7.235 BSCF
atau 7,01 % setara dengan cadangan gas nasional, dan batubara memiliki
cadangan sebesar18,13 miliar ton atau setara dengan 34% cadangan
batubara Indonesia serta sumber energi listrik.
Propinsi Lumbung Pangan
Sub Sektor Pertanian
Sebagai propinsi lumbung pangan, Sumatera Selatan memiliki potensi
sumber daya lahan yang luar biasa. Luas lahannya mencapai 752.150 Ha.
Sumber daya lahan tersebut digunakan sebagai lahan sawah irigasi, tadah
hujan, rawa pasang surut, lebak dan lahan kering. Dari lahan ini
menghasilkan berbagai produk unggulan yang meliputi; tanaman padi,
jagung, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar ditambah komoditas unggulan
lain berupa sayuran dan buah - buahan.
Tahun 2005 total produksi padi Sumatera Selatan sebesar 2.320.110 ton
gabah kering giling (GKG) atau setara beras 1.466.310 ton. Kontribusi
terbesar diperoleh dari lahan sawah dengan kisaran 2.148.182 ton GKG
atau mencapai 92,6%. Bila dikalkulasi dengan perhitungan jumlah penduduk
sebanyak 6.755.900 jiwa, maka konsumsi beras perkapita/tahun sebesar 124
kg. Sehingga tahun 2005 Sumatera Selatan mengalami surplus beras sebesar
484.088 ton.
Keberhasilan diatas harus terus ditingkatkan dengan memanfaatkan potensi
sumber daya lahan yang tersedia secara optimal dan menyeluruh,
peningkatan pelayanan jaringan irigasi dan rawa, penggunaan agroinput,
peningkatan kemampuan petani mengakses modal perbankan dan pengembangan
penggunaan alat mesin pertanian. Selain itu diperlukan pula modal petani,
investasi, perbaikan infrastruktur jaringan irigasi dan drainase.
kesemuanya itu memerlukan dukungan dana yang cukup besar mencapai Rp3,3
Trilyun. Bila kondisi ideal ini dilaksanakan bukan tidak mungkin kedepan
Sumatera Selatan mampu meningkatkan produksi padi hingga 5 juta ton GKG
atau setara beras 3 juta ton atau lebih.
Kemudian, peluang investasi sub sector pertanian ini terletak pada
potensi pengembangan lahan sawah seluas 238.974 Ha menjadi lahan sawah
baru. Lahan ini memang belum dimanfaatkan, selama ini hanya memanfaatkan
lahan seluas 752.150 Ha Diharapkan pemanfaatan lahan yang baru satu kali
tanam (IP 100) seluas 399.521 Ha ini dikembangkan menjadi dua kali tanam
(IP 200) seluas 155.322 ha. Hal yang perlu diperhatikan adalah
rehabilitasi sarana irigasi/drainase, Tata Air Mikro (TAM), Pengembangan
Alsintan, Handtraktor dan pompa air, Penggunaan Benih Unggul, Pemupukan
dan Penyuluhan serta Pendampingan.
Propinsi Lumbung Energi
Sektor Pertambangan
Potensi sumber daya alam atau sumber energi Sumatera Selatan melimpah
ruah. Sumber energi ini meliputi minyak bumi, gas bumi, batubara dan
energi kelistrikan. Semua potensi tersebut merupakan modal dasar dalam
mewujudkan Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat Palembang.
Sector minyak propinsi Sumatera Selatan memiliki cadangan minyak sebesar
705 MMSTB setara dengan 9,8 % cadangan minyak nasional, Disusul cadangan
gas bumi sebesar 7.235 BSCF atau 7,01 % setara dengan cadangan gas
nasional, dan batubara memiliki cadangan sebesar18,13 miliar ton atau
setara dengan 34% cadangan batubara Indonesia.
Sementara, pembangunan ketenagalistrikan di Sumatera Selatan melalui
Pembangkit listrik Tenaga Gas (PLTG) dan pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
dua potensi ini yang akan menjawab kelangkaan listrik di Jawa dan
Sumatera. Selain itu sebagai ekspor ke Malaysia dalam pengembangan
pemanfaatan BBG untuk industri, komersial, rumah tangga dan transportasi
Di Provinsi Sumatera Selatan terdapat pula beberapa industri besar
seperti PT Tambang Batubara Bukit Asam, PT Semen Baturaja dan Unit
Pengolahan dan Pemasaran Pertamina. Khusus pembangunan ketenagalistrikan
di Sumatera Selatan melalui Pembangkit listrik Tenaga Gas (PLTG) dan
pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai potensi yang akan menjawab
kelangkaan listrik di Jawa dan Sumatera. Selain itu sebagai ekspor ke
Malaysia dalam pengembangan pemanfaatan BBG untuk industri, komersial,
rumah tangga dan transportasi.
Peluang investasi sector pertambangan Sumatera Selatan masih terbuka
lebar. Dimana masih tersedia cukup banyak cadangan migas, batubara, dan
sumber energi kelistrikan yang belum dikelola dan membutuhkan adanya
investor untuk mengelolahnya.
Sebagai gambaran beberapa peluang investasi yang di prioritaskan,
pertama, potensi minyak bumi, yang mempunyai cadangan sebesar 5.034.082
MSTB. Selama ini ekploitasi pertamina dan mitranya selama 1998-2002 baru
memproduksi rata-rata 3.718.720 barrel perhari. Disusul Gas alam yang
berlokasi di kabupaten Musi Banyuasin, Lahat, Musi Rawas dan Ogan
Komering Ilir. Nilai produksinya mencapai 7.238 BSCF. Ekploitasi 4 tahun
terakhir baru menghasilkan pruduksi rata-rata 2.247.124 MMSCF. Kegunaan
gas alam ini adalah bahan pembangkit tenaga listik, produk plastik dan
pupuk.
Selanjutnya batu bara, cadangan batubara di Sumatera Selatan mencapai
18,13 milyar ton. Lokasi batubara terdapat di kabupaten Muara Enim,
Lahat, Musi Banyuasin dan Musi Rawas. Mutu cadangan batubara pada
umumnya berjenis lignit dengan kandungan kalori antara 4800-5400
Kcal/kg. Batubara ini baru dikelola PT Bukit Asam dam dan PT Bukit Kendi
di lokasi Kabupaten Muara Enim.masih tersedia cadangan batubara senilai
13,07 Milyar Ton yang belum dikelola sama sekali.
Disusul kemudian peluang investasi pembangkit tenaga listrik yang
berdaya tampung 411,975 KW. Saat ini PLN Propinsi Sumatera Selatan masih
defisit lebih kurang 90 Mega Watt. Dengan kebutuhan setiap tahun
meningkat diprediksi tahun 2012 defisit PLN di Sumatera Selatan akan
mencapai 291,91 Mega Watt. Oleh sebab itu dibutuhkan investor untuk
menenamkan modal menghindari deficit listrik.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|