A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Pemda
      ► Sumsel
 ► Asosiasi
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 07072007  
   
  ► e-ti/dok  
  Nama:
Ir. Syahrial Oesman, MM
Gelar:
Bagindo Basa Nan Kayo
Lahir:
Palembang, 25 Mei 1955

Jabatan:
Gubernur Sumatera Selatan

Penghargaan:
- Piagam Ekspedisi Pinisi Jakarta-Vancou 1986
- Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi 1995
- Peran serta pengabdian, 1995
 
 
     
 
BERITA

 

Syahrial Oesman

Sukses, Penas XII di Banyuasin Sumsel


Banyuasin Sabtu, 7 Juli 2007: Sumatera Selatan sukses sebagai tuan rumah Pekan Nasional (Penas) XII Petani Nelayan 2007. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka Penas XII Petani Nelayan 2007 itu di lapangan Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Negeri Sembawa, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Sabtu (7/7/2007). Diikuti 21 ribu petani dan nelayan dari 33 provinsi di Indonesia, dan wakil petani dari negara ASEAN dan Jepang.

Peresmian pembukaan Penas XII dilakukan dengan pemukulan kentongan oleh Presiden didampingi Gubernur Sumsel Syahrial Oesman, Mentan Anton Apriyantono dan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi.
Pada kesempatan itu Presiden SBY memberikan tanda kehormatan Satyalancana Wirakarya dan Satyalancana Pembangunan kepada 181 orang, yang disematkan secara simbolis kepada Gubernur Sumatera Selatan Syahrial Oesman (Satyalancana Wirakarya) dan Satyalancana Pembangunan kepada Bupati Bolaang Mongondow Hajjah Marlina Moha Siahaan, Bupati Merauke Johannes Gluba Gebze, serta Lukman Zakaria petani karet dari Jambi.

Presiden juga menyerahkan berbagai bantuan, antara lain berupa bibit unggul, dana, mobil dan motor penyuluhan. Kemudian Presiden berdialog dengan para petani dan nelayan, dilanjutkan peninjauan ke stand-stand pameran yang berada di areal peresmian.

Ketua Umum Panitia Penas XII Winarno Tohir dalam laporannya menjelaskan, ada 30 jenis kegiatan yang dirangkum dalam 7 fokus kegiatan yang dilaksanakan dalam Penas XII yang berlangsung pada tanggal 7-12 Juli 2007 itu. Ada dua kegiatan baru dibandingkan dengan penyelenggaraan Penas sebelumnya, yaitu sinkronisasi pembangunan pertanian pusat dan daerah, serta pasar lelang komoditas agro.
Winarno Tohir yang juga Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mengatakan Penas merupakan forum pertemuan atau tempat belajar mengajar, berbagi pengalaman petani, nelayan, penyuluh, swasta dan pemerintah, sehingga melahirkan tanggung jawab bersama.

Penas XII dilaksanakan pada tahun kedua setelah pencanangan program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan oleh Presiden SBY. Menurut Winarno Tohir, revitalisasi ini telah menumbuhkan harapan dan optimisme baru bagi petani nelayan untuk segera bangkit.

Hadir bersama Presiden, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensesneg Hatta Rajasa, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dua Jubir Presiden, Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal, juga gubernur, bupati dan walikota dari berbagai daerah di Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam amanatnya menegaskan bahwa pemerintah sangat serius membangun sektor pertanian dan perikanan, hal itu ditunjukkan antara lain dengan meningkatkan anggaran di kedua sektor itu dari tahun ke tahun. “Kita ingin meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan petani dan nelayan. Kita ingin meningkatkan ketahanan pangan. Pemerintah dalam rangka melaksanakan kebijakan itu telah terus meningkatkan anggaran pertanian, perikanan, kelautan dan kehutanan. Tiap tahun anggaran terus meningkat, juga bantuan-bantuan langsung yang terus untuk peningkatan sektor-sektor itu,“ kata Presiden.

Peningkatan anggaran itu, antara lain, ditunjukkan dengan APBN untuk pupuk murah dan bersubsidi dari tahun 2004 sampai sekarang, yang meningkat dari Rp 1,8 trilyun menjadi Rp 5,8 trilyun, atau naik 350 persen. Tujuannya agar pupuk dapat didistribusikan lebih banyak lagi. Lalu anggaran untuk benih unggulan gratis dulu Rp 80,9 milyar kini menjadi Rp 1 trilyun, atau meningkat 1300 persen. “Mudah-mudahan pupuk dan benih ini benar-benar terdistribusi secara cepat dan tepat ke komunitas petani di seluruh tanah air,“ Presiden SBY menambahkan.

Subsidi bunga untuk petani plasma di perkebunan jumlahnya juga tidak sedikit, sekitar Rp 1 trilyun. “Ini contoh bagaimana kita ingin menunjukkan bahwa pemerintah serius meningkatkan sektor pertanian dan perikanan. Untuk sektor nelayan ada bantuan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir," lanjut Presiden.

Presiden meninggalkan tempat acara pada pukul 15.00 WIB dan langsung menuju Bandara Internasional Sultan Mahmoud Badaruddin II, untuk kembali ke Jakarta.  ►e-ti


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)