| BERITA |
|
|
 |
BERITA:
01
02
03
04
05 06 ==
M Syafi'i Anwar Pluralisme, Bukan Sekadar Toleran
Wacana pluralisme kini kembali memperoleh relevansinya dengan terjadinya
berbagai peristiwa yang mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama di
Indonesia. Namun, pluralisme sering dipahami secara salah dengan
menganggap menyamakan semua pandangan agama-agama yang berbeda.
Itu salah besar. Pluralisme itu mengakui keberagamaan orang lain, tanpa
harus setuju. Selain itu, yang terpenting, bukan sekadar menjadi
toleran, melainkan menghormati ajaran agama orang lain. Dan sadar betul
bahwa keberagamaan orang lain itu bagian yang sangat fundamental dan
inheren dengan hak asasi manusia, kata M Syafi'i Anwar (52), seorang
intelektual Muslim yang sejak lama bergelut dengan pluralisme.
Syafi'i Anwar mengkhawatirkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
mengharamkan pluralisme bisa ditafsirkan lain di masyarakat bawah. Hal
ini pada gilirannya akan mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama.
Konsep pluralisme yang tidak sekadar toleransi, tetapi lebih menuju
kepada penghormatan (respect) kepada yang lain (the others), diakui
Syafi'i misalnya dikemukakan Klaus-Jurgen Hedrich, salah seorang tokoh
Partai CDU (Christian Democratic Union) Jerman Barat yang juga mantan
Wakil Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan.
Pendapat Klaus ini saya setujui sepenuhnya. Namun, Islam sendiri
sebetulnya juga mengajarkan pluralisme, ujar pria kelahiran Kudus, Jawa
Tengah, 27 Desember 1953, itu.
Akan tetapi, kegiatan untuk memperjuangkan pluralisme tersebut bukannya
tanpa hambatan. Ketika memimpin jurnal Ulumul Quran darah saya pernah
dihalalkan oleh sekelompok radikal yang meminta mencabut tulisan Cak Nur
(Nurcholish Madjid), tuturnya kepada Kompas pekan ini.
Warga Muhammadiyah ini sekarang menjadi Direktur Eksekutif International
Centre for Islam and Pluralism (ICIP), lembaga yang mendorong dan
mempromosikan pluralisme, toleransi, hak asasi manusia, dan demokrasi.
Di tengah kesibukannya memimpin ICIP, sejak tahun 1999, Syafi'i An`war
menyelesaikan studi S-3 di Universitas Melbourne, Australia, dan lulus
tahun 2005. Ia menulis disertasi berjudul Negara dan Islam Politik di
Indonesia: Sebuah Studi Politik Negara dan Perilaku Politik Pemimpin
Muslim Modernis di Bawah Rezim Orde Baru Soeharto 1966-1998.
Disertasi itu berfokus pada berbagai perilaku politik para pemimpin
Muslim modernis dalam merespons kebijakan negara di bawah rezim Orde
Baru.
Ada dua kelompok Islam yang bisa bertolak belakang satu sama lainnya,
yakni progresif-liberal, dan puritanisme-konservatif. Bagaimana pendapat
Anda?
Munculnya kelompok liberal ini sebagai reaksi dari keberadaan kelompok
Islam garis keras. Kelompok garis keras ini dicirikan dengan sikap yang
menafsirkan segalanya dengan literal tekstual.
Ciri yang paling menyedihkan adalah dipakainya cara kekerasan, baik
secara simbolik maupun fisik. Sikap seperti ini tidak hanya bertentangan
dengan hukum nasional, tetapi juga bertentangan dengan hak asasi
manusia. Padahal, dalam agama Islam sendiri dilarang.
Akar masalahnya apa?
Pertama, muncul dari paradigma berpikir yang dibentuk oleh tafsir yang
literal. Contohnya, dalam kelompok garis keras itu masih percaya orang
Yahudi atau Nasrani itu tidak akan berhenti sebelum kamu masuk agamanya
mereka. Nah, kalau tafsirnya literal tekstual, jelas akan membentuk
sikap garis keras apalagi jika ini kemudian menjadi pola pikir
(mindset).
Faktor kedua yang juga mendorong munculnya kelompok ini adalah
masyarakat yang tanpa hukum, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan
ketidakpastian politik sehingga kelompok garis keras melihat hukum yang
tak berjalan ini perlu diganti dengan syariah sebagai alternatif. Ini
dilihat mereka sebagai obat mujarab yang bisa dipakai untuk
menyelesaikan semua masalah.
Apakah juga karena faktor paradoks globalisasi?
Ya, secara struktural adanya ketakadilan politik global, terutama di
Timur Tengah, khususnya krisis Israel dan Palestina, serta sikap standar
ganda AS.
Globalisasi, dalam satu segi positif. Namun, pada saat yang sama juga
menyebabkan hal yang negatif. Di antaranya, terjadinya alienasi terhadap
masyarakat, yang kemudian menimbulkan resistensi yang tinggi. Terutama
karena kita melihat adanya ketidakadilan global, pendapatan, kontribusi
dalam diskursus.
Pada saat yang sama agama tidak muncul sebagai solusi, tetapi menjadi
sarana pelarian dari persoalan. Kelompok garis keras ini ingin segera
keluar dari masalah dan mencari jawaban di agama dan membentuk
resistensi diri yang memperkuat identitas diri yang hanya memperkuat
keakuannya dan menghilangkan keberagaman.
Bagaimana cara menjembatani dua kelompok itu?
Munculnya kelompok-kelompok progresif-liberal, seperti Jaringan
Intelektual Muda Muhammadiyah, Jaringan Islam Liberal (JIL), karena
melihat cara-cara garis keras tidak benar.
Persoalannya, apa yang dilakukan teman-teman di JIL ini memang
mendekonstruksikan semua hal dalam Islam.
Dekonstruksi terhadap syariat, dekonstruksi terhadap teks, pada beberapa
aspek memang menghasilkan hal yang positif karena mengembangkan
diskursus, tetapi pada level di masyarakat bawah menjadi shock.
Kritik saya, sebagai sesama pendukung Islam progresif-liberal, adalah
dalam melakukan dekonstruksi kurang diimbangi oleh metodologi yang kuat.
Yang dilakukan hanyalah dekonstruksi, tetapi tidak diiringi dengan
rekonstruksi.
Makanya, saya lebih senang menggunakan istilah pluralisme. Dalam Islam
sendiri, pluralisme diberikan tempat. Ada Syiah, Sunni, dan sebagainya.
****
Pendidikan pluralisme
Syafi'i Anwar percaya, untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang
keragaman keberagamaan, solusinya adalah pendidikan pluralisme dan
multikulturalisme di sekolah-sekolah.
Usulan pendidikan pluralisme itu berasal dari sambutannya di Regional
Conference yang diselenggarakan ICIP bekerja sama dengan Uni Eropa pada
25-28 November 2004.
Terlebih lagi ide tersebut sejalan dengan Deklarasi Bali tentang
Membangun Kerukunan Antar-agama dalam Komunitas Internasional dari 174
tokoh Asia-Eropa yang mengikuti dialog antar-agama 21 Juli 2005. Dalam
deklarasi itu diusulkan antara lain membuat kurikulum di sekolah
lanjutan mengenai studi antar-agama, yang dimaksudkan untuk menumbuhkan
pemahaman dan saling menghormati antarpemeluk agama yang berbeda-beda.
Bagaimana menyatukan di dalam semangat pluralisme jika di masing-masing
kelompok itu saling melecehkan?
Menurut saya, solusi yang paling jitu adalah melalui pendidikan
pluralisme dan multikulturalisme. Hanya melalui pendidikanlah orang bisa
mengubah mindset-nya. Saya percaya betul dengan pendidikan pluralisme.
Namun, karena psikologi masyarakat Indonesia, untuk membicarakan level
teologi akan lebih baik jika sudah masuk SMA atau perguruan tinggi. Yang
terutama diajarkan adalah sejarah agama- agama. Saya kira orang yang
tahu sejarah agama-agama tidak akan pernah menjadi radikal.
Itulah yang sedang dikerjakan oleh ICIP, seperti membuat program di
televisi tentang dialog antar-agama. Juga pendidikan jurnalistik
pluralisme.
Masa depan pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia seperti apa?
Tidak selayaknya orang Islam mengklaim mayoritas karena sejak awalnya,
masuknya Islam ke Indonesia melalui dakwah kultural, tak melakukan
pendekatan yang mengutamakan syariah. Bahkan, unsur sufisme, tasawuf,
sangat besar dalam mengembangkan Islam di Indonesia karena Islam harus
beradaptasi dengan kultur lokal. Harus beradaptasi dengan kepercayaan-
kepercayaan dan kebijaksanaan lokal (local wisdom) lainnya.
Karena itulah, kalau kemudian Islam menjadi mayoritas, tidak selayaknya
mereka menilai rendah kepada minoritas. Nah, itu yang harus disadari.
Karena itulah, di Indonesia yang menjadi negara dengan mayoritas Muslim
tidak selayaknya menekan minoritas.
Sayangnya, dakwah Wali Songo yang terbukti dalam sejarah berhasil
menyebarkan Islam melalui kultural harusnya menjadi contoh. Bagaimana
Sunan Kalijaga memasukkan unsur Islam dalam cerita pewayangan. Tentu itu
harus bisa dijadikan pengalaman berharga dalam melakukan dakwah.
Bagaimana prospek politik Islam Indonesia ke depan?
Dari Pemilu 1999, ternyata mereka yang menggaungkan partai Islam
terpuruk, di Pemilu 2004 juga menurun. Kecuali Partai Keadilan Sejahtera
(PKS) yang naik, tetapi tidak membawa isu Islam secara spesifik.
PKS menggunakan semboyan kampanye bersih dan peduli. PKS bagus
organisasinya, selain pengurusnya banyak menjunjung moral. Tidak
menerima sogokan, mereka menonjol di tengah partai sekuler yang banyak
korup.
Namun, harus dicatat, mampukah PKS tidak memperjuangkan syariah? Kalau
itu diperjuangkan, mereka akan kehilangan dukungan lagi. Saya khawatir
PKS akan seperti PAS (Partai Islam Semalaysia) di Malaysia.
Saya mengharapkan partai Islam itu inklusif, pluralis, terbuka. PKS itu
punya potensi untuk inklusif, mereka berpendidikan, bisa diajak dialog,
serta punya modal dan keinginan untuk maju.
Fundamentalisme itu dalam istilah adalah ideologi luar pagar. Ketika
masuk pemerintahan, mereka akan akomodatif. Masyarakat Indonesia itu
sangat plural. Kalau memaksakan kehendak, akan menghancurkan dan
menimbulkan konflik yang luar biasa. (Oleh: SUBUR TJAHJONO dan IMAM PRIHADIYOKO) ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia |