| |
C © updated 15062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ricky-l |
|
| |
Nama:
Sutiyoso
Lahir:
Semarang, 6 Desember 1944
Agama:
Islam
Jabatan:
Gubernur DKI Jakarta 1997- |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Sutiyoso: Untuk Bangun Jalan Tol dan Banjir Kanal
Sambut Baik soal Jalur Khusus Motor
Kompas 15/6/2005: Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengaku gelisah
dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor, khususnya kendaraan
bermotor roda dua, yang saat ini jumlahnya sudah mencapai 2,5 juta unit.
Karena itu, Sutiyoso menyambut baik rencana Kepolisian Daerah Metro Jaya
membuat jalur khusus untuk motor. Untuk itu, Sutiyoso tengah memikirkan
jalur khusus itu di ruas-ruas jalan di Jakarta.
"Saya juga sebenarnya gelisah dengan pertambahan kendaraan bermotor,
terutama roda dua yang saat ini jumlahnya sudah mencapai 2,5 juta unit.
Jakarta akan menjadi kota seperti Hanoi, Vietnam, kalau hal ini tidak
dikendalikan. Rencana Polda Metro Jaya untuk membangun jalur khusus
tentu akan kita respons dengan sekaligus memikirkan pembagian jalur
cepat, lambat, motor, sepeda, dan pejalan kaki," ujar Sutiyoso di Kantor
Presiden, Jakarta, Selasa (14/6).
Sutiyoso berada di Kantor Presiden untuk melaporkan rencana pelaksanaan
Jakarta Fair 2005 dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-478
Jakarta di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, 16 Juni-17 Juli 2005
yang mengambil tema "Indonesiaku Bersatu".
"Saya lebih senang kalau ada jalur khusus motor. Tetapi, mari kita
rancang dulu yang baik. Masih akan kita plot jalur mana yang mau kita
ambil. Mungkin, kalau kita lihat di Jalan Sudirman ada pembatas jalan
yang berisi pot-pot tanaman. Saya sedang pikir apakah itu perlu. Itu kan
bisa untuk jalur sepeda motor," ujarnya memberi contoh.
Pernyataan serupa disampaikan Sutiyoso kepada wartawan di Balaikota DKI
Jakarta.
Namun, katanya, terbatasnya lahan di Jakarta pada akhirnya sulit
merealisasikan usulan atau gagasan itu. "Kalau medannya memungkinkan, ya
baik juga pengaturan itu. Tetapi, kondisi di lapangan, medannya kan
sudah tidak memungkinkan lagi," katanya.
Berkait dengan lahan, Kepala Dinas Perhubungan DKI Rustam Effendi juga
pesimistis bisa mengembangkan jalur khusus motor itu di Jakarta. "Tanah
di Jakarta mahal, berapa dana yang akan dikeluarkan untuk pembebasan
lahan nanti," katanya.
Menanggapi apakah bisa sejumlah ruas jalan provinsi yang saling
berhubungan dibuat jalur khusus motor, Rustam mengatakan, lebar jalan di
ruas jalan di Jakarta ini tidak memungkinkan untuk sebagian jalurnya
diambil bagi jalur khusus sepeda motor. Nanti malah akan semakin sempit
dan masyarakat akan ribut.
Ditanya bagaimana dengan Jalan Arteri Pondok Indah, misalnya, Rustam
Effendi menjelaskan bahwa di jalan arteri tersebut hanya terdapat tiga
lajur dan itu selalu dipadati kendaraan. Bayangkan apa yang akan terjadi
seandainya satu lajur dibuat untuk jalur khusus motor.
Polisi tidak mampu
Menurut Rustam, kemacetan lalu lintas di Jakarta sebenarnya bisa
dikurangi kalau polisi mampu mendisiplinkan para pengendara. Misalnya,
kemacetan yang disebabkan "pertemuan" kendaraan di tiap persimpangan
jalan yang justru sering dibiarkan oleh polisi.
"Lihat saja sendiri faktanya di lapangan. Di tiap perempatan banyak
sepeda motor yang berhenti di lampu merah melewati garis pembatas,
bahkan tak jarang di tengah-tengah perempatan. Ada juga yang menyerobot
rambu tanpa menunggu lampu menyala hijau. Pelanggaran itu sering
terjadi, tetapi dibiarkan saja," kata Rustam.
Padahal, pada setiap persimpangan jalan di Jakarta ini, umumnya terdapat
pos polisi atau polisi yang berjaga. (PIN/MAS/INU/HAR) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|