| |
C © updated 27012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Prof Sutaryo
Lahir:
Desa Harjobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta,
Isteri:
Iskatarismiyanti
Anak:
Agustina Istaryanti
Ayah:
Sastrodibroto
Ibu:
Dipanggil Simbok
Saudara:
11 orang, Sutaryo nomor tujuh (semuanya lulusan UGM)
Pendidikan:
- S1 Fakultas Kedokteran UGM
- S3 (PhD) Fakultas Kedokteran UGM, disertasi berjudul Limfosit Plasma
Biru (Arti Diagnostik dan Sifat Imunologik pada Infeksi Dengue)
Pekerjaan:
- Ketua Komite Medis Rumah Sakit (RS) Sardjito, Yogyakarta
- Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM
|
|
| |
|
|
|
|
| SUTARYO HOME |
|
|
 |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
Prof Sutaryo
Penemu Cara Mudah Deteksi DB
Ada cara ”mudah” mendeteksi seseorang menderita penyakit demam berdarah
atau tidak, yakni dengan melihat perubahan darah. Jika sel darah
limfosit warna biru seseorang mencapai 4 persen, berarti sudah merupakan
indikasi bahwa yang bersangkutan menderita penyakit tersebut.
Hal itu ditegaskan berulang-ulang oleh Prof Sutaryo (57) dalam
perbincangan di Yogyakarta pada pertengahan Januari 2006. Sutaryo—kini
Ketua Komite Medis Rumah Sakit (RS) Sardjito, Yogyakarta, serta staf
pengajar Fakultas Kedokteran UGM—menekuni penyakit demam berdarah (DB)
sejak tahun 1970-an atau tiga tahun sebelum lulus sebagai dokter dari
Fakultas Kedokteran UGM.
Menurut Sutaryo, diagnosis DB bagi dokter pada demam hari pertama sampai
hari keempat sangat sulit karena penyakit yang disebabkan oleh virus,
misalnya flu tulang atau influenza, gejalanya mirip satu sama lain.
”Nah, apa ada cara pemeriksaan sederhana sekaligus murah serta dapat
dilakukan di puskesmas dan hari itu juga selesai?” katanya.
Dari pengalaman menangani DB itulah lalu muncul ide melakukan
pemeriksaan limfosit warna biru dan berhasil sehingga mengantarkannya
meraih gelar doktor dari UGM dengan disertasi berjudul Limfosit Plasma
Biru (Arti Diagnostik dan Sifat Imunologik pada Infeksi Dengue). Sel
darah limfosit warna biru yang juga dikenal dengan nama limfosit plasma
biru (LPB) pernah diumumkan pada Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak
ke-4 di Yogyakarta tahun 1978.
Menyusul penemuan Sutaryo, di setiap blangko pemeriksaan laboratorium
untuk penderita DB kini dimasukkan kolom-kolom pemeriksaan LPB. Ini
tentu saja lebih mempermudah dokter menangani pasien DB. Sebelumnya,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1986 mengeluarkan kriteria,
tetapi ternyata tidak bisa difungsikan untuk diagnosis dini.
Untuk menyusun disertasinya pada tahun 1991, Sutaryo mengambil sampel
433 anak sehat, kemudian didapat angka rata-rata LPB 0,9 persen. Di
daerah penelitian dijumpai pula anak yang telah mendapat zat
antiterhadap infeksi dengue sebanyak 74 persen.
Batas LPB yang ditolerir adalah 4 persen, katanya, dapat dipilah antara
penderita dan yang bukan penderita dengue. ”Ini sangat menolong
penegakan diagnosis di daerah, mengingat LPB tidak dipengaruhi status
gizi yang baik atau buruk, demikian pula pemberian obat-obatan sebelum
dirawat di rumah sakit,” tutur dokter yang mendapat pangkat profesor
pertengahan tahun lalu.
Penyakit DB, kata Sutaryo, sudah tersebar luas di dunia, di mana infeksi
oleh virus dengue merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian,
terutama pada anak di daerah tropis dan subtropis. Di Indonesia, dengue
ringan muncul tahun 1799, sedangkan bentuk penyakit berat baru tampak
pada tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta. Setelah itu, menyebar ke
seluruh provinsi di Indonesia. Letusan besar penyakit ini terjadi tahun
1988 dengan jumlah kasus 47.573 dan jumlah penderita yang meninggal
sebanyak 1.527 orang.
”Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tidak habis DB-nya. Antara
lain dokter tidak disiplin memonitor pasien,” katanya lagi.
Ia menambahkan, RS Sardjito/FK UGM sudah melakukan penelitian dan
mempunyai tata cara pengelolaan DB yang sederhana, yakni dengan monitor
DB gaya Yogyakarta. Apa itu gaya Yogyakarta? ”Kombinasi pemeriksaan
setiap enam jam plus laboratorium sederhana, cukup untuk merawat
penderita DB. Murah tur slamet, tak perlu ICU (intensive care unit),”
kata Sutaryo.
Petani
Dilahirkan di Desa Harjobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta,
Sutaryo kecil memperoleh didikan ayah (Sastrodibroto, pegawai sosial di
kantor desa) dan ibunya (dipanggil Simbok) dalam suasana keprihatinan.
”Simbok saya itu buta huruf, lho. Tetapi, mata batinnya sejuk dan
pandangannya jauh ke depan,” tuturnya.
Seluruh anak keluarga Sastrodibroto (11 orang, Sutaryo nomor tujuh)
adalah lulusan UGM. Demikian diungkapkan oleh Yupratomo Dwi Putranto,
salah satu keponakannya yang kini tinggal di Jakarta.
”Ayah memberi olah batin yang kuat. Simbok memberi semangat ketekunan.
Kami memang dari keluarga petani desa...,” ujar Sutaryo. Latar belakang
ini membuat ia senang berkebun, di sela-sela memberi kuliah dan praktik
swasta di depan kawasan Ambarrukmo, Yogyakarta
Suami Iskatarismiyanti dan bapak satu anak (Agustina Istaryanti) itu
semasa kuliah sempat menjadi pemandu wisata, kemudian bermain drama yang
berlanjut ke ketoprak. Juga menjadi wartawan, penulis kolom semasa
koasisten di bagian bedah, serta mengisi rubrik tetap di sebuah radio
swasta. Di samping itu, Sutaryo aktif pula di bidang olahraga—pencak
silat, voli, dan sepak bola—serta menari klasik dan paduan suara.
”Kesenangan menulis menjadikan saya ikut melahirkan beberapa majalah dan
sempat menjadi redaksi, antara lain, di Berita Kedokteran Masyarakat,
Berita Efkagama, dan Farmacia,” katanya. Buku yang ia tulis pun cukup
banyak. Terakhir di bawah judul Dengue terbitan Medika FK-UGM. Ia juga
menulis buku praktis Mengenal Demam Berdarah. Buku ini merupakan
rangkuman pengalaman menangani DB.
”Penjelasan untuk keluarga harus lain dengan penjelasan untuk tenaga
profesional sehingga istilah medis yang sukar diupayakan dihindari,”
tutur Sutaryo. Karena jiwa sosialnya tinggi, ia sering menggratiskan
biaya bagi pasien. ”Yang penting mereka sembuh lahir-batin....”
(Djoko Poernomo, Kompas, 27 Januari 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|