| |
C © updated 11022008-23022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sp |
|
| |
Nama :
Sutan Takdir Alisjahbana
Lahir:
Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908
Meninggal:
Agama:
Islam
Pendidikan:
-
Pekerjaan:
|
|
| |
|
|
|
|
| STA HOME |
|
|
 |
Sutan Takdir Alisjahbana (1908
Andaikan Masih Hidup
Hari ini 100 tahun hari kelahiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA), 11
Februari 1908 di Natal, Sumatera Utara. Alangkah beruntungnya kita jika Sutan Takdir Alisjahbana (STA) masih
hidup sekarang. Kita bisa banyak bertanya soal arah kebudayaan bangsa
ini. Soal budaya yang hari-hari ini menjadi isu sangat relevan dalam
kehidupan kita saat media massa sibuk memberitakan perdebatan mengenai
RUU Pornografi dan Pornoaksi.
Bukankah STA adalah pemuja modernitas dari Barat? Mungkin kalimat itu
yang bisa dilontarkan jika kita mengasumsikan pornografi adalah anak
kandung modernitas dari Barat. Asumsi itu bisa jadi terlampau
menyederhanakan masalah kebudayaan dan soal yang berkaitan dengan dunia
syahwat.
Lepas dari perdebatan itu dan yang tak mungkin bisa dilupakan dari sosok
STA ialah idenya yang berani soal arah kemajuan budaya bagi Indonesia.
STA pada tahun 1935 dengan tegas menyebutkan, Barat, ke Baratlah,
Indonesia harus melihat dan belajar jika ingin maju. STA melontarkan
idenya itu pada usia 27 tahun.
Pokok-pokok pemikiran STA bukan hanya mengguncang masyarakat saat itu.
Para pemikir dan budayawan seangkatannya seperti Ki Hajar Dewantara dan
Sanusi Pane menanggapi pemikiran STA seraya mengingatkan STA bahwa Timur
adalah arah kemajuan budaya yang harus dipertahankan Indonesia
mendatang.
Memikat sekali untuk mencermati catatan almarhum Mochtar Lubis tentang
STA. Menurut bapak jurnalis Indonesia itu, sumbangan utama STA yang
harus tercatat dalam sejarah kebudayaan Indonesia ialah polemiknya yang
penuh gairah menghadapi intelektual seniornya yang hendak mempertahankan
nilai kebudayaan lama sebagai landasan kemajuan Indonesia. Perdebatan
antara STA dengan para penentangnya belakangan dikenal dengan istilah
Polemik Kebudayaan.
Jika dikaitkan dengan persoalan arah budaya Indonesia mendatang,
termasuk perdebatan keras di masyarakat mengenai bagaimana negara
mengatur soal pornografi, maka peluncuran buku Sang Pujangga, 70 Tahun
Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana di Taman
Ismail Marzuki (TIM), Selasa (21/2) malam menjadi sangat relevan. Buku
yang disunting A Abdul Karim Mashad bukan hanya berisi informasi
mengenai karya tulis STA. Buku itu memuat juga sejumlah tulisan
budayawan Indonesia yang mengkritisi pemikiran STA.
Hadir dalam peluncuran buku itu sastrawan Abdul Hadi, sejarawan Asvi
Warman Adam dan para mahasiswa dan budayawan yang tampaknya sangat
antusias mendiskusikan pikiran STA. Ratna Sarumpaet sempat pula
membawakan puisi karya STA berjudul Menuju Ke Laut. "Kami telah
meninggalkan engkau, Tasik yang tenang, tiada beriak, diteduhi gunung
yang rimbun dari angin dan topan...''
Karya STA yang dibacakan Ketua Dewan Kesenian Jakarta itu seolah
menunjukkan sikap STA yang tegas untuk meninggalkan tradisi budaya di
Indonesia yang menurutnya antiintelektual dan antimaterialisme. Bisa
jadi pendapat STA soal antiintelektual ini tepat untuk menggambarkan
wajah budaya Indonesia saat ini. Wajah yang kebingungan untuk menentukan
arah budaya Indonesia hingga soal pornografi pun harus diatur secara
khusus dalam sebuah Undang Undang (UU), sementara UU yang sudah ada dan
mengatur masalah itu tidak digunakan dengan maksimal. (Suara Pembaruan,
22 Februari 2006)
********
Pemikiran Rasional STA
Pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana tentang Islam sangat relevan dan
kontekstual dalam perkembangan Islam sekarang ini. Ia menginginkan umat
Islam bisa mencapai kemajuan dan keluar dari keterbelakangan.
”Ia mengembangkan sikap rasional, memahami agama dengan cara yang
rasional, mengembangkan pemikiran yang rasional. Jadi bukan pemahaman
yang literal,” kata Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra pada diskusi ”Menyongsong Satu Abad
Sutan Takdir Alisjahbana” yang kerap disebut STA di Jakarta, Selasa
(21/2).
Menurut Azyumardi, ada kecenderungan sekarang ini orang memahami agama
secara literal, secara hitam putih. Sikap literal itulah yang menurut
STA tidak kondusif untuk mencapai kemajuan.
STA menekankan pentingnya bagi orang Islam untuk mengembangkan i’tijad,
berpikir secara independen untuk menjawab masalah-masalah yang ada.
Meskipun STA sangat menekankan distingsi Islam, ia juga sangat
menekankan bahwa Islam amat mementingkan solidaritas antarmanusia
sehingga dengan begitu umat Islam bisa terhindar dari keislaman yang
chauvinistik. Ia melihat dalam sejarah Islam bahwa kaum Muslimin dalam
banyak hal tak segan-segan bekerja sama dengan golongan-golongan (agama)
lain. Menurut STA, dalam dunia yang menjadi kecil sekarang
(globalisasi), tidak boleh tidak kerja sama antarmanusia mesti
diusahakan dengan sungguh-sungguh.
Asvi Warman Adam, ahli peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, melihat pemikiran STA lebih banyak memprovokasi kita supaya
melihat ke Barat. ”Sutan Takdir Alisjahbana menganggap nilai-nilai Barat
seperti individualis, materialisme, dan egoisme sebagai sesuatu yang
penting sebagai api. Dia mengibaratkan orang masak nasi, jadi jangan
dipadamkan apinya. Kalau di Barat, nasi (itu) sudah hampir masak, jadi
api tak perlu diperbesar. Di Indonesia api itu diperlukan,” kata Asvi.
Untuk konteks masa kini, melihat atau mengambil sesuatu yang positif
dari Barat, dipandang Asvi, masih sangat relevan.
Menurut Asvi, STA bersama Muhammad Yamin adalah dua pujangga yang saling
melengkapi. STA menghadap ke depan dengan menyatakan kita harus
mencontoh Barat untuk mengambil yang positif dari Barat, sedangkan Yamin
mengajak kita kembali ke belakang saat kita pernah mengalami kejayaan
pada masa lampau. (Kompas, 23 Februari 2006) ►e-ti
***
Suatu Filosofi untuk Masa Depan
Menuju Kebudayaan yang Inklusif
OLEH : SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA
Pengantar:
Hari ini adalah peringatan 100 tahun Sutan Takdir Alisjahbana yang lahir
11 Februari 1908 di Natal, Sumatera Utara. Tulisan ini merupakan karya
terakhir yang ia tulis semasa hidupnya. Pada umumnya orang mengingatnya
sebagai penulis novel Layar Terkembang dan sebagai pemimpin redaksi
majalah sastra dan budaya, Pudjangga Baru. Namun, sumbangan utamanya
sebetulnya bukan dalam bidang sastra, melainkan dalam bidang bahasa dan
kebudayaan. Ia memodernisasikan bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi
bahasa nasional negara modern yang merdeka yang ikut mempersatukan
Nusantara.
Ia juga adalah pencetus Polemik Kebudayaan yang menjadi pembicaraan
hangat pada tahun 1930-an. Melalui Polemik Kebudayaan ia berusaha
menemukan jati diri bangsa dan membimbing pembentukan kebudayaan baru,
yang dapat menjadi pemersatu penduduk Nusantara. Tak banyak yang
menyadari prinsip yang melandasi segala ucapannya.
Takdir menerbitkan hampir seluruh pandangan yang berbeda-beda dalam
Polemik Kebudayaan yang hampir semuanya bertentangan dengan pandangannya
sendiri. Meskipun ia semangat dan terus terang dalam mengekspresikan
pandangannya, ia tetap menjadi demokrat yang tidak hanya memancing
pandangan yang berbeda-beda, tetapi juga menyediakan wadah untuk
mengekspresikannya melalui majalah Pudjangga Baru.
Sepanjang hidupnya Takdir tak pernah berhenti dalam menyampaikan
pandangannya mengenai masyarakat dan kebudayaan, namun ia juga
menghargai pentingnya kebebasan berekspresi bagi mereka yang tidak
sependapat dengan pandangannya. Dengan cara ini Takdir membantu
mewujudkan dialog yang membentuk Indonesia. Tidak banyak orang yang
melihat sisi ini dari Takdir.
Takdir memperkenalkan wacana mengenai pentingnya kita untuk menciptakan
sebuah kebudayaan dunia yang inklusif. Istilah kebudayaan yang inklusif
sekarang sudah menjadi populer. Takdir telah berjuang untuk itu melalui
karya dan tulisannya sepanjang hidupnya dan ia menyebutnya jauh sebelum
kebanyakan orang lain. (*)
Dewasa ini kecepatan transportasi dan komunikasi sebagai dampak dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dahsyat menimbulkan
suatu proses globalisasi di dunia yang mengakibatkan segala sesuatu
tampaknya berada di depan kita dan kita tak terhindar lagi dari
penyatuan bangsa dan kebudayaan di planet kita yang seolah-olah semakin
menyusut.
Sepanjang sejarah, dengan bertambahnya pengetahuan serta kemampuan
manusia menciptakan teknologi yang semakin canggih dan efisien,
masyarakat dan budaya manusia menjadi semakin lama semakin kompleks dan
luas: suku menjadi marga, marga menjadi kerajaan, dan kerajaan menjadi
negara kebangsaan. Proses ini juga terlihat di dalam perkembangan
persenjataan. Dengan memakai anak tombak dan panah kapasitas untuk
menghancurkan musuh terbatas, manusia hanya mampu membunuh satu orang
dalam sekali waktu, namun dengan penemuan bubuk mesiu dan senjata
otomatis, kapasitas untuk membunuh menjadi dahsyat sebagaimana terlihat
dalam peperangan abad ke-20. Namun, dengan bom atom, terlihat jelas
bahwa manusia menghadapi situasi yang sama sekali baru. Sekarang perang
bukan hanya mengakibatkan pembunuhan massal. Dengan senjata atom kita
sudah mampu memusnahkan dunia bahkan menghapuskan seluruh umat manusia.
Sangatlah jelas bahwa dalam situasi seperti ini kita harus mengubah cara
pandang dan sikap kita terhadap sesama manusia.
Proses globalisasi mengakibatkan berbagai kebudayaan di dunia bertemu
bukan saja di kota besar, tetapi di mana-mana dengan adanya radio,
televisi, surat kabar, dan media massa. Akibatnya terjadi pertemuan dan
percampuran kebudayaan yang lebih besar daripada yang pernah terjadi
dalam sejarah manusia sebelumnya.
Pandangan-pandangan lama yang bersumber pada sukuisme, nasionalisme, dan
eksklusivitas agama harus berubah sehingga tidak timbul konflik yang tak
terkendali lagi. Kita harus mengatasi keterbatasan kita dan kontroversi
dengan pihak lain melalui sikap dan pemikiran baru yang radikal. Sebuah
filosofi pemahaman dan tanggung jawab yang baru dan lebih luas
cakupannya harus tampil. Kita tidak minta dilahirkan di dalam suku,
bangsa, atau agama tertentu. Berdasarkan sudut pandang ini situasi kita
sebuah kebetulan. Saya lahir sebagai orang Indonesia, tapi saya bisa
saja terlahir sebagai orang Eskimo dengan kebudayaan dan cara hidup
orang Eskimo.
Dari sudut pandang ini, semua masyarakat dan kebudayaan lain merupakan
bagian dari peluang dan potensi yang terbuka bagi saya. Orang yang saya
pandang sebagai suku lain akan menjadi suku saya andaikata saya lahir di
antara mereka.
Di zaman transportasi dan komunikasi yang pesat, orang sering pindah dan
menetap di antara masyarakat dan kebudayaan lain. Maka kita perlu
mengembangkan pemikiran kita sehingga kita memandang orang lain sebagai
peluang dan potensi baru yang terbuka bagi kita. Kita tidak menentukan
tempat kelahiran, adat istiadat, dan pendidikan kita. Melalui perkawinan
dan berbagai kontak sosial dan budaya lain, melalui radio, televisi,
buku, dan majalah, kita telah menjadi bagian dari orang dan masyarakat
lain dan demikian pula sebaliknya.
Dalam konteks ini, tidak ada lagi konsep ”orang lain”, yang ada hanyalah
satu umat manusia di atas planet yang semakin menyusut yang berada dalam
bahaya kehancuran total akibat perbuatan kita sendiri melalui
perkembangan ilmu dan teknologi yang dahsyat.
Saya hendak kembali kepada masa abad ke-5 SM. Pada waktu itu di China
muncul Confucius, Lao-tse, Moti, dan lainnya yang meletakkan dasar
kerajaan dan peradaban China. Di India terdapat Buddha Mahavira dengan
para penulis Upanishad dan Kaisar Ashoka yang menyatukan daratan India.
Di Timur Tengah para nabi Yahudi sedang bergelut dengan konsep keesaan
Tuhan dari mana kemudian muncul agama Kristen dan Islam, sedangkan di
Yunani, para filosof besar, seperti Plato dan Aristoteles, membuka jalan
bagi pemikiran sekuler modern. Karl Jaspers menyebut masa abad ke-5 SM
sebagai ”Achsenzeit” atau ”masa sumbu sejarah” yang sampai sekarang
masih memengaruhi kehidupan kita. Alfred Weber menyimpulkan bahwa
peningkatan kreativitas sosial dan budaya pada abad ke-5 SM terkait
dengan pemakaian kuda sebagai alat transportasi.
Namun, kita sekarang berdiri di suatu kurun waktu yang jauh lebih hebat
daripada abad ke-5 SM. Cukuplah membandingkan kecepatan kuda dan pesawat
terbang. Seperti sudah dikatakan, perbatasan antarnegara menjadi hilang.
Sebuah masyarakat dan kebudayaan dunia baru sedang muncul, jauh lebih
besar daripada sebelumnya. Negara-negara di dunia harus membentuk suatu
federasi dunia. Hanya dengan demikian dapat kita mengatasi bahaya
kehancuran dunia dan umat manusia sebab negara-negara dunia tidak perlu
mempersenjatai dirinya lagi.
Kita sekarang masih jauh dari keadaan seperti itu sehingga suatu sikap
solidaritas universal harus dibangkitkan agar retorika eksklusivisme
dapat terhapus dan digantikan oleh komunikasi kebersamaan dan
solidaritas universal, yang berarti membentuk suatu kebudayaan dunia
yang inklusif. (Kompas, Senin, 11 Februari 2008)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|