| |
C © updated 12022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/atur |
|
| |
Nama:
Surya Dharma Paloh
Lahir:
Kutaraja (Banda Aceh), 16 Juli 1951
Agama :
Islam
Istri:
Rosita Barack (Menikah tahun 1984 di Jakarta)
Anak:
Prananda, lahir di Singapura tahun 1988
Pendidikan:
Tahun 1958-1963: Sekolah Dasar Negeri Serbelawan, Simalungun
Tahun 1964-1966: Sekolah Menengah Pertama Negeri Serbelawan, Simalungun
Tahun 1967-1969: Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Medan
Tahun 1970-1972: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan
Tahun 1972-1975: Menyelesaikan Pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan
Alamat Rumah:
Jalan Permata Berlian R. 20 Permata Hijau, Jakarta
Alamat Kantor:
Harian Media Indonesia - Metro TV
Komplek Delta Kedoya
Jalan Pillar Mas Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11520
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3
4 5 6 ==
Surya Dharma Paloh (3)
Kader Golkar yang Kritis
= Pencetus Konvensi Golkar
Bila ada yang keliru menilai Surya, mungkin disebabkan sulitnya memisahkan
antara idealisme dan latar belakang politiknya sebagai kader Golkar yang
kontroversial. Sebab idealisme Surya selalu mewarnai karakter karya
jurnalistik Prioritas yang secara diametral sangat bertentangan dengan
iklim rezim Orde Baru yang dilahirkan dan ditopang Golkar.
Idealisme itu adalah, menegakkan nilai-nilai demokrasi dalam bingkai
wawasan kebebasan pers. Surya menyadari kebebasan pers bukanlah kebebasan
absolut tanpa nilai. Kebebasan pers harus diwujudkan sebagai sikap kritis
yang rasional, proporsional, dan profesional tanpa membenci atau memusuhi
pihak manapun.
Surya selalu menempatkan diri sebagai sahabat bagi setiap orang. Namun
bersamaan itu dia mendefinisikan pula bahwa sahabat sejati adalah sahabat
yang bersikap kritis, berani mengungkapkan kebenaran dan keadilan walau
terasa pahit. Demikian pula pers yang dia pimpin, sebagai sahabat yang
baik pers harus tetap kritis terhadap kekuasaan dalam rangka menegakkan
kebenaran dan keadilan.
Itulah yang mewarnai karya-karya jurnalistik Prioritas dengan rubrik
andalan Selamat Pagi Indonesia yang selalu ditunggu-tunggu pembaca sebab
gaya penyajiannya yang satir serta cenderung sarkastis dan kerap menyoroti
fenomena aktual yang ada. Prioritas sesungguhnya merupakan refleksi
pemikran seorang Surya dalam melihat bangsanya.
Duet wartawan senior Nasrudin Hars dan Panda Nababan merupakan kunci
sukses Prioritas yang mampu menerjemahkan gagasan, pemikiran serta
idealismenya ke dalam karya-karya jurnalistik. Setelah menjadi publisher
sejati dia masih tetap menjadi sahabat kekuasaan lewat duet Media
Indonesia dan Metro TV yang dimiliki untuk menyoroti fenomena faktual yang
ada.
Surya Paloh memang kental dengan atmosfir kontroversial baik saat
berbisnis maupun berpolitik, atau saat keduanya diayunkan bersamaan. Untuk
memperjuangkan proses tender secara fair di PT Pupuk Kaltim, misalnya,
karena Indocater miliknya dikalahkan, Surya harus menggebrak James
Simanjuntak, direktur utama Pupuk Kaltim. Alasan kalah, Indocater tidak
mempunyai jaminan modal yang memadai untuk mengikuti tender.
Surya lalu bergegas menghadap Omar Abdallah, Direktur Utama BBD untuk
memperoleh bid bond atau jaminan tender senilai Rp 500 juta, sebab dua
hari sebelumnya permintaan serupa telah ditolak BBD Cabang Cikini karena
dianggap Indocater tidak kapabel untuk menangani proyek tersebut.
Karena itu, begitu bid bond diperoleh Surya yang di tahun 1980 itu sebagai
Ketua Umum FKPPI mengirimi James karangan bunga mawar setinggi 1,5 meter
yang ditempel sepenggal kalimat dalam kertas berkop MPR, “Bung James
Simanjuntak, semoga sukses. Merdeka!” James akhirnya melakukan tender
ulang dan memenangkan Indocater.
Langkah kontroversialnya di politik dan bisnis pers lebih banyak lagi.
Bukan sekali dua kali Media Indonesia yang dipimpinnya diancam dibredel.
Atau karena keteguhannya menegakkan kebenaran dan demokrasi Surya harus
dicari-cari aparat keamanan bahkan suatu ketika nyawanya terancam.
Rekaman sepakterjangnya di Jakarta sebagai anak bangsa antara lain
mencatat, sebagai Ketua BPP Hipmi Pusat tahu 1977-1979, mendirikan FKPPI
tahun 1978, Ketua Umum PP-FKPPI tahun 1979-1981 dan tahun 1981-1983,
Anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri tahun 1982-1984, Ketua DPP AMPI
tahun 1984-1989, Ketua Dewan Pertimbangan PP-FKPPI tahun 1984-1987, Ketua
Dewan Kehormatan BPP Hipmi tahun 1984-1987, Anggota Dewan Pembina DPP AMPI
tahun 1989 sampai sekarang, Pengurus PB Gabsi tahun 1998 hingga sekarang,
Anggota Dewan Pers tahun 1999 sampai sekarang, dan Ketua SPS Pusat tahun
1999 hinggga sekarang.
Di kelembagaan legislatif, Surya pada tahun 1971 tercatat sebagai Calon
Anggota DPRD Tingkat II Medan dari Golkar, lalu sebagai Anggota MPR pada
tahun 1977-1982 dan kembali menjadi Anggota MPR tahun 1982-1987. Terakhir,
pada tahun 1987 sebagai Calon Anggota MPR/DPR RI dari Golkar namun urung
dilantik setelah Prioritas koran miliknya dibredel.
Pembredelan inilah puncak sekaligus awal kontroversi politik Surya, yang
membawanya ke sebuah vonis kematian perdata dan hak-hak politik dalam
waktu lama sampai terbetik gagasan memunculkan Konvensi Presiden Partai
Golkar. Sebagai salah satu pencetus gagasan konvensi Surya lalu
membangunkan sendiri dirinya untuk ikut bertarung sebagai salah seorang
kandidat calon presiden dari Partai Golkar.
Itulah Surya Paloh. Pandangan politiknya yang sangat menjunjung tinggi
nilai-nilai demokrasi sangat mewarnai sikap dan kebijakannya ketika terjun
dalam dunia pers sebagai publisher. Posisi politiknya dalam lingkaran
kekuasaan tidak serta merta menghanyutkan dirinya dalam kompromi
sungguhpun dia akan menghadapi risiko tudingan sebagai pembangkang atau
mungkin penghianat. Sepak terjangnya dalam pentas politik nasional sebagai
kader Golkar dimulai dari bawah. Sehingga dia merasakan betul arti sebuah
perjuangan dan keberhasilan.
Keberhasilannya dalam dunia bisnis, misalnya, terlihat di PT Indocater
yang merupakan perusahaan katering terbesar dan terbaik di Indonesia
dengan 4.000-an karyawan. Setelah membangun usaha di tahun 1975 dengan
bendera PT Ika Mataram Coy, baru berselang empat tahun kemudian dia
membeli penuh saham PT Indocater yang lalu diangkatnya menjadi mesin
pencetak uang yang menguntungkan.
Keuntungan itu digunakannya untuk ekspansi usaha termasuk menjajal bisnis
pers dengan mendirikan Prioritas dan PT Surya Persindo. Surya bukan tidak
mendapat tentangan terjun ke bisnis pers sebab telah jauh lari dari core
business katering, terutama dari para manajer puncak Indocater. “Negeri
ini masih memerlukan suatu suara yang dicetuskan lewat media cetak. Ini
penting, sebagai alat perjuangan bangsa Indonesia dalam menyuarakan hati
nurani,’ jelas Surya kepada Lily Harahap yang tegas-tegas menentang
langkah Surya.
“Justru kita harus melahirkan Prioritas agar tidak ada lagi koran yang
dibredel,” tambahnya. “Jadi, supaya bisnis dan juga hati nurani saya bisa
berjalan beriringan, kita gunakan dulu keuntungan Indocater untuk
menerbitkan Prioritas,” lanjut Surya. Lily akhirnya sadar bahwa Surya
berwatak sangat independen dan tak mudah didikte.
Surya seperti menemukan dunianya yang sesungguhnya. Dia terus membangun
reputasi sebagai publisher, lebih enjoy dan tertantang mengurusi bisnis
pers, sementara pengelolaan katering Indocater diserahkan sepenuhnya ke
profesional sejak pertengahan dekade 1980-an.
Surya sebagai pengusaha sukses, kini sudah mempunyai aset dalam hitungan
trilyun rupiah. Rekaman sepakterjang bisnisnya di Jakarta mencatat deretan
cukup panjang. Intinya antara lain adalah, Metro TV, Media Indonesia,
Lampung Pos, Intercontinental Hotel Jimbaran, Sheraton Media Hotel
Jakarta, Papandayan Hotel Bandung, Sun Plaza Medan, Indocater, dan
sejumlah perusahaan marmer, kabel, komputer dengan jumlah karyawan 15.000
orang.
Perjalanan Surya dalam bisnis sesungguhnya tak selalu mencatat
keberhasilan. Dia menorehkan pula sejumlah kegagalan. Dan justru di
sinilah dia banyak menimba pengalaman serta menambah kematangan diri
sebagai pengusaha muda. Dia menggeluti dunia bisnis dari bawah secara
otodidak tanpa uang sesen pun, kecuali hanya bermodalkan pergaulan dan
kepercayaan.
Pencetus Konvensi Partai Golkar
Partai Golkar yang dalam beberapa tahun terakhir (era reformasi) ini
sering dikritik dan dihujat, karena dianggap merupakan bagian dari masa
lalu, adalah partai pilihannya sejak muda, awal berpolitik. Sedikit banyak
dia pernah memberi kontribusi demi kebesaran Golkar. Kendati dia sebagai
penerbit pers juga mengalami pemberedelan karena kritik-kritiknya yang
sering tidak disukai penguasa ketika itu. Karena itu, pilihannya maju
sebagai kandidat presiden dari Partai Golkar dimaksudkannya pula sebagai
upaya untuk menyelamatkan partai kebanggaannya itu dari hantaman para
penentang.
Surya Paloh memilih Partai Golkar kendaraan menuju kandidat calon RI-1
karena selama 35 tahun berpolitik itulah satu-satunya partai yang pernah
dia singgahi. Dia sudah cukup senior semenjak berusia 17 tahun. Mungkin
tidak banyak yang tahu, bahwa Surya salah satu kadder yang paling senior
hingga Nomor Pokok Anggota Golkar (NPAG) miliknya lebih tua usianya
dibanding sang ketua umum sendiri, Akbar Tandjung.
Dan sekalipun partai berikut ketua umumnya dalam pandangan orang dianggap
bermasalah, namun sebagai kader senior Golkar, kondisi tersebut justru
sangat menantang baginya untuk semakin berkiprah dalam Golkar. Dia adalah
kader yang dibesarkan sekaligus pernah pula dikucilkan oleh Golkar saat
hak-hak perdatanya dicaplok.
Oleh Golkar, Surya saat masih berusia 19 tahun sudah dicalonkan sebagai
caleg DPRD Tk. II Medan pada Pemilu 1971. Ketika itu, secara elegan
akhirnya dia mundur dari pencalonan sadar jam terbangnya sebagai politisi
muda masih harus ditambah. Surya mundur untuk sekaligus menaikkan target
ke Senayan berebut kursi DPR/MPR.
Di kemudian hari terbukti saat dicalonkan kembali menjadi anggota DPR/MPR
RI, dia akhirnya tembus ke Senayan Jakarta menjadi anggota MPR RI saat
usia masih sangat belia, 25 tahun. Demikian pula di usia 30 tahun terpilih
kembali ke MPR.
Walau sudah matang sebagai politisi muda yang pantas diperhitungkan di
pentas politik nasional, dalam usianya sudah 35 tahun, pada Pemilu 1987
Surya tetap dicalonkan namun urung dilantik karena Prioritas, koran yang
dipimpinnya dibredel. Total, sebagai kader senior Golkar sedikit-dikitnya
sudah lima kali Pemilu dia dicalonkan menjadi anggota legislatif.
Era reformasi yang membuka kesempatan pemilihan presiden secara langsung,
memantik kreatifitasnya mencetuskan gagasan Konvensi Calon Presiden Partai
Golkar. “Ini, kita lahirkan, lalu kita perjuangkan untuk bisa diterima
oleh Partai Golkar,” ujarnya.
Gagasan memperjuangkan eksistensi Golkar sering dibicarakannya. Di
antaranya dalam percakapan dengan Akbar tandjung di awal tahun 2001. Surya
menyebutkan, “Yang terpenting, saya kira, sudah saatnya Bung Akbar lebih
tegas. Euforia politik yang berlebihan, seperti terus menerus menghujat
Golkar, sudah harus diakhiri. Semua orang prihatin terhadap peristiwa
perusakan dan pembakaran kantor DPD Golkar di Jawa Timur. Saya benar-benar
sedih. Karena proses reformasi yang seharusnya dapat memperkuat
pilar-pilar demokrasi, justru dirusak dengan tindakan anarkistis.”
Sebagai penggagas Konvensi Capres Golkar, dia pun ikut mencalonkan diri.
“Kita ikut. Ini satu proses pendidikan politik di Partai Golkar sendiri.
Saya yakin juga, ini akan memberikan refleksi yang berarti kepada partai
politik lainnya dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.
Mengikuti konvensi, baginya sama sekali tidak mesti mendapatkan jabatan
presiden itu. Tetapi juga merupakan suatu proses pendidikan politik dan
peningkatan citra Golkar. “Di situ ada nilai yang harus kita berikan,
sacrifice dari diri kita, pengorbanan. Tidak melihat kekuasaan sebagai
sesuatu yang luxurious yang harus kita timang-timang dan kita pertahankan
sepanjang masa. Sebaliknya, kalau kita tidak mendapatkan jabatan itu,
tetaplah kita seperti apa adanya sekarang.”
Baginya, mengikuti proses pencalonan presiden adalah suatu panggilan jiwa
sebagai salah satu alternatif pemimpin bangsa yang memiliki otoritas
kepemimpinan penuh berkat dukungan rakyat. Sebab masa depan bangsa ini
harus segera dijemput. ►haposan/mlp/crs ►
LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|