| |
C © updated 12022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/atur |
|
| |
Nama:
Surya Dharma Paloh
Lahir:
Kutaraja (Banda Aceh), 16 Juli 1951
Agama :
Islam
Istri:
Rosita Barack (Menikah tahun 1984 di Jakarta)
Anak:
Prananda, lahir di Singapura tahun 1988
Pendidikan:
Tahun 1958-1963: Sekolah Dasar Negeri Serbelawan, Simalungun
Tahun 1964-1966: Sekolah Menengah Pertama Negeri Serbelawan, Simalungun
Tahun 1967-1969: Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Medan
Tahun 1970-1972: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan
Tahun 1972-1975: Menyelesaikan Pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan
Alamat Rumah:
Jalan Permata Berlian R. 20 Permata Hijau, Jakarta
Alamat Kantor:
Harian Media Indonesia - Metro TV
Komplek Delta Kedoya
Jalan Pillar Mas Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11520
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3
4 5 6 ==
Surya Dharma Paloh (4)
Surya Itu Cermin dari Daud Paloh
Keluarga Daud Paloh amat bersukacita. Sebab setelah tujuh tahun menunggu,
akhirnya Ibu Nursiah kembali mengandung. Tidak hanya Sang Ayah dan Ibu
yang bahagia, juga Rohana, Usman dan Rusli, kakak si jabang bayi itu pun
sangat girang. Namun, walau kehamilan kali ini direncanakan bahkan melalui
konsultasi dengan dokter yang diikuti nazar seekor kambing, tak urung
membuat pertarungan terasa berat bagi Sang Ibu.
Persis, pada saat terdengar azan subuh di pagi buta tanggal 16 Juli 1951,
terdengar tangisan seorang bayi dari bilik kamar Ibu Nursiah. Dua hari
berselang Daud Paloh menetapkan nama anak keempatnya itu Surya Dharma
Paloh. Keluarga Daud Paloh ketika itu tinggal di Jalan Teuku Nyak Arief,
Kutaraja, sekarang Banda Aceh, tepat di depan kantor Gubernur Daerah
Istimewa Aceh.
Surya bermakna lahir di pagi hari saat matahari menyingsing. Dharma
menunjukkan besarnya perhatian ibu pada kegiatan sosial. Dan untuk
memperkuat jalinan emosional, di belakang setiap nama anak Sang Ayah
selalu dicantumkan kata Paloh.
Bagi keluarga Daud Paloh nama Paloh merupakan identitas keluarga.
Singkatan dari Panglima Hasan, panggilan ayah Daud Paloh di lingkungan
teman-temannya. Kebetulan di daerah kampung halamannya, Pidie, Aceh Utara,
terdapat nama desa Paloh.
Pada usia enam bulan, Surya mulai diboyong meninggalkan Kutaraja. Ayahnya
yang seorang perwira polisi, itu mendapat tugas baru di Langsa, Aceh Timur.
Pada tahun 1953 Daud Paloh hijrah lagi ke kota Binjai, kini ibukota
kabupaten Langkat, ditempatkan sebagai komandan reserse di kepolisian
wilayah. Hanya sekitar satu tahun di sana, Daud Paloh kemudian diangkat
menjadi Komandan Wilayah Kepolisian Wilayah Kotacane, di Aceh Tenggara.
Lalu pada tahun 1955, Daud Paloh dipindahkan ke Labuhan Ruku, Asahan,
Sumatera Utara, sebagai Komandan Distrik Kepolisian. Lantas pada tahun
1960 menuju Serbelawan, Kecamatan Dolok Batunanggar, Simalungun dengan
posisi sama. Dan pada tahun 1967 Daud Paloh promosi lagi ke Tarutung
sebagai komandan sektor kepolisian. Terakhir, Daud Paloh hijrah ke Medan
untuk menjalani masa pensiun. Surya Paloh sendiri mulai berpisah dengan
ayah dan keluarganya saat Daud Paloh ke Tarutung sebab Surya memilih
hijrah ke Medan untuk melanjutkan sekolah.
Sekalipun lahir di Kutaraja dan kental berdarah Aceh namun hanya sekitar
2,5 tahun dia pernah tinggal di daerah Aceh, itupun dalam usia yang masih
relatif sulit mengenal lingkungan sosial dan alam sekitar. Tidaklah
mengherankan jika Surya tidak paham dan mengerti sedikitpun Bahasa Aceh.
Ketika di tahun 1976, Adam Malik, Menteri Luar Negeri RI sebagai juru
kampanye Golkar berkampanye ke Aceh, lalu memperkenalkan sekaligus
mendaulat kader Golkar muda Surya Paloh untuk berkampanye dalam bahasa
lokal, yang terjadi adalah pengakuan tulus seorang Surya bahwa dia tidak
bisa berbahasa Aceh.
“Assalamu’alaikum… Hidup Golkar… Mohon maaf saudara-saudaraku sekalian.
Nama saya Surya Paloh. Saya memang asli Aceh, tapi besar di Medan. Maaf,
saya tidak bisa berbahasa Aceh. Tapi saya juga anggota Ikatan Pemuda Tanah
Rencong. Jadi, jangan ragukan komitmen saya untuk Aceh,” pengakuan itu
justru memperoleh gemuruh tepuk tangan massa Golkar untuk menyemangati
Surya.
Masa kecil dan remaja Surya lebih banyak dilalui di daerah Sumatera Utara,
tepatnya di Labuhan Ruku, Serbelawan, dan Medan. Itulah sebabnya Surya
lebih akrab dengan kultur dan karakter sebagai anak Medan, daripada
sebagai putra Tanah Rencong Serambi Mekkah, Aceh.
Rohana, kakak tertuanya menyebut waktu kecil, Surya sangat dimanja oleh
ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Bahkan, walau sebagai anak terkecil namun
sejak usia tiga tahun dia meminta agar dipanggil sebagai Bang. Ya,
singkatan Bang Surya. Terutama dari Ibunya, sejak kecil Surya selalu
mendapatkan kasih sayang yang tulus melebihi saudaranya yang lain.
Demikian pula kasih sayang kakak-kakak terhadap dirinya begitu melekat
dalam benak Surya. Dia selalu mendapatkan perlakuan dan perhatian khusus.
Satu-satunya peristiwa buruk yang pernah dialaminya adalah ketika Sang
Ayah memasukkannya ke gudang di belakang kediaman mereka lalu mengunci
pintu dari luar. Ketika itu, mereka tinggal di Labuhan Ruku, Kecamatan
Talawi, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Saat itu dia berusia lima tahun
yaitu usia penuh warna kenakalan. Surya berteriak-teriak minta dilepaskan
namun sedikitpun tak digubris.
Kesalahan Surya sederhana. Tanpa sepengetahuan ayah, ibu dan saudaranya
dia bersama Adi, temannya yang usianya dua tahun lebih tua, asyik bermain
seharian penuh di dermaga perahu-perahu nelayan di pelabuhan kecil Tanjung
Tiram. Pelabuhan nelayan ini adalah lokasi pemancingan yang telah
berulang-ulang diperkenalkan Daud Paloh kepada Surya setiap hari libur.
Akibatnya, Surya harus mendekam dalam gudang satu jam. Gudang itu menjadi
“penjara” pertama baginya.
Perlakuan keras tadi adalah yang pertama sekaligus terakhir. Sebab
sesudahnya, Surya tak pernah lagi menerima hukuman seberat itu. Mungkin,
Surya menyadari hukuman akan menanti jika melakukan pelanggaran atas
aturan main yang berlaku di rumah sehingga dia tidak lagi berbuat nekad.
Ketegasan dan disiplin tinggi sebagai ciri khas aparat polisi dan militer
memang sangat melekat kuat pada pribadi Daud Paloh. Tabiat itu pula yang
melekat dalam benak Surya. Sang Ayah memiliki tabiat yang kukuh dan berani
menantang risiko jika harus mengamankan dan membela anak buah, meskipun
untuk itu harus mempertaruhkan nasib dan keamanan keluarga. Daud begitu
teguh pada prinsip. Itulah pelajaran berharga yang dia peroleh dari
ayahnya: Sebagai pimpinan tak segan-segan mengambil alih tanggungjawab
demi keselamatan anak buah.
Cukup banyak sifat dan karakter ayahnya yang mengalir dan menjelma dalam
diri Surya. Tidak mengherankan jika kebiasaan dan perilaku Daud Paloh
menurun pada Surya. Seperti keberanian menantang arus, tabiat dalam
melindungi anak buah, kedekatan dengan para staf, serta keteguhan dalam
mempertahankan prinsip dan idealisme. Demikian pula sikap pergaulan dan
wawasan kebangsaan yang sangat mencintai tanah air, adalah warisan Daud
Paloh yang dikenal sangat luas dalam membina pergaulan.
Surya yang berbadan mungil namun berperilaku sok tua itu, misalnya, hampir
kepada semua orang terutama teman-teman ayahnya kalau bertemu di jalan
selalu menyapa, ‘Om… Om… mau ke mana Om?’ “Hal itu membuat banyak orang
senang dengan Surya,” kata Yusnah, saudara perempuannya.
Surya kecil senantiasa selalu diajak bermain di lingkungan pergaulan
teman-teman ayahnya. Di situlah Surya mulai memahami makna sebuah
pergaulan dan persahabatan. Sifat dan karakter bergaulnya mulai terbentuk.
Menjalin hubungan baik dengan siapa pun menjadi sifat yang melekat pada
dirinya. ►haposan/mlp/crs ► LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|