| |
C © updated 12022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
BIODATA
Nama:
Surya Dharma Paloh
Lahir:
Kutaraja (Banda Aceh), 16 Juli 1951
Agama :
Islam
Alamat Rumah:
Jalan Permata Berlian R. 20 Permata Hijau, Jakarta
Alamat Kantor:
Harian Media Indonesia - Metro TV
Komplek Delta Kedoya
Jalan Pillar Mas Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11520
|
|
| |

Wawancara dengan TI |
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 05 6 ==
Surya Dharma Paloh (5)
Bangsa ini Butuh Perubahan Besar
Surya Dharma Paloh adalah sebuah pribadi yang unik dan kontroversial.
Karenanya ada alasan untuk tidak suka kepadanya. Namun banyak pula alasan
untuk sangat suka sekaligus mengagumi kepiawaiannya sebagai pengusaha,
politisi dan publisher. Namun, sejatinya dia sosok yang selalu membawa
kebenaran suara masa depan.
Dalam percakapan dengan TokohIndonesia DotCom, dia menyatakan kesiapan
menjadi salah satu figur alternatif pemimpin bangsa dengan sejumlah
tawaran agenda yang menarik. “Bangsa ini butuh perubahan besar,” tegasnya.
Kehidupan pribadinya selalu mendapat perhatian banyak orang. Misalnya
kegemarannya mandi sauna, rajin mengunjungi salon langganan di Hotel Sari
Pan Pasific, Jakarta untuk memelihara brewok tebalnya agar senantiasa
berkilau tanpa menampakkan siratan uban ketuaan. Hotel ini adalah tempat
tinggal dia tiga bulan pertama merantau ke Jakarta di tahun 1977.
Demikian pula kesukaan dia berlibur ke Pulau Kaliage, di gugusan Pulau
Seribu, tempat dia sering menjamu tamu relasi bisnis maupun para sahabat.
Jika ke Kaliage dia sering menggunakan kapal yacht Obsession, dulu Admiral
yang dilengkapi koki berwarganegara Australia, kini, setelah mempunyai
“mainan baru” Bali Intercontinental Hotel di Jimbaran, Bali dia menambah
koleksi dengan pesawat jet pribadi BAE 146 produksi British Aerospace,
dari Inggris.
Surya Paloh menjelang melewati usai 50 tahun sesungguhnya sudah ingin
pensiun dari segala hal. Namun setelah dipikir, dia tak ingin “tenggelam”
dalam kemewahan masa pensiun tertegun dan berdiam diri. Semangatnya masih
menggelora untuk terus berbakti kepada bangsa mewujudkan suara kebenaran
yang sebelumnya sudah dia perjuangkan tiada henti. Ketika apa yang dia
perjuangkan itu memperoleh momentumnya di era reformasi Surya Paloh
langsung kembali ke hakekat jatidiri dia yang sesungguhnya, yaitu menjadi
surya bangsa yang menyinari segenap bumi persada.
Partai Golkar yang pada masanya pernah memberinya kematian perdata dia
bangunkan dengan sebuah gagasan fenomenal: Gelar Konvensi Calon Presiden
Partai Golkar Menuju Pemilu Presiden 2004. Untuk lebih menunjukkan sikap
bertanggungjawab atas gagasannya itu, Surya lantas ikut pula menjadi salah
satu peserta konvensi. Dia mengusung sebuah konsep baru tentang
kepemimpinan nasional serta menyiapkan sejumlah agenda penyelamatan bangsa
dari krisis multidimensional.
*****
Dia tidak ragu-ragu mencerahkan pemikirannya itu dalam kesempatan
pembicaraan TokohIndonesiaDotCom, di kantornya yang asri, Kompleks Delta
Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Dia mengawali pencerahan itu dengan menyerahkan sebuah buku berjudul
“Editorial Kehidupan Surya Paloh”, yang khusus ditandatanganinya, kepada
Pemimpin Redaksi TokohIndonesiaDotCom, Robin Ch. Simanullang. Buku itu
adalah biografi kehidupan dia sebagai anak bangsa selama 50 tahun
perjalanan hidup antara 16 Juli 1951 hingga 16 Juli 2001.
“Saya berikan ini kepada sahabat saya, Robin Manullang, anak perantauan,
yang dengan saya sama-sama anak perantauan,” katanya sangat bersahabat.
Karena pembicaraan tergolong berbobot dan sangat serius bahkan sangat
penting untuk tidak dilewatkan mencerahkan bangsa, maka, selain penulis
buku biografinya, Usamah Hisyam, ikut pula mendampinginya Elman Saragih,
Ketua Tim Sukses Kepresidenan Surya Paloh yang juga Redaktur Eksekutif
Media Indonesia.
Surya Paloh adalah salah satu kandidat calon presiden yang banyak
memperoleh apresiasi masyarakat luas. Beberapa polling di media cetak dan
elektronik menempatkannya pada posisi sebagai kandidat presiden patut
diperhitungkan. Dalam Konvensi Calon Presiden Partai Golkar dia didukung
oleh 27 propinsi. Surya maju dengan atribut sebagai profesional media
massa, pengusaha sukses, dan politikus yang sudah cukup populer di
masyarakat bahkan tergolong cukup berpengaruh di Republik ini. Segala
atribut tersebut masih dilatari beragam hal yang semakin membulatkan
tekadnya maju sebagai calon presiden.
Seperti, besarnya kebutuhan bangsa ini untuk segera berubah. Dan dia
sangat yakin bahwa perubahan besar itu bisa dia berikan kepada bangsanya.
Modalnya adalah karunia Tuhan. Yaitu, apa yang telah Tuhan Yang Maha Kuasa
berikan kepadanya termasuk kesempatan lahir, besar dan berinteraksi di
tengah-tengah bangsa sehingga jadilah dia sebagai anak bangsa bernama
Surya Paloh. Dia, yang berusia 52 tahun itu masih enerjik dan ingin
berjuang seribu tahun lagi.
Obsesinya semenjak berkarir memulai usaha pada usia 14 tahun, muncul
menggoda semakin hari justru semakin keras. Haruskah dia berhenti
melakukan sesuatu yang lebih optimal? Atau, haruskah dia menyerah untuk
menyatakan selamat tinggal kepada perjuangan yang bukan terbatas kepada
diri sendiri dan keluarga?
Pertanyaan yang selalu menggoda dan muncul setiap saat itu
menghantarkannya pada sebuah kesimpulan bahwa dia tidak boleh menyerah.
“Siapapun diantara kita tahu, bahwa ada sebuah fenomena baru diperkenalkan
pada bangsa ini: Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden secara
langsung.”
Surya Paloh melanjutkan, fenomena baru tersebut pada dasarnya memberikan
kesempatan sama kepada setiap anak bangsa. Yaitu kesempatan untuk
menampilkan diri sebagai sebuah pilihan alternatif kepada bangsa sendiri.
Fenomena baru tersebut adalah juga sebuah proses pembelajaran politik yang
cukup lama tidak diberlakukan kepada negeri ini. Sehingga, keinginan
siapapun setiap warga negara untuk menampilkan atau menampakkan ambisi
untuk menjadi sosok seorang pemimpin, apalagi menjadi presiden, kini
terbuka. Hal yang dianggap berlebihan bahkan tabu pada masa lalu.
Cara berfikir yang menabukan lahirnya keinginan menjadi pemimpin nasional
adalah kesalahan. “Mari, kita dengan tenang mempertanyakan cara berfikir
seperti ini. Apakah cara berfikir seperti itu sudah benar di alur yang
benar, atau salah? Saya katakan, salah.”
Harusnya, katanya, semakin banyak anak-anak negeri ini yang punya ambisi,
obsesi besar, bahkan dari sejak masa belia sudah harus datang dengan
keinginan untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa. Kita harus
mendorong, kita harus bersyukur.
“Bahkan, ketika kita sudah memasuki abad ke-21 bangsa lain telah mencoba
melakukan experience baru mendaratkan warga negara bangsanya bukan lagi di
bulan, tapi di Mars, kita masih berpikir antara kesempatan orang di Jawa
dengan orang di luar pulau Jawa untuk jadi pemimpin di negeri ini. Di mana
perbandingannya? Apa yang harus kita perbandingkan lagi? Banggakah kita
dengan pola berpikir seperti ini, atau sebaliknya, kita harus malu hati?”
Sekarang, lanjut Surya Paloh, ada pertanyaan mendasar yang harus kita
jawab segera. “Kita memasuki sebuah era baru yang kita sebutkan era
reformasi, setelah sistem yang berjalan serba etatis kurang lebih 32 tahun.
Kita tentu mengharapkan perubahan-perubahan besar terjadi di negeri ini.
Kita akan memperlihatkan bahwa ada suatu hal yang pasti bisa diterima di
negeri ini. Yaitu perubahan-perubahan mendasar yang bisa memberikan rasa
kebanggaan diri secara pribadi, maupun secara kelompok secara keseluruhan
kita sebagai anak bangsa.”
Menurutnya, fakta juga menyatakan kita telah kehilangan kebanggaan itu.
“Apa yang bisa kita banggakan, dimana national interest kita, dimana
national pride kita saat ini?”
Lalu, ia menguraikan aspek bidang ekonomi kita tidak bisa membanggakan
keunggulan apapun. Dalam pergulatan apapun, apakah itu ekspor-impor kita,
atau kehidupan sosial. Kita tidak bisa lagi membanggakan semakin banyaknya
orang bermurah hati satu sama lain dalam memberikan kontribusi sosialnya.
Keamanan, kita tidak merasa nyaman. Politik, kita bisa merasakan suasana
stabilitas politik atau instabilitas politik.
Jadi, ujarnya, ekonomi, politik, sosial, budaya, keamanan sama. “Ini harus
dilakukan dengan upaya-upaya besar dengan apa yang saya istilahkan
melakukan suatu restorasi nasional.” Sementara, lanjutnya, upaya-upaya
besar ini tidak mungkin bisa kita lakukan kalau kita tidak memiliki
otoritas. “Peran partisipan bisa kita lakukan, tapi rasanya itu tidak bisa
memberikan perubahan-perubahan yang berarti.”
Dia mengungkapkan kegelisahan hatinya sebagai seorang publisher dengan
berbagai latar belakang eksperimen dan pengalamannya sekian puluh tahun.
Apa pun yang dia sumbangkan dalam kemampuan asah intelektual,
intelectualitas exercise-nya melalui institusi yang dia pimpin, ternyata
tidak banyak nampak perubahan sikap penguasa dan masyarakat.
“Tetapi itu bukan berarti saya harus jemu dan berhenti. Setiap hari
editorial demi editorial dan berbagai macam ulasan dan kupasan diberikan
oleh institusi yang saya pimpin, tapi toh itu tidak bisa memberikan suatu
perubahan-perubahan yang berarti dan besar bagi bangsa ini,” katanya.
Lalu, sekarang, dia ingin memberikan alternatif, sebagai salah satu
tambahan alternatif, sebagai kandidat pemimpin bangsa ini. “Saya telah
berbicara pada diri saya sendiri. Apabila ini datang dengan landasan
semangat ideal, yang bersih, tulus, ikhlas, konsisten, dan penuh dengan
komitmen, saya pikir saya tidak salah dengan ini.”
Dia jelaskan bangsa ini pernah kehilangan alternatif untuk mencari
pemimpin. Akibatnya, “Kita sudah tertinggal dari bangsa-bangsa lain di
sekitar kita. Dan untuk mengejar itu diperlukan perubahan besar dimana
seorang yang tangguh, visioner ke depan, punya kejujuran, keteguhan hati
dan kemampuan berkomunikasi, segera harus hadir di negeri ini. Seorang
Surya, salah satu alternatif.”
Nilai-nilai Kebangsaan
Surya Paloh melihat sesungguhnya persoalan besar bangsa Indonesia hari ini
adalah lunturnya nilai-nilai kebangsaan (national values). Pada satu sisi
pemulihan ekonomi menghadapi berbagai kendala, pada sisi lain ancaman
disintegrasi nasional terus berlangsung. Bahkan, dari hari ke hari kondisi
sosial masyarakat semakin mengenaskan.
Angka kemiskinan secara absolut terus bertambah, pemutusan hubungan kerja
meningkat. Sementara lapangan kerja semakin terbatas sehingga jumlah
pengangguran kian meluas di tengah melonjaknya angkatan kerja baru.
Kondisi ini semakin menjauhkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia tahun 1945, yakni membangun masyarakat yang adil makmur dan
sejahtera.
Surya Paloh yakin pula bahwa masalah tersebut dapat teratasi hanya
bilamana seluruh komponen bangsa memiliki komitmen bersama untuk
melaksanakan restorasi nasional. Melalui restorasi terjadi
perubahan-perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
secara signifikan ke arah yang lebih maju. Hanya saja, seluruh perubahan
tersebut bisa tercapai bila ditempuh melalui sebuah langkah terobosan yang
non-konvesional.
Surya Paloh mencatat minimal dibutuhkan 12 program restorasi nasional non-konvensional
yang perlu diwujudkan pasca Pemilu 2004, terutama di bidang politik,
ekonomi dan kesra oleh seorang Presiden terpilih.
Bidang politik adalah prioritas utama. Di sini, restorasi yang pertama
adalah program memantapkan stabilitas politik melalui rekonsiliasi dan
pardon nasional, dengan menempatkan persoalan masa lalu sebagai bagian
dari fakta sejarah yang dapat dipetik hikmahnya. Seluruh komitmen harus
dibangun dengan membuka buku baru dan menutup buku lama.
Dalam konteks itu perlu ditempuh langkah-langkah terpadu dan komprehensif
untuk menjaga stabilitas hankam guna memelihara keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) dengan membangun TNI yang modern dan profesional.
Program lainnya adalah menciptakan keamanan, ketertiban masyarakat,
menghentikan konflik-konflik sosial, etnik, dan agama, serta peningkatan
peran aparat Kepolisian untuk melindungi dan mengayomi masyarakat.
Kedua, meningkatkan partisipasi publik agar mendukung penuh program
pembangunan. Setiap kebijakan publik harus dikomunikasikan terlebih dahulu
dengan bebagai komponen masyarakat dengan membangun hubungan komunikasi
yang bottom up. Dengan partisipasi publik maka setiap program pembangunan
akan memperoleh dukungan penuh masyarakat.
Ketiga, memperkuat kembali kekuatan pemersatu bangsa yakni semangat
kebhineka tunggal ika-an yang kini mulai rapuh.
Keempat, menegakkan supremasi hukum dalam rangka menciptakan clean and
good governance, masyarakat yang tertib hukum, serta berorientasi kepada
“hukum sebagai panglima”. Langkah terobosan yang perlu dilakukan adalah,
menumbuhkan semangat dan kinerja aparatur pengawal hukum agar memiliki
kebanggaan terhadap profesi. Misalnya dengan memberikan apresiasi terhadap
tugas dan tanggung jawab mereka, antara lain melalui peningkatan gaji dan
kesejahteraan pegawi negeri, guru, jaksa, hakim, polisi, dan prajurit TNI
agar terhindar praktik KKN.
Kelima, melanjutkan otonomi daerah (desentralisasi pemerintahan) dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan meningkatkan percepatan
pembangunan di daerah dalam segala bidang agar dapat mengejar
ketertinggalannya.
Sementara di bidang ekonomi, Surya juga mencatat terdapat lima prioritas
program restorasi sebagai langkah pemulihan. Program yang harus segera
dilaksanakan itu adalah, pertama, menjaga stabilitas ekonomi makro. Kedua,
melaksanakan restrukturisasi manajemen hutang luar negeri. Ketiga,
mencanangkan reformasi pajak yang mengarah pada prinsip keadilan. Keempat,
mendorong tumbuhnya investasi dengan memberikan insentif serta
kemudahan-kemudahan perizinan. Kelima, membuka lapangan pekerjaan
seluas-luasnya dalam rangka mengurangi angka pengangguran.
Di bidang kesejahteran rakyat, Surya mencatat ada dua program yang harus
direstorasi. Pertama, menekan tingkat kemiskinan serendah mungkin dengan
mengupayakan terciptanya lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Kedua,
mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan
memberikan dan membuka prasarana pendidikan yang mudah, murah, dan
seluas-luasnya.
Cara Berpikir
Surya Paloh sepertinya sudah sangat paham akan segala persoalan bangsa ini.
Maka dia mengedepankan restorasi nasional sebagai program atau platform
cara berpikir pemimpin bangsa. Dia menginginkan adanya perubahan-perubahan
yang berarti dan berskala besar.
Apa itu? “Mengubah way of thinking dan way of life yang ada pada diri kita.
Bukan hanya perubahan dalam bentuk infrastruktur yang ada. Cara berfikir
kita saat ini, sudah tepat atau tidak sebagai sebuah bangsa besar? Kita
harus jujur dan objektif. Sudah tepatkah cara berfikir kita, cara kita
melaksanakan pemahaman kehidupan kita sehari-hari dengan interaksi sosial
kita?”
Dia menggugah, pantaskah kita sebutkan kita sebagai bangsa yang
mengagungkan nilai-nilai religi Ketuhanan Yang Maha Esa? “Saya pikir, itu
tidak semudah kita mengutarakan ya atau tidak. Tapi ada masalah besar
sekarang di antara kita. Ada sebuah kontroversi dan kontradiksi yang terus
menerus terjadi di semua aspek kehidupan kita. Kita ingin maju tapi kita
melangkah ke belakang. Kita ini bicara kita anti KKN tapi praktek korupsi,
kolusi dan nepotisme terjadi di sekitar kita setiap saat, setiap menit,
dimana saja, kapan saja ,oleh siapa saja.”
Menurutnya, kita tidak memerlukan sejumlah teori dengan berlatar belakang
mashab apapun yang disarankan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah
bangsa ini. “Kita memerlukan pemimpin yang tepat! Kita menaruh harapan
baru pada mereka, yang kita anggap tepat. Saya salah satu diantara itu,”
ujarnya mantap.
Surya Paloh sudah lama menjadi pemimpin media massa dengan membawa
berbagai suara perubahan. Suara itu dia kemukakan melalui editorial maupun
pemberitaan secara tak jemu-jemu. Sayang suara itu masih kurang didengar
sehingga mendorongnya mencari otoritas yang lebih tinggi untuk lebih
bersuara lagi, yaitu harus tampil ke depan berebut tampuk kepemimpinan
nasional.
Sangat cukup jelas alasannya untuk tetap bersuara lantang. Bersuara keras
menembus tembok arogansi kekuasaan adalah kebiasaannya semenjak masa
mudanya. Surya berkesimpulan bahwa kebanggaan nasional atau national pride
kita sekarang ini sudah tidak ada lagi yang bisa dibandingkan, alias
nothing to compare.
“Kalau implisit dalam deskripsinya Anda bisa sebutkan misalnya pertumbuhan
ekonomi, pertumbuhan ekonomi kita rendah. Bicara pertumbuhan ekonomi
berapa persen, masih di bawah empat persen, saat pertumbuhan negara-negara
lain sudah lebih maju. Cina sekarang berada di atas sembilan persen. GDP
kita rendah. Pendapatan perkapita kita, apalagi. Kita bangsa besar dengan
pendapatan 1.000 dolar AS per satu orang perkapita sementara negara
tetangga kita Malaysia di atas 5.000 dolar AS. Singapura apalagi, sudah
11.000.”
Demikian juga dalam investment. Dalam posisi masyarakat Indonesia di
tengah-tengah masyarakat dunia yang global, seperti AFTA yang sudah
dipersiapkan untuk itu, persaingan yang semakin bebas, kita akan semakin
tersudut karena kekuatan pondasi ekonomi kita juga tidak lebih kuat.
“Cobalah lihat apa investasi baru yang masuk ke negeri ini dalam kurun
waktu empat lima tahun ini, tidak ada, nol,” ungkapnya.
Menurutnya, kalau pun ada pertumbuhan ekonomi sedikit naik, itu karena
kita sendiri yang konsumeris. “Pertumbuhan yang sedikit naik itu bukan
karena efektivitas, daya saing, atau persaingan ekspor kita dan sebagainya,”
katanya.
Jadi, memang harus mau kita akui bahwa policy dan kebijakan yang ada yang
selama ini dijalankan oleh pemerintah, tampaknya tidak cukup untuk
menggerakkan peran partisipasi publik untuk bersama-sama menyadari bahwa
kita ini adalah bangsa besar yang bisa membuat lompatan-lompatan besar
untuk mengejar ketertinggalan kita.
Surya Paloh memberi analogi kemunduran bangsa yang mudah dicerna. Hampir
40 tahun lalu Jembatan Semanggi sudah diperkenalkan kepada bangsa
Indonesia di Jakarta. Bung Karno penggagas, Ali Sadikin sebagai pelaksana.
Sekarang bangsa lain sudah meng-introduce dan menikmati apa yang namanya
subway transportasi, underground, dan flyover. Tettapi, Jakarta sebagai
satu ibukota negara yang harus konsern terhadap polusi, masih bertempur
soal busway. Jakarta sudah sangat tertinggal jauh. Tidak ada yang peduli
atas kemacetan demi kemacetan yang ada. Ini artinya antara harapan dengan
kenyataan masih belum bergandengan belum bersahabat secara dekat. Harapan
di ujung sana kenyataan di ujung sini.
Justeru itu, ia melihat betapa pentingnya perubahan-perubahan besar harus
segera bisa dilakukan. “Dan percayalah pada saya, dengan semangat
primordial dan paternalistik masyarakat kita, pemimpin memberikan
kontribusi yang amat sangat berarti,” katanya.
Merosotnya Moral
Surya sangat sepakat bahwa berbagai masalah krusial yang dihadapi terkait
pula dengan moralitas bangsa yang sudah sangat merosot. Bangsa ini
terjebak pada semangat pragmatisme yang tinggi sekali. Terjadi sebuah
perubahan tata nilai sosial yang begitu luar biasa secara ekstrim dari
waktu ke waktu dan mengarah ke hal yang negatif.
Perubahan itu adalah pola pikir masyarakat yang dengan semangat
kegotong-royongan, secara mendasar telah bergerak ke arah semangat
pragmatisme dan individualistik yang tinggi sekali. Masyarakat
individualistik hanya dekat dengan nilai-nilai yang materialistik. Bagi
Surya, jika perubahan tersebut tidak segera dihentikan dengan kesadaran
penuh maka satu tingkat lagi bangsa ini atheis.
“Kita tetap lihat ada kelenteng, kita lihat tetap ada wihara Budha, kita
lihat tetap ada mesjid, kita lihat masih tetap ada gereja, tapi roh
keimanan tidak ada di situ,” ujarnya dengan suara dan mimik sangat serius
bahkan terkesan marah terhadap kenyataan yang kasat mata itu.
“Hanya merupakan pelengkap. Roh dan jiwa kita sebenarnya kosong terhadap
hal-hal itu. Kita tidak percaya akan succes story yang akan terjadi esok
yaitu masa depan yang lebih baik. Kita hanya mau bicara to day is the day,
tomorrow for another day. Hari ini cash and carry, instant. Dan dengan itu
kita tidak mungkin melakukan perubahan-perubahan besar kalau cara berpikir
dan moralitas bangsa seperti ini.”
Selain amat sangat sepakat dengan moralitas bangsa yang merosot dan
semakin termarjinalkannya masyarakat kecil, Surya menyebutkan terhadap hal
itu lebih dari 50 persen kontribusinya disumbangkan oleh faktor
kepemimpinan yang salah. Sebab rakyat hanyalah follower. “Ketika pemimpin
tidak kuat maka rakyat akan segera berubah menjadi individu liar. Semua
merasa punya hak namun tidak ada siapapun yang merasa mempunyai kewajiban,”
ujarnya.
“Bangsa apa kita? Apa yang mau Anda harapkan dari suatu bangsa yang semua
individu merasa punya hak atas bangsa ini, tapi tidak pernah merasa ada
beban kewajiban pada diri kita? Maka akan hancurlah bangsa ini.”
Menurutnya, bukan lagi sekadar ketakutan atas ancaman separatis dari
satu-dua-tiga kepulauan daerah, sebab ada hal yang lebih memusnahkan dari
itu, yaitu semangat individualistik yang berlebihan. “Saya ingin
menjadikan patron unity dan kesatuan dalam traffic.”
Dia jelaskan, kebesaran seseorang yang penuh dengan kemampuan akademik,
dia tidak berarti untuk orang-orang yang awam. Orang-orang yang kaya, dia
tidak berarti untuk orang-orang yang miskin. Cerdik, pintar, piawai hanya
bisa untuk dirinya sendiri.
Terbuangnya Waktu
Masa lima tahun reformasi setelah terkungkung 32 tahun kehilangan
kesempatan memajukan alternatif pemimpin, masih belum menunjukkan hasil
yang bisa dipetik. Keberhasilan hampir tidak ada kecuali mendengar
statement elit politik yang saling caci-maki di antara satu sama lain.
Persoalannya, kata Surya, terletak pada pemimpin era reformasi itu sendiri
yang tidak komit kepada gerakan yang mereka pimpin. Mereka tetap mau
mengklaim diri sebagai pemimpin yang reformis tetapi tidak ada hasil-hasil
reformasi yang bisa mereka berikan kepada bangsa ini.
Kalaupun ada perubahan yang berarti seperti perubahan amandemen konstitusi
yang memungkinkan pemilihan presiden secara langsung, Surya mencatat itu
namun dia sekaligus mengedepankan pula harga yang harus dibayar untuk itu.
Seperti teror dan destabilitas di mana-mana, terkucilkan dari pandangan
dunia luar dan segala macam. Bagi dia itu juga tidak kalah penting. “Dan
catat itu, korupsi semakin merajalela. Bukannya korupsi berhenti, malah
merajalela di zaman ini. Kita katanya anti KKN, tapi nyatanya semakin
merajalela, semakin nepotis.”
Namun Surya mengaku memberi catatan khusus terhadap pencapaian kemerdekaan
berbicara, berserikat, dan pers yang bebas sebagai poin-poin yang bisa
dijadikan modal untuk berubah.
Surya melihat yang diharapkan atau dibutuhkan masyarakat sebagai buah era
reformasi sebetulnya sederhana. Yaitu penegakan hukum atau law
enforcement, perbaikan ekonomi, peningkatan taraf hidup rakyat, ketenangan
masyarakat bekerja, mendapat pendidikan yang baik bagi anak-anaknya,
fasilitas kesehatan bagus, jalan raya tidak terlalu sesak nafas dan
lain-lain. Itu semua sudah bisa membuat mereka senang. Masyarakat tidaklah
peduli bangsa ini ada ikatan atau urusan sama IMF, misalnya.
Karena itu, jika timbul pernyataan bahwa masyarakat rindu pada masa lalu,
seharusnya pernyataan tersebut menjadi pukulan untuk orang-orang yang
berpikiran maju ke depan.
“Bagi saya, bisa terpukul.” Kalau ada kaum reformis yang katanya ingin
membuat perubahan namun merasa tidak malu tidak terpukul karena ada
harapan rakyat untuk setback pulang ke masa lalu, “Saya nggak ngerti
manusia apa seperti mereka.” ►haposan/mlp/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|