| |
C © updated 12022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
BIODATA
Nama:
Surya Dharma Paloh
Lahir:
Kutaraja (Banda Aceh), 16 Juli 1951
Agama :
Islam
Istri:
Rosita Barack (Menikah tahun 1984 di Jakarta)
Anak:
Prananda, lahir di Singapura tahun 1988
Pendidikan:
Tahun 1958-1963: Sekolah Dasar Negeri Serbelawan, Simalungun
Tahun 1964-1966: Sekolah Menengah Pertama Negeri Serbelawan, Simalungun
Tahun 1967-1969: Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Medan
Tahun 1970-1972: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan
Tahun 1972-1975: Menyelesaikan Pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan
Pekerjaan:
1968: Manajer Travel Biro Seulawah, Air Service, Medan
1972-1975: Pimpinan ‘Wisma Pariwisata’, Medan
1973: Presiden Direktur PT Ika Diesel Bros Medan
1975: Kuasa Direksi Hotel Ika Daroy, Banda Aceh
1975: Presiden Direktur PT Ika Mataram Coy, Jakarta
1976-1977: Direktur Link Up Coy, Singapore
1979-Sekarang: Presiden Direktur PT Indocater, Jakarta
1985-1986: Pimpinan Umum Harian Pagi Prioritas, Jakarta
1988-Sekarang: Direktur Utama PT Citra Media Nusa Purnama, Jakarta
1989-1991: Direktur Utama PT Vista Yama
1989-Sekarang: Direktur Utama PT Surya Persindo
1989-Sekarang: Komisaris PT Pusaka Marmer Indah Raya
1989-1994: Direktur Utama PT Mimbar Umum
1989-1994: Komisaris Utama PT Galamedia Bandung Perkasa
1989-1999: Direktur Utama PT Karya Banjar Sejahtera
1989-Sekarang: Pemegang Saham PT Masa Kini Mandiri
1989-1991: Direktur Utama PT Citra Bumi Sumatera
1990-Sekarang: Komisaris PT Bakti Citra Daya
1990-Sekarang: Direksi PT Sekotong Indah Persada
1990-Sekarang: Komisaris Utama PT Vista Yama
1991-1994: Komisaris Utama PT Citra Masa Kini
1991-Sekarang: Pemilik PT Grahasari Surayajaya
1991-Sekarang: Komisaris PT Citragraha Nugratama
1991-1994: Komisaris Utama PT Citra Bumi Sumatera
1991-1994: Direktur Utama PT Karya Mapulus
1992-1993: Direktur Utama PT Atjjeh Post
1992-1995: Komisaris Utama PT Detik Bangun Media Prestasi
1992-Sekarang: Pemimpin Umum Harian Umum Media Indonesia
1994-Sekarang: Direksi PT Citra Nusa Persada
1994-Sekarang: Pemilik Sheraton Media Hotel & Towers
1994-1998: Komisaris Utama PT TVM Indonesia
1995-Sekarang: Komisaris Utama PT Inti Marmer Indah Raya
1995-Sekarang: Komisaris PT Satria Chandra Plastikindo
1995-Sekarang: Pemilik Papandayan Hotel
1999-Sekarang: Pemilik Bali Intercontinental Hotel
1999-Sekarang: Direktur Utama PT Media Televisi Indonesia (Metro TV)
Organisasi:
1964: Ketua Umum GPP (Gerakan Pemuda Pancasila) Dolok Batunanggar,
Simalungun, Sumatera Utara
1966-1968: Ketua Presidium KAPPI Dolok Batunanggar, Simalungun
1968-1970: Ketua Presidium KAPPI, Medan, Sumatera Utara
1968: Pendiri Persatuan Putra Putri ABRI, Medan, Sumatera Utara (PP ABRI)
1968-1974: Ketua Umum Persatuan Putra Putri ABRI Medan, Sumatera Utara (PPABRI)
1969-1972: Ketua Ko PPMG (Koordinator Pemuda Pelajar Mahasiswa Golkar)
Golkar, Medan, Sumatera Utara
1974-1977: Ketua Umum BPD Hipmi Sumatera Utara, Medan
1977-1979: Ketua BP Hipmi Pusat, Jakarta
1978: Pendiri FKPPI
1979-1981: Ketua Umum PP-FKPPI
1981-1983: Ketua Umum PP-FKPPI
1982-1984: Anggota Dewan Perimbangan DPP Pepabri
1984-1989: Ketua DPP AMPI
1984-1987: Ketua Dewan Pertimbangan PP-FKPPI
1984-1987: Ketua Dewan Kehormatan BPP Hipmi
1989-Sekarang: Anggota Dewan Pembina DPP AMPI
1998-Sekarang: Pengurus PB Gabsi
1999-Sekarang: Anggota Dewan Pers
1999-Sekarang: Ketua SPS Pusat
Legislatif:
1971: Calon Anggota DPRD Tk II Medan dari Golkar
1972-1982: Anggota MPR-RI
1982-1987:Anggota MPR RI
1987: Calon Anggota MPR/DPR-RI dari Golkar
Alamat Rumah:
Jalan Permata Berlian R. 20 Permata Hijau, Jakarta
Alamat Kantor:
Harian Media Indonesia - Metro TV
Komplek Delta Kedoya
Jalan Pillar Mas Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11520
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 05 6 ==
Surya Dharma Paloh (2)
Bisnis dan Pentas Politik
= Pembawa Suara Masa Depan (2)
Jika dieksplorasi ke belakang, Surya Paloh sesungguhnya adalah seorang
pebisnis yang sudah lama malang melintang di pentas politik nasional.
Kartu Tanda Anggota (KTA) miliknya di Golkar lebih tua usianya dibanding
milik Akbar Tandjung, Ketua Umum DPP Golkar. Pengusaha dan politisi sudah
menjadi trade mark-nya sejak masa muda di Serbelawan. Dan kedua merek
dagang ini selalu jalan beriringan, saling topang, saling isi, saling
pengaruh-mempengaruhi.
Awalnya, suatu ketika di tahun 1965, Surya Paloh berkenalan dengan Sofyan,
seorang asisten perkebunan di Dolok Merangir. Tempat ini jauhnya lima
kilometer dari rumah tinggalnya di Serbelawan. Sofyan lalu memperkenalkan
Surya, remaja yang masih 14 tahun kepada A Gu, seorang grosir teh di
Pematang Siantar. Perkenalan inilah yang membuahkan awal mula
keterlibatannya sebagai leveransir yang menyuplai berbagai kebutuhan ke
para pekerja perkebunan yang ada di Dolok Merangir. Seperti ikan asin, teh,
tembakau dan minyak goreng.
Di lingkungan domestik keluarga saat itu, Surya sudah terbiasa membawa
pulang ke rumah berbagai kebutuhan rumah tangga, ya, seperti ikan asin,
minyak goreng dan lain-lain untuk menyenangkan hati ibunya yang sangat
dicintai bahkan selalu memberinya banyak kemanjaan, Hj. Nursiah. Surya
kecil bukan hanya tidak lagi memerlukan uang jajan dari orangtua,
melainkan sudah mampu menabung sebagian penghasilannya.
Pada saat bersamaan bergelora pula pergolakan politik lokal, sebagai
imbasan percobaan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Gerakan 30
September/PKI. Surya Paloh yang di tahun 1964 sudah mendirikan dan menjadi
Ketua Umum GPP (Gerakan Pemuda Pelajar) Dolok Batunanggar, Simalungun,
Sumatera Utara, mulai pada tahun 1965 kembali mendirikan sekaligus
memimpin Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) sub rayon
Serbelawan. Setahun kemudian, bersama enam orang sahabat, dia mendirikan
KAPPI di tingkat Kecamatan Dolok Batunanggar, dan memimpinnya sebagai
Ketua Umum tahun 1966-1968.
Dibandingkan kakak dan adik-adiknya, Surya memang sudah memiliki talenta
berorganisasi, menampakkan jiwa kepeloporan, serta kemampuan orasi yang
baik sejak belia. Di KAPPI Kecamatan Dolok Batunanggar inilah secara lebih
luas dia berkesempatan menujukkan kepeloporan dan kepemimpinan tersebut.
Sejak itu pula dia mulai intens menggeluti dunia politik jalanan, misalnya
menjadi demonstran yang hampir setiap hari melakukan unjuk rasa atau rapat
akbar.
Lingkup pergaulannya terus berkembang dari daerah yang satu ke daerah
lainnya mengikuti perpindahan tugas ayahnya Muhammad Daud Paloh sebagai
seorang polisi. Antara lain dari Labuhan Ruku, Talawi, Asahan ke
Serbelawan, Simalungun. Saat ayahnya piindah ke Tarutung (1967), Surya
memilih hijrah ke Medan dan melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 7, Medan.
Ketika berlangsung transisi kepemimpinan nasional, dari rezim Orde Lama ke
Orde Baru, berkat kejelianya melihat arah perubahan bandul politik, Surya
langsung bergabung dengan Gerakan Pelajar Pancasila (GPP) tingkat Sumatera
Utara, yang dipimpin oleh Tomiyus Djamal. Karena memang sejak di
Serbelawan sudah terlatih sebagai Ketua Umum GPP Dolok Batunganggar, dia
tampak lebih menonjol dibanding ketuanya yang kalah pamor. Surya
sepertinya mempunyai kekuatan dan kharisma magis. Apalagi dia dikenal
sebagai orator yang dapat meyakinkan massa dengan mudah.
Sebagai pemuda pembawa suara masa depan, dia tidak diam berpangku tangan
menorehkan gagasan tentang masa depan. Pengalaman sebagai anak Serbelawan
baginya cukup untuk bersanding sebagai Ketua Presidium KAPPI tingkat Kota
Medan, Sumatera Utara tahun 1968-1970.
Sebagai anak kolong yang besar di lingkungan asrama polisi, maka ketika
hidup di lingkungan dan situasi yang marak dengan perkelahian antar anak
kolong di Kota Medan, Surya mengambil prakarsa mendirikan organisasi
Persatuan Putra-Putri ABRI (PP-ABRI) di Medan, tahun 1968, yang menghimpun
dan mengarahkan semua anak kolong dalam satu wadah tunggal. Surya menjadi
Ketua Umum PP-ABRI Medan, Sumatera Utara antara tahun 1968-1974.
Setahun pendirian PP-ABRI membuahkan hasil lain pada dirinya. Surya
terpilih menjadi Ketua Koordinator Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Golkar (Ko-PPM
Golkar). Dia menjadi Ketua Umum Ko-PPMG Golkar Medan, tahun 1969-1972.
Golkar adalah organisasi dan alat politik baru yang sengaja dilahirkan Tri
Karya bersama ABRI, awalnya terutama untuk menandingi dan mengalahkan niat
jahat PKI.
Sebagai Ko-PPM Golkar, Surya mulai sadar bahwa dirinya sudah mulai masuk
di zona politik praktis. Sehingga, pada Pemilu 1971, Pemilu pertama di era
Orde Baru, Surya Paloh menjadi calon anggota legislatif termuda untuk DPRD
II Kota Medan.
Prakarsa pendirian PP-ABRI Sumatera Utara, satu-satunya daerah yang
memiliki organisasi sejenis di seluruh Indonesia, masih belum berhenti
membuahkan hasil. Prakarsa tersebut menjadi penyumbang bekal terbesar
ketika di kemudian hari di tingkat nasional, bersama putra-putri perwira
tinggi ABRI lainnya, dia membidani kelahiran Forum Komunikasi Putra-putri
Purnawirawan ABRI (FKPPI) di Jakarta.
Sambil berkiprah di organisasi sosial kemasyarakatan dan pemuda serta
“mengamankan” anak-anak kolong yang menjurus ke premanisme ala Medan,
bahkan ditambah sebagai politisi muda di zona politik praktis, Surya tak
lupa menjalankan dua peran penting lainnya: sekolah dan berbisnis.
Ketika memasuki SMA Negeri 7 Medan tahun 1967, Surya bekerja pula sebagai
Manajer Travel Biro Seulawah Air Service. Setamat SMA duduk di bangku
kuliah Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU), antara tahun
1972 hingga 1975, Surya dipercaya mengelola Wisma Pariwisata, di Jalan
Patimura, Padang Bulan, Medan oleh pemilik Baharuddin Datuk Bagindo, yang
juga memiliki pabrik korek api PT BDB di Pematang Siantar.
Sejak tahun 1973 bersama kakak iparnya Jusuf Gading, Surya dipercaya
sebagai Direktur Utama PT Ika Diesel Bros untuk menjalankan usaha
distributor mobil Ford dan Volkswagen, di Medan. Lalu, di tahun 1975
ditunjuk pula menjadi kuasa usaha direksi Hotel Ika Darroy, terletak di
Banda Aceh, merangkap sebagai Direktur Link Up Coy, Singapura, yang
bergerak di bidang perdagangan umum.
Usaha dan bisnis yang berhasil dijalankan menghantarkannya ke predikat
baru sebagai pengusaha muda. Dan semenjak tahun 1974, untuk tiga tahun ke
muka dia terpilih sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan
Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumatera Utara.
Karena kesibukan berbisnis, berorganisasi, dan berpolitik membuat
kuliahnya di FH-USU tertinggal sehingga Surya berinisiatif pindah ke Fisip
Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), dan akhirnya berhasil
menamatkannya sebagai sarjana di tahun 1975.
Surya memulai perjuangan hidup baru sebagai anak perantauan saat hijrah ke
Jakarta tahun 1977 untuk berbisnis, berorganisasi, berpolitik, hingga
menjadi lone ranger pejuang kebebasan dan kemerdekaan pers untuk
memantapkan eksistensi sebagai seorang publisher sejati yang selalu
menyuarakan perubahan menuju masa depan bangsa yang lebih baik.
Walau sejak tahun 1976 sudah merantau ke Jakarta untuk membangun wacana
bisnis, politik dan organisisasi baru namun kerap kali dia masih
mondar-mandir Medan-Jakarta mengurusi bisnis yang tersisa berikut
kedudukan sebagai Ketua Umum Hipmi Sumatera Utara yang belum berakhir. Dan
begitu menetap di ibukota negara Jakarta, maka sebagaimana umumnya
anak-anak perantauan khususnya asal Medan, Surya berupaya membangun
eksistensi baru sebagai pengusaha muda maupun politisi yang patut
diperhitungkan di tingkat nasional.
Tahun 1978 bersama Yoseano Waas dan kawan-kawan dia mempelopori pendirian
Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI atau FKPPI. Dalam waktu
relatif singkat nama anak Serbelawan ini mulai berkibar terutama di
lingkungan Golkar. Dia terpilih menjadi Ketua Umum FKPPI pertama. Pada
tahun 1982 Surya terpilih menjadi satu-satunya warga sipil yang dipercaya
menjabat anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri.
Namun, kedekatan Surya dengan petinggi ABRI sama sekali tak mengubah sifat,
karakter dan idealismenya sebagai politisi muda. Independensi tetap
diperlihatkan saat dia harus menyikapi persoalan-persoalan prinsipil walau
hal itu berakibat dirinya tak disukai penguasa. Dia mempertahankan
kebenaran yang diyakini jauh lebih penting dibanding kepentingan terhadap
penguasa.
Sebagai contoh dalam Rakernas FKPPI di Malang Februari 1983 dia membuat
kejutan yang kontroversial, yaitu meyakinkan peserta Rakernas untuk
menolak usulan agar Presiden Soeharto ditetapkan sebagai Bapak Pembangunan
Nasional dalam Sidang Umum MPR 1983.
Kejutan lain terjadi tiga tahun sebelumnya pada 28 Oktober 1981. Dalam
Munas KNPI itu, Surya dalam kapasitas Ketua Umum PP FKPPI menyampaikan
sikap, meminta Abdul Gafur tidak melakukan intervensi delam pemilihan
Ketua Umum KNPI demi menegakkan nilai-nilai demokrasi. Dia menyampaikannya
dengan suara lantang melalui sebuah pidato tanpa teks, langsung di hadapan
Menpora Letkol Udara dr. Abdul Gafur yang juga pembina KNPI. Ketika itu
Gafur berencana memplot Aulia Rahman sebagai ketua umum baru bersaing
dengan ketua umum lama Akbar Tandjung.
Perseteruan dengan Gafur sudah terjadi sebelumnya, pada 20 Juni 1978 saat
Surya dan para pendiri FKPPI serta Ketua Umum Pepabri memohon izin
pembentukan FKPPI kepada Menpora dan ditolak oleh Gafur.
Kontroversi Kader Golkar
Bila ada yang keliru menilai Surya, mungkin disebabkan sulitnya memisahkan
antara idealisme dan latar belakang politiknya sebagai kader Golkar yang
kontroversial. Sebab idealisme Surya selalu mewarnai karakter karya
jurnalistik Prioritas yang secara diametral sangat bertentangan dengan
iklim rezim Orde Baru yang dilahirkan dan ditopang Golkar.
Idealisme itu adalah, menegakkan nilai-nilai demokrasi dalam bingkai
wawasan kebebasan pers. Surya menyadari kebebasan pers bukanlah kebebasan
absolut tanpa nilai. Kebebasan pers harus diwujudkan sebagai sikap kritis
yang rasional, proporsional, dan profesional tanpa membenci atau memusuhi
pihak manapun.
Surya selalu menempatkan diri sebagai sahabat bagi setiap orang. Namun
bersamaan itu dia mendefinisikan pula bahwa sahabat sejati adalah sahabat
yang bersikap kritis, berani mengungkapkan kebenaran dan keadilan walau
terasa pahit. Demikian pula pers yang dia pimpin, sebagai sahabat yang
baik pers harus tetap kritis terhadap kekuasaan dalam rangka menegakkan
kebenaran dan keadilan.
Itulah yang mewarnai karya-karya jurnalistik Prioritas dengan rubrik
andalan Selamat Pagi Indonesia yang selalu ditunggu-tunggu pembaca sebab
gaya penyajiannya yang satir serta cenderung sarkastis dan kerap menyoroti
fenomena aktual yang ada. Prioritas sesungguhnya merupakan refleksi
pemikran seorang Surya dalam melihat bangsanya.
Duet wartawan senior Nasrudin Hars dan Panda Nababan merupakan kunci
sukses Prioritas yang mampu menerjemahkan gagasan, pemikiran serta
idealismenya ke dalam karya-karya jurnalistik. Setelah menjadi publisher
sejati dia masih tetap menjadi sahabat kekuasaan lewat duet Media
Indonesia dan Metro TV yang dimiliki untuk menyoroti fenomena faktual yang
ada.
Surya Paloh memang kental dengan atmosfir kontroversial baik saat
berbisnis maupun berpolitik, atau saat keduanya diayunkan bersamaan. Untuk
memperjuangkan proses tender secara fair di PT Pupuk Kaltim, misalnya,
karena Indocater miliknya dikalahkan, Surya harus menggebrak James
Simanjuntak, direktur utama Pupuk Kaltim. Alasan kalah, Indocater tidak
mempunyai jaminan modal yang memadai untuk mengikuti tender.
Surya lalu bergegas menghadap Omar Abdallah, Direktur Utama BBD untuk
memperoleh bid bond atau jaminan tender senilai Rp 500 juta, sebab dua
hari sebelumnya permintaan serupa telah ditolak BBD Cabang Cikini karena
dianggap Indocater tidak kapabel untuk menangani proyek tersebut.
Karena itu, begitu bid bond diperoleh Surya yang di tahun 1980 itu sebagai
Ketua Umum FKPPI mengirimi James karangan bunga mawar setinggi 1,5 meter
yang ditempel sepenggal kalimat dalam kertas berkop MPR, “Bung James
Simanjuntak, semoga sukses. Merdeka!” James akhirnya melakukan tender
ulang dan memenangkan Indocater.
Langkah kontroversialnya di politik dan bisnis pers lebih banyak lagi.
Bukan sekali dua kali Media Indonesia yang dipimpinnya diancam dibredel.
Atau karena keteguhannya menegakkan kebenaran dan demokrasi Surya harus
dicari-cari aparat keamanan bahkan suatu ketika nyawanya terancam.
Rekaman sepakterjangnya di Jakarta sebagai anak bangsa antara lain
mencatat, sebagai Ketua BPP Hipmi Pusat tahu 1977-1979, mendirikan FKPPI
tahun 1978, Ketua Umum PP-FKPPI tahun 1979-1981 dan tahun 1981-1983,
Anggota Dewan Pertimbangan DPP Pepabri tahun 1982-1984, Ketua DPP AMPI
tahun 1984-1989, Ketua Dewan Pertimbangan PP-FKPPI tahun 1984-1987, Ketua
Dewan Kehormatan BPP Hipmi tahun 1984-1987, Anggota Dewan Pembina DPP AMPI
tahun 1989 sampai sekarang, Pengurus PB Gabsi tahun 1998 hingga sekarang,
Anggota Dewan Pers tahun 1999 sampai sekarang, dan Ketua SPS Pusat tahun
1999 hinggga sekarang.
Di kelembagaan legislatif, Surya pada tahun 1971 tercatat sebagai Calon
Anggota DPRD Tingkat II Medan dari Golkar, lalu sebagai Anggota MPR pada
tahun 1977-1982 dan kembali menjadi Anggota MPR tahun 1982-1987. Terakhir,
pada tahun 1987 sebagai Calon Anggota MPR/DPR RI dari Golkar namun urung
dilantik setelah Prioritas koran miliknya dibredel.
Pembredelan inilah puncak sekaligus awal kontroversi politik Surya, yang
membawanya ke sebuah vonis kematian perdata dan hak-hak politik dalam
waktu lama sampai terbetik gagasan memunculkan Konvensi Presiden Partai
Golkar. Sebagai salah satu pencetus gagasan konvensi Surya lalu
membangunkan sendiri dirinya untuk ikut bertarung sebagai salah seorang
kandidat calon presiden dari Partai Golkar.
Itulah Surya Paloh. Pandangan politiknya yang sangat menjunjung tinggi
nilai-nilai demokrasi sangat mewarnai sikap dan kebijakannya ketika terjun
dalam dunia pers sebagai publisher. Posisi politiknya dalam lingkaran
kekuasaan tidak serta merta menghanyutkan dirinya dalam kompromi
sungguhpun dia akan menghadapi risiko tudingan sebagai pembangkang atau
mungkin penghianat. Sepak terjangnya dalam pentas politik nasional sebagai
kader Golkar dimulai dari bawah. Sehingga dia merasakan betul arti sebuah
perjuangan dan keberhasilan.
Keberhasilannya dalam dunia bisnis, misalnya, terlihat di PT Indocater
yang merupakan perusahaan katering terbesar dan terbaik di Indonesia
dengan 4.000-an karyawan. Setelah membangun usaha di tahun 1975 dengan
bendera PT Ika Mataram Coy, baru berselang empat tahun kemudian dia
membeli penuh saham PT Indocater yang lalu diangkatnya menjadi mesin
pencetak uang yang menguntungkan.
Keuntungan itu digunakannya untuk ekspansi usaha termasuk menjajal bisnis
pers dengan mendirikan Prioritas dan PT Surya Persindo. Surya bukan tidak
mendapat tentangan terjun ke bisnis pers sebab telah jauh lari dari core
business katering, terutama dari para manajer puncak Indocater. “Negeri
ini masih memerlukan suatu suara yang dicetuskan lewat media cetak. Ini
penting, sebagai alat perjuangan bangsa Indonesia dalam menyuarakan hati
nurani,’ jelas Surya kepada Lily Harahap yang tegas-tegas menentang
langkah Surya.
“Justru kita harus melahirkan Prioritas agar tidak ada lagi koran yang
dibredel,” tambahnya. “Jadi, supaya bisnis dan juga hati nurani saya bisa
berjalan beriringan, kita gunakan dulu keuntungan Indocater untuk
menerbitkan Prioritas,” lanjut Surya. Lily akhirnya sadar bahwa Surya
berwatak sangat independen dan tak mudah didikte.
Surya seperti menemukan dunianya yang sesungguhnya. Dia terus membangun
reputasi sebagai publisher, lebih enjoy dan tertantang mengurusi bisnis
pers, sementara pengelolaan katering Indocater diserahkan sepenuhnya ke
profesional sejak pertengahan dekade 1980-an.
Surya sebagai pengusaha sukses, kini sudah mempunyai aset dalam hitungan
trilyun rupiah. Rekaman sepakterjang bisnisnya di Jakarta mencatat deretan
cukup panjang. Intinya antara lain adalah, Metro TV, Media Indonesia,
Lampung Pos, Intercontinental Hotel Jimbaran, Sheraton Media Hotel
Jakarta, Papandayan Hotel Bandung, Sun Plaza Medan, Indocater, dan
sejumlah perusahaan marmer, kabel, komputer dengan jumlah karyawan 15.000
orang.
Perjalanan Surya dalam bisnis sesungguhnya tak selalu mencatat
keberhasilan. Dia menorehkan pula sejumlah kegagalan. Dan justru di
sinilah dia banyak menimba pengalaman serta menambah kematangan diri
sebagai pengusaha muda. Dia menggeluti dunia bisnis dari bawah secara
otodidak tanpa uang sesen pun, kecuali hanya bermodalkan pergaulan dan
kepercayaan.
Konvensi Partai Golkar
Partai Golkar yang dalam beberapa tahun terakhir (era reformasi) ini
sering dikritik dan dihujat, karena dianggap merupakan bagian dari masa
lalu, adalah partai pilihannya sejak muda, awal berpolitik. Sedikit banyak
dia pernah memberi kontribusi demi kebesaran Golkar. Kendati dia sebagai
penerbit pers juga mengalami pemberedelan karena kritik-kritiknya yang
sering tidak disukai penguasa ketika itu. Karena itu, pilihannya maju
sebagai kandidat presiden dari Partai Golkar dimaksudkannya pula sebagai
upaya untuk menyelamatkan partai kebanggaannya itu dari hantaman para
penentang.
Surya Paloh memilih Partai Golkar kendaraan menuju kandidat calon RI-1
karena selama 35 tahun berpolitik itulah satu-satunya partai yang pernah
dia singgahi. Dia sudah cukup senior semenjak berusia 17 tahun. Mungkin
tidak banyak yang tahu, bahwa Surya salah satu kadder yang paling senior
hingga Nomor Pokok Anggota Golkar (NPAG) miliknya lebih tua usianya
dibanding sang ketua umum sendiri, Akbar Tandjung.
Dan sekalipun partai berikut ketua umumnya dalam pandangan orang dianggap
bermasalah, namun sebagai kader senior Golkar, kondisi tersebut justru
sangat menantang baginya untuk semakin berkiprah dalam Golkar. Dia adalah
kader yang dibesarkan sekaligus pernah pula dikucilkan oleh Golkar saat
hak-hak perdatanya dicaplok.
Oleh Golkar, Surya saat masih berusia 19 tahun sudah dicalonkan sebagai
caleg DPRD Tk. II Medan pada Pemilu 1971. Ketika itu, secara elegan
akhirnya dia mundur dari pencalonan sadar jam terbangnya sebagai politisi
muda masih harus ditambah. Surya mundur untuk sekaligus menaikkan target
ke Senayan berebut kursi DPR/MPR.
Di kemudian hari terbukti saat dicalonkan kembali menjadi anggota DPR/MPR
RI, dia akhirnya tembus ke Senayan Jakarta menjadi anggota MPR RI saat
usia masih sangat belia, 25 tahun. Demikian pula di usia 30 tahun terpilih
kembali ke MPR.
Walau sudah matang sebagai politisi muda yang pantas diperhitungkan di
pentas politik nasional, dalam usianya sudah 35 tahun, pada Pemilu 1987
Surya tetap dicalonkan namun urung dilantik karena Prioritas, koran yang
dipimpinnya dibredel. Total, sebagai kader senior Golkar sedikit-dikitnya
sudah lima kali Pemilu dia dicalonkan menjadi anggota legislatif.
Era reformasi yang membuka kesempatan pemilihan presiden secara langsung,
memantik kreatifitasnya mencetuskan gagasan Konvensi Calon Presiden Partai
Golkar. “Ini, kita lahirkan, lalu kita perjuangkan untuk bisa diterima
oleh Partai Golkar,” ujarnya.
Gagasan memperjuangkan eksistensi Golkar sering dibicarakannya. Di
antaranya dalam percakapan dengan Akbar tandjung di awal tahun 2001. Surya
menyebutkan, “Yang terpenting, saya kira, sudah saatnya Bung Akbar lebih
tegas. Euforia politik yang berlebihan, seperti terus menerus menghujat
Golkar, sudah harus diakhiri. Semua orang prihatin terhadap peristiwa
perusakan dan pembakaran kantor DPD Golkar di Jawa Timur. Saya benar-benar
sedih. Karena proses reformasi yang seharusnya dapat memperkuat
pilar-pilar demokrasi, justru dirusak dengan tindakan anarkistis.”
Sebagai penggagas Konvensi Capres Golkar, dia pun ikut mencalonkan diri.
“Kita ikut. Ini satu proses pendidikan politik di Partai Golkar sendiri.
Saya yakin juga, ini akan memberikan refleksi yang berarti kepada partai
politik lainnya dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.
Mengikuti konvensi, baginya sama sekali tidak mesti mendapatkan jabatan
presiden itu. Tetapi juga merupakan suatu proses pendidikan politik dan
peningkatan citra Golkar. “Di situ ada nilai yang harus kita berikan,
sacrifice dari diri kita, pengorbanan. Tidak melihat kekuasaan sebagai
sesuatu yang luxurious yang harus kita timang-timang dan kita pertahankan
sepanjang masa. Sebaliknya, kalau kita tidak mendapatkan jabatan itu,
tetaplah kita seperti apa adanya sekarang.”
Baginya, mengikuti proses pencalonan presiden adalah suatu panggilan jiwa
sebagai salah satu alternatif pemimpin bangsa yang memiliki otoritas
kepemimpinan penuh berkat dukungan rakyat. Sebab masa depan bangsa ini
harus segera dijemput. ►haposan/mlp/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|