A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► CEO-Manajer
 ► Wartawan
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 12022004  
   
  ► e-ti/atur  
 

BIODATA

Nama:
Surya Dharma Paloh
Lahir:
Kutaraja (Banda Aceh), 16 Juli 1951
Agama :
Islam
Istri:
Rosita Barack (Menikah tahun 1984 di Jakarta)
Anak:
Prananda, lahir di Singapura tahun 1988

Pendidikan:
Tahun 1958-1963: Sekolah Dasar Negeri Serbelawan, Simalungun
Tahun 1964-1966: Sekolah Menengah Pertama Negeri Serbelawan, Simalungun
Tahun 1967-1969: Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Medan
Tahun 1970-1972: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan
Tahun 1972-1975: Menyelesaikan Pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan

Pekerjaan:
1968: Manajer Travel Biro Seulawah, Air Service, Medan
1972-1975: Pimpinan ‘Wisma Pariwisata’, Medan
1973: Presiden Direktur PT Ika Diesel Bros Medan
1975: Kuasa Direksi Hotel Ika Daroy, Banda Aceh
1975: Presiden Direktur PT Ika Mataram Coy, Jakarta
1976-1977: Direktur Link Up Coy, Singapore
1979-Sekarang: Presiden Direktur PT Indocater, Jakarta
1985-1986: Pimpinan Umum Harian Pagi Prioritas, Jakarta
1988-Sekarang: Direktur Utama PT Citra Media Nusa Purnama, Jakarta
1989-1991: Direktur Utama PT Vista Yama
1989-Sekarang: Direktur Utama PT Surya Persindo
1989-Sekarang: Komisaris PT Pusaka Marmer Indah Raya
1989-1994: Direktur Utama PT Mimbar Umum
1989-1994: Komisaris Utama PT Galamedia Bandung Perkasa
1989-1999: Direktur Utama PT Karya Banjar Sejahtera
1989-Sekarang: Pemegang Saham PT Masa Kini Mandiri
1989-1991: Direktur Utama PT Citra Bumi Sumatera
1990-Sekarang: Komisaris PT Bakti Citra Daya
1990-Sekarang: Direksi PT Sekotong Indah Persada
1990-Sekarang: Komisaris Utama PT Vista Yama
1991-1994: Komisaris Utama PT Citra Masa Kini
1991-Sekarang: Pemilik PT Grahasari Surayajaya
1991-Sekarang: Komisaris PT Citragraha Nugratama
1991-1994: Komisaris Utama PT Citra Bumi Sumatera
1991-1994: Direktur Utama PT Karya Mapulus
1992-1993: Direktur Utama PT Atjjeh Post
1992-1995: Komisaris Utama PT Detik Bangun Media Prestasi
1992-Sekarang: Pemimpin Umum Harian Umum Media Indonesia
1994-Sekarang: Direksi PT Citra Nusa Persada
1994-Sekarang: Pemilik Sheraton Media Hotel & Towers
1994-1998: Komisaris Utama PT TVM Indonesia
1995-Sekarang: Komisaris Utama PT Inti Marmer Indah Raya
1995-Sekarang: Komisaris PT Satria Chandra Plastikindo
1995-Sekarang: Pemilik Papandayan Hotel
1999-Sekarang: Pemilik Bali Intercontinental Hotel
1999-Sekarang: Direktur Utama PT Media Televisi Indonesia (Metro TV)

Organisasi:
1964: Ketua Umum GPP (Gerakan Pemuda Pancasila) Dolok Batunanggar, Simalungun, Sumatera Utara
1966-1968: Ketua Presidium KAPPI Dolok Batunanggar, Simalungun
1968-1970: Ketua Presidium KAPPI, Medan, Sumatera Utara
1968: Pendiri Persatuan Putra Putri ABRI, Medan, Sumatera Utara (PP ABRI)
1968-1974: Ketua Umum Persatuan Putra Putri ABRI Medan, Sumatera Utara (PPABRI)
1969-1972: Ketua Ko PPMG (Koordinator Pemuda Pelajar Mahasiswa Golkar) Golkar, Medan, Sumatera Utara
1974-1977: Ketua Umum BPD Hipmi Sumatera Utara, Medan
1977-1979: Ketua BP Hipmi Pusat, Jakarta
1978: Pendiri FKPPI
1979-1981: Ketua Umum PP-FKPPI
1981-1983: Ketua Umum PP-FKPPI
1982-1984: Anggota Dewan Perimbangan DPP Pepabri
1984-1989: Ketua DPP AMPI
1984-1987: Ketua Dewan Pertimbangan PP-FKPPI
1984-1987: Ketua Dewan Kehormatan BPP Hipmi
1989-Sekarang: Anggota Dewan Pembina DPP AMPI
1998-Sekarang: Pengurus PB Gabsi
1999-Sekarang: Anggota Dewan Pers
1999-Sekarang: Ketua SPS Pusat

Legislatif:
1971: Calon Anggota DPRD Tk II Medan dari Golkar
1972-1982: Anggota MPR-RI
1982-1987:Anggota MPR RI
1987: Calon Anggota MPR/DPR-RI dari Golkar

Alamat Rumah:
Jalan Permata Berlian R. 20 Permata Hijau, Jakarta

Alamat Kantor:
Harian Media Indonesia - Metro TV
Komplek Delta Kedoya
Jalan Pillar Mas Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11520
 
 
 
 
 
 
BIOGRAFI

 

BIOGRAFI:  01   02   03   04   05   6   ==

Surya Dharma Paloh (1)

Pembawa Suara Masa Depan


Dia publisher terkemuka di negeri ini. Pria berkulit sawo yang selalu memelihara brewok hitam tebal membalut pipi dan dagu itu bernama lengkap Surya Dharma Paloh. Dia orator pembawa suara masa depan yang selalu bicara berapi-api di hadapan massa. Calon Presiden melalui Konvensi Partai Golkar ini berkehendak kuat memimpin menjemput masa depan bangsa ini.

Putera bangsa kelahiran Kutaraja (Banda Aceh) tanggal 16 Juli 1951, yang juga politisi dan pengusaha sukses, ini berkehendak membawa perubahan baru di republik ini. Restorasi nasional ingin diwujudkannya jika berhasil memenangkan kontes Pemilu Presiden 2004, yang dia awali lewat jalur Konvensi Partai Golkar.

Menurutnya, salah satu kata kunci agar berhasil merestorasi masa depan bangsa secara menyeluruh ke arah yang lebih baik adalah harus memiliki otoritas penuh dan didukung rakyat. Otoritas tertinggi itu ada di tangan seorang presiden sebagai pemimpin nasional. Sebab, menurutnya, maju atau mundurnya sebuah bangsa lebih 50 persen disumbangkan oleh faktor kepemimpinan seorang pimpinan nasional (presiden).

Sejak masa belia, terbilang usia belasan tahun, impian kehidupan berpolitik yang demokratis dan obsesi berbisnis untuk menyejahterakan rakyat, sudah sering disuarakannya. Dia ingin melakukan perubahan menuju kehidupan adil-makmur dan sejahtera bangsanya. Era reformasi memberinya jalan lapang untuk memperjuangkan sekaligus membuktikan kehendak dan ide-ide briliannya itu. Gagasan dan ide yang seringkali diungkapkan dalam editorial Media Indonesia yang dipimpinnya namun selalu menghadapi tembok tak tertembus. Kini, dia ingin mewujudkannya. Dia ingin bangsa ini berubah: Adil-makmur dan sejahtera!

“Kita butuh perubahan besar bagi bangsa ini,” katanya mantap kepada TokohIndonesiaDotCom, memberi alasan pencalonannya sebagai presiden. “Saya berkeyakinan pada diri saya, dengan karunia Tuhan, dan apa yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa, kesempatan lahir, besar dan berinteraksi di tengah-tengah bangsa ini, untuk menjadi salah satu figur alternatif pemimpin bangsa masa depan,” katanya dalam bagian awal pembicaraan.

Kemandirian dan kepemimpinan sesungguhnya terasah pada dirinya sejak remaja. Saat masih dalam usia belia sekali, 14 tahun, dia sudah memulai bisnis leveransir, di sebuah kota kecil Serbelawan tahun 1965. Bersamaan dengan aktivitas bisnis itu, dia pun sudah mampu tampil sebagai pemimpin dan penggerak massa, dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) sub rayon Serbelawan, Kecamatan Dolok Batunanggar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

KAPPI di daerah itu dia dirikan bersama teman-temannya untuk melawan pengaruh Partai Komunis Indonesia dan antek-anteknya, yang memberontak kepada negara melalui Gerakan 30 September/PKI. Peta pergolakan politik dan kekuasaan antara Jakarta dan Serbelawan, sama dalam pengamatan Surya Paloh yang rajin mengikuti pemberitaan lewat suratkabar dan radio, terutama gaung pidato Bung Karno yang sangat dia idolakan.

Bermodalkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan kekaguman akan proklamator Bung Karno yang sejak lama sudah ditanamkan ayahnya Daud Paloh, seorang perwira polisi, ditambah kemampuan orator ulung dan luasnya persahabatan serta kemampuan finansial sebagai leveransir ikan asin ke perkebunan, membuat anak muda itu makin leluasa menggerakkan organisasi KAPPI di Serbelawan, Simalungun. Jadi, ikhtiar sebagai politisi sekaligus pengusaha sukses sudah dijalankannya sejak awal.

Memasuki saat-saat menjelang pensiun untuk hanya menikmati hari tua bersama istri dan anak, obsesi yang pernah bergema pada usia 14 tahun itu kembali membatin dalam perasaannya. Obsesi itu semakin hari semakin keras. Apakah dia harus berhenti untuk melakukan sesuatu yang lebih optimal? Atau apakah dia harus menyerah untuk menyatakan selamat tinggal kepada perjuangan, yang bukan terbatas kepada diri dan keluarganya?

Akhirnya, pada suatu hari dia mengambil kesimpulan: “Saya tidak boleh menyerah. Saya tidak boleh mengatakan bahwa saya telah melakukan semua apa yang seharusnya saya lakukan. Masih ada satu misi besar lagi di depan. Kalau memang kesempatan ada, atau kalau memang kesempatan itu juga kita buat supaya ada, kita harus bisa melakukan sesuatu yang lebih besar memimpin bangsa ini, atas kepercayaan rakyat bangsa ini,” ujarnya. Semangat berapi-apinya kembali mencuat, sama seperti ketika masih muda dulu memimpin ratusan massa pemuda pelajar menurunkan papan nama KBKB, sebuah ormas underbouw PKI di Serbelawan.

Semangat itu semakin mengkristal untuk bisa membawa perubahan besar bagi negeri ini. Sebab, kendati sudah belasan tahun sebagai publisher menyuarakan semangat perubahan dalam setiap editorial dan pemberitaan di setiap media yang didirikan dan dipimpinnya, perubahan yang diimpikannya tak kunjung datang. Kini, tokoh pers ini ingin menjemputnya, jika dia dipercaya memimpin bangsa ini.

Tokoh Pers
Kini, Surya Paloh sudah hampir memasuki akhir dekade kedua sebagai publisher. Predikat publisher mulai dia torehkan saat pertama kali menerbitkan Harian Prioritas pada 2 Mei 1986, bermarkas di Jalan Gondangdia, Jakarta Pusat. Koran ini menjadi legenda bagi banyak orang, apalagi bagi pribadi seorang Surya. Bukan hanya karena koran ini harus mati pada usia 13 bulan, melainkan lebih karena kematian itu hanya tiba akibat arogansi kekuasaan yang mendompleng pada Permenpen Nomor 1/Per/Menpen/1984 khususnya Pasal 33 butir “h”. Prioritas harus dibredel tepatnya pada tanggal 29 Juni 1987.

Pengambil keputusan ketika itu lupa, bahwa di usia yang sudah 36 tahun, sesungguhnya Surya Paloh sudah semakin matang sebagai politisi dan pengusaha. Makanya Surya pasti tidak akan menyerah, malah akan memberikan perjuangan balik berlipat kali ganda. Padahal ketika itu, Surya sudah berada dalam lingkaran pusat kekuasaan lewat pertemanannya dengan putra-putri dan menantu Pak Harto, pemimpin besar ketika itu.

Karena itu momentum pembredelan justru menjadi titik tonggak perjuangan Surya Paloh untuk mewujudkan hakiki sebuah pers yang bebas merdeka. Sebab, menurutnya, mustahil kehidupan berbangsa bisa demokratis jika tidak ada kebebasan pers. Perjuangan strategis kebebasan pers dimaksudkannya pula sebagai perjuangan untuk menegakkan demokrasi di sebuah bangsa besar bernama Indonesia.

Ketika itu, sayang dia harus melangkah sendirian. Lebih parah lagi, baginya, pintu untuk memperoleh surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) pun mustahil. Selembar surat untuk menerbitkan media baru sebagai alat untuk memperjuangkan kebebasan pers dan menegakkan demokrasi, sudah tertutup rapat baginya.

Kebesaran Surya sebagai anak rantau ibarat hanya menjadi seorang lone ranger yang berjalan sendirian dalam kegelapan rimba arogansi penguasa yang mengekang kebebasan pers. Praktis hanya sedikit insan pers nasional yang mensupportnya. Menunjukkan rasa simpati saja, apalagi empati terhadap perjuangannya, sangat terbatas. Apakah Surya Paloh dianggap bukan orang pers?

Ketika dia berteriak lantang memperjuangkan kemerdekaan pers dengan mengajukan judicial review ke Mahkamah Agung R.I atas keputusan pemerintah mencabut SIUPP Prioritas, dia tetap seorang diri. “Saya dianggap bukan orang pers,” katanya pada suatu ketika.

Karena itu, “Arogansi kekuasaan ini harus dilawan,” gumamnya lagi. “Demokrasi harus ditegakkan,” tegasnya. “Pers nasional harus bebas dari belenggu kematian,” tekadnya membara. Permenpen Nomor 01/Per/Menpen/1984 khususnya Pasal 33 butir “h” harus dicabut. Sebab Surya sangat yakin, seyakin yakinnya, bahwa mustahil dapat menumbuhkan demokrasi tanpa kebebasan pers.

Maklum, ketika itu pers sangat tidak bebas sebab hampir tidak terlihat satupun perlawanan yang bisa diberikan masyarakat pers terhadap pemerintah. Pers nasional adalah pers yang manggut-manggut kepada kepentingan penguasa. Surya menyebutkan, kebijakan institusi pers, dari SPS, Dewan Pers, hingga PWI semuanya berada dalam satu irama dengan penguasa tanpa pernah memperjuangkan fungsi pers yang sesungguhnya sebagai kekuasaaan negara keempat di bidang demokrasi, atau the fourth estate of democracy. “Saya ternyata berada dalam komunitas pers yang sebagian besar telah menjadi instrumen kekuasaan dan patuh pada penguasa,” gugatnya kemudian.

Ketika di kemudian hari Surya Paloh berhasil menyiasati gelapnya arogansi kekuasaan dengan mengambil-alih koran Media Indonesia secara sembunyi-sembunyi di “bawah tangan”, dia masih tetap dianggap sebagai orang pers pinggiran. Padahal di tangannya Media Indonesia sudah tampil sebagai koran pagi terbesar kedua.

Kendati hingga titik itu dia masih saja dianggap bukan “orang pers,” sejak tahun 1989 muncul gagasan segarnya membangun sebuah community newspaper. Sebuah komunitas koran di daerah-daerah coba dilahirkannya supaya melek terhadap demokrasi dan hidup dalam kebebasan pers untuk membawa negara ini tiba pada sebuah perubahan yang lebih baik.

Surya lalu membentuk perusahaan PT Surya Persindo, bertugas melakukan kerjasama kepemilikan saham dan pengelolaan media terhadap sepuluh suratkabar daerah dan sebuah mingguan, ditambah sebuah tabloid berita Detik di Jakarta.

Ke-10 media tersebut adalah Harian Atjeh Post dan Mingguan Peristiwa di Banda Aceh, Harian Mimbar Umum di Medan, Harian Sumatra Ekspres di Palembang, Harian Lampung Pos di Bandar Lampung, Harian Gala di Bandung, Harian Yoga Pos di Yogyakarta, Harian Nusa Tenggara dan Bali News di Denpasar, Harian Dinamika Berita di Banjarmasin, serta Harian Cahaya Siang di Menado.

Kebebasan pers yang Surya perjuangkan lewat semua instrumen yang dimiliki tetap dianggap hanya angin lalu. Semua suara itu baru memperoleh pembenaran di era reformasi. Pers akhirnya memperoleh kebebasannya yang hilang. Permenpen Nomor 1/Per/Menpen/1984 dicabut oleh Menpen Yunus Yosfiah di tahun 1998.

Lewat kebebasan baru itu, idealisme Surya Paloh menjadi memuncak untuk memberi penguatan baru kepada demokrasi melalui peran media yang dimiliki. Keinginannya untuk benar-benar memperoleh pengakuan sebagai publisher sejati tak lagi terbendung tatkala pada 18 November 2000, dia berhasil mengundang Presiden RI Abdurrahman Wahid untuk meresmikan pendirian Metro TV sebagai sebuah stasiun televisi berita pertama di Indonesia. Lambang kepala burung rajawali putih mulai muncul pada dua entitas media yang berpengaruh miliknya: koran Media Indonesia dan stasiun televisi Metro TV.

Seminggu kemudian tepatnya pada 25 November 2000 Metro TV mulai on air pertama kali, menyajikan siaran berita selama 18 jam setiap hari dengan dukungan teknologi yang fully digital. Ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Baik dari sisi pilihan teknologi maupun konten siaran yang sepenuhnya berita. Kemudian, persis tanggal 1 April 2001 Metro TV siaran non stop selama 24 jam setiap hari. Kehadiran Metro TV menjadi sebuah terobosan terbesar dalam dunia pertelevisian nasional.

Eksistensi Surya Paloh sebagai peublisher terkemuka, sebagai tokoh pers yang selalu menyuarakan suara masa depan tak lagi diragukan. Termasuk oleh mereka para insan pers yang sebelumnya lebih mau mengakui dia sebagai pengusaha ketimbang insan pers. ►haposan/mlp/crs
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)