Letnan Jenderal Anumerta Suprapto
(1920-1965)
Menentang Komunis
Letnan Jenderal Anumerta Suprapto terkenal
sebagai seorang tentara yang taat menjalankan ibadah agama dan tidak
pernah setuju dengan ajaran komunis. Sehingga ketika menjabat Deputy II
Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), dialah salah satu perwira
yang menolak usulan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk membentuk
Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani.
Karena penolakan itu, pria kelahiran Purwokerto
yang masuk tentara jamannya Tentara Keamanan Rakyat dan yang pernah
menjadi ajudan Panglima Besar Jenderal Sudirman, ini selalu dimusuhi dan
selalu mendapat rongrongan dari pihak PKI. Bahkan akhirnya dalam
pemberontakan Gerakan Tiga Puluh September tahun 1965, ia salah satu
perwira tinggi yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan yang
dilakukan oleh PKI.
Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920,
ini boleh dikata hampir seusia dengan Panglima Besar Sudirman. Usianya
hanya terpaut empat tahun lebih muda dari sang Panglima Besar.
Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS
(setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun
1941.
Sekitar tahun itu pemerintah Hindia Belanda
mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua. Ketika
itulah ia memasuki pendidikan militer pada Koninklijke Militaire
Akademie di Bandung. Pendidikan ini tidak bisa diselesaikannya sampai
tamat karena pasukan Jepang sudah keburu mendarat di Indonesia. Oleh
Jepang, ia ditawan dan dipenjarakan, tapi kemudian ia berhasil melarikan
diri.
Selepas pelariannya dari penjara, ia mengisi
waktunya dengan mengikuti kursus Pusat Latihan Pemuda, latihan keibodan,
seinendan, dan syuisyintai. Dan setelah itu, ia bekerja di Kantor
Pendidikan Masyarakat.
Di awal kemerdekaan, ia merupakan salah seorang
yang turut serta berjuang dan berhasil merebut senjata pasukan Jepang di
Cilacap. Selepas itu, ia kemudian masuk menjadi anggota Tentara Keamanan
Rakyat di Purwokerto. Itulah awal dirinya secara resmi masuk sebagai
tentara, sebab sebelumnya walaupun ia ikut dalam perjuangan melawan
tentara Jepang seperti di Cilacap, namun perjuangan itu hanyalah sebagai
perjuangan rakyat yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada umumnya.
Selama di Tentara Keamanan Rakyat, ia mencatatkan
sejarah dengan ikut menjadi salah satu yang turut dalam pertempuran di
Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu, pasukannya dipimpin
langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Ia juga salah satu yang pernah
menjadi ajudan dari Panglima Besar tersebut.
Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia
sering berpindah tugas. Pertama-tama ia ditugaskan sebagai Kepala Staf
Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang. Dari Semarang
ia kemudian ditarik ke Jakarta menjadi Staf Angkatan Darat, kemudian ke
Kementerian Pertahanan. Dan setelah pemberontakan PRRI/Permesta padam,
ia diangkat menjadi Deputy Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah
Sumatera yang bermarkas di Medan. Selama di Medan tugasnya sangat berat
sebab harus menjaga agar pemberontakan seperti sebelumnya tidak terulang
lagi.
Selanjutnya dari Medan ia dipindahkan lagi ke
Jakarta untuk menjabat Deputy II Menteri/Panglima Angkatan Darat
(Men/Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal. Kala memangku jabatan ini,
pengaruh PKI sedang marak di Indonesia. Partai Komunis yang merasa dekat
dengan Presiden Soekarno dan sudah berpengaruh pada sebagian rakyat
paling bawah, kemudian mengusulkan agar kaum buruh dan tani
dipersenjatai atau yang disebut dengan Angkatan Kelima. Usul yang
mengandung maksud tersembunyi itu oleh sebagian besar Perwira Angkatan
Darat ditolak termasuk oleh Suprapto sendiri.
Penolakan itulah kemudian yang membuat PKI merasa
sakit hati dan menaruh dendam kepada sejumlah perwira AD tersebut.
Dengan berbagai cara, PKI selalu merongrong Deputy II Men/Pangad serta
pribadi Suprapto sendiri dengan berbagai fitnah yang keji.
Terakhir,
dengan membuat fitnah adanya sejumlah Jenderal TNI AD bekerjasama dengan
satu negara luar hendak menggulingkan Presiden Soekarno, PKI pun
melakukan aksinya pada malam 30 September 1965 atau subuh tanggal 1
Oktober 1965. Rencananya PKI hendak menculik dan membunuh tujuh Perwira
Tinggi AD. Rencana jahat itu berjalan hampir sempurna. Hanya satu di
antara perwira dimaksud yang berhasil lolos dari penculikan yakni
Jenderal A.H. Nasution, walaupun untuk itu, Pierre Tendean ajudan
Nasution sendiri harus menjadi tumbalnya.
Keenam Perwira Tinggi AD itu yakni: Jend. TNI Anumerta Achmad Yani;
Letjen. TNI Anumerta Suprapto; Letjen. TNI Anumerta S.Parman; Letjen.
TNI Anumerta M.T. Haryono; Mayjen. TNI Anumerta D.I. Panjaitan; Mayjen.
TNI Anumerta Sutoyo S; dan satu Perwira Pertama yaitu Kapten CZI TNI
Anumerta Pierre Tendean.
Ketujuh perwira yang berhasil diculik dan dibunuh itu besok harinya
oleh tim yang dipimpin Soeharto (mantan Presiden RI) ditemukan terkubur
di sumur tua di daerah Lubang Buaya. Jenazah ketujuh korban ditemukan
penuh lumpur dan darah, dari bekas luka di tubuh para korban disimpulkan
bahwa sebagian korban langsung mati tertembak sementara sebagian lagi
lebih dulu disiksa kemudian baru ditembak.
Suprapto yang karena kesetiaanya pada Pancasila
gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Bersama enam perwira lainnya ia
dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Pangkatnya yang sebelumnya
masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan
Jenderal sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.
Dan untuk menghormati jasa para pahlawan tersebut,
oleh pemerintah Orde Baru ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap
tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur
nasional. Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur tua
tempat jenazah ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung
ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut. Tugu tersebut dinamai Tugu Kesaktian
Pancasila.
Pemberontakan yang didalangi oleh komunis memang
bukanlah pertama kali ini terjadi, pada tahun 1948 sudah pernah terjadi
di Madiun, Jawa Timur. Namun kekejaman komunis dalam peristiwa G 30/S
PKI ini sungguh meninggalkan trauma yang sangat dalam dalam perjalanan
kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi persada ini. Trauma akibat
kejadian itu tidak hanya dialami oleh pihak yang menjadi korban langsung
dari peristiwa itu. Tapi semua warga bangsa hingga ke generasi terakhir
ini masih merasakan pengaruh peristiwa itu.
Bahkan walaupun tidak secara nyata, pergantian
rejim kepemimpinan di negara ini pun seakan terseret oleh peristiwa
sadis itu. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa di kedua belah pihak
banyak yang menjadi korban baik pra maupun pasca peristiwa itu.
Namun
jika itu menjadi alasan untuk melakukan balas dendam niscaya kita tidak
akan pernah merasakan kenyamanan sebagai sesama warga bangsa. Hanya satu
hikmat yang boleh diambil dari peristiwa itu yakni bahwa kita tidak akan
pernah lagi mau tertipu akan ajaran komunis yang telah merusak tatanan
kehidupan kita sebagai saudara sebangsa yang beragama. ► juka-atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |