| SUPARTONDO HOME |
|
|
 |
Prof dr Supartondo, SpPD, KEMD,
KGer Melayani Berlandaskan Empati
Di kalangan rekan sejawatnya, Prof dr Supartondo, SpPD, KEMD,
KGer dikenal sebagai sosok yang
sangat peduli pada layanan holistik untuk pasien. Dokter kelahiran Purwakarta, 7 Mei 1930,
itu sangat memerhatikan
efektivitas pembiayaan layanan kesehatan, komunikasi antara dokter dan
pasien berlandaskan empati yang pada akhirnya merupakan bagian dari
etika profesi, serta menaruh perhatian besar pada pendidikan.
Meskipun telah pensiun sebagai guru besar, Prof Supartondo, masih
mengajar mata ajaran komunikasi untuk mahasiswa kedokteran tingkat IV
FKUI.
Bahan untuk kuliah interaktif ini banyak diambil dari kejadian di
masyarakat, antara lain seperti yang diungkap surat kabar.
Pada usianya yang sudah 70-an tahun, Prof
Supartondo masih menunjukkan perhatian yang besar terhadap persoalan
aktual seputar kita, mulai dari mutu ujian akhir nasional, sinetron yang
mengajarkan kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan dan etika
kedokteran, hingga pengembangan subbagian geriatri di FKUI.
Anda masih mengajar komunikasi antara pasien dan dokter?
Seorang calon dokter harusnya mendapat pendidikan dasar, artinya
pendidikan di keluarga, yang menguntungkan. Sayangnya tes masuk ke
pendidikan kedokteran hanya berdasarkan kecerdasan.
Saya pernah bertemu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas New South
Wales yang mengatakan penerimaan mahasiswa kedokteran di kampusnya
ditambah ujian wawancara dengan penguji dari wakil masyarakat. Bila
dalam wawancara seseorang dinilai tidak memiliki kepedulian, empati,
atau rasa kasih sayang, maka pasti tidak akan lulus meskipun nilai
kecerdasan memungkinkan untuk diterima.
Bagaimana pendidikan profesi dalam hubungan dokter dengan pasien?
Saya dan Prof Samsuridjal (Djauzi) menganggap pendidikan harus tidak
semata-mata mengutamakan ilmu, tetapi juga komunikasi, empati, dan itu
berhubungan dengan etika profesi. Etika profesi tidak bisa dipelajari
hanya dari bukunya Ikatan Dokter Indonesia.
Empati hanya muncul dari bawah, dari komunikasi. Untuk mengetahui
keadaan pasien bukan hanya dari jawaban yang diungkapkan pasien, tetapi
juga dari (ekspresi) wajahnya. Cocok enggak dengan jawabannya.
Komunikasi itu untuk mengetahui jawaban, dari situ kita mengembangkan
empati.
Tidak semua orang memiliki empati. Apakah bisa diajarkan?
Secara teori
bisa, tetapi untuk dapat menguasai penuh perlu ada landasannya. Landasan
itu didapat ketika orang pernah merasakan kasih sayang. Sebab itu,
memang harus dikembalikan ke pendidikan dasar, yaitu keluarga.
Kenyataannya, sering muncul keluhan dokter tidak mau berkomunikasi
dengan pasien?
Memang, di Indonesia, tergantung kesibukan masing-masing dokter.
Dulu, ketika masih ada Inpres, Dokter untuk ditempatkan di puskesmas di
desa-desa. Kelemahannya, mereka harus sering rapat dengan bupati
sehingga terpaksa meninggalkan pekerjaannya di puskesmas.
Saya lalu usulkan kepada Menteri Kesehatan supaya di puskesmas jangan
hanya satu dokter. Dengan begitu, bila salah satu dokter ikut rapat
tetap ada dokter yang menunggu di puskesmas.
Sekarang pemerintah mau menghidupkan kembali posyandu untuk menangani
kesehatan ibu dan anak. Jika mau dihidupkan lagi, pemerintah jangan
mengira zamannya masih seperti dulu. Sekarang pengurus posyandu harus
diberi honor karena mereka juga susah hidupnya. Mereka memerlukan uang
untuk menopang hidupnya.
Saya saja susah kok. Pensiun saya hanya Rp 1,3 juta per bulan sebagai
penghargaan negara kepada guru besar. Maka dari itu, saya masih terus
praktik di rumah, tiga kali seminggu.
Saat peluncuran bukunya yang berjudul Supartondo Sebagai Dokter, Guru,
dan Sahabat. Pemikiran dan Pandangan dalam Bidang Pendidikan Kedokteran,
Prof Supartondo minta diputarkan lagu Ismail Marzuki yang bercerita
tentang kampung halaman.
"Teman-teman terkejut ketika saya minta diputarkan lagu Ismail Marzuki
sebab mereka tahunya saya penggemar jazz. Jazz yang standar, bosanova.
Tetapi, saya juga menggemari Ismail Marzuki," tuturnya.
Kenangan pada masa kecil begitu membekas dan dituangkan Prof Supartondo
di dalam bukunya. "Ayah ahli teknik dan orang Indonesia pertama yang
ditugasi mengepalai Bendungan Sungai Citarum di Walahar, sebuah desa di
dekat Kawarang," kata Prof Supartondo.
Anak ketiga dari 10 bersaudara ini, seperti ditulis oleh adiknya,
Suparjitno, di dalam biografi, sangat dekat hubungannya dengan
saudara-saudaranya.
Apa yang membuat Anda memutuskan menjadi dokter?
Awalnya saya ingin jadi ahli bahasa, saya menguasai bahasa asing
Inggris, Jerman, dan Belanda. Tetapi, yang benar-benar mendorong saya
ingin menjadi dokter adalah ketika Belanda menyerang Indonesia. Orangtua
saya mengungsi ke kampung-kampung, saya tidak ikut mengungsi.
Saya bersama teman-teman membentuk semacam palang merah. Kami mengobati
orang- orang, obatnya sederhana, kami dapat dari rumah sakit tentara.
Saya bertemu anak perempuan berumur tiga tahun, anak kepala desa, yang
kepalanya gundul karena ada luka. Saya memberi salep yang dibuat dari
dua takaran salisil dan empat takaran belerang. Ternyata luka itu sembuh
seminggu kemudian. Saya merasa senang bisa menolong orang dan lalu ingin
menjadi dokter. Waktu itu saya kelas I SMA, tahun 1948. Ketika keadaan
sudah memungkinkan, saya meneruskan ke SMA di Bandung.
Lalu meneruskan ke FKUI?
Waktu kuliah di kedokteran sangat menyenangkan. Jika sedang tidak senang
dengan mata kuliah, kami bisa pergi naik trem ke Pasar Baru untuk nonton
film. Dulu, tidak ada absen untuk mata kuliah, tetapi wajib ikut
praktikum. Sistem kuliah saat itu membolehkan mahasiswa menentukan
sendiri kapan dirinya siap ujian. Jika merasa siap, mahasiswa
bersangkutan dapat mengajukan diri.
Sistem perkuliahan sekarang memakai sistem terpimpin. Pendidikan
diselesaikan dengan kuliah yang dipadatkan sekali. Kekurangan sistem ini
adalah calon dokter tidak diberi landasan agar memiliki kemampuan
berkomunikasi dengan pasien. Padahal, dari situlah awal untuk menerapkan
etik kedokteran, bukan dengan menghafal pasal-pasal Kode Etik
Kedokteran.
Bagaimana dengan globalisasi?
Dunia pendidikan mengalami gangguan besar, yakni globalisasi yang
mengutamakan keuntungan. Institusi pendidikan terkena imbasnya. Tidak
bisa menyalahkan mahasiswa jika mereka tidak sesuai yang diingini
masyarakat sebab mereka juga membayar mahal untuk jadi dokter.
Jadi, saya bersama dengan Prof Syamsuridjal ingin membuktikan apakah
kita masih mampu menghasilkan SDM yang cocok dengan kebutuhan kita yang
banyak ragam budayanya.
Misalnya di Fakultas Kedokteran tidak diajarkan antropologi, padahal
seorang dokter bisa ditempatkan di daerah yang berbeda dari daerah
asalnya. Tetapi, harus diakui antropologi memang tidak mudah untuk
diajarkan.
Perubahan dari kurikulum yang bebas menjadi kurikulum terpimpin
dikendalikan Consortium Health Sciences (CHS). Sayangnya, CHS bubar.
Kegagalan terjadi saat CHS ingin menerapkan konsep pendidikan yang baru,
yaitu problem base learning. Konsep tersebut mirip dengan konsep
pendidikan umum, yaitu pendidikan berdasarkan kompetensi. Konsepnya
mengajak mahasiswa mencari jalan keluar untuk menangani suatu masalah
yang telah ditetapkan.
Namun, problem base learning kami terapkan di bagian geriatri RSCM.
Pasien yang mengalami beberapa penyakit sekaligus harus disusunkan
prioritas penyakit mana yang mau ditangani lebih dulu.
Di sini mungkin bukan untuk menyembuhkan, terutama bila penyakitnya
sudah lama. Kita mencari yang diprioritaskan atau penyakit yang paling
terakhir dialami.
Jadi, sebenarnya juga diterapkan cost effectiveness. Kelihatan betul
dokter yang tidak menerapkan cost effectiveness, penanganan pada pasien
tak memakai skala prioritas penanganan. Tetapi, bukan berarti harus
memilih pengobatan termurah. Pendekatannya pengobatan harus dengan
penanganan paling baik dan mungkin bisa mahal.
Perhatian Prof Supartondo pada bidang geriatri dipicu ketika pada akhir
tahun 1980-an Menteri Kesehatan mendesak FKUI mulai memerhatikan masalah
penanganan orang usia lanjut. Dia ikut merintis pengembangan keilmuan
dan berdirinya subspesialis geriatri di bagian penyakit dalam FKUI.
Untuk itu, dia mendapat penghargaan pemerintah melalui Menteri Kesehatan
sebagai pelopor ilmu geriatri bersama-sama almarhum Prof Dr
Boedhi-Darmojo, SpPD, KGer.
Dia banyak membaca buku dengan beragam topik, antara lain sejarah
Nusantara. Biasanya dari buku yang dia baca akan lahir sebuah inspirasi
dan itu akan dibagikannya kepada rekan sejawat, kadang dalam bentuk
pertanyaan yang menggugat sistem yang ada.
Bagaimana perkembangan penanganan medis geriatri di Indonesia?
Pada tahun 2020, jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia akan menjadi
yang terbesar di ASEAN. Indonesia tidak mungkin hanya mengandalkan
dokter spesialis untuk melayani puluhan juta orang usia lanjut itu.
Karena itu, ujung tombak yang dapat diandalkan adalah dokter umum,
perawat, dan pengurus panti yang memang harus ditatar terlebih dahulu.
Bahkan, keluarga harus tahu kalau orangtua tidak mau keluar dari tempat
tidur jangan dianggap biasa. Hal itu harus dicermati karena mungkin ada
tambahan penyakit baru. Orang usia lanjut perlu perhatian khusus karena
tidak punya daya cadangan. Jadi, kalau ada penyakit harus segera
ditangani oleh dokter.
Bagaimana orang Indonesia mempersiapkan kesehatan hari tuanya?
Orang makin tua tidak berarti harus makin sakit-sakitan. Tetapi, yang
punya penyakit kronis seperti penyakit gula memang harus lebih
berhati-hati.
Bagi mereka yang sehat, hal yang dapat memengaruhi kualitas hidup adalah
gaya hidup. Misalnya, merokok atau tidak berolahraga.
Kami membuat subspesialis geriatri dan diikuti lahirnya Perhimpunan
Gerontologi Medik Indonesia. Konsep kami, manusia terdiri dari bidang
jasmani, psikologi, dan sosial. Untuk menangani pasien secara utuh,
komunikasi dokter-pasien harus mencakup tiga hal itu.
Saat ini dokter masih banyak dikritik masyarakat?
Saya mencoba kontak dengan teman-teman dan bersama-sama mencoba
membangun critical mass dan mencari jalan keluar. Beberapa teman punya
posisi di organisasi profesi. Saya pesan agar program seperti ini
dimasukkan ke dalam kolokium, yaitu kemampuan profesi yang terus harus
dapat dipertahankan.
IDI punya organ yang mengusut keluhan masyarakat. Sering juga masyarakat
punya pengertian yang tidak tepat mengenai mal praktik.
Sayangnya, dokter, ketika melakukan suatu tindakan operasi, misalnya,
tidak menjelaskan risiko tindakan itu. Hal ini merupakan masalah
komunikasi, dokter tidak punya waktu berkomunikasi.
Saya sering mengatakan, pasien juga punya hak. Kalau ini menjadi standar
di rumah sakit negeri maupun swasta, yaitu menjelaskan risiko suatu
tindakan, maka risiko ditanggung bersama.
Namun, kita juga harus meningkatkan kemampuan profesional kita supaya
tidak setiap kali orang pergi ke luar negeri.
Bagaimana agar dokter mau menyediakan waktu buat pasien?
Ada satu buku yang saya sukai, yakni tentang konsep spiritual quotient
(SQ). Disebutkan, semua orang memiliki SQ, tetapi beberapa orang tidak
mengembangkannya.
Padahal, kalau kita berhasil mengembangkan SQ, bukan hanya kita suka
menolong, bahkan seseorang menjadi bertanya untuk apa berada di dunia.
Pernah bertanya untuk apa berada di dunia?
Saya belum sampai ke sana, tetapi mungkin baru menjawab mau berbuat apa
di dunia ini. Mudah-mudahan saya sampai ke sana walaupun tidak selalu
harus dijawab. (Kompas, 4 Juni 2006, Buyung Wijaya Kusuma/ Dahono
Fitrianto) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|