| |
C © updated 03052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Sundari Untinasih Soekotjo
Lahir:
Jakarta, 14 April 1965
Mantan Suami:
H. Arman Surjadi
Anak:
Putri Intan Permatasari (1991)
Ayah/Ibu:
R. Soekotjo Renodihardjo/Herini
Pendidikan:
- D3 Musik IKIP, 1987
- Sarjana Jurusan Musik Universitas Negeri Jakarta, 2002
Karir:
- Penyanyi Keroncong
- Guru Kesenian SMA 38 Jakarta
- Presenter Acara Sedap Sekejap yang ditayangkan TV7, 2002
- Pengajar Universitas Negeri Jakarta
Kegiatan Lain:
Ketua II Himpunan Musik Keroncong Indonesia
Penghargaan:
- Juara II Bintang Radio/TVRI 1979
- Juara I Bintang Radio/TVRI 1983
- Penghargaan Khusus dari AMI-Sharp Award ke-6, 2002
- Keroncong Award 2002 yang diselenggarakan Yayasan Bina Suci dan Radio
Republik Indonesia, 2002
Album:
- Lagu Anak-anak (1976)
- Keroncong Asli (Ingkar Janji), 2002
- Keroncong Gelas Gelas Kaca (CD)
- Pop Keroncong Dari Masa Ke Masa (CD)
- Sundari (VCD)
Alamat Rumah:
Jl Masjid Al Falah No 1 RT 004/RW 08, Ragunan, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan
Sumber:
Dari berbagai sumber terutama Tempo dan Kompas. |
|
| |
|
|
|
|
Sundari Untinasih Soekotjo
Dewi Keroncong Penyanyi Istana
Sejak jaman presiden Soeharto, Habibie, hingga Susilo Bambang Yudhoyono,
perempuan yang ciri khasnya tampil berkebaya ini kerap kali diundang
menjadi penyanyi istana. Lagu yang dibawakannya adalah sebuah genre
musik yang identik dengan irama milik para orang tua, keroncong. Berkat
konsistensinya di dunia musik keroncong, banyak kalangan kemudian
menjulukinya ‘Dewi Keroncong’.
Kecintaan perempuan kelahiran Jakarta, 14 April 1965 bernama lengkap
Sundari Untinasih Soekotjo ini pada musik keroncong bermula sejak
ayahnya, Soekotjo Ronodihardjo, seorang tentara berpangkat Letnan Satu
(Lettu) - kini sudah almarhum – memperkenalkannya pada alunan musik
mendayu-dayu itu. Ayahnya yang hobi menyanyi lagu keroncong sering
mengajak Sundari menyanyi bersama.
Dalam keluarga, sejak kecil anak ke dua dari tiga bersaudara yang biasa
dipanggil Unti ini mendapat pendidikan yang keras dan disiplin dari
ayahnya. Namanya juga masih kanak-kanak, ketika disuruh latihan, “Saya
sering alasan sakit perut, ngantuk, atau apa saja, supaya tidak jadi
latihan.”
Meski ia mengaku kerap ‘mengelak’ saat disuruh latihan, Sundari
membantah jika kecintaannya pada musik keroncong datang dari "paksaan"
kedua orang tuanya, terlebih dari sang ayah. "Saya menggeluti musik
keroncong karena kemauan sendiri, bukan paksaan ayah saya. Sejak kecil
saya sempat menyaksikan Waljinah nyanyi keroncong pakai konde dan
kelihatan cantik. Saya ingin seperti dia," kata wanita yang sedari kelas
2 SD telah mempelajari musik keroncong.
Ia pun kemudian makin termotivasi oleh perkataan ayahnya, ““Makanya kamu
harus latihan karena sekarang itu jarang ada penyanyi keroncong yang
masih muda.” Melihat kesungguhan dan bakat yang dimiliki Sundari,
ibunya, Herini, memasukkannya ke sanggar Angrek Pimpin Joko Sutrisno.
Umur sembilan tahun, ia menyanyi pop bersama Joko Sutisno di TVRI.
Selanjutnya Sundari belajar menyanyi keroncong pada beberapa guru. Tahun
1975, ketika umurnya menginjak usia 10 tahun, ia baru mulai mengikuti
perlombaan dengan menjadi perwakilan dari SD Halim, Jakarta, tempat dia
sekolah. Baru tahun 1977 ia mulai mengkhususkan diri pada lagu keroncong
dan satu tahun kemudian, mengikuti berbagai festival keroncong.
Mengenang masa kecil di bangku SD, Sundari bercerita bahwa ia pernah
marah-marah ketika ketika sejumlah warga di kompleks AURI Halim Perdana
Kusumah, Jakarta, sering menjulukinya si Bengawan Solo, tatkala dia
melintas di gang-gang kawasan rumahnya.
Sundari pun lalu menangis dan mengadu pada ibunya. Mendengar pengaduan
anaknya yang tersendat-sendat menahan tangis, sang ibu tersenyum lalu
berusaha menghiburnya, “Sudah, seharusnya kamu bangga dengan julukan
itu.” Kini, setelah Sundari dewasa, kenangan masa kecilnya itu selalu
membuatnya tersenyum dan menyadari kalau julukan pernah membuatnya sakit
hati, justru menjadikannya merasa lebih berarti.
Pada festival keroncong remaja, 1978, Sundari terpilih sebagai finalis.
Tahun 1979, ia akhirnya menembus juara kedua di ajang juara bintang
radio dan TV untuk kategori Keroncong Dewasa Wanita. Itu pun dengan
mencuri umur, karena Unti belum mencapai 15 tahun. Ia berhasil
‘mengelabui’ panitia karena dengan kebaya dan sanggul, Sundari tampak
dewasa.
Baru sebentar menikmati pujian berkat penampilannya, Sundari menuai
kritikan karena ketahuan kalau ia masih di bawah umur. "Saya sempat
diprotes karena usia saya masih di bawah umur. Waktu itu duduk di bangku
SMP 80 Halim. Umur saya waktu itu masih 14 tahun," ucapnya. Juara satu
bintang radio televisi diraihnya pada festival berikutnya, 1983.
“Setelah itu orang-orang menjuluki saya penyanyi keroncong,” tutur
mantan anggota Geronimo VIII seangkatan Djatu Parmawati dan Rafika Duri
ini.
Selain menyanyi, empat tahun Sundari menjadi guru kesenian di SMA 38
Jakarta. Tak bisa dihindarkan, ia sering dikerjain murid-murid cowok:
mobilnya dikasih bunga, wajahnya digambar oleh murid paling bandel,
murid cowok duduk di bangku barisan depan setiap kali ia mengajar. Tapi,
anehnya, “Saya tidak ngeh karena tidak memperhatikan,” ujar perempuan
yang pernah mengadakan konser tunggal menyanyi keroncong di gedung Ratu
Plasa, Jakarta.
Setelah berhenti mengajar sebagai guru, ia kemudian sibuk sibuk membuka
butik dan aktif di pengajian Arafah. Di sinilah ia mulai berkenalan
dengan para alim ulama seperti KH Zainuddin MZ. Bersama kyai ‘sejuta
umat’ ini, ia mendirikan dan mengelola Taman Kanak-kanak (TK) Islam
Mitra Amanah yang terletak tak jauh dari kompleks ABRI, di kawasan
Cilangkap, Jakarta Timur.
Tahun 2002 menjadi tahun yang penuh berkah baginya. Pada tahun 2002, ia
merilis album keroncong asli yang diberi judul Ingkar Janji.. Album ini
menjadi album keroncong asli pertamanya, dimana ia menyanyi diiringi
musik keroncong asli. Album Ingkar Janji digarap bersama Orkes Keroncong
Puspa Kirana pimpinan Acep Djamaludin dan diproduksi PT Gema Nada
Pertiwi, perekam lagu-lagu keroncong tradisonal serta lagu rakyat
Indonesia.
Berkat album ini, ia dinobatkan sebagai penerima Keroncong Award 2002
yang diselenggarakan Yayasan Bina Suci dan Radio Republik Indonesia.
Pada tahun yang sama, ia juga menerima meraih penghargaan khusus dari
dewan kategorisasi di ajang AMI-Sharp Award ke-6.
Pada 14 Agustus 2002, ia dinyatakan lulus sebagai sarjana musik oleh
Universitas Negeri Jakarta (dulunya IKIP) dengan nilai cukup memuaskan.
Skripsinya tentang musik keroncong di Jakarta dengan judul "Keberadaan
Musik Keroncong serta Sejarahnya di Wilayah Jakarta". Sebelumnya, ia
pernah kuliah di IKIP, tapi hanya meraih gelar D-3 pada tahun 1987.
Meski menuai banyak keberhasilan dalam karirnya, perkawinannya dengan
seorang pilot bernama Arman Surjadi kandas di tengah jalan pada tahun
2004. Kini ia mesti mengasuh anak semata wayangnya, Putri Intan Permata
Sari (14 th) sebagai single parent. Saat ditanya perihal anaknya,
Sundari menuturkan bahwa anaknya yang sedang beranjak dewasa mulai
menunjukkan keinginan mengikuti jejaknya.
"Hati saya trenyuh, ketika di usia 9 tahun dia sudah kepingin rekaman.
Saya bebaskan dia untuk memilih dengan syarat punya tanggung jawab.
Jangan numpang nama ibunya. Kalau lihat dia, sepertinya saya melihat
waktu saya kecil dulu," kata perempuan yang tetap cantik ini.
Dengan statusnya yang single parent maka baik itu perhatian, kasih
sayang maupun perekonomian sekarang menjadi tanggung jawabnya. Dan untuk
sekarang ini, ia sedang kuliah lagi dan mencari ilmu dari dunia nyanyi
dan lain-lainnya. Ia berharap agar ilmu yang didapatkan pada kuliah
tersebut, ia nantinya dapat bekerja di bidang lain selain dari menyanyi. ►mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|