| |
C © updated 11112004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Sumita Tobing, Ph.D
Lahir:
Medan, 10 Oktober 1946
Agama:
Kristen
Suami:
Hutagalung
Anak:
Bambang Hutagalung
Pendidikan:
SMA, di Medan
S-1, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU), Medan
S-2, Ohi University, bidang journalism, AS, 1983
S-3, Ohio University, bidang mass communication, AS, 1992
Pengalaman Kerja:
Sekretaris, Pimpinan Redaksi harian ‘Waspada’, Medan
Reporter, TVRI Stasiun Medan, 1970
Kepala Departemen English News Service, TVRI Stasiun Pusat Jakarta, 1983
Editorial Director, PT Surya Persindo, 1989
Mendirikan ‘Cakrawala’, di ANTV, 1991
General Manager Divisi Pemberitaan SCTV, mendirikan ‘Liputan6’ SCTV,
1993
Direktur MetroTV, 1999
Direktur Utama Perjan TVRI, Februari 2001
Hobi:
Berenang
Alamat:
Komplek Perumahan TVRI, Kemandoran, Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
Sumita Tobing
Jurnalis dan Broadcaster Sejati
Di tangannya, TVRI bangkit kembali menarik
perhatian pemirsa di tengah persaingan dengan televisi swasta. Dialah Direktur Utama TVRI pertama setelah
diubahnya menjadi Perjan. Jurnaslis dan praktisi pertelevisian pertama Indonesia
lulusan S-3 bidang komunikasi massa dari Ohio University,
AS, kelahiran Medan 10 Oktober 1946, ini adalah broadcaster sejati. Dia
juga
yang membidani lahirnya siaran berita Liputan 6 SCTV dan ikut
membidani lahirnya MetroTV.
Wanita pekerja keras yang getol mencari ilmu
ini hidup dari lingkungan keluarga mapan dan relatif kaya. Saat duduk di
bangku SMA ia sudah nyambi bekerja di sebuah pabrik di Medan. Ia terbiasa
bekerja tanpa mengenal batasan waktu dan lingkungan pergaulan.
Setamat SMA
ia melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU),
Medan, dan nyambi sebagai Sekretaris Pemimpin Redaksi Harian Umum ‘Waspada’,
Medan.
Merasa bosan dan tak puas hanya sebagai sekretaris Ita bergerak menjadi
wartawan di koran yang sama, ‘Waspada’. Ia sangat menikmati pekerjaannya hingga
bergabung dengan TVRI Stasiun Medan, sejak tahun 1970. Selama tujuh bulan
pertama Ita menjalani masa pelatihan tentang editing film, shooting, dan
segala teknik pertelevisian. Ia menjadi ahli dan menguasai ilmu berikut
software pertelevisian. Untuk membuat film apapun karena sudah menjadi
majornya mudah saja ia lakukan. TVRI, kata Ita adalah stasiun televisi
milik 250 juta rakyat Indonesia.
Tahun 1983 Sumita Tobing diangkat menjadi Kepala Departemen English News
Service, berkedudukan di TVRI Stasiun Pusat Jakarta. Bersamaan itu ia
pindah menetap ke Jakarta, di sebuah kompleks perumahan TVRI Kemandoran,
Jakarta. Hingga menjadi Direktur Utama TVRI Ita tetap bermukim di
‘istananya’ yang sederhana itu.
Masih di tahun sama, 1983, Ita meraih gelar S-2 bidang jurnalisme dari
Ohio University, AS. Tahun 1989 Ita bergerak menjadi Editorial Director
pada PT Surya Persindo, sebuah perusahaan induk harian ‘Media Indonesia’
milik Surya Dharma Paloh tokoh pers nasional asal Serbelawan, Sumatera
Utara. Pria berdarah Aceh itu sudah 35 tahun dikenalnya. Tahun 1991 Ita
sudah bertengger di ANTV merilis program berita ‘Cakrawala’. Setahun
kemudian, 1992 Ita Tobing berhasil menggondol gelar Ph.D dari Ohio
University, AS.
Tahun 1993 Ita bergabung dengan SCTV sebagai General Manager Departemen
Pemberitaann. Ia mendirikan program berita yang hingga kini masih menjadi
kebanggaan stasiun ini, “Liputan 6”. Dua presenter berita televisi
berhasil ia bentuk, Ira Kusno dan Arief Suditomo.
Sayangnya, sejak Minggu
malam 17 Mei 1998, Ita memilih memutuskan berhenti dari SCTV. Ia diancam
dikenakan skorsing sebagai dampak wawancara Ira Kusno dengan Sarwono
Kusumaatmaja, mantan Menteri Lingkugan Hidup di siang harinya yang dinilai
terlalu keras mengkritik Presiden Soeharto, yang kata Sarwono ibaratnya
negara sedang mengalami sakit gigi maka untuk menyembuhkan gigi harus
dicabut. Perintah itu hanya lewat secarik memo yang disampaikan oleh
Pieter F. Gontha, presiden komisaris SCTV.
Sejak tahun 1999, Ita memulai pekerjaan baru, mendirikan MetroTV, milik
Surya Dharma Paloh. Paloh sesungguhnya enggan mendirikan stasiun tv dengan
alasan tak punya uang. Tapi Ita berhasil meyakinkan sohib lamanya.
Anaknya
semata wayang Bambang Hutagalung harus ambil cuti kuliah untuk ikut
dilibatkan merealisasikan gagasan pendirian Metro TV, mulai perizinan
hingga pengadaan peralatan. Namun persoalan baru muncul sebab Bimantara,
sebuah kelompok usaha milik Bambang Soeharto masuk sebagai investor. Ita
ingat pernah tersandung di SCTV. Hingga pelaksanaan rapat ketiga dengan
Bimantara, Ita akhirnya berkekuatan dan berhasil memutuskan keluar dari
jabatan Direktur Metro TV.
Kembali ke TVRI
Sejak Februari tahun 200, oleh Menko Perekonomian Rizal Ramli, Ita
dikembalikan ke habitat aslinya di TVRI sebagai direktur utama. Ia pemimpin
atas 29 stasiun TVRI lokal di seluruh Indonesia, menghidupi 7.200 karyawan,
memiliki 400 transmitter, namun hanya dibekali pemerintah anggaran Rp 135
miliar yang separuhnya digunakan untuk menggaji karyawan.
Idealnya TVRI
membutuhkan anggaran tahunan Rp 1,35 triliun, atau sepuluh kali lipat dari
anggaran pemerintah. Ita sendiri hanya menyebutkan, TVRI membutuhkan biaya
operasi tak kurang dari Rp 800 miliar.
Kondisi serba berkekurangan itulah yang didorong Sumita untuk menggeser
status TVRI menjadi berorientasi komersial berbentuk Perseroan Terbatas
atau PT. Maklum, selain anggaran pemerintah terbatas, ketentuan keharusan
stasiun televisi swasta menyetor 12,5 persen dari pendapatan iklan ke TVRI,
totalnya berjumlah Rp 300 miliar sebagai kompensasi TVRI tidak
menayangkan iklan, sudah mulai tak dipatuhi.
Alasannya sederhana. TV
swasta mengalami kemunduran akibat terpaan badai krisis. Ketentuan iuran
masyarakat, apalagi, sudah tak dipatuhi sebab lebih suka menonton tv
swasta dibanding stasiun TVRI yang sudah memasuki usia dekade kelima.
Di tangan Ita TVRI masih berstatus Perjan (Perusahaan Jawatan),
berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 36 dan No. 37 tahun 2000.
Ita merencanakan TVRI harus menjadi perusahaan holding yang memiliki
sejumlah anak perusahaan, antara lain bergerak di bidang rumah produksi
dan rekaman. Jumlah karyawan yang dipertahankan cukup 30 persen namun
tanpa perlu melakukan PHK. Karyawan digeser bergerak di anak-anak
perusahaan mensuplai program-program berita dan hiburan. Dalam kalkulasi
Ita, untuk merealisasikan rencananya dibutuhkan dana Rp 1 triliun yang dia
harapkan dengan optimis sudah akan kembali dalam waktu tiga tahun.
Untuk membuktikan gagasannya dengan segera nan radikal, Sumita Tobing
merombak manajemen. TVRI harus dikelola profesional. Program-program baru
yang menarik segera dimunculkan. Seperti acara musik ‘Dansa Yo Dansa’ yang
dikomandani selebritis veteran Kris Biantoro, atau ‘Blues Night’, program
diskusi ‘Debat Mahasiswa’, program berita ‘Halo Metro Indonesia’, talk
show ‘Dialog Interaktif’, dan beragam acara menarik lain.
Secara teknis
agar suara dan gambar bisa dinikmati sekualitas tv swasta Ita mendirikan
stasiun transmisi baru di Gunung Tela Bogor, bediri setinggi 800 meter,
berkekuatan 80.000 watt, berdayajangkau luas mencakup seluruh Jabotabek
dan sekitar hingga Merak dan Kepulauan Seribu.
Ita bergerak sangat cepat bahkan terlalu cepat yang membuatnya tersandung.
Ia terbentur pada sejumlah persoalan kecil yang sesungguhnya tak perlu
menjadi persoalan. Ita menengarai perbaikan program acara dan memperkuat
daya pancar sangat tidak disukai pihak-pihak tertentu yang tak
menginginkan TVRI sehat dan besar.
Sehari sebelum perubahan status menjadi
PT (Persero) TVRI 15 April 2003, sejak 14 April 2003 nama Sumita Tobing
sudah tergantikan oleh Hari Sulistyono, mantan petinggi USI Jaya/IBM.
Total Sumita Tobing menghabiskan waktu 26 tahun bekerja bersama TVRI, 22
bulan diantaranya sebagai direktur utama.
Jejak ‘Liputan6’
Pada 10 Oktober 2004 genap sudah usia Ita Tobing 58 tahun. Tergolong tua
untuk ukuran perempuan Indonesia. Namun Ita mengaku masih mampu berenang
sejauh 2.000 meter. Penampilannya masih energik dan oke. Cantik pula.
Sebagai broadcaster sejati di antara 26 tahun pengabdianya Sumita
berkesempatan sebagai pimpinan tertinggi televisi rakyat selama 22 bulan.
Jejak langkah sang broadcaster sejati ini sangat berbekas di SCTV.
Dialah yang menelurkan program berita ‘Liputan6’ dipersiapkan sejak tahun
1994. Lewat Liputan6, Ita berhasil melahirkan nama Ira Kusno dan Arief
Suditomo sebagai salah satu icon pembaca berita paling digemari. Rating
iklannya mencapai harga tertinggi Rp 15 juta per 30 detik.
Ira adalah
salah satu contoh proses kreatif bagaimana seseorang yang sama sekali
tidak berlatar belakang jurnalis, bahkan tak pernah berpengalaman bekerja
di televisi, bisa ditangani, dilatih, dibentuk, dan dioperasikan di tangan
sang broadcaster sekelas Ita Tobing. Ira menjalani pelatihan secara khusus selama tiga bulan penuh sebelum mampu
‘berhadap-hadapan’ dengan penyiar perempuan dari stasiun tv lain yang
lebih dahulu hadir.
Ita punya kiat, saat mengadakan dialog tatap muka langsung face-to-face dengan narasumber ia menyelipkan sebuah
microphone kecil di kuping Ira
Kusno maupun Arief Suditomo. Dari master control, Ita memantau dan
menyampaikan perintah mengajukan pertanyaan ke narasumber. Dengan body
language yang sudah diatur sedemikian rupa, Ira dan Arief secara cerdas dan
kreatif tampak ‘mencerca’ narasumber dengan berbagai pertanyaan menarik
sekualitas seorang Larry King di Larry King Show di Amerika. Ira Kusno dan
Arief berhasil mengangkat naik pamor program berita di televisi.
Bermodalkan keberhasilannya itu, Ita menjadi berani berdebat dengan Henry
Pribadi maupun Peter F. Gontha, dua petinggi pemilik SCTV tentang
bagaimana membuat berita televisi yang baik dan menghasilkan uang agar
dapat mengembalikan modal dalam waktu singkat.
Sebagai wanita yang getol mencari ilmu, sarjana hukum FH-USU ini hafal
luar kepala setiap butir KUH Pidana dan KUH Perdata. Baik itu berbahasa
Latin atau Inggris. Itu masih ditambah kuatnya pendalaman akan ilmu
filsafat Socrates, Plato, Aristoteles. Ita meneruskan pendidikan S-2
tingkat master of science dengan major jurnalisme, di Amerika Serikat.
Keluarga
Ita menikah dengan seorang pria Batak, marga Hutagalung tahun 1971 dalam
usia 25 tahun. Keluarga ini dikaruniai seorang anak semata wayang, Bambang
Hutagalung. “Mana sempat bikin anak,” ucap Ita, menjelaskan betapa
sibuknya ia bekerja dan sekolah. Bukan hanya bekerja dan sekolah, Ita juga
‘sibuk’ membangun reputasi sebagai seorang berpendidikan, berlatar
belakang keluarga terpandang, berhasrat kuat membangun karir profesional
hingga tuntas mencapai puncak tertinggi.
Bangga berasal dari keluarga baik-baik, ayah Ita terbiasa membaca alkitab
dalam dua bahasa Belanda dan Batak. Ibunya yang rajin berdoa adalah
pengiring musik orgel di gereja. Semua anggota keluarga sekolah di sekolah
berbahasa Inggris.
Namun ayahnya yang membaca alkitab dalam dua bahasa, demikian pula ibunya
pemain orgel gereja yang rajin berdoa, itu dilihat Ita hanya sesekali ke
gereja. Bahkan orangtua itu tak pernah mengajak anak-anaknya di sekolah
pergi ke gereja apalagi mengajarkan kebenaran firman Tuhan. Ita dan
anggota keluarga cukup diajarkan bagaimana mempertahankan reputasi sebagai
keluarga baik-baik dan terpandang.
Tahun 1983, Sumita Tobing berangkat ke Amerika memperdalam studi komunikasi
massa. Ketika kuliah, setiap kali mengambil lima kredit, ia harus
menghabiskan 400 judul buku. Selama satu semester yang berjangka tiga
bulan penuh, Ita harus menyelesaikan tiga mata pelajaran. Sehingga untuk 15
kredit, Ita harus menghabiskan waktu 90 hari dengan membaca total 3 x 400
judul buku yang setelah diseleksi akhirnya bacaan wajib minimal hanya 600
judul buku. Dia harus menyelesaikan 145 kredit untuk meraih
gelar Ph.D.
Ketergantungan narkotika
Semua pergulatan hidup di negeri rantau, Ita lewati mengandalkan kecerdasan
intelektual semata. Tanpa doa tanpa meminta pertolongan Tuhan. Bahkan
tanpa sekalipun mengunjungi gereja. Apalagi untuk membaca alkitab berisi
firman Tuhan.
Sebab, Ita merasakan diri sebagai wanita baik-baik yang tak kurang suatu
apapun bahkan dibekali tingkat kecerdasan tinggi. Ribuan bahkan belasan
ribu judul buku sudah pernah ia baca terutama komunikasi massa. Ilmu itu
bisa membuatnya dengan mudah melatih orang menjadi penyiar, public
relation, ahli berdebat, melakukan kampanye, penerangan, persuasi,
propaganda, dan agitasi hingga indoktrinasi. Ia juga berkemampuan
menyulap seorang biasa menjadi bintang, produk dibeli orang, atau apapun
yang berkaitan dengan komunikasi massa.
Anaknya semata wayang yang menghabiskan pendidikan SMP dan SMA di Amerika
ikut diboyong kembali ke Jakarta. Bambang, anaknya itu ingin selalu dekat
dengan ibunya. Sejak tahun 1995 pada usia 21 tahun, Bambang anak yang
sangat disayangi itu kuliah di Universitas Indonesia (UI), Depok sambil
menjalankan bisnis. Bambang berusaha dengan memanfaatkan jalur-jalur
bisnis koneksi Amerika yang sudah menjadi habbit-nya. Anak yang bagi orang
Batak adalah segala-galanya, harta termahal, dalam idealisasi dan ambisi
seorang Ita Tobing haruslah melebihi pencapaiannya. Minimal menyamai. Jika
Ita seorang Ph.D si anak harus melebihi minimal setingkat Ph.D.
Namun apa lacur. Ketika menjalani pergulatan hidup di Jakarta, anaknya yang
tidak pernah diajari berdoa, tidak pernah diajak berbakti ke gereja,
karena memang Ita tak pernah ke gereja, teridentifikasi kecanduan
narkotika. Si anak terpaksa harus ditaruh di kamar disiplin di bawah
pengawasan kepolisian.
Sumita Tobing yang bos ‘Liputan6’ SCTV berkesempatan membesuk anak hanya
dua kali seminggu. Jarak ruang besuk dengan ruangan kamar Bambang dibatasi
sebuah lapangan sepakbola. Jika membesuk, Ita segera selalu memanggil nama
anak kesayangannya itu. Sambil menunggu kedatangan Bambang, Ita selalu pula
menutup mata untuk bernyanyi sejadi-jadinya sambil meyakini kebenaran
kuasa dalam doa dan nyanyian yang berbunyi, “Kumenang, kumenang, bersama
Yesus Tuhan, Kumenang, kumenang, di dalam peperangan…”
Usai nyanyikan
sebait lagu itu berulang-ulang tiba-tiba saja anaknya sudah berada di
depan mata, menyapa, dan memanggil lembut, “Nyokap…”. Kejadian itu
berlangsung berulang-ulang selama tiga bulan penuh.
Sumita tetap berhasrat mencari di mana tempat terbaik pengobatan kecanduan
narkotika untuk anaknya. Ita lalu berkesempatan berkenalan dengan seorang
pendeta, asal India yang spontan menyatakan ingin berdoa untuk Ita. Di
situ, Ita merenungi perjalanan hidupnya. Ia akhirnya menemukan ada sebuah
rasa sakit hati yang sangat dalam terhadap diri suaminya. Suami yang tak
pernah mencemburui istrinya bekerja di koran dan televisi hingga malam
hari berteman-kerja dengan banyak laki-laki pula.
Suaminya tak pernah
mempedulikan atau sekedar bertanya hendak kemana dan dari mana. Tak kuatir
Sumita pergi sekolah seorang diri. Suami yang menikahinya tanpa lebih
dahulu menjalani masa pacaran itu lebih sayang dan memperhatikan keluarga
Hutagalung. Keponakannya dicari-cari pesta perkawinan Hutagalung diurusin.
Terhadap anak semata wayang yang sakit pun, suami berkomentar sinis, “Jika
punya anak hanya satu saja dan ternyata kecanduan narkotika, mendingan
tidak punya anak.” Hati Ita meringis mendengarnya. Ita sadar ia adalah
wanita Batak dan anak adalah segala-galanya. Jika Sumita seorang Ph.D maka
anaknya harus Ph.D. Pemberontakan terhadap suami semakin menjadi-jadi.
Di mata orang lain kehidupan rumahtangga mereka sesungguhnya baik-baik
saja. Sebab tidak pernah diisi ‘acara’ berkelahi, berantam, atau
ribut-ribut. Sumita menghindari itu demi menjaga nama baik dan kehormatan
keluarga.
Profesi sebagai wartawati memberi Ita ruang pergaulan sangat luas.
Pelarian yang ditempuh adalah pelarian yang baik-baik. Salah satunya
sekolah ke luar negeri. Akan tetapi yang terjadi dalam biduk rumahtangga
mereka sejatinya adalah Sumita yang merasa tidak berguna, useless. Ia
‘melarikan diri’ mengambil pendidikan master dan doktor di luar negeri
untuk mengisi kesibukan. “I feel pain, very deep paining in my heart,” aku
Sumita Tobing kepada pendeta asal India, yang membantunya melepaskan diri
dari ikatan rasa dendam di hati yang mengikat.
Bisa disembuhkan
Ita kemudian membawa anaknya berobat ke dokter Al Bahri. Dokter justru
mengembalikan pengobatan kepada Ita. Dokter menyakinkan hanya ibu si anak
yakni Sumita Tobing yang bisa menyembuhkan ketergantungan Bambang. Dokter
memastikan Ita dengan memberi retorika untuk mencari bukti apakah lebih
manis ibu atau narkotika bagi Bambang. Lebih percaya kepada ibunyakah atau
narkotikanya. Kata dokter, jika anak masih lebih bersikap kepada ibu maka
siapapun anak sekalipun sudah sangat kecanduan pasti akan bisa melepaskan
ketergantungan.
Mendapat penjelasan panjang lebar tentang narkotika dibantu dengan rumusan
jurnalistik 5W+1H Ita menyadari ketergantungan anaknya sudah sangat parah.
Di mobil dalam perjalanan pulang ia menangis sejadi-jadinya meneteskan air
mata. Batinnya memberontak. Kalau bisa menyembuhkan sendiri kenapa anak
mesti dibawa ke dokter.
Sesampai di rumah Ita mencari tahu bagaimana cara menyembuhkan anaknya.
Kali ini ia mencari ilmu itu di alkitab, sebuah kitab suci berisi firman
Tuhan yang penuh kuasa. Sebuah buku yang sebelumnya tak pernah dibuka. Ita
ketemu dengan firman di Matius 7 ayat 7, “Mintalah maka akan diberi,
ketuklah maka pintu akan dibuka…” Dengan firman itu Ita merasakan ada
sebuah kekuatan penyembuhan ilahi. Terasa begitu mudah. Ita sadar pantas
saja dokter dengan enteng menyuruh menyembuhkan sendiri anaknya. Berawal
dari Matius 7:7 Ita semakin memperdalam isi firman Tuhan. Ia lalu ingin
menjadi pelaku firman. Ia mempelajarinya dengan pendekatan table of
content, sebagaimana biasa ketika masih studi di Amerika.
Setiap hari pukul tujuh malam kurang lima menit ia selalu menghentikan
rapat redaksi pemberitaan ‘Liputan6’ SCTV, untuk dilanjutkan kembali pada
pukul sembilan malamnya. Ita menghentikan rapat sebab akan pergi mendengar
pemberitaan firman Tuhan ke tempat di mana ada pendeta berkotbah.
Saat mendengar firman Ita sesungguhnya masih saja mengkritisi berceloteh
dalam hati tentang pendeta yang monoton berkotbah, yang intonasi,
artikulasi, dan body language-nya kurang bagus. Namun sedikit demi sedikit
firman itu mulai masuk dan bekerja dalam hatinya. Setahun penuh Ita
diproses untuk siap menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat
yang hidup. Anaknya sendiri pada akhirnya menjalani proses rehabilitasi di
Penang, Malaysia hingga sembuh dan diteruskan ke Singapura untuk sekolah
mengambil manajemen dan teologi.
Persis sejak tahun 1996 Sumita Tobing mengubah hidupnya menjadi lahir baru.
Dia adalah ciptaan baru dan yang lama telah berlalu. Ia menjadi orang
bijaksana yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya. Tentang ilmu
pengetahuan dari ribuan buku dan gelar Ph.D, ternyata, “It’s doesn’t give
me a power, tidak. Kalau bukan karena Yesus Kristus ‘Liputan6’ SCTV itu
tidak bisa saya bikin,” aku Sumita Tobing, bersaksi tentang pergulatan
kehidupan spiritualnya yang memberinya kekuatan melahirkan SCTV tahun
1994. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|